
“Hanif, Kinan,” panggil dua orang wanita yang berlari ke arah dua orang yang sedang duduk di kursi tunggu.
Kinan terkejut melihat kedatangan kedua mamanya. Dia tidak memberitahu Mama Aisyah, kenapa wanita itu ada di sini. Pasti tadi Mama Aida yang memberitahu. Kedua orang tuanya memang selalu kompak, semoga seterusnya seperti itu
"Bagaimana keadaan kalian? Kenapa tidak ada yang ngasih tahu Mama?" tanya Mama Aisyah yang baru saja datang.
Dia memeluk sang putri karena begitu khawatir tadi, saat Aida mengatakan kalau Hanif kecelakaan. Wanita itu takut terjadi sesuatu pada keduanya. Meskipun besannya sudah mengatakan jika mereka tidak apa-apa. Justru menabrak anak kecil, tetap saja sebagai orang tua Mama Aisyah khawatir.
"Kami tidak apa-apa, Ma. Cuma anak itu saja yang masih ada di dalam. Dia juga masih belum sadar. Sebentar lagi dia akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Semoga saja dia tidak apa-apa," jawab Kinan yang berada dalam pelukan mamanya.
"Orang tua anak itu di mana?" tanya Mama Aida sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Itu dia, Ma. Waktu kami menabrak anak itu, dia sedang sendiri. Kami mencoba mencari tahu dengan menanyakan pada orang sekitar, tapi tidak ada yang mengenalnya. Kami juga memberikan nomor kami pada salah satu penjual di sana. Siapa tahu ada yang mencarinya," ujar Kinan yang diangguki kedua orang tuanya.
"Anak kecil itu umur berapa, sih? Laki-laki atau perempuan? Kenapa sampai ditinggalin orang tuanya," tanya Mama Aisyah yang ikut kesal dengan tingkah orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Di luar sana banyak sekali yang ingin miliki anak. Ini malah sudah ada di sia-siakan. Sungguh kasihan sekali anak itu. Jika mereka belum siap memiliki anak, seharusnya dicegah saja lebih dulu.
"Laki-laki, umurnya sekitar tujuh atau delapan tahun. Kita juga tidak tahu kenapa dia ditinggalin atau tidak sengaja terlepas."
"Umur segitu tidak seharusnya ditinggal sendiri. Bagaimana, Sih, orang tuanya itu," gerutu Mama Aisyah.
"Mungkin dia pergi dari orang tuanya, anak kecil biasanya suka seperti itu. Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tuanya sekarang."
"Iya, juga."
Ruang UGD terbuka, dua orang perawat mendorong brankar yang terdapat anak kecil tadi, menuju ruang pemeriksaan. Semua orang mengikuti dari belakang dan menunggu di luar ruangan. Pemeriksaan dilakukan cukup lama semua dilakukan oleh dokter ahli, hingga tidak terasa waktu sudah sore.
"Ini sudah sore, tapi kenapa belum ada yang mencari anak itu, ya? Padahal anaknya seharian tidak terlihat," tanya Kinan.
"Iya, juga. Ini sudah sore, apa mungkin orang yang kita titipin nomor telepon sudah pulang saat orang itu datang?" tanya Hanif yang memikirkan beberapa kdmungkinan.
"Tapi yang melihat kejadian itu banyak, Mas. Pasti mereka juga sudah mengatakan pada orang yang mencarinya."
"Iya juga, sih. Semoga saja secepatnya ada yang mencarinya. Kasihan kalau dia sendirian tidak ada yang mencari. Padahal dia dari keluarga yang cukup berada."
"Bagaimana Mas bisa berkata seperti itu?"
Kinan menatap sang suami. Dia ingin meminta penjelasan mengenai pemikiran pria itu. Mereka saja tidak tahu siapa keluarganya, kenapa bisa berpikir ke arah sana. Jika benar anak itu termasuk keluarga berada, kenapa dibiarkan di jalan sendiri.
"Sayang, dilihat dari pakaian yang anak itu pakai, sepertinya dia bukan anak jalanan. Bukan orang tidak mampu juga karena bajunya juga cukup bermerk. Nanti akan aku usahakan mencari orang tuanya," ujar Hanif yang diangguki Kinan.
__ADS_1
Keduanya saat ini masih bingung memikirkan nasib anak ini. Entah bagaimana ke denpannya, semoga saja orang tuanya segera ditemukan. Anak itu pun bisa berkumpul dengan keluarganya. Kinan juga masih takut terjadi sesuatu pada sang suami.
"Apa kita perlu lapor polisi, Mas? Nanti kamu malah yang akan kena karena kamu yang nabrak dia. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu."
"Insya Allah tidak, lagi pula di sana juga ada CCTV jadi, bisa terbukti siapa yang salah. Meskipun anak kecil tidak dipersalahkan. Aku juga tidak lari dari tanggung jawab."
Kinan mengangguk. Meskipun begitu, tetap saja ada rasa takut di dalam hatinya.
"Mama Aida, Mama Aisyah, sebaiknya pulang saja. Ini sudah sore, pasti kalian juga sudah lelah," ucap Hanif pada kedua mamanya.
"Tidak apa-apa, kami tunggu anak itu sampai keluar. Kami ingin tahu bagaimana hasilnya," tolak Mama Aida yang tetap ingin menunggu. Di rumah juga dia pasti tidak bisa tenang. Begitu juga dengan Mama Aisyah yang sependapat dengan besannya.
"Ma, besok 'kan bisa datang ke sini atau nanti kalau dokter sudah mengatakan hasilnya, aku akan mengatakannya sama Mama. Sekarang sebaiknya pulang dulu." Hanif mencoba membujuk mamanya, tetapi sepertinya sangat sulit. Keduanya tetap kekeh ingin menunggu di sini.
"Papa juga sebentar lagi pulang, pasti akan nyariin mama," timpal Kinan yang juga ingin membujuk mamanya.
"Tidak, Mama mau menunggu di sini saja. Mama juga sudah bilang sama Papa kalau Mama ada di rumah sakit, Papa bilang mau jemput ke sini," jawab Mama Aida.
"Iya, Mama juga bilang sama Papa buat jemput ke sini," sahut Mama Aisyah.
Kalau sudah seperti ini, Kinan dan Hanif hanya bisa pasrah. Terserah para orang tua saja mau seperti apa. Tidak berapa lama akhirnya pintu terbuka juga. Tampak seorang dokter keluar, diikuti oleh seorang perawat yang membawa beberapa map di tangannya.
"Sebaiknya Bapak ikut saya ke ruangan, saya akan jelaskan di sana."
"Iya, Dok."
Dokter itu pergi lebih dulu, diikuti perawat tadi.
"Kamu di sini saja, ya, Sayang," ucap Hanif pada sang istri.
"Aku mau ikut sama kamu, Mas. Aku juga mau tahu bagaimana keadaan anak itu."
"Baiklah kalau begitu, Mama Aisyah sama Mama Aida di sini saja dulu, tolong jagain anak itu, siapa tahu membutuhkan sesuatu," ucap Hanif yang meminta tolong pada kedua orang tuanya.
"Iya, kalian pergi saja, nanti kalau ada sesuatu yang penting segera beritahu kami. Jangan khawatirkan soal anak itu," sahut Mama Aida.
"Iya, Ma."
Hanif dan kinan mengikuti Dokter ke ruangannya. Keduanya duduk di depan meja dokter tersebut menunggu, apa yang ingin dijelaskannya.
"Jadi begini, secara keseluruhan, tidak ada yang fatal, tapi ada cedera yang dialami anak itu bisa mengakibatkan kehilangan ingatan sementara. Kembali lagi ini hanya prediksi saja. Bisa saja nanti dia baik-baik saja."
__ADS_1
Hanif dan Kinan saling pandang, keduanya merasa bersalah. Bagaimana jika itu memang benar terjadi lalu, bagaimana dirinya akan bertanggung jawab? Sampai sekarang saja kedua orang tuanya belum ada yang mencari.
"Kalau memang benar anak ini mengalami amnesia, apakah bisa sembuh, Dok?"
"Amnesia bisa sembuh dengan beberapa cara, ada yang dengan obat, ada pula yang dengan terapi. Setiap masing-masing orang juga berbeda. Bahkan ada yang tidak melakukan apa pun juga bisa kembali sendiri ingatannya, tapi anak ini saya rasa bisa sembuh karena lukanya juga tidak terlalu parah."
Dokter pun menjelaskan beberapa pengobatan untuk anak itu Kinan dan Hanif, keduanya mendengarkan apa saja yang dijelaskan oleh dokter tersebut untuk anak itu. Dia ingin anak itu segera sehat seperti sedia kala. Setelah semuanya jelas, Kinan dan Hanif kembali ke ruang pemeriksaan tadi, tetapi ternyata anak itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, karena sudah sadar. Keduanya segera pergi ke sana dan ingin melihat keadaan anak itu saat ini.
"Assalamualaikum," ucap Hanif dan Kinan secara bersamaan.
"Waalaikumsalam, kalian, dari tadi kami nungguin kamu. Anak ini sudah sadar, kami sudah bertanya padanya, tetapi anak itu hanya diam saja. Mungkin karena dia nggak kenal dengan kita."
"Ternyata, anak ini hilang ingatan," bisik Mama Aisyah membuat Kinan mengangguk.
Dia tidak begitu terkejut karena ini seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Dokter juga melarang mereka untuk bertanya-tanya pada anak itu agar tidak terlalu tertekan. Lebih baik membuatnya bahagia dan menganggap kita adalah keluarganya.
Kinan mencoba untuk mengajak anak itu berbicara. Awalnya malu-malu. Namun, setelah beberapa saat, dia mulai terbiasa dengan wanita itu.
"Assalamualaikum," ujar dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Siapa lagi kalau bukan Papa Hadi dan Papa Wisnu. Keduanya ingin melihat keadaan korban, seperti yang diceritakan oleh istri mereka.
"Waalaikumsalam."
Kedua pria itu duduk di sofa, di mana istri-istri mereka berada. Di sana juga ada Hanif yang duduk di sana.
"Bagaimana keadaan anak itu, Hanif?" tanya Papa Hadi.
"Kata dokter harus menjalani beberapa pengobatan," jawab Hanif seadanya.
"Keluarganya belum ada yang mencari juga?" tanya Papa Wisnu.
"Belum ada, Pa. Aku juga heran, padahal dia masih kecil, seharusnya masih dalam pengawasan."
"Kamu memangnya menabrak dia di mana? Biar nanti Papa coba bantu mencari orang tuanya, sekalian kamu tolong fotoin dia biar nanti lebih gampang cari orang mertuanya."
"Tadi aku sudah foto dia, nanti aku kirim ke ponsel Papa saja."
Mereka pun berbincang sejenak sebelum mengajak istri masing-masing pulang. Mama Aida sebenarnya masih ingin di sini, tetapi dengan bujukan sang suami, akhirnya wanita paruh baya itu mau pulang juga.
.
.
__ADS_1