
"Kak, malam ini kami nginap di sini, ya!" ucap Aini pada Hira.
"Terserah kalian saja, tapi harus pamit dulu sama mama atau papa. Biar mereka nggak cari kalian," sahut Hira.
"Sip lah, nanti biar aku saja yang pamit sama mama."
Si kembar pun seharian di rumah kakaknya, tadi Aini sudah mengirim pesan pada mamanya, kalau dia dan Aina akan menginap di rumah Arslan. Mama Zayna sama sekali tidak keberatan. Mungkin karena sudah biasa anak-anaknya menginap di sana. Baginya bukan masalah, asal tidak mengganggu ketenangan Hira saja. Lagi pula bagus juga untuk menemani menantunya yang saat ini sedang hamil besar.
Hira sedari tadi merasa aneh dengan tubuhnya. Dia terus saja bolak-balik dari kamar mandi, punggungnya juga terasa kaku saat dibuat duduk. Aina yang melihat kegelisahan yang dirasakan Hira pun bertanya, "Kak Hira kenapa!"
Aini yang ada di sampingnya pun ikut menoleh ke arah Hira. Memang terlihat sangat jelas jika ibu hamil itu tidak nyaman karena gerak-gerak terus dan tidak bisa diam. Padahal saat ini, mereka tengah menikmati acara televisi. Namun, Hira sama sekali tidak menikmati.
"Kakak juga nggak tahu, saat duduk rasanya kurang nyaman." Hira mengusap perutnya yang begitu besar.
Aini yang mendengar itu pun jadi ikutan khawatir. Gadis itu pun memberi pertanyaan beruntun pada kakak iparnya. "Ada apa, Kak? Apa Kakak sakit? Atau mau melahirkan?"
"Sakitnya cuma sebentar, habis itu hilang lagi, aku nggak tahu kenapa," jawab Hira dengan mengusap perutnya yang besar, guna mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.
"Mau aku gosokin pakai minyak kayu putih, nggak? Kata mama, dulu waktu dia hamil sering begitu, digosokin pakai minyak kayu putih biar hangat," tawar Aina, dia lebih tenang daripada Aini.
"Nggak usah, kakak nggak suka bau minyak kayu putih. Nanti tambah pusing."
"Terus bagaimana, dong?"
"Nggak apa-apa, kamu nonton TV saja, aku mau tidur. Ini juga sudah waktunya tidur siang."
"Mau aku anterin, Kak?"
"Tidak perlu, kalian di sini saja, nikmati waktu santai kalian." Hira berjalan menuju ke kamarnya yang kebetulan terletak di sebelah ruang keluarga. Sebelum wanita itu benar-benar masuk, suara Aini menghentikannya sejenak.
"Kakak mau dibeliin sesuatu? Aku mau beli makanan buat makan siang."
"Nggak usah, kalian beli makanan buat kalian sendiri saja."
"Beneran Kakak nggak mau?"
"Iya." Hira kembali melanjutkan langkahnya memasuki kamarnya.
Aini dan Aina saling pandang, keduanya merasa tidak tega pada Kakak iparnya. Keduanya jadi teringat mamanya yang dulu hamil mereka berdua. Satu anak saja sudah seperti itu, bagaimana dua?
"Apa nanti kalau aku hamil juga seperti itu, ya?" tanya Aina dengan bergumam.
"Mana aku tahu? Nikah saja belum, ngapain mikirin hamil. Masih lama."
"Untuk berjaga-jaga, Niy. Siapa tahu kita dapat jodoh dengan segera."
"Itu mah kamu saja yang sudah kebelet, aku masih ingin meraih cita-citaku. Aku masih ingin tahu bagaimana rasanya duduk di kursi perusahaan, duduk di depan laptop."
"Bukannya tiap hari kamu selalu duduk di depan laptop? Waktu kecil juga kita pernah diajak papa ke kantor, kita juga pernah duduk di kursi papa. Apanya yang spesial?"
Aini melirik sinis ke arah saudaranya. Dia pun meluapkan kekesalannya. "Kamu benar-benar, ya! Diantara kita, kamu yang lebih pintar, kenapa sekarang jadi oon gini?"
Aina memutar bola matanya malas, bukan dia tidak mengerti, hanya saja gadis itu memang sengaja ingin menggoda saudaranya. Apalagi akhir-akhir ini keduanya sering berbeda pendapat, bisa dibilang seperti bertukar kepribadian.
"Sudahlah, kamu cepat pergi sana! Kamu katanya mau keluar? Nanti bawain aku bakso saja, sekalian buat Kak Hira. Walaupun dia bilang tadi nggak usah, siapa tahu nanti saat lihat kita makan, dia mau."
__ADS_1
"Iya." Aini akhirnya pergi keluar untuk mencari makanan.
Padahal di rumah bibi juga sudah menyiapkan makan siang, tetapi masih saja ada yang kurang. Sejak kehamilan Hira, Arslan memang sudah menyiapkan asisten rumah tangga untuk istrinya. Pria itu tidak mengizinkan sang istri untuk sibuk di dapur, yang malah akan membuat wanita itu tampak kesulitan.
Aina sedang asyik bermain ponsel dan masih ruang keluarga. Televisi juga menyala, entah yang mana yang menjadi fokus anak itu. Tiba-tiba dia mendengar panggilan tertahan dari kakak iparnya.
"Aina! Tolongin Kakak," teriak Hira dengan suara tertahan dari dalam kamar.
Memang karena kamarnya berada di dekat ruang keluarga, tentu saja Aina jelas mendengarnya. Segera gadis itu mencari sumber suara, dia masuk ke dalam kamar kakaknya. Aina dibuat terkejut saat melihat kakak iparnya meringis, menahan sakit sambil duduk di lantai, di samping ranjang.
"Kakak kenapa? Kakak jatuh?"
"Tidak, tadi aku mau keluar, tapi aku sudah tidak tahan, perut Kakak sakit sekali," rintih Hira.
"Hah ... terus gimana ini? Apa kita perlu ke dokter? Tapi mobilnya dipakai Aini buat keluar." Aina bingung harus melakukan apa.
"Aduh! Kakak nggak tahan, sakit sekali."
"Sebentar, Kak. Biar aku hubungi Aini agar dia segera kembali pulang." Aina kembali ke ruang keluarga, mencari ponselnya di sana. Dia akan menghubungi saudaranya.
"Halo, baru saja aku keluar kompleks, tapi kamu sudah menghubungiku. Memang kamu mau pesan apa lagi?" gerutu Aini yang berada di seberang.
"Kak Hira sakit perut."
"Ya kalau sakit perut, buang air besar saja. Kenapa malah menghubungiku? Aku masih belum menemukan makanan."
"Kamu ini bagaimana, sih! Kak Hira itu sakit perut sepertinya mau melahirkan, kenapa nggak ngerti juga!" seru Aina dengan kesal.
"Apa! Sebentar aku cari belokan di depan, kamu tunggu saja di rumah, jaga Kak Hira baik-baik."
"Kakak, sudah nggak apa-apa sekarang?"
"Masih sakit, tapi tidak seperti tadi. Setelah beberapa menit nanti sakit lagi, Kakak sudah menahannya, tapi ini benar-benar menyiksa."
"Kakak tunggu, ya! Sebentar lagi Aini akan datang."
Hira mengangguk tanpa mengatakan satu kata pun. Beberapa kali dia menarik napas dalam-dalam untuk menahan rasa sakitnya, tetapi sakitnya justru semakin menusuk.
"Kita tunggu di ruang tamu saja, yuk, Kak! Biar nanti saat Aini datang, kita bisa cepat pergi."
Hira mengangguk dan berkata, "Ma, tolong ambil berkas Kakak yang ada di lemari itu. Nanti tolong dibawa ke rumah sakit sekalian."
Hira menunjuk lemari yang sedikit jauh dari ranjang. Aina pun segera melakukan apa yang diminta kakak iparnya.
"Di mana, Kak?" tanyanya saat tidak menemukan apa pun.
"Itu, di laci yang ada di dalam lemari. Jangan lupa juga itu ada tas hitam yang ada di lemari paling bawah. Itu Kakak sudah siapin semuanya dari kemarin."
"Iya, Kak."
Aina pun melakukan apa yang diperintahkan kakak iparnya. Setelah itu dia mengajak Hira untuk menunggu di ruang tamu. Namun, saat akan berdiri perutnya kembali sakit, hingga membuat ibu hamil itu kembali duduk di atas ranjang.
Aina mencoba membantu kakaknya dengan mengusap perut yang membesar itu. "Adik bayi, jangan nakal-nakal, ya! Kalau mau keluar, keluar saja. Jangan buat mama kesakitan seperti ini, kasihan mamanya," bisiknya pada perut Hira.
Hingga beberapa detik, sakitnya pun hilang. Keduanya memutuskan untuk menunggu Aini di ruang tamu. Tidak berapa lama, yang ditunggu akhirnya datang juga, mereka pun segera pergi ke rumah sakit, tempat di mana biasa Hira memeriksakan kandungannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, tubuh Aini tidak hentinya bergetar. Keringat dingin juga membasahi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, bahkan beberapa kali hampir saja menabrak pengguna jalan lainnya.
Aina yang melihat kegugupan saudara kembarnya pun jadi takut, jika terjadi sesuatu pada mereka. "Aini, kalau kamu nggak bisa nyetir, biar aku saja. Kamu jangan bahayain kita semua!"
"Nggak pa-pa, kok! Sebentar lagi juga sampai, kamu tenang saja, tenangin Kak Hira agar tidak panik," jawab Aini tanpa melihat ke arah saudaranya yang berada di belakang.
Padahal dirinya sendiri yang panik. Dalam hati dia juga tidak hentinya berdoa dan berpikir yang tidak tidak. Hingga sampailah mereka di rumah sakit. Aina memanggil seorang perawat untuk membantu kakak iparnya turun dari mobil, tidak lupa juga membawa kursi roda.
Perawat tersebut membawa Hira ke ruang bersalin, seorang dokter memasuki ruangan dengan diikuti oleh beberapa perawat. Aina dan Aini saling menggenggam, guna saling memberi kekuatan.
"Maaf, adik-adik ini siapanya pasien?" tanya seorang dokter wanita.
"Kami adiknya, Dokter."
"Lalu suaminya di mana?"
"Astaghfirullahaladzim! Suaminya kerja, Dok. Kami lupa memberi tahu, sebentar saya akan menghubungi kakak saya dulu," seru Aina yang kemudian mengambil ponselnya.
Dia benar-benar lupa mengabari kakaknya mengenai keadaan Hira. Tadi dirinya terlalu khawatir dan panik dengan keadaan kakak iparnya, hingga lupa untuk memberitahu Arslan. Aini hanya diam mematung, dari tadi gadis itu tidak mampu berkata apa pun saat melihat keadaan Hira, yang terus saja merintih kesakitan.
Aina menghubungi Arslan dan juga Mama Zayna. Dia memberitahu jika Hira saat ini berada di Rumah sakit dan sedang ada di ruangan bersalin. Arslan yang kebetulan sedang tidak ada pekerjaan pun segera meninggalkan kantor. Dia menyerahkan semua pekerjaan pada sekretarisnya.
Begitu juga dengan Mama Zayna yang juga segera pergi dengan menggunakan taksi. Saat ini tubuh wanita itu juga sama seperti anak-anaknya, gemetar dan gugup, jadi lebih baik menggunakan taksi saja. Itu juga demi keselamatannya.
"Pak, kenapa lama sekali? Bisa cepat nggak, Pak. Menantu saya sekarang ada di rumah sakit dia sedang mau melahirkan Iya Bu ini sudah cepat. Saya juga masih sayang sama nyawa saya, Bu," sahut sopir tersebut.
Zayna membuang napasnya pelan, rasa khawatir membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang dia inginkan adalah agar cepat sampai, itu saja. Sepanjang perjalanan wanita itu terus berdoa agar menantu dan calon cucunya baik-baik saja. Semoga persalinan Hira juga lancar, tanpa ada halangan apa pun.
Tidak kalah dengan Mama Zayna, Arslan pun juga merasa sangat khawatir. Tadi pagi memang Hira mengeluh jika punggungnya sakit, tetapi itu hanya sebentar, seterusnya kembali normal seperti biasa. Seharusnya tadi dia menunggu sang istri di rumah saja, sampai keadaan wanita itu baik-baik saja.
Kalau seperti ini, dia jadi merasa bersalah, tapi untung saja tadi di rumah ada si kembar jadi, mereka yang menolong. Tidak berapa lama, akhirnya Arslan sampai juga di depan rumah sakit, bersamaan dengan itu Mama Zayna juga sudah sampai. Keduanya memasuki rumah sakit, pria itu sempat bertanya pada resepsionis, di mana ruang bersalin.
Setelah ditunjukkan, Arslan mengajak mamanya menuju ke sana, terlihat dari kejauhan adik kembarnya sedang menunggu di depan ruangan. Segera mereka mendekati keduanya. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah si kembar.
"Aina, Aini, di mana Kak Hira? Bagaimana keadaannya?" tanya Arslan dengan napas terengah-engah.
"Kakak! Mama!" Aini segera memeluk Mama Zayna.
Aina juga ikut mendekati kakak dan mamanya. "Kak Hira ada di dalam, Kak. Dokter juga sedang menanganinya, tadi perawat juga berpesan jika Kakak mau masuk, masuk saja."
"Iya, Ars. Kalau kamu mau masuk, masuk saja. Kamu harus bisa memberi kekuatan untuk istrimu. Tidak usah khawatirkan yang lain, yang penting istrimu baik-baik saja," sahut Mama Zayna yang berada di sampingnya.
"Iya, Ma. Aku masuk dulu. Mama jangan lupa kabari umi sama abi. Aku tadi belum sempat menghubungi mereka."
"Iya, kamu tenang saja. Biar Mama nanti yang hubungi umi kamu."
Arslan mengangguk dan memasuki ruang bersalin, sementara di luar ruangan Zayna memandangi pintu yang baru saja tertutup dengan harap-harap cemas. Tidak lupa juga dia mengirim pesan pada besannya, bahwa saat ini Hira tengah berjuang untuk menjalani persalinan. Mama Zayna mengajak kedua putrinya untuk duduk di kursi yang ada di sana. Dia tahu jika si kembar saat ini sedang syok.
Bagaimana tidak, mereka yang belum pernah mengetahui tentang melahirkan, harus menolong kakak iparnya tanpa bantuan dari siapa pun. Memikirkannya saja sudah membuatnya gemetar.
"Bagaimana tadi kalian membawa Kak Hira ke sini? Apa tidak ada yang membantu?"
"Tidak ada, Ma. Tidak ada siapa-siapa juga di sana. Bibi juga sedang keluar setelah selesai masak."
"Kenapa tadi nggak manggil Mama!"
__ADS_1
"Mana kami kepikiran ke arah sana! Tadi itu kami benar-benar panik, jadi yang kami pikirkan bagaimana caranya agar bisa sampai rumah sakit dengan cepat."