Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
119. Tamu yang angkuh


__ADS_3

“Gaun buatan Tante semuanya bagus-bagus,” puji Kinan sambil melihat sekeliling.


Banyak gaun berjajar dengan warna dan model berbeda. Tadinya dia tidak berminat untuk membeli, tetapi begitu melihat gaun yang berjajar, gadis itu ingin memilikinya. Akhirnya Kinan pun membeli dua gaun di sana.


“Alhamdulillah kalau kamu suka. Tante hanya menyalurkan apa yang ada dalam pikiran saja," sahut Maysa yang sedang menemani mereka berkeliling.


“Bagus, Tante. Hasilnya memuaskan.”


“Kinan, kamu sudah selesai, kan? Ayo, kita pergi ke salon!” ajak Mama Aisyah, menyela obrolan mereka.


“Apa! Apa kita harus pergi ke salon, Ma? Aduh, nggak usahlah, Ma. Ini juga acara petunangan biasa saja. Ngapain pakai ke salon segala. Nanti aku juga bisa dandan sendiri.”


“Tetap saja kamu harus perawatan, biar nanti semua orang terpesona sama kamu.”


“Ya ampun, Ma. Sudahlah, nggak usah begitu, lagian juga yang datang cuma keluarga saja. Aku malu, Ma.”


“Pokoknya nggak ada tapi-tapian. Hari ini kamu harus nurut sama Mama. Ayo, pergi!" ajak Mama Aisyah.


Mama Aisyah menarik lengan putrinya. Mau tidak mau Kinan pun akhirnya mengangguk daripada harus berdebat dengan mamanya. Yang pada akhirnya dia juga akan kalah. Selalu seperti ini, setiap kali Mama Aisyah sudah memiliki rencana, maka suara yang lain tidaklah penting.


“Kami pamit dulu, ya, May. Terima kasih gaunnya sangat memuaskan. Nanti kalau acara pernikahan Kinan, kami mau pesan juga sama kamu," ucap Mama Aisyah pada pemilik butik.


“Iya, Bu Aisyah. Terima kasih, saya akan selalu dengan senang hati menerima kedatangan Bu Aisyah sekeluarga," sahut Maysa dengan tersenyum.


“Terima kasih, kami pamit dulu. Permisi, assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Mama Aisyah pun menarik tangan Kinan. Keduanya menaiki mobil yang dikendarai oleh Pak Doni.


“Mama memangnya tadi nggak bawa mobil?” tanya Kinan saat mamanya masuk ke dalam mobilnya.


“Enggak, tadi Mama naik taksi,” jawab Mama Aisyah yang diangguki oleh Kinan.


Keduanya menuju sebuah salon terkenal di kota ini. Berbagai perawatan dilakukan oleh Kinan dan mama Aisyah. Meski awalnya sempat menolak, tetapi kini Kinan mulai menikmati semua treatment yang dilakukan hari ini. Hingga mereka lupa sudah berapa lama waktu yang dihabiskan.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah Zayna sedang menikmati jajanan pasar yang dibelikan oleh Bik Ira saat ke pasar tadi. Hari ini dia malas ke mana-mana, lebih enak menghabiskan waktu di rumah dengan menikmati makanan.


“Bik, besok kalau ke pasar lagi tolong beliin makanan ini, ya, Bik. Ini enak sekali,” ucap Zayna pada Bik Ira yang sedang membereskan belanjaannya.


“Iya, Neng. Besok saya belikan lagi,” sahut Bik Ira.


Saat sedang asyik menikmati makanan, bel rumah berbunyi. Zayna masih asik menikmati makanan, tidak ada niat untuk membukanya. Bik Ira pun berinisiatif membukakan pintu. Tampak seorang gadis muda berdiri di sana.


“Assalamualaikum,” ucap seorang wanita dengan memakai kacamata hitam.


“Waalaikumsalam, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bik Ira.


“Saya sedang mencari rumah Kinan. Apa benar ini rumahnya?”


“Iya, benar, ada apa ya?”


“Saya ada perlu dengan dia, tolong panggilkan,” ucap wanita itu dengan sombongnya.


“Sebaiknya masuk dulu, Non. Ti—“


“Tapi, Neng, Non Kinan se—“


“Siapa, Bik?” tanya Zayna yang keluar sambil mengunyah makanannya.


“Ini, Neng. Ada yang nyari N—“


“Oh, jadi kamu yang namanya Kinan. Bagaimana mungkin Hanif suka sama orang modelan begini. Jangan-jangan kamu jampi-jampi dia, ya!” Wanita itu menuduh Zayna yang tidak-tidak, membuat Zayna menatap heran, kemudian beralih ke arah Bik Ira, seolah bertanya siapa wanita itu. Asisten rumah tangga itu hanya mengangkat kedua bahunya karena memang dia tidak mengenal siapa wanita itu. Ini pertama kalinya Bik Ira melihatnya.


“Kamu siapa, ya? Saya tidak mengenal kamu. Apa kita pernah bertemu?” tanya Zayna.


“Perkenalkan, nama saya Firly. Saya wanita yang selama ini menempati hati Hanif,” jawab wanita itu dengan angkuhnya.


Zayna mulai mengerti sekarang. Ternyata ini wanita yang diceritakan oleh Hanif kemarin. Sepertinya dia tidak tahu siapa Kinan, sampai-sampai mengira Zayna adalah Kinan.

__ADS_1


“Mau apa kamu datang ke sini? Bukankah kamu sudah menikah?”


Firly sempat terkejut karena ternyata gadis yang ada di depannya mengetahui tentang dirinya. Pasti Hanif sudah menceritakan tentang masa lalu mereka. Sebenarnya Zayna sangat malas meladeni wanita seperti ini, tetapi juga penasaran. Dia ingin tahu sampai sejauh mana Firly bertingkah.


“Kamu ternyata tahu juga tentangku. Pasti Hanif sudah menceritakannya, kan? Aku yakin sampai detik ini dia masih sangat mencintaiku, sampai-sampai dia harus menceritakan tentang diriku pada calon tunangannya ini."


Zayna menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir dengan wanita yang punya rasa percaya diri tinggi seperti ini. Pantas saja Hanif tidak menyukainya. Dirinya yang seorang wanita saja sudah ilfil. Jika saja Zayna tidak hamil, ingin sekali mengumpati wanita itu


“Sepertinya Hanif tidak bisa lepas dariku. Buktinya dia masih mengingat diriku dengan baik.”


“Wah! Benarkah? Kalau begitu, coba saja rebut dia dari Kinan kalau bisa. Hanif itu sudah tidak bisa lepas dari gadis yang bernama Kinan.”


“Kamu pasti menggodanya habis-habisan, kan? Ternyata gadis pilihan Hanif tidak selugu dan sebaik yang dia bicarakan selama ini. Ternyata kamu sama saja seperti wanita lainnya yang suka menggoda pria. Kamu pasti bersikap seperti jal*ng untuk menggoda Hanif, kan?”


“Enak saja kamu bilang seperti itu. Jangan coba-coba kamu berani menjelekkanku atau kamu sendiri yang akan tahu akibatnya,” ucap Zayna dengan menyingsingkan lengan bajunya. Firly pun tidak ingin kalah, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Zayna.


“Neng, jangan seperti ini. Ingat Neng sedang hamil,” tegur Bik Ira pada Zayna.


“Apa? Hamil?” teriak Firly yang begitu terkejut. Dia sampai melongo mendengar hal itu. Dia tidak percaya jika Hanif bisa bertindak sejauh itu, hingga membuat seorang wanita hamil.


“Ja–jadi kamu sudah hamil?” tanya Firly dengan tergagap.


“Iya, aku memang sedang hamil. Memangnya kenapa?” tanya Zayna dengan memicingkan matanya.


“Tidak mungkin ... itu tidak mungkin. Hanif tidak mungkin melakukan hal sejauh itu. Kamu pasti bohong, kan?”


“Buat apa juga aku berbohong. Memang sih, perut aku masih belum kelihatan, tapi coba perhatikan baik-baik. Ini sudah sedikit kelihatan, kan?” Zayna mengusap perutnya dengan pelan.


Firly pun mengikuti instruksi Zayna. Dia menatap perut wanita yang ada di depannya dan memang sedikit membuncit. Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak pernah menyangka jika Hanif bisa seperti itu. Dulu di saat mereka dekat, Firly sering menggoda pria itu. Namun, Hanif sama sekali tidak tergoda. Sekarang malah membuat seorang gadis hamil.


Dia jadi berpikir, apakah mungkin gadis itu memang sengaja mengikat Hanif dengan kehamilannya itu. Firly jadi ragu, apa anak itu benar anak Hanif atau bukan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2