Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
284. S2 - Keadaan Adam


__ADS_3

“Tidak, Ma. Aku ingin ikut. Aku mau melihat keadaan Kak Adam,” sahut Zea.


Dia tidak akan bisa tenang sebelum memastikan keadaan Adam baik-baik saja. Kalau gadis itu memaksakan kehendak untuk tetap pergi ke luar negeri, pasti di sana nanti akan selalu kepikiran dengan keadaan kakaknya di sini. Kinan menatap sang suami, seolah bertanya apa pria itu mengizinkannya atau tidak. Akhirnya Hanif pun mengangguk, mereka juga harus segera ke sana, tidak ada waktu untuk berdebat.


Hanif meminta istri dan anaknya membawa barang seadanya saja. Mengenai baju mereka bisa membeli di sana saja. Pria itu juga menghubungi orang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adam. Apakah kecelakaan itu benar murni kecelakaan atau ada yang sengaja mensabotasenya.


Sepanjang perjalanan, semua orang tidak bisa tenang. Hanif memilih mengajak Pak Hari, dia sudah tidak sanggup menyetir karena dirinya yang gelisah sedari tadi. Apalagi perjalanan ke luar kota yang memerlukan waktu beberapa jam. Dia tidak ingin membahayakan keluarganya.


"Pa, apa belum ada kabar mengenai keadaan Adam?" tanya Kinan.


"Belum ada, Ma, baru saja Papa menghubungi nomornya Adam, malah nggak aktif. Mungkin kehabisan baterai, Papa juga tidak tahu nomor pengacaranya Adam di sana."


"Apa ini benar ada hubungannya dengan saudara tirinya Adam, Pa? Perasaan Mama jadi tidak enak."


"Mengenai hal itu, masih diselidiki oleh pihak berwajib, Ma. Papa juga sudah meminta orang-orang Papa untuk mencari tahu, mudah-mudahan saja mereka segera mendapatkan jawaban. Papa pasti akan menuntut orang tersebut karena sudah berani menyentuh keluarga kita. Apalagi sampai celaka seperti ini. Kalau perlu Papa sendiri yang akan menghukumnya."


"Mama setuju, kita harus menuntut orang tersebut. Bagaimana bisa mencelakakan orang lain. Jika dia tidak diberi efek jera, pasti nantinya akan ada korban yang lainnya, tapi Mama juga tidak mau kalau sampai Papa turun tangan, biar pihak yang berwajib saja yang bertindak. Mama tidak mau hal buruk kembali terjadi pada Adam."


Zea hanya diam mendengarkan, dalam hati dia berdoa agar keadaan kakaknya baik-baik saja. Gadis itu belum sempat mengatakan jika dirinya masih sangat mencintai Adam. Meskipun kata cinta sebelumnya pernah terucap, tetapi pasti akan berbeda saat cinta itu sudah bersambut.


“Pa, apa masih jauh?” tanya Zea saat mereka sedang dalam perjalanan.

__ADS_1


“Masih satu jam lagi,” jawab Hanif sambil melihat ke arah GPS ponselnya.


Zea dan Kinan sama-sama menghela napas. Ini untuk pertama kali untuk keduanya datang ke kota di mana Adam berasal. Begitu juga Kinan yang dulu saat sang suami ke sana saat dirinya sedang hamil Zea, sekarang baru wanita itu bisa datang. Namun, dalam kondisi yang tidak mengenakkan.


Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit, di mana tempat Adam di rawat. Sebelumnya memang pengacara sudah mengatakan di mana sang putra berada. Ketiganya memasuki rumah sakit bersama-sama. Hanif bertanya pada seorang resepsionis dan ditunjukkan ke sebuah ruang rawat inap.


“Maaf, apa Anda orang tua Pak Adam?” tanya seorang yang duduk di samping pintu saat Hanif dan keluarga akan masuk.


“Iya, benar. Anda siapa?” tanya Hanif balik.


“Saya pengacaranya Pak Adam, saya bersyukur kalau Anda sudah datang. Saya serahkan Pak Adam pada Anda karena saya masih harus mengurus segala urusan mengenai restoran."


"Kalau mengenai itu saya juga kurang tahu, Pak. Saat itu Adam bilang ingin pergi mencari makan siang. Beliau juga menawari saya untuk pergi bersama, tapi karena saya sudah makan jadi saya menolak. Baru satu jam Pak Adam keluar, saya mendapatkan telepon katanya beliau mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini. Saat saya sampai di sini, sudah ada beberapa orang dari kepolisian yang datang. Mereka mengatakan jika Pak Adam bertabrakan dengan truk, tapi lebih jelasnya mereka masih belum menjelaskan karena masih dalam tahap penyelidikan."


"Apakah keadaan anak saya baik-baik saja?" tanya Kinan dengan perasaan yang tidak menentu.


"Saat ini beliau masih dalam pengaruh obat. Semoga saja beliau secepatnya bisa segera sadar. Tim Dokter juga masih menunggunya."


Zea menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Separah itukah keadaan kakaknya, sementara Kinan sudah menangis dalam pelukan sang suami. Sejak mereka merawat Adam, tidak sekalipun anak itu masuk rumah sakit. Kalaupun sakit hanya demam dan pilek seperti biasa, itu pun anak itu tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit. Hanya ada dokter yang datang ke rumah.


Sekarang keadaannya seperti ini, berbaring di atas ranjang dengan tidak berdaya. Pengacara itu pun pamit undur diri, sementara Hanif, Kinan dan Zea masuk ke dalam ruangan di mana Adam berada. Pria itu terlihat tidak berdaya dengan perban di kepala dan kaki. Sepertinya Adam juga mengalami patah kaki, melihat ada penyangga di sana.

__ADS_1


“Astaghfirullah, kenapa bisa sampai seperti ini?” jerit Kinan yang semakin menumpahkan tangisnya dalam pelikan sang suami.


Zea juga ikut menangis tanpa suara. Pria yang selama ini terlihat begitu gagah, kini tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Ada beberapa memar juga di wajahnya, entah


bagaimana bisa kondisinya bisa seperti ini.


“Ma, kamu tunggu di sini sama Zea dulu. Aku mau menanyakan keadaan Adam pada dokter,” ucap Hanif yang diangguki oleh Kinan.


Hanif segera meninggalkan ruangan untuk menemui dokter yang menangani Adam. Pria itu bertanya pada beberapa perawat yang dia temui, hingga sampailah di ruangan dokter tersebut. Kinan yang ada di ruangan, mendekati ranjang pasien dan duduk di samping sang putra, sementara Zea berdiri di samping mamanya.


"Adam, Mama ada di sini, Nak, sama papa dan adikmu. Kamu harus segera sembuh, jangan pernah menyerah. Kamu harus tetap bertahan untuk kami, kamu pasti kuat," ucap Kinan dengan pelan. Dia ingin memberi kekuatan pada sang putra agar bisa melewati semuanya.


"Ma," panggil Adam dengan suara lirihnya. Seketika membuat Kinan dan Zea segera menatap pria itu. Keduanya terkejut, tidak menyangka akhirnya Adam sadar juga.


"Kamu sudah sadar, Nak? Kamu tidak apa-apa, kan? apanya yang sakit?" tanya Kinan sambil berdiri.


Ada hanya diam, entah apa yang dia rasakan Kini. Kinan segera meminta Zea untuk memanggil dokter. Gadis itu pun segera berlari keluar untuk mencari siapa pun yang bisa memeriksa kakaknya. Untungnya saat itu Hanif datang bersama dengan dokter, dia mengatakan apa yang terjadi pada kakaknya. Mereka masuk ke dalam ruangan dan dokter itu mulai memeriksa keadaan Adam.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya Kinan yang sudah sangat penasaran. Setelah tadi sang putra memanggil dirinya, sudah tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir putranya. Hal tersebut semakin membuat khawatir.


.

__ADS_1


__ADS_2