
"Kak, ayo, pulang! Aku capek," keluh Kinan.
"Bentar lagi, Kakak masih harus beliin baju buat Mas Ayman. Ayo!" Zayna menarik tangan adiknya.
Saat ini keduanya berada di mall. Mereka sudah berkeliling ke sana ke mari, hingga membuat Kinan kelelahan. Namun, Zayna sama sekali tidak merasakan apa pun. Justru wanita itu makin asyik dengan kegiatannya. Padahal biasanya Kinan yang paling bersemangat, tetapi sekarang Zayna lah yang berlebihan. Zayna sudah banyak berbelanja. Namun, sayangnya belum juga puas.
"Ayo! Nanti kamu mau apa, biar kakak yang bayar," ucap Zayna. Namun, tidak juga membuat Kinan bahagia karena memang dia sudah sangat ingin pulang dan beristirahat.
"Nggak usah, deh, Kak. Kakak saja yang belanja, habis itu kita pulang. Aku sudah benar-benar capek."
"Iya, deh."
Zayna dan Kinan pun pergi ke sebuah toko dan membelikan baju untuk Ayman. Setelah itu, keduanya pulang. Kinan merasa lega karena akhirnya bisa istirahat juga. Seluruh badannya terasa pegal.
Sementara itu, Ayman yang berada di rumah merasa terkejut, saat mendapat notifikasi pengeluaran kartu kredit Zayna hari ini. Tidak biasanya wanita itu menghabiskan uang sebanyak itu. Dia penasaran untuk apa saja uang itu. Ayman menuju dapur karena tenggorokannya tiba-tiba kering.
"Bik, tadi Zayna pamit ke mana?" tanya Ayman sambil membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air minum.
"Katanya mau ke mall, Tuan. Tadi perginya sama Non Kinan juga, kok!" jawab Bik Ira.
"Oh, sama Kinan? Pantas saja.
"Pantas saja kenapa, Tuan?"
"Tidak apa-apa, Bik."
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ayman yakin itu pasti istri dan adiknya. Benar saja saat dia keluar rumah Zayna dan Kinan sedang berusaha menurunkan belanjaan mereka. Pria itu hanya bisa menggelengkan kepala. Pantas saja pengeluaran begitu banyak, ternyata banyak sekali yang mereka beli. Ayman berusaha mendekati mereka untuk membantu membawakannya.
"Kalian belanja apa saja? Kenapa sebanyak ini?" tanya Ayman.
"Kakak tanya pada Kak Zayna saja sendiri. Aku mau bawa belanjaanku," sahut Kinan sambil membawa tiga papper bag miliknya.
__ADS_1
"Ini belanjaan kamu semua, Sayang?" tanya Ayman tanpa sengaja menaikkan nada suaranya karena terkejut.
Zayna mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau respon suaminya seperti itu. Padahal ini pertama kalinya wanita itu belanja sebanyak ini. Di dalamnya juga bukan hanya untuknya sendiri. Ada baju untuk sang suami dan kedua mertuanya. Ayman yang melihat wajah istrinya pun jadi merasa bersalah.
"Ayo, kita bawa ke dalam. Mau dicoba sekalian bajunya? Pasti kamu terlihat cantik," ucap Ayman mencoba untuk membujuk istrinya. Dia tidak ada maksud untuk marah pada Zayna. Pria itu hanya terkejut saja.
"Maaf, Mas. Tidak seharusnya tadi aku belanja segini banyak. Maaf sudah menghabiskan uangmu."
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya terkejut tadi, tidak apa-apa, kok. Aku 'kan bekerja buat kamu. Maafin aku, ya!"
"Jadi aku boleh belanja lagi besok?" tanya Zayna dengan wajah sumringah.
Ayman terkejut mendengar pertanyaan Zayna. Padahal baju yang hari ini dibeli saja, belum dipakai, tetapi sudah izin belanja lagi besok. Namun, menolak juga pasti akan semakin menyakiti hati istrinya.
"Iya, kamu bebas mau pergi ke mana pun, asal izin sama aku dan tidak melakukan hal yang dilarang."
Zayna mengangguk dengan antusias, kemudian membawa semua belanjanya ke dalam rumah dengan dibantu oleh sang suami. Di ruang tengah ada kedua mertuanya yang sedang menonton televisi. Tidak jauh berbeda dengan ekspresi Ayman, Mama Aisyah juga terkejut dengan belanjaan menantunya. Namun, hal yang tak terduga ternyata belanjaan itu bukan hanya untuk wanita itu sendiri. Ada juga pakaian untuk kedua mertuanya dan Bik Ira.
"Iya, dong, Bi. Buat siapa lagi, masak buat Mas Ayman."
"Tapi ini bagus sekali, Neng. Pasti harganya sangat mahal."
"Sudah, Bik. Nggak usah dipikirkan harganya, yang penting Bibi suka. Nanti dipakai, ya, Bik."
"Iya, Neng. Terima kasih hadiahnya."
"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu. Ayo, Mas ini baju buat kamu. Kita coba di kamar saja."
"Iya, boleh." Ayman dan Zayna pun menuju kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Kenapa liatin mereka sampai segitunya, Ma?" tanya Papa Hadi pada sang istri.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, cuma tumben saja Zayna belanja segini banyak" jawab Mama Aisyah yang masih melihat ke arah tangga yang tadi dilalui anak dan menantunya.
"Dia belanja bukan cuma untuk dirinya sendiri, jadi wajar kalau belanjanya banyak."
"Iya, juga, Pa. Habis berapa dia beliin semua orang. Pasti Ayman terkejut tidak biasanya istrinya belanja segitu banyak."
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Selama itu baik untuk mereka, kita diam saja."
"Iya, Pa. Lihat! Ini tuh baju keluaran terbaru. Mama baru melihatnya hari ini. Zayna tahu saja," ujar Mama Aisyah sambil melebarkan bajunya.
"Mama tuh kalau urusan baju baru, paling cepat."
"Iya, dong," sahut Mama Aisyah dengan cepat dan senyum yang lebar.
Sementara itu, di dalam kamar, Zayna memberikan kaos yang dia beli untuk sang suami. Ayman begitu terkejut saat melihatnya, ternyata baju yang dibeli istrinya berwarna kuning cerah. Dia paling tidak suka warna itu. Ayman sudah terbiasa dengan warna gelap karena menurutnya itu terlihat keren untuk pria.
"Kok warna kuning, sih, Sayang. Kamu 'kan tahu aku tidak suka warna yang seperti ini," ucap Ayman.
"Tapi ini tuh keren, Mas. Lihat! Warnanya aku suka, kamu harus pakai ini malam ini."
"Sayang, kenapa tadi belinya warna ini? Kenapa tidak warna hitam atau coklat. Aku nggak suka ini sayang. Yang lain saja, ya? Kamu beli apa lagi?" tanya Ayman sambil mencoba mencari di papper bag lainnya.
"Nggak ada, Mas. Pokoknya aku maunya kamu pakai ini, pasti terlihat ganteng. Kulit kamu sudah putih, ini ditambah warna yang cerah pasti tambah ganteng. Ayolah, Mas! Ini pasti cocok buat kamu." Zayna masih mencoba merayu sang suami.
"Nggak mau. Sudahlah, kamu cepat mandi. Aku tunggu di bawah," ucap Ayman yang berlalu begitu saja tanpa menunggu ucapan saya istri.
Wanita itu merasa sedih karena apa yang dia beli tidak disukai oleh sang suami. Padahal Zayna sangat ingin melihat suaminya memakai baju warna itu. Semua tempat wanita itu datangi demi mencari kaos itu, tetapi setelah dapat, kini malah tersisih begitu saja.
.
.
__ADS_1