Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
321. S2 - Aina dirawat


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Zayna pada putrinya yang baru saja membuka mata.


"Mama, aku ada di mana?" tanya Aina sambil melihat ke sekeliling.


"Kamu ada di rumah sakit, tadi siang kamu pingsan makanya tadi Umi Rikha bawa kamu ke sini."


Aina mencoba mengingat apa yang sebelumnya sudah terjadi, hingga akhirnya dia pun ingat sesuatu, jika dirinya tadi sedang mengerjakan pekerjaan rumah dan kelelahan. Perutnya juga tidak terisi apa pun. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar, pasti saat ini papanya juga sudah tahu mengenai apa yang terjadi pada dirinya. Wanita itu mencoba mencari keberadaan sang papa dan ternyata pria itu ada di sofa dengan memainkan ponselnya.


Aina jadi merasa bersalah, pasti saat ini Ayman sedang marah. Terlihat jika papanya lebih fokus pada ponsel di tangannya daripada dirinya yang saat ini tengah terbaring lemah. Pria itu pasti kecewa karena apa yang Aina katakan sebelumnya, mengenai usaha dia dan keluarga suami akan akrab tidak terjadi dan beginilah wanita itu, berada di rumah sakit.


"Kenapa diam saja? Apa ada sesuatu yang mengganggu?" tanya Zayna pada sang putri.


"Mas Ali mana, Ma? Dia tadi ke sini, kan?"


"Iya, dia tadi ke sini, tadi dia bilang mau antarin ibunya pulang. Mungkin besok baru ke sini, kamu tidur waktu dia pulang," jawab Zayna berbohong.


Nyatanya Ayman lah yang mengusir mereka. Tadinya Ali tidak mau pulang, dia yang masih ingin menunggu keadaan sang istri sampai pulih. Namun, Mama Zayna memberi pengertian jika saat ini keadaan sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu meminta Ali pulang dulu bersama ibunya, keadaan besannya juga tidak baik-baik saja. Pria itu bisa ke sini besok lagi, saat kondisi sudah membaik.


Sementara itu, Ayman yang berada di sofa hanya diam saja. Dia mendengar semua pembicaraan antara istri dan anaknya. Namun, dalam hatinya masih terpendam amarah yang begitu besar jadi, daripada dirinya harus meluapkan amarahnya, lebih baik diam saja.


Zayna yang melihat arah pandang putrinya pun segera menyela, "Oh ya, tadi Aini dan Zea ke sini, tapi karena kamu tidur jadi mereka pulang, mereka nggak mau ganggu kamu. Mungkin besok akan ke sini, lagi pula Aini juga sedang tidak enak badan jadi, dia harus banyak istirahat."


"Aini sakit, Ma? Sakit apa? Kenapa dia tidak mengabariku?" tanya Aina yang terkejut dengan berita tentang saudara kembarnya.

__ADS_1


"Mungkin karena ikatan batin antara dia dan kamu, jadi dia merasa demam, besok juga sembuh dan kamu juga pasti akan membaik. Biasanya 'kan kalian selalu seperti itu." Zayna mencoba tersenyum untuk menghibur putrinya.


Dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dalam rumah tangga anaknya. Namun, yang pasti telah terjadi sesuatu yang mengakibatkan putrinya dalam keadaan seperti ini. Ingin sekali Zayna bertanya pada Aina tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi bibirnya terasa berat untuk bertanya. Lebih baik putrinya yang mengatakan jika ingin, kalau pun tidak juga tidak apa-apa.


Wanita itu juga yakin Ayman pasti sudah memikirkan semuanya. Kali ini dia akan mengikuti sang suami, terserah jika Aina masih tetap bersama dengan suaminya. Zayna tidak ingin apa pun yang buruk terjadi pada sang putri. Selama ini dirinya sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga, tetapi saat anaknya baru saja bersama dengan orang lain, justru harus menelan kekecewaan yang sebesar ini.


Keesokan paginya, benar saja Aini sudah sembuh. Dia datang menjenguk saudara kembarnya yang masih terlihat lesu. Di luar tadi dirinya bertemu dengan mamanya dan wanita yang melahirkannya itu meminta dirinya agar menghibur Aina.


"Ada apa nih, my sister? Kamu kenapa pakai sakit segala? Biasanya kamu yang paling kuat, kenapa sekarang jadi letoy?" cibir Aini yang memang sengaja agar saudaranya berbicara.


Aina memutar bola matanya malas. "Kalau kamu ke sini mau mengejekku, lebih baik pulang saja deh!"


"Yakin! Suruh aku pulang? Nanti juga kalau aku sampai rumah, kamu nyariin. Nggak usah sok-sokan kuat di depanku. Aku sangat tahu siapa kamu," sindir Aini yang seketika membuat Aina terlihat membeku.


"Bukan maksudku untuk meremehkan kamu, Aina. Maaf, tadi aku salah bicara."


Aina tersenyum, dia sangat mengerti maksud saudaranya. "Tidak apa-apa, aku mengerti apa maksudmu. Jangan terlalu dipikirkan, terima kasih sudah jenguk aku."


"Sama-sama, cepat sembuh nanti kita jalan-jalan bareng. Memangnya kamu nggak kangen aku sama Baby Icha? Aku saja yang baru sehari nggak ketemu kangen banget."


"Iya, bagaimana kabarnya? Aku sudah lama tidak melihatnya."


"Dia tambah gembul, sebentar aku lihatin fotonya." Aini mencari ponsel yang ada di dalam tas dan menunjukkan gambar keponakannya yang terlihat begitu gemuk. Bahkan ada beberapa foto Aini bersama dengan bayi kecil itu. Aina jadi merasa iri karena tidak bisa merasakan kebersamaan itu.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri, dia begitu gemuk dan menggemaskan."


"Iya, dia juga cantik."


"Tentu, dong! Dia 'kan cantik kayak aku, tantenya," jawab Aini dengan tersenyum bangga, membuat Aina menatapnya sinis. Sama seperti saat mereka sedang bercanda dulu, setiap hari.


"Ngapain itu mata? Mau dicolok? Memang bener 'kan dia itu cantik kayak tantenya yang paripurna."


Aina semakin menatap saudaranya dengan pandangan sinis, kemudian terdengar helaan napas dari bibirnya. "Terserah kamu deh emang aku pernah menang kalau berdebat sama kamu."


"Nah! Gitu baru bagus karena memang harusnya apa yang aku katakan tadi adalah kebenaran."


"Kamu sendirian ke sini? Zea nggak ikut?" tanya Aina yang sengaja mengalihkan pembicaraan sekaligus merindukan sepupunya itu.


"Dia itu ke mana-mana selalu ditempelin sama Kak Adam, mana bisa dia pergi keluar."


Aina terkekeh mendengar gerutuan saudaranya. "Nggak nyangka, ya! Kak Adam bisa bucin juga. Padahal mereka sudah bersamanya dari kecil."


"Nggak usah bahas mereka, nanti yang ada mereka malah kedutan."


Aini dan Aina pun berbincang beberapa hal yang akhir-akhir ini tidak bisa mereka lakukan. Hingga terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam. Ternyata Ustaz Ali yang datang dengan membawa kotak makanan. Pastinya akan diberikan kepada sang istri.


Aina akan bangun untuk menyambut sang suami. Namun, Ali lebih dulu mencegahnya dan meminta istrinya agar berbaring saja Aini hanya meliriknya sekilas. Sebenarnya ingin sekali dia marah pada saudara iparnya itu. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tetapi dengan melihat keadaan Aina saja semuanya sudah terjawab, tanpa harus mendengar penjelasan lagi.

__ADS_1


__ADS_2