
Malam hari semua keluarga berkumpul di ruang makan. Mereka tengah menikmati makan malam bersama. Begitu juga dengan pasangan pengantin baru yang ikut bergabung. Hanif senang bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Papa Hadi dan Mama Aisyah juga tidak membedakan antara anak dan menantu.
Saat sedang asyik menikmati makan malam, bel rumah berbunyi, Bik Ira segera ke depan untuk membuka pintu, sementara yang lain tetap melanjutkan makan malam mereka.
“Malam-malam begini siapa yang datang? Mengganggu saja,” gerutu Kinan.
“Mungkin ada sesuatu yang penting, jangan seperti itu,” tegur Mama Aisyah. Meski sebenarnya dia juga penasaran siapa yang datang.
“Tuan, di depan ada Mbak Wina. Dia ingin bertemu dengan Den Ayman,” ucap Bik Ira yang baru saja dari depan. Semua orang beralih menatap Ayman, menunggu jawaban dari pria itu. Entah apa yang diinginkan wanita itu kali ini.
“Ada apa lagi dia ke sini, Bik?” tanya Papa Hadi.
“Saya kurang tahu, Tuan. Mbak Wina cuma bilang mau ketemu Den Ayman, tidak mengatakan apa-apa lagi."
“Suruh tunggu di ruang tamu saja, Bik. Nanti saya dan Zayna akan keluar,” sahut Ayman.
“Iya, Den.” Bik Ira segera kembali ke depan, sementara yang lain masih menatap Ayman.
“Kenapa pada ngeliatin aku kayak gitu? Nggak mungkin kalau aku membiarkan Wina tetap berdiri di depan, kan?” tanya Ayman seolah tahu apa yang keluarganya pikirkan.
“Memangnya Kakak yakin mau bertemu dengan Wina? Apa Kakak nggak takut kalau dia membuat masalah lagi?” tanya Kinan.
Dirinya yang sangat tahu bagaimana karakter Wina. Wanita itu tidak akan membiarkan Ayman hidup tenang. Masalah yang sebelumnya sudah sangat membuat semua orang pusing, kini malah datang kembali. Tidakkah wanita itu tahu diri sedikit saja.
“Insya Allah, tidak. Sekarang kita ada di rumah, dia tidak mungkin macam-macam.”
“Mudah-mudahan apa yang Kakak katakan benar.”
Papa Hadi dan Mama Aisyah hanya diam. Keduanya membiarkan Ayman mengatasi masalah ini. Jika nanti dia tidak bisa, barulah mereka akan turun tangan.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makan malamnya, Ayman mengajak sang istri keluar untuk menemui Wina. Dia ingin tahu apa yang diinginkan oleh wanita itu. Ayman juga penasaran, bukankah selama ini Wina tinggal bersama dengan saudara Dokter Rudi. Bagaimana mungkin dia bisa di sini. Apakah wanita itu sudah benar-benar sembuh?
“Hai, Wina, apa kabar?” sapa Ayman, sedangkan Zayna hanya tersenyum tanpa mengucapkan satu kata pun.
“Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik. Aku datang ke sini untuk meminta maaf sama kamu. Selama ini aku sudah terlalu banyak menyusahkan kamu dan keluargamu,” sahut Wina.
“Kami sama sekali tidak merasa repot. Kami senang bisa membantumu. Bagaimanapun juga kita pernah bertetangga. Orang tua kita juga berteman."
“Iya, terima kasih. Mengenai masalah kemarin, aku minta maaf sudah membuat masalah dalam kehidupan rumah tanggamu, tapi aku bersyukur kamu memiliki istri seperti Zayna, yang sangat sabar menghadapi setiap ujian. Kalian memang pasangan yang sangat serasi."
“Kami sudah memaafkanmu tanpa kamu meminta maaf. Kita semua saudara jadi, lupakanlah hal yang sudah terjadi. Aku senang jika kamu sadar mengenai apa yang sudah kamu lakukan.”
Wina tersenyum dan mengangguk. Dia sangat bersyukur dikelilingi orang-orang baik seperti mereka. “Setelah ini aku akan menetap di tempatku tinggalku. Semoga ada kesempatan untuk kita bisa bertemu lagi. Jika pun tidak ada, semoga kalian semua dalam keadaan baik.”
“Amin, terima kasih, semoga kita masih bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Sampaikan juga pada Papa Hadi, terima kasih sudah membawaku bertemu Dokter Rudi. Banyak pelajaran yang aku dapat dari beliau dan juga saudaranya. Mereka juga yang sudah menyadarkanku.”
“Amin, semoga hari itu akan segera tiba.”
Mereka pun berbincang beberapa hal. Wina juga menceritakan apa alasan orang tuanya mengalami kecelakaan. Saat itu mereka sedang berdebat mengenai perasaan Wina terhadap Ayman. Wanita itu ingin orang tuanya tetap menikahkan dirinya dengan pria itu meski harus menjadi istri kedua. Namun, kedua orang tuanya sangat menolak keras.
Apalagi mengingat hubungan mereka dan keluarga Ayman yang sudah tidak baik. Perdebatan terjadi cukup lama, sampai akhirnya Wina marah dan menarik-narik baju papanya. Hingga hilang kendali pada kemudi dan mobil pun terjadi kecelakaan. Ayman dan Zayna sama-sama terkejut mendengar cerita tersebut.
Pantas saja Wina depresi karena rasa bersalahnya. Secara tidak langsung kecelakaan itu terjadi karena keegoisan dari wanita itu. Namun, mereka tidak bisa menyalahkan Wina. Semuanya sudah terjadi, tidak sepantasnya juga masalah itu di ungkit kembali.
“Semua itu sudah berlalu, aku yakin orang tuamu juga pasti sudah memaafkanmu. Semuanya sudah terjadi dan kamu juga tidak berniat untuk mencelakai mereka. Itu sudah takdir dari Sang Maha Pencipta. Ikhlaskan semuanya, perlahan semuanya akan terasa ringan."
“Iya, tapi tetap saja aku merasa bersalah ... sudahlah, Dokter Rudi juga bilang aku tidak boleh lagi membahas hari ini. Aku ke sini juga hanya ingin minta maaf padamu. Aku harus segera kembali, sopir Dokter Rudi sudah menunggu di depan."
"Iya, kamu hati-hati di jalan. Jaga dirimu baik-baik."
__ADS_1
Wina mengangguk, sebelum pergi dia memeluk Zayna sebagai permintaan maafnya. Istri Ayman pun dengan senang hati membalas pelukannya. Dia senang melihat perubahan dari wanita itu. Semoga saja seterusnya seperti ini, bahkan bisa lebih baik lagi.
"Aku permisi dulu, terima kasih sudah mau menerima kedatanganku. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Wina berjalan meninggalkan rumah keluarga Ayman. Setelah ini dia akan membuka lembaran baru lagi. Tentu juga membuka hati yang baru. Ayman dan Zayna hanya melihat kepergian Wina dalam diam.
"Dia sudah pergi. Ayo, sekarang kita masuk ke dalam! Angin malam tidak baik untuk ibu hamil," ajak Ayman. Zayna mengangguk dan masuk ke dalam rumah bersama-sama.
"Wina sudah pulang, Kak?" tanya Kinan yang masih berada di ruang keluarga bersama suaminya.
"Sudah, baru saja pulang," jawab Ayman yang ikut duduk di sana bersama dengan Zayna juga.
"Mau apa dia datang ke sini? Dia nggak cari masalah lagi, kan?"
"Tidak, dia cuma minta maaf, kamu jangan suudzon terus sama orang."
"Habisnya feeling aku sama dia itu udah nggak enak dari awal. Makanya ke sini-sini juga tetep aja nggak enak."
"Itu harus dirubah. Nanti malah keterusan."
"Iya, nanti aku rubah."
Mereka pun menonton acara televisi sambil berbincang hangat. Sesekali Ayman dan Hanif berbicara soal bisnis, tentu saja membuat Zayna dan Kinan kesal karena mereka sama-sama tidak mengerti.
.
.
__ADS_1