
Cukup lama Mama Aida, Papa Wisnu dan Firly menunggu kedatangan Ana. Hingga akhirnya wanita itu datang juga. Dia datang seorang diri karena putranya sedang ada perjalanan bisnis.
“Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini, Firly?” tanya Ana pada menantunya. Dia juga bisa melihat barang-barang yang dibawa, itu sama seperti yang tadi pagi dibawa untuk ke luar kota.
“Kak, sebaiknya ajak menantu Kakak ini pulang. Jangan berdebat di sini, ini sudah malam. Aku sudah sangat lelah, aku dan suamiku ingin istirahat," sela Mama Aida.
“Baru juga nunggu sebentar saja sudah bilang lelah. Aku belum selesai bertanya, kenapa Firly bisa ada di rumah kamu?”
“Kalau mengenai itu, tanyakan saja pada menantu Kakak. Kenapa harus tanya padaku? Bukankah lebih baik dibicarakan di rumah? Di sini akan jadi bahan tontonan para tetangga."
“Kamu ‘kan yang punya rumah. Pasti juga tahu kenapa Firly ada di sini."
“Aku tidak tahu apa-apa, dia yang datang ke rumahku. Aku sama sekali tidak mengundangnya. Firly kamu mau menjelaskan sendiri pada mertuamu atau aku yang menjelaskannya?” tanya Mama Aida dengan nada tidak suka.
“Ma, sebaiknya kita pulang saja. Nanti akan aku ceritakan semuanya,” ucap Firly dengan menarik tangan mertuanya. Dia tidak ingin kebenaran terucap dari bibir Mama Aida. Bisa-bisa akan ada masalah untuknya.
“Sebaiknya kamu mengatakan yang sejujurnya. Jika tidak ingin menjadi masalah dan jangan menjelek-jelekkan orang lain!” seru Mama Aida sebelum Firly dan Kak Ana meninggalkan rumah.
Sebenarnya Ana ingin bertanya. Namun, menantunya lebih dulu menarik wanita itu karena tidak ingin membuat masalah semakin bertambah besar. Meski Firly harus mendapat omelan dari mertuanya.
“Kamu apa-apaan, sih? Saya ‘kan ingin bertanya pada Aida, apa maksud dari ucapannya tadi. Kenapa kamu malah menarik Mama seperti ini?”
“Sudahlah, Ma. Ayo kita pergi dari sini!”
Mama Aida menatap kepergian kakak ipar dan keponakannya itu dengan kesal. Padahal tadi dia begitu bahagia setelah menghadiri acara Ayman. Sampai di rumah malah ada saja yang membuat masalah.
“Sudah, Ma. Ayo, kita masuk ke dalam! Udara di luar sangat dingin,” ajak Papa Wisnu. Dia tahu saat ini sang istri sedang kesal.
“Sekali-kali Papa harus nasehatin Kak Ana supaya tidak bersikap semena-mena terus. Aku juga punya perasaan, jangan mentang-mentang karena dia saudara tertua, dia bisa bersikap seenaknya.”
__ADS_1
“Iya, nanti Papa akan bicara dengan Kak Ana.”
“Jangan iya, iya, saja. Dari kemarin juga begitu, tapi nggak ada perubahan apa pun.”
“Papa sudah bicara dengan Kak Ana. Mengenai dia mau berubah atau tidak, itu tergantung orangnya sendiri. Papa nggak bisa maksa, Ma."
Mama Aida menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. “Ya sudahlah. Ayo, kita masuk! Percuma juga bicarain dia, nggak akan ada habisnya.”
Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Tubuh mereka sudah cukup lelah dan ingin segera istirahat. Sementara itu, di kamar Kinan dan Hanif masih berbincang mengenai Firly.
“Mas, apa kamu dan Firly dulu sangat dekat? Sepertinya dia tidak bisa melepaskan kamu," tanya Kinan yang berbaring di samping sang suami dengan berbantalkan lengan pria itu.
“Memang dulu aku dan dia sangat dekat. Kita dibesarkan bersama-sama jadi, mau melakukan apa pun juga pasti bersama-sama. Kadang juga kami diajak Mama liburan bersama.”
“Terus, kenapa kamu nggak jatuh cinta sama dia? Kata orang terbiasa bersama bisa menumbuhkan rasa cinta. Aku lihat dia juga cukup cantik dan menarik.”
“Cantik itu relatif, Sayang. Semua wanita cantik, tetapi yang nyaman di hati sangat jarang ditemukan. Aku menemukannya hanya pada dirimu.”
“Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Hanya kamu satu-satunya wanita yang sempurna menurutku.”
“Aku hanya berandai-andai. Aku takut kamu membuangku begitu saja, saat kamu bertemu orang lain yang bisa membuatmu nyaman dan bahagia.”
“Itu tidak akan terjadi, Sayang. Karena hatiku sudah tertutup untuk wanita lain. Walaupun aku nyaman dengan wanita lain, itu hanya sekadar nyaman saja. Tidak ada perasaan apa pun di dalam hatiku. Sama seperti yang aku rasakan dulu, aku senang saja bisa bermain dengan Firly, tapi rasa cinta tidak pernah ada untuk dia dan siapa pun.”
Kinan memeluk sang suami. Dia senang mendengarnya, berharap apa yang dikatakan pria itu benar-benar dilakukannya. Wanita itu tidak akan sanggup menahan penghianatan. Apalagi sekarang hatinya sudah sepenuhnya terisi dengan Hanif.
Keesokan paginya, Kinan membantu Bik Yani membuat sarapan. Dari tadi wanita paruh baya itu sudah melarang. Namun, Kinan tetap memaksa dan membantunya. Sebelumnya Mama Aida memang melarang menantunya masuk ke dapur.
Dia tahu jika Kinan sangat sibuk dengan urusan kuliah jadi, wanita itu tidak ingin membebani menantunya dengan urusan dapur. Apalagi Mama Aida tahu jika Kinan tidak begitu pandai urusan masak. Mama Aisyah pernah bercerita hal itu dan dia tidak masalah, di rumah juga ada asisten rumah tangga.
__ADS_1
“Aduh, ini kenapa ramai sekali?” tanya Mama Aida yang baru masuk ke dalur.
“Ini, Nyonya. Neng Kinan sudah saya larang untuk ikut masak, tapi tetap saja masih di sini," jawab Bik Yani yang merasa tidak enak pada majikannya.
“Sebelumnya Mama sudah pernah bilang, jangan merepotkan diri sendiri. Kamu pasti sudah capek dengan urusan kuliah," ucap Mama Aida pada menantunya.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Mama terlalu berlebihan, sesekali nggak pa-pa aku bantu nyiapin sarapan buat suami dan mertuaku. Lagi pula aku juga nggak banyak ngerjain. Semuanya Bibi yang melakukan. Aku cuma bantu-bantu saja."
"Terserah kamu saja jika mau bantu-bantu, tapi ingat jika kamu repot jangan masuk dapur. Mama akan marah kalau kamu sampai jatuh sakit gara-gara kelelahan!"
"Iya, Mamaku sayang. Terima kasih sudah perhatian sama aku," ucap Kinan dengan memeluk mertuanya. Dia senang Mama Aida memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Tentu saja. Bagaimanapun kamu juga sudah Mama anggap anak sendiri. Memang kamu ini buat apaan? Kenapa bawangnya jadi besar-besar begini?" tanya Mama Aida sambil menahan tawa saat melihat hasil cincangan bawang menantunya.
"Mama aku masih belajar jadi, maklumlah kalau nggak sesuai," jawab Kinan dengan memelas.
"Iya, sini Mama ajari."
Mama Aidah pun mengambil pisau yang ada di tangan Kinan dan mulai mencincang halus bawang merah dan putih. Kinan hanya memperhatikan saja. Sebelumnya dia memang jarang sekali ke dapur.
"Nah, seperti ini tipis-tipis."
"Aku paling sebel kalau suruh iris bawang merah. Pasti ujungnya kayak gini, padahal sekarang Mama yang iris," ucap Kinan sambil mengusap air matanya.
"Apa karena itu kamu mengirisnya besar-besar supaya cepat selesai?"
"Ya begitulah kurang lebihnya, Ma," jawab Kinan yang kemudian mereka tertawa bersama.
.
__ADS_1
.