Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
160. Mengantar istri


__ADS_3

Ketiga wanita itu pun memasak bersama. Kinan sangat senang bisa banyak belajar dari mertuanya. Sebenarnya dia ingin sekali memasak sendiri dari resep yang pernah Kinan pelajari dari Zayna. Akan tetapi, wanita itu merasa tidak enak karena Bik Yani sudah menentukan menu pagi ini.


Mama Aida juga senang bisa mengajari Kinan memasak. Dia merasa seperti mengajari anak gadisnya sendiri. Dulu sebagai pelampiasan, wanita itu selalu memaksa Hanif untuk belajar masak. Kini sudah ada yang diajari.


“Kinan, kamu panggil suami kamu. Makanan semuanya sudah siap!” perintah Mama Aida.


“Iya, Ma.” Kinan segera pergi ke lantai atas, menuju kamarnya.


“Mas, makanan sudah siap. Sudah ditunggu Mama di bawah,” ucap Kinan pada sang suami begitu memasuki kamar. Tampak Hanif yang begitu sibuk dengan ponselnya.


“Iya, sebentar lagi aku turun,” sahut Hanif tanpa menoleh. Tentu saja itu membuat Kinan kesal.


“Mas, ini ‘kan masih di rumah, masa masih kerja juga."


“Cuma balas pesan dari asistennya papa.”


“Kamu masih belum ada asisten, Mas?”


“Belum, masih menunggu salah satu mahasiswaku lulus.”


"Siapa? Apa aku mengenalnya?"


"Namanya Rio, dia asisten dosenku dulu."


“Memang dia sudah menerimanya? Sepertinya kalian memang cocok, sama-sama kaku."


“Sudah, kemarin dan alhamdulillah dia menerimanya. Sebenarnya kamu itu memuji atau menghina?" tanya Hanif dengan menatap wajah sang istri.


“Kenapa mas pilih dia? Kenapa tidak yang profesional saja, yang sudah sering bekerja sebagai asisten. Kalau baru pasti akan perlu waktu belajar dan menyesuaikan diri.”


“Tapi mencari orang yang setia dan bisa dipercaya itu sangat sulit dan aku percaya pada Rio. Dia selalu melakukan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Aku harap kali ini juga begitu.”


“Mudah-mudahan saja seperti itu. Ayo, kita turun! Nggak enak yang lain pada nunggu," ajak Kinan yang diangguki Hanif.


Pria itu pun turun bersama dengan sang istri. Tampak Papa dan Mamanya sudah duduk di sana. Berbagai macam menu juga sudah terhidang di meja. Hanif bukan orang yang pemilih soal makanan. Apa pun yang ada, pasti dia makan asal tidak pedas.


“Selamat pagi,” sapa Hanif.

__ADS_1


“Pagi.”


“Kamu sudah mendapat pesan dari Pak Burhan?” tanya Papa Wisnu.


“Sudah, Pa, baru saja. Insya Allah aku masih bisa menyelesaikannya. Rio juga dua minggu lagi sudah bisa bekerja.”


“Baguslah kalau begitu. Papa hanya khawatir saja jika kamu tidak bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu."


“Sudah, tidak usah membahas pekerjaan di meja makan. Sekarang waktunya sarapan,” tegur Mama Aida yang membuat semua orang diam dan menikmati sarapannya.


Setelah selesai sarapan, Hanif pergi ke kantor. Namun, dia lebih dulu mengantar sang istri ke kampus. Awalnya wanita itu ingin membawa mobil sendiri, tetapi Hanif melarang. Pria itu ingin mengantar Kinan sampai dengan selamat.


Dia juga ada keperluan dengan Rio—mahasiswa yang dia rekrut. Kinan pun mengiyakan saja. Mengenai nanti dia pulang, bisa memesan taksi jika Hanif masih sibuk atau bisa ikut teman lain yang searah.


“Mas, kenapa pilih Rio sebagai asisten kamu? Kenapa tidak pilih mahasiswa yang lain. Padahal aku pernah dengar ada mahasiswa yang lebih pandai dari dia,” tanya Kinan pada sang suami, saat mereka dalam perjalanan menuju kampus.


“Praktek dengan ilmu itu berbeda, Sayang. Kadang yang kita pelajari itu sangat mudah, tapi prakteknya yang sulit. Tergantung pada kegigihan setiap orang, seberapa besar mereka ingin belajar. Aku melihat itu pada diri Rio. Dia orang yang pantang menyerah, sesulit apa pun dia pasti akan mencobanya. Apalagi dia dari kalangan orang kurang mampu. Memangnya siapa yang lebih pandai dari Rio, sampai kamu begitu perhatian padanya? Aku saja tidak pernah memperhatikan mahasiswa yang pandai.”


“Aku tidak memperhatikannya, hanya tahu sekilas saja. Biasanya dosen itu paling hapal sama mahasiswa yang pandai. Kenapa malah bertanya padaku?"


Mobil mereka akhirnya sampai juga di parkiran universitas. Kinan pamit pada sang suami menuju ruang kelasnya, sementara Hanif menunggu Rio di mobil. Baru saja dia mengirim pesan, berharap mahasiswa itu tidak terlalu lama.


“Pak Hanif, apa kabar?” sapa Pak Munif saat melihat keberadaan Hanif dari jendela mobil yang terbuka. Hanif turun dan menyapa balik sahabatnya itu.


“Alhamdulillah, baik. Kalau Pak Munif sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Hanif balik.


Sejak dirinya memutuskan untuk berhenti. Komunikasi mereka juga mulai terputus. Padahal biasanya keduanya sering berkomunikasi. Entah itu masalah mahasiswa tahu urusan yang lainnya.


“Alhamdulillah baik, sejak menikah baru kali ini Anda ke sini. Apa ada perlu? Apa Anda ingin mengajar lagi?"


“Tidak, Pak. Kebetulan saya ada keperluan dengan salah satu mahasiswa di sini.”


“Dengan Kinan?”


“Iya, termasuk, tapi ada yang lainnya juga.”


“Apa perlu saya memanggilkannya untuk Anda?” tanya Pak Munif.

__ADS_1


“Tidak perlu, Pak. Saya sudah mengirimkannya pesan, sebentar lagi juga dia akan datang. Oh ya, mengenai mata kuliah saya, apa ada sudah ada dosen pengganti saat ini?”


“Masih belum, kami masih memakai asisten Anda waktu itu. Mungkin bulan depan.”


“Kenapa harus menunggu bulan depan, Pak?” tanya Hanif yang merasa penasaran.


“Saat ini dia masih tinggal di luar kota.”


“Pasti dia orang yang hebat, sampai universitas rela menunggunya."


"Saya dengar juga seperti itu, Pak, tapi saya juga tidak tahu betul bagaimana orangnya," sahut Pak Munif. Hanif hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa pun. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya


"Anda tenang saja, Pak Hanif. Kinan orangnya tidak mudah kepincut dengan dosen baru," goda Pak Munif yang melihat keterdiaman Hanif.


"Anda bisa saja. Saya juga percaya pada istri saya."


"Baiklah kalau begitu. Saya tinggal dulu saya harus mengisi kelas pagi ini," pamit Pak Munif.


"Silakan, Pak. Saya akan menunggu Rio di sini saja."


Pak Munif mengangguk dan meninggalkan temannya sendiri di tempat parkir. Hanif melihat sekeliling kampus, tempat dulu dia bekerja. Kenangan saat pertama kali memasuki universitas ini tiba-tiba muncul. Senyum terbit di bibirnya kala teringat keluguan Kinan saat mengikuti perkenalan mahasiswa.


Kampus ini adalah tempat dia bekerja untuk pertama kali. Semua demi Kinan dan juga demi cita-citanya. Kini pria itu harus menjadi pengusaha demi orang tuanya dan juga sang istri. Dari lubuk hatinya, ingin sekali Hanif kembali mengajar. Namun, tidak mungkin dia membuat kedua orang tuanya kecewa. Apalagi sampai mengingkari janjinya.


"Pak Hanif, Anda ada di sini? Anda mau mengajar lagi?" tanya Niko yang baru saja lewat. Dari jauh dia tadi melihat keberadaan dosennya. Pria itu penasaran apa tujuan Hanif datang.


"Tidak saya ada keperluan sebentar," jawab Hanif dengan nada datar. Sebenarnya dia cukup malas berbicara dengan Niko, tetapi pria itu tidak mungkin mengabaikannya begitu saja.


"Saya kira Anda ingin mengajar lagi karena saya dengar, sudah ada dosen pengganti untuk mata kuliah Anda. Saya juga dengar Jika dia masih muda dan juga pintar. Apa Anda tidak takut jika istri Anda terpikat olehnya?"


Hanif tertawa dibuatnya. Ternyata pria ini masih tidak mengenal siapa Kinan. Pantas saja istrinya tidak respect sama sekali padanya. Sekuat apa pun pria itu berusaha meluluhkan Kinan, wanita itu sama sekali tidak peduli.


"Saya sangat percaya pada Kinan jangan samakan dia sepertimu. Yang bisa dengan mudah berpindah hati hanya karena fisik dan materi."


.


.

__ADS_1


__ADS_2