Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
43. Senangnya liburan


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Ayman sebelumnya. Dia mengajak istrinya berendam di tempat pemandian air hangat. Di sana ada beberapa pasang kekasih. Zayna sempat malu harus mandi berbaur dengan orang banyak, tetapi Sang suami meyakinkan jika semua akan baik-baik saja karena pria itu akan selalu bersamanya.


Zayna sangat senang bisa berenang di tempat seperti ini bersama dengan sang suami. Pemandangannya juga sangat indah. Ini pertama kalinya dia ke tempat seperti ini, ditambah kebersamaannya dengan Ayman semakin menambah kebahagiaannya.


"Apakah kamu bahagia, Sayang?" tanya Ayman sambil memeluk sama istri dari belakang.


"Sangat bahagia, Mas. Terima kasih sudah membawaku ke tempat seperti ini."


"Aku juga bahagia jika kamu bahagia. Kapan-kapan kita juga bisa ke sini lagi."


"Benar, Mas? Kamu nggak lagi bohongin aku, kan?" tanyanya tidak percaya.


"Benar, dong! Ngapain aku bohongin kamu. Semuanya akan aku lakukan agar kamu bahagia."


Senyum terus mengembang dari bibirnya. Tidak menyangka bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Awal menikah dulu, dia sempat ragu pada Ayman mengingat mereka tidak saling kenal. Ditambah pekerjaan pria itu. Akan tetapi, Tuhan memberinya petunjuk bahwa memang Ayman memang jodohnya.


Sekarang Zayna menyadari bahwa Tuhan memang memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan. Jika dia tetap memaksa menikah dengan Fahri, belum tentu dirinya akan sebahagia ini. Bahkan wanita itu kini sudah benar-benar melupakan perasaannya pada mantan kekasihnya itu. Baik perasaan cinta ataupun benci.


Sekarang sang mertua memang belum sepenuhnya menerima dia sebagai menantu. Akan tetapi, Zayna yakin bisa meluluhkan hati Mama Aisyah. Sesulit apa pun, wanita itu akan berusaha.


Keduanya pun menikmati kebersamaan mereka. Meski ditengah keramaian para pasangan lain. Ayman juga tidak malu mengungkapkan betapa cintanya pada sang istri.


"Sudah cukup, Sayang. Ayo, kita naik!" ajak Ayman.


"Iya, ayo!"


Mereka pun menuju kamar mandi untuk berganti baju. Tadi sebelum berenang Ayman sudah membeli sepasang baju renang untuk mereka. Kini keduanya akan berganti pakaiannya kembali. Setelah selesai, mereka berkeliling menikmati pemandangan di sana. Zayna tidak hentinya mengagumi keindahan alam yang dia lihat.


Ayman tersenyum kala bibir sang istrinya terus saja berceloteh, sesekali wanita itu bertanya pada suaminya. Pria itu menjawabnya dengan senang hati. Sesekali menjahili sang istri juga dan itu membuat Zayna cemberut.


"Kita makan dulu, yuk! Di sana ada restoran, padahal ini sudah hampir sore. Pasti kamu sudah lapar, kan? Makan siang kita terlewat."

__ADS_1


"Nggak juga, sih! Mungkin saking senangnya sampai aku lupa mengisi perut."


"Ayo!" Ayman menarik tangan istrinya untuk memasuki sebuah restoran di tempat itu.


Zayna tidak bisa lagi mengungkapkan kebahagiaannya. Keinginannya dari dulu untuk menikmati tempat liburan, hari ini terkabul meski dia pergi bukan bersama dengan keluarga. Wanita itu pergi bersama dengan sang suami yang justru semakin membuatnya lebih bahagia. Ayman benar-benar memperlakukannya seperti ratu.


Sejenak Zayna membayangkan keluarganya dulu. Setiap kali mereka pulang liburan, pasti Zanita dan Zivana sangat antusias bercerita. Sementara dirinya hanya puas mendengar tanpa bisa merasakannya. Bahkan tidak jarang Savina juga ikut bercerita yang sengaja dilebih-lebihkan.


Sekarang dia bisa merasakannya sendiri, tanpa harus membayangkan suasana tempat rekreasi dari cerita kedua adiknya. Ini bahkan melebihi keindahan dari cerita yang dia dengar.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Ayman saat ada pelayan yang menghampiri mereka.


"Aku mau bakso saja, Mas."


"Boleh, tapi nggak boleh pedas-pedas, ya!"


"Iya."


"Bakso dua sama es degan dua, Mbak," ucap Ayman pada pelayan wanita yang menghampiri mereka tadi.


"Apa sebelumnya kamu sering ke sini, Mas?" tanya Zayna sambil melihat sekeliling.


"Dulu waktu masih kuliah sering ke sini sama teman-teman, tapi semenjak bekerja sudah tidak pernah lagi. Kami semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk sama keluarganya juga jadi, jarang ketemu sama semua teman-teman lainnya."


"Kalau kumpul-kumpul saja. Apa sudah nggak pernah lagi?"


"Kalau sekadar ketemu masih bisa, tapi cuma sebentar. Itu pun kalau ada acara saja. Ya, misalkan ada acara pernikahan, ulang tahun atau acara lainnya," jawab Ayman. "Oh iya, Sayang. Kita belum membicarakan mengenai resepsi. Apa kamu ada rencana mau ngadain resepsi di mana? Aku, kan, sudah janji sama kamu kalau kita akan mengadakan acara resepsi."


"Sebenarnya kalau aku sendiri, nggak usah ada acara seperti itu. Aku juga nggak suka pesta-pesta, tapi nggak tahu keluarga kamu. Tanya saja sama mama dulu, siapa tahu mama punya rencana. Aku, kan, nggak enak kalau batalin begitu saja."


"Nanti aku diskusikan sama Papa sama Mama," ucap Ayman yang diangguki oleh Zayna.

__ADS_1


Tidak berapa lama pesanan mereka datang. Keduanya pun menikmati dengan santai sambil berbincang-bincang. Namun, sayang kesenangan mereka harus diganggu dengan kedatangan seseorang.


"Ayman! Ya ampun, ini benar-benar kamu!" seru seorang wanita yang langsung memeluk Ayman.


Hal itu tentu saja membuat Zayna kesal. Dia tidak mengira ada wanita yang begitu agresif, baru datang langsung memeluk pria. Padahal mereka bukan mahram. Bahkan wanita itu tidak menghargai keberadaannya.


Ayman pun segera menipis pelukan dari wanita itu. Dari dulu dia tidak suka bersentuhan dengan yang bukan mahram. Pria itu mencoba untuk tidak menyakitinya, tetapi sepertinya wanita itu tidak bisa diperlakukan dengan baik.


"Fani, tolong jaga batasanmu. Sudah berapa kali aku katakan, kita bukan mahram!" tegas Ayman yang seketika membuat wanita yang bernama Fani itu menjauh.


"Kamu kenapa, sih, selalu saja menolakku? Aku bisa melakukan apa pun yang kamu mau asalkan kamu mau menerimaku menjadi kekasihmu."


"Tapi sayangnya aku tidak tertarik. Oh ya, perkenalkan, ini istriku," ucap Ayman sambil menatap Zayna.


"Istri?" tanya Fani dengan menatap Zayna sinis. Dalam hati, dia mencibir pilihan Ayman yang kampungan menurutnya. Dilihat dari segi manapun wanita itu merasa jika istri Ayman bukanlah saingannya.


"Kamu nggak salah? Ini istri kamu? Kamu nggak digun*-gun*, kan, sama dia?" tanya Fani sekaligus mencibir.


"Apa maksud kamu dengan berkata seperti itu? Dia benar-benar istriku. Dia jauh lebih baik daripada kamu!"


"Lebih baik daripada aku? Kamu lihat dong Ayman, baik dari mana? Lihat saja wajahnya yang kusam itu. Kamu pasti akan malu kalau jalan sama dia."


"Kata siapa? Aku sama sekali tidak malu jalan sama istriku. Bahkan aku sangat bahagia dengan keberadaannya di sisiku."


"Kamu bicara seperti itu hanya untuk menyenangkan dia saja, kan?" tanya Fani sambil menunjuk Zayna.


"Aku mengatakan yang sejujurnya. Kamu tentu tahu bagaimana kepribadianku. Aku paling tidak suka kehidupanku diusik oleh orang lain dan terima kasih telah mengganggu waktu kami. Kami permisi."


Ayman mengajak istrinya meninggalkan restoran itu. Untungnya tadi dia sudah membayar saat setelah pesan jadi, pria itu tidak perlu menunggu untuk membayar. Zayna hanya menuruti ajakan sang suami, dirinya juga malas terlibat masalah dengan orang lain.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2