Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
76. Album foto


__ADS_3

Zayna pun tersenyum sambil memeluk mertuanya. "Maafin aku, ya, Ma. Aku nggak bisa ninggalin suamiku sendiri. Sekarang 'kan aku sudah di sini menemani Mama."


"Tidak perlu, Mama tidak menginginkan siapa pun lagi," sahut Aisyah dengan nada ketus. Namun, dia tidak menolak sama sekali pelukan dari menantunya. Wanita itu justru senang melihat Zayna yang manja padanya.


"Tapi, aku mau sama Mama."


"Kalian pasti capek. Ayo, kita masuk!" ajak Mama Aisyah tanpa mempedulikan kata Zayna.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Zayna masih saja bergelayut manja di lengan mertuanya. Dia jadi teringat Mama Savina yang berada di rumah. Seandainya saja ibu tirinya bisa bersikap seperti Mama Aisyah. Meskipun ketus, tapi wanita itu bisa merasakan ada kasih sayang di dalamnya. Zayna segera menggelengkan kepala. Tidak seharusnya dia membanding-bandingkan keduanya. Sudah jelas pasti akan berbeda.


"Kalian mau istirahat, apa mau makan dulu?" tanya Mama Aisyah.


"Kami mau istirahat saja, Ma. Masih capek juga," jawab Ayman sambil menarik kopernya.


"Ya sudah, nanti kalau kalian lapar turun saja. Biar Bibi nanti yang siapin makanan. Semuanya sudah matang."


"Mama yang disiapin sendiri?" tanya Zayna.


"Ya nggaklah, Mama mana punya waktu buat nyiapin semuanya. Ya sudah, Mama mau ke kamar. Capek juga, mau istirahat."


Ayman dan Zayna tersenyum menanggapi ucapan mamanya. Sudah jelas-jelas jika yang memasak memang Mama Aisyah. Wanita itu memang selalu memberi kasih sayang yang berbeda dari orang tua lainnya.


"Ayo, Sayang! Kita istirahat dulu, kamu pasti lelah," ajak Ayman.


"Iya, Mas."


****


Siang hari Ayman dan Zayna merasa lapar. Keduanya pun menuju Meja makan. Di sana sudah ada Kinan yang sedang menikmati makan siang juga. Saking nikmatnya hingga tidak menyadari kedatangan kedua kakaknya.


"Selamat siang, Kinan?" sapa Zayna.


"Kakak! Sejak kapan kakak pulang? Kok aku nggak tahu!" seru Kinan.


"Tadi pagi, kamu sendiri kenapa ada di rumah? Nggak kuliah?"

__ADS_1


"Tadi pagi sudah, Kak. Cuma ada satu mata kuliah saja jadi langsung pulang."


"Tumben nggak nongkrong," sela Ayman.


"Aku kira Mama sendiri di rumah, jadi aku langsung pulang. Dia selalu mengeluh nggak ada teman. Makanya aku bela-belain nggak nongkrong buat nemenin Mama. Eh, tahunya Kakak sudah pulang. Tahu gitu 'kan aku tadi nongkrong sama temen-temen."


"Jangan kebanyakan nongkrong, nggak berfaedah, lebih baik cari kegiatan yang bermanfaat," ujar Ayman.


"Nongkrong juga bermanfaat kali, Kak. Itu bisa menjalin persahabatan agar lebih erat."


"Itu mah akal-akalanmu saja."


Perdebatan antara kedua saudara masih saja berlanjut. Zayna hanya tersenyum memperhatikan keduanya. Dia tahu itu adalah bentuk kasih sayang yang mereka ungkapkan.


Setiap orang pasti punya cara sendiri alam mengungkapkannya dan inilah cara mereka.


"Bik, Mama sudah makan siang?" tanya Zayna pada Bik Ira.


"Belum, Neng. Tadi katanya nunggu Neng sama Den Ayman."


"Kalian makan dulu, aku mau panggil Mama," ucap Zayna pada sang suami dan adik iparnya.


"Oh, kamu, ada apa?" tanya Mama Aisyah sambil membenarkan letak kaca matanya.


"Mama lagi lihatin apa?" tanya Zayna tanpa menjawab pertanyaan mertuanya.


"Ini foto Ayman dan Kinan waktu kecil. Nggak nyangka mereka bisa tumbuh begitu cepat," jawab Mama Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


"Benarkah? Aku mau lihat!" seru Zayna mendekat ke arah mertuanya dan duduk di samping wanita itu.


"Ma, ini Mas Ayman? Lucu sekali!" ucap Zayna sambil tertawa cekikikan.


"Iya, dulu Ayman itu orangnya pemalu, jadi difoto pun seperti itu. Sampai sekarang pun dia cuma bisa diam saja. Kadang Mama suka geregetan, kalau ditanya cuma jawab satu atau dua kata padahal pertanyaannya panjang sekali," gerutu Mama Aisyah membuat Zayna tertawa.


Dia bisa membayangkan bagaimana wajah kesal mertuanya, saat bertanya pada sang suami karena Zayna juga pernah merasakannya. Wanita itu pun melihat-lihat foto masa lalu suami dan keluarga mertuanya. Dia bisa melihat ada kasih sayang yang begitu tulus di antara mereka, terutama Papa. Meskipun beliau orangnya irit berbicara, tapi justru cintanya pada keluarga sangat besar.

__ADS_1


Melihat interaksi keluarga ini, tiba-tiba ada rasa iri yang menyelimuti hati Zayna. Andai saja keluarganya bisa sedikit saja memberinya kasih sayang. Tidak banyak, hanya pelukan disetiap dia sedih dan ucapan selamat kala wanita itu berhasil meraih sesuatu. Nyatanya itu tidak pernah terjadi.


Zayna bahkan tidak memiliki foto keluarga sama sekali. Di rumah memang ada, tapi tidak ada dirinya di sana. Hanya ada Papa, Mama dan kedua adiknya. Setiap mereka melakukan foto keluarga, pasti ada saja alasan agar dia tidak disertakan.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Mama Aisyah saat melihat menantunya meneteskan air mata.


"Tidak, aku terharu melihatnya," kilah Zayna. "Ya ampun, aku sampai lupa tujuanku ke sini. Ayo, kita makan siang, Ma! Semua sudah menunggu."


"Kamu sudah lapar?" Mama Aisyah merapikan album foto dan mengembalikan ke dalam lemari.


"Iya, Ma. Di meja juga sudah ada Mas Ayman dan Kinan."


"Kinan sudah pulang?" tanya Mama Aisyah yang diangguki Zayna.


Keduanya berjalan ke meja makan. Ayman dan Kinan bahkan hampir menyelesaikan makannya saat Mama Aisyah dan Zayna datang. Mereka menikmati makan siang dengan diiringi canda tawa.


Mama Aisyah sangat senang melihat anak-anaknya bahagia. Dia ingin kebersamaan seperti ini selalu terjalin. Sudah tidak ada yang wanita itu inginkan lagi di usia yang seperti sekarang ini, selain kebersamaan keluarga. Tidak! Ada satu lagi, yaitu cucu, tetapi Mama Aisyah tidak ingin membebani anak dan menantunya karena permintaannya. Mungkin Tuhan belum mempercayakannya.


"Setelah ini kita ke mall, yuk, Kak!" ajak Kinan yang baru selesai dengan makanannya.


"Kakak kamu baru saja datang. Pasti dia masih lelah," sahut Mama Aisyah.


"Nggak pa-pa, kok, Ma. Aku dari tadi juga sudah istirahat."


"Jadi Kakak mau jalan-jalan sama aku?" tanya Kinan dengan mata berbinar.


"Boleh, kamu mau ke mana?"


"Aku mau belanja pakaian dan yang lainnya. Jangan lupa, nanti Kakak minta kartu kredit sama suami Kakak, ya!" bisik Kinan yang masih bisa didengar Ayman.


"Oh, jadi itu alasan kamu mengajak Kak Zayna! Nggak boleh. Enak saja, kamu 'kan sudah dapat uang dari Papa, kenapa masih minta sama Kakak?"


"Kakak pelit banget, sih, sama adik sendiri. Kebutuhan aku juga nggak banyak."


"Nggak banyak apanya? Memang kamu kira Kakak tidak tahu bagaimana gilanya kamu saat belanja?" cibir Ayman membuat Kinan cengengesan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2