Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
29. Ragu


__ADS_3

"Kenapa kita tidak boleh makan, Fahri? Sayang sekali makanan sebanyak ini harus terbuang sia-sia. Memangnya ada apa?" tanya Lusi pada Fahri.


"Tidak apa-apa, Ma. Hanya saja, kita jarang-jarang makan di luar sama-sama. Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Fahri dengan terburu-buru agar orang tuanya tidak mencicipi makanan itu.


Sementara Zanita merasa kecewa karena sang suami seperti tidak menghargai kerja kerasnya. Dia sudah bersusah payah mengerjakan semuanya dari pagi. Namun, Fahri lebih memilih makan di luar. Kalau tahu begini lebih baik tidur saja tadi.


"Tidak baik seperti itu. Makanan sebanyak ini mau dikemana, kan? Mubazir buang-buang makanan," sela Ma'ruf yang langsung makan makanan yang ada di piringnya. Seketika dia langsung muntah di piring tersebut. Sekarang pria itu tahu alasan putranya melarang makan.


"Kenapa, Pa?" tanya Lusi. Ma'ruf diam dan memandang menantunya.


"Mama coba saja makanannya," ucap pria itu.


Lusi penasaran dengan apa yang dikatakan suaminya. Dia pun mencoba mencicipinya sedikit dan benar saja, rasanya begitu campur aduk. Terlalu manis dan rasanya begitu getir di lidah.


"Apa saja yang kamu masukkan tadi? Kenapa ini terasa getir kamu masukkan jahe berapa banyak?" tanya Lusi dengan emosi. Belum hilang rasa kesalnya tadi, kini malah ditambah lagi.


"Yang tadi Mama berikan."


"Ya ampun! Kamu masukkan semua? Sudah saya katakan, masukkan satu ruas saja! Astaga, bisa darah tinggi saya lama-lama urusin kamu," pekik Lusi yang selanjutnya memijat pelipisnya.


Sementara Ma'ruf meminum air untuk menghilangkan rasa yang ada di lidahnya. Dia yang dari awal memang tidak menyukai Zanita hanya diam saja. Pria itu tidak mau ikut campur dalam urusan sang putra mendidik menantunya.


Ma'ruf menggelengkan kepalanya. Mau marah pun percuma. Dia yakin mata Fahri sudah terbuka melihat siapa Zanita sebenarnya. Sekarang mereka sudah berumah tangga dan wanita itu sepenuhnya tanggung jawab putranya. Semoga semuanya baik-baik saja.


"Ya sudah, Ma. Kita makan di luar saja. Nggak usah bertengkar ini masih pagi," sela Fahri.


"Kalian saja yang makan. Papa ada meeting penting pagi ini. Kalau makan di restoran, Papa bisa terlambat. Nanti papa pesan aja di kantor. Papa berangkat dulu, assalamualaikum," ucap Ma'ruf yang segera pergi setelah mengecup kening istrinya.


"Waalaikumsalam," ucap Lusi dengan menghela napas.

__ADS_1


Dia merasa bersalah terhadap suaminya. Seharusnya tadi Zanita diawasi hingga tidak seperti ini. Semuanya sudah terjadi, percuma juga menyesalinya. Setelah sang suami pergi, dia menatap menantunya.


"Mama benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu memasukkan semua jahe itu? Kalau saya menyiapkan semua bahan makanan di meja, sudah pasti kamu masak semuanya jadi satu," ucap Lusi kemudian beralih menatap putranya. "Sebaiknya kamu kirim istrimu untuk les memasak agar tidak membuat dapur kacau. Baru ditinggal bibi satu hari saja sudah seperti ini. Bagaimana besok?"


"Tadi sudah aku bilang, aku tidak bisa masak, tapi mama yang memaksa," kilah Zanita membela diri.


"Kamu di sini sudah beberapa hari. Masa kamu tidak bisa mengingat satu pun masakan yang sudah pernah dibuat? Sudahlah, mama capek, kalau kalian mau pergi sarapan, silakan! Mama sudah nggak selera." Lusi pun pergi menuju kamarnya.


"Kamu mau sarapan di luar?" tanya Fahri.


Sebagai seorang suami, dia mencoba untuk bersabar menghadapi tingkah istrinya. Pria itu juga sebenarnya lelah, tetapi Fahri adalah imam untuk Zanita dan harus bisa membimbing wanita itu agar lebih baik. Itulah ajaran yang selama ini Ma'ruf sampaikan pada dirinya karena itu dia tidak ingin menghakimi Zanita. Pria itu tahu istrinya bukan wanita yang suka berkutat dengan dapur. Melihatnya berusaha saja sudah syukur.


"Tidak perlu, aku sudah tidak berselera," ucap Zanita yang akan segera beranjak dari sana. Namun, Fahri menghentikan langkah wanita itu.


"Kamu mau ke mana?"


"Kamu tidak lihat meja ini masih berantakan?"


"Memangnya kenapa? Apa harus aku yang membersihkannya? Aku sudah capek dari pagi di dapur."


"Itu memang pekerjaan kamu, sekarang kamu bersihkan meja ini."


"Aku tidak mau. Aku capek."


"Zanita, aku sudah mencoba bersabar sama kamu, tapi sepertinya kamu tidak bisa berbicara dengan pelan. Apa aku harus berbuat kasar sama kamu agar kamu menjadi istri yang baik?" tanya Fahri dengan nada tegas.


Zanita sedikit merinding mendengar ucapan sang suami. Memang akhir-akhir ini pria itu sering berkata sarkas terhadapnya, tetapi hari ini dia bisa melihat kilatan amarah di mata pria itu. Meski kesal wanita itu tetap mengerjakan perintah suaminya.


*****

__ADS_1


Hari ini Zayna merasa malas melakukan pekerjaan. Bahkan dari pagi dia tidak memasak apa pun, hanya memasak nasi saja. Saat perutnya lapar, wanita itu akan menggoreng telur atau memasak mie instan saja karena dirinya hanya sendiri jadi kalau masak pun percuma. Zayna akan makan sedikit, sisanya akan terbuang sia-sia.


Sudah dua hari sang suami pergi dan baru saja dia mendapat pesan jika Ayman akan menginap kembali di sana. Zayna berusaha terlihat baik-baik saja saat pria itu menelepon. Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa sedih karena jauh dari suaminya. Wanita itu kembali mengingat pertemuan pertama mereka, hingga terpisahnya kemarin.


Zayna tersenyum mengingat semuanya. Dia tidak menyangka jika dirinya sudah menambatkan hati pada pria itu. Sebenarnya Zayna ragu, apa ini yang namanya cinta? Wanita itu hanya tidak ingin jauh dari sang suami, itu saja. Apa pun itu namanya, dia hanya bahagia jika bisa melakukan semua bersama dengan suaminya.


Sore hari, Zayna pergi ke warung terdekat untuk membeli telur karena di rumahnya sudah habis. Saat dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan Bu Cindy. Sebenarnya Zayna malas bertemu dengan wanita itu, sudah pasti akan ada saja masalah dibicarakan. Namun, tidak ada jalan lain selain jalan itu. Mau tidak mau dia terus berjalan.


"Selamat sore, Mbak Zayna?" sapa Bu Cindy.


"Selamat sore, Bu," jawab Zayna dengan tersenyum.


"Saya dengar Mas Ayman lagi keluar kota, ya?"


"Iya, Bu, suami saya mengantar Paman Doni. Beliau mau menjenguk kerabat yang mau melahirkan."


"Yakin mau menjenguk kerabat?" tanya Bu Cindy dengan nada mengejek.


"Iya, Bu."


"Kok saya jadi ragu! Apa Mbak Zayna nggak curiga sama suaminya yang pergi ke luar kota? Masa pekerjaan tukang ojek saja pakai keluar kota. Kalau mau nganter, kenapa nggak mengantar saja lalu balik ke rumah? Kenapa harus menginap?"


Zayna merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang diberikan oleh Bu Cindy. Dalam hati dia mengiyakan yang dikatakan oleh tetangganya itu. Namun, tidak mungkin suaminya berbohong!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2