Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
272. S2 - Rencana pernikahan Arslan


__ADS_3

"Apa syaratnya, Pa?” tanya Adam yang menatap papanya. Kinan juga penasaran kira-kira syarat apa yang akan diajukan oleh sang suami.


“Papa ingin kamu merahasiakan semuanya dulu dari Zea, sampai dia lulus kuliah.”


Adam mengerutkan kening karena tidak mengerti maksud kata-kata papanya. Dia merasa ada sesuatu yang berat yang harus dilakukan. Hanif yang mengerti kebingungan sang putra pun melanjutkan kata-katanya.


“Zea tahunya kamu akan menikah dengan Alin jadi, biarkan itu yang dia pikirkan sampai dia lulus nanti.”


“Kenapa begitu, Pa? Itu masih setahun lagi! Bagaimana jika dia jatuh cinta pada pria lain? Aku tidak rela."


Benar seperti yang dia pikirkan, ternyata syarat dari papanya sangat sulit. Jika seperti itu, bukankah sama saja dengan menjauhkan dirinya dengan Zea. Adiknya pasti berpikir jika Adam benar-benar tidak peduli pada perasaannya. Padahal pria itu juga mencintai Zea.


Sama seperti Adam, Kinan juga tidak begitu mengerti maksud sang suami, tetapi dia yakin pasti yang dilakukan pria itu ada sebabnya. Kinan menunggu penjelasan sang suami agar dirinya mengerti dan tidak salah paham.


"Ini semua demi masa depan adikmu. Jika saat ini kamu mengatakan padanya, pasti Zea akan pulang dan ingin segera menikah denganmu. Pada akhirnya dia tidak akan lagi fokus pada kuliahnya. Papa tidak ingin seperti itu, lagi pula Papa juga tidak sepenuhnya percaya dengan perasaan kamu. Papa takut jika Zea hanya kamu jadikan sebagai pelarian saja."


"Aku tidak melakukan hal itu pada Zea, Pa."


"Anggap saja setahun ini sebagai renungan kamu, untuk memikirkan apakah kamu benar-benar mencintai Zea sebagai wanita atau hanya sebagai adik."


Meskipun Hanif percaya jika Adam sangat mampu membahagiakan Zea. Akan tetapi, dia juga perlu bukti bahwa, Adam benar mencintai putrinya atau hanya terpengaruh keadaan saja. Pria itu tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari yang dirasakan anak-anaknya.


"Tapi, Pa. Bagaimana kalau Zea bertemu dengan laki-laki di luar negeri dan jatuh cinta padanta."


"Berarti memang kalian tidak berjodoh."


"Pa ...."


"Kenapa? Bukankah Tuhan memang sudah menetapkan jodoh untuk setiap masing-masing orang. Mau dipaksa bagaimanapun juga, kalau memang tidak berjodoh tidak akan bisa bersatu."


Adam terdiam dengan menundukkan kepala. Benar apa yang dikatakan papanya, tapi tetap saja dia tidak rela jika Zea bersama dengan pria lain. Apalagi jika sampai mereka menjalin hubungan, Adam tidak akan pernah ikhlas.


"Pa, aku akan memenuhi syarat dari Papa, tapi bolehkah aku setiap satu bulan sekali menjenguk Zea ke sana? Sekalian ingin melihat keadaan Oma dan opa."


"Seperti yang Papa katakan tadi, kamu boleh ke sana, tapi jangan pernah katakan kalau kamu belum menikah dengannya Alin. Biarkan adikmu berpikir jika kamu sudah memiliki seorang Istri. Nanti saat dia pulang, barulah kamu katakan jika kamu masih sendiri."


Adam pun akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Satu tahun memang bukan waktu yang sebentar. Mudah-mudahan Adam tetap berjodoh dengan Zea. Pria itu akan berusaha menjauhkan setiap laki-laki yang ingin mendekati adiknya, seperti yang dilakukan gadis itu selama ini.


"Satu lagi, kamu juga harus bilang sama si kembar, kalau mereka tidak boleh mengatakan apa pun pada Zea. Mengenai opa, oma, om dan Tante, biar itu menjadi urusan Papa."

__ADS_1


"Memang si kembar sudah baikan sama Zea?" tanya Adam yang setahunya mereka belum berbaikan.


"Sudah, mereka mana bisa marah lama-lama."


Adam mengangguk dan akan memenuhi permintaan papanya. Besok sore dia akan datang ke sana agar bisa bicara secara langsung. Pria itu juga perlu meminta maaf pada Aini.


****


"Sepertinya ada yang lagi jatuh cinta, nih!" sindir Zayna saat dia bersama suami dan putranya sedang dalam perjalanan pulang.


"Siapa, Ma? Apa Arslan yang sedang jatuh cinta? Kalau begitu lebih baik perjodohannya dibatalkan saja. Kasihan Hira menikah dengan pria yang mencintai gadis lain," ucap Ayman yang sengaja ingin menggoda putranya. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh sang istri.


Arslan yang mendengar apa yang dikatakan papanya pun segera berkilah, "Siapa yang sedang jatuh cinta? Mama kali yang sedang jatuh cinta."


"Berarti kamu nggak jatuh cinta? Mama kira kamu tadi suka sama Hira, tapi ternyata tidak. Kalau kamu memang nggak suka sama Hira, lebih baik memang perjodohannya dibatalkan saja. Kasihan Hira nanti."


"Bukan tidak suka, Ma. Hanya saja ... hanya saja ... apa, ya?"


Arslan terlihat bingung harus mengatakan apa. Dia sendiri juga tidak tahu apakah Hira mencintai dirinya atau tidak. Akan tetapi, mendengar apa yang dikatakan sang mama, rasanya pria itu tidak rela jika Hira menjadi milik pria lain. Aura dan pesona gadis itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang. Arslan bahkan tidak bisa melupakan ekspresi wajahnya yang selalu tersenyum.


"Hanya saja apa?" tanya Zayna dengan nada menggoda.


"Sudah, Ma. Nggak usah diperpanjang lagi. Lagi pula hari pernikahan sudah ditetapkan jadi, lebih baik kita membahas rencana resepsi pernikahan saja. Pa, Ma, di acara pernikahan nanti, aku pakai apa? Pakai jas apa pakai koko?" tanya Ayman yang tiba-tiba terpikirkan hal tersebut.


"Apa setelah menikah nanti, aku harus tinggal di pesantren juga, Pa?"


"Tidak juga, kamu menikahnya sama anak perempuan Lukman jadi, dia yang harus ikut sama kamu. Terserah kamu mau ajak dia tinggal di mana. Kalau kamu mau tinggalin pesantren nggak apa-apa, tinggal sama Papa Mama juga tidak apa-apa. Mau tinggal di rumah sendiri juga silakan"


"Aku nggak punya uang untuk beli rumah."


"Memang uang tabungan kamu belum cukup?"


"Kayaknya cukup, tapi aku belum ada kepikiran mau beli rumah yang seperti apa."


"Sebenarnya Papa bisa saja membelikan kamu rumah, tapi lebih baik kamu membeli rumah setelah menikah. Setidaknya istri kamu merasa dihormati agar nantinya, dia tidak merasa terbebani karena rumah itu kamu miliki sebelum menikah. Kalau kamu membelinya setelah menikah, itu artinya rumah itu juga ada hak milik istrimu."


Arslan mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang papa. Nanti dia juga bisa meminta pendapat pada Hira, rumah seperti apa yang wanita itu inginkan. Tidak berapa lama, mobil mereka sampai juga di halaman rumah. Mereka turun dan memasuki rumah bersama-sama, tampak si kembar bersama opa dan omanya sedang menunggu di ruang tamu. Mereka penasaran bagaimana pertemuan keluarga dengan calon istri kakaknya, berhasil ataukah tidak.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Semuanya berkumpul di sini, apa tadi ada tamu?" tanya Zayna yang melihat mereka satu persatu.


"Tidak ada, kami sengaja menunggu kalian pulang. Kami ingin menanyakan bagaimana tadi pertemuan dengan calon istrinya Arslan," jawab Oma Aisyah, membuat semua orang mengangguk.


Ayman, Zayna dan Arslan pun ikut bergabung bersama mereka. Zayna menceritakan pertemuan mereka yang begitu lancar. Kedua keluarga juga setuju, begitu pun dengan calon pengantin. Aina dan Aini tampak saling pandang.


Tadinya mereka mengira jika Arslan tidak akan tertarik pada gadis itu. Ternyata keduanya salah, bahkan wajah kakaknya terlihat begitu bersinar. Si kembar jadi penasaran bagaimana calon kakak iparnya. Hingga membuat Arslan yang selama ini tidak pernah pacaran setuju begitu saja.


"Jadi Kakak setuju menikah dengan wanita yang bernama Hira? Aku jadi penasaran sama dia, kapan-kapan bolehkan aku ajak dia jalan-jalan?" tanya Aini.


"Boleh, tapi nanti setelah Kakak kamu sah dan Hira sudah menjadi istrinya. Tinggal satu minggu lagi," sahut Zayna yang semakin membuat mereka terkejut.


"Satu minggu lagi! Kakak menikahnya satu minggu lagi?" tanya si kembar serentak.


"Iya, hanya akad saja. Nanti resepsinya dua bulan lagi."


"Wah! Benarkah? Apa Zea akan pulang kalau nanti Kak Arslan menikah?" tanya Aini pada dirinya sendiri.


"Kayaknya nggak, Zea saja baru berangkat. Mungkin nanti kalau resepsi," sahut Aina.


"Kalau acaranya satu minggu lagi, berarti mulai besok kita harus mempersiapkan semuanya, Na," ucap Mama Aisyah yang diangguki oleh Zayna.


"Iya, Ma. Aku juga sudah merencanakan beberapa hal. Dari mulai baju kita semua nanti dan seserahan apa saja yang akan dibawa. Aku juga sudah menghubungi Eira—putrinya Bu maisa. Dia bilang besok akan ke sini untuk mengukur kita semua. Dia juga sudah menyanggupi kalau akan menyelesaikan semuanya. Kebetulan ada beberapa pesanan baju yang masih lama jadi, bisa mendahulukan baju kita."


"Baguslah kalau begitu. Mama juga selalu percaya pada mereka," sahut Oma Aisyah.


"Kalian berdua besok nggak kuliah, kan?" tanya Zayna pada si kembar.


"Ada, Ma, tapi agak siangan. Memang Bu Eira ke sini jam berapa?"


"Katanya jam 09.00."


"Kalau begitu kami dulu nanti yang diukur karena siangnya kami mau ke kampus."


"Iya, boleh seperti itu."


Oma Aisyah memberi saran beberapa hal mengenai segala persiapan. Dia tidak ingin ada yang kurang untuk pernikahan cucu pertamanya. Setelah dirasa waktu sudah larut malam, mereka memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan melanjutkan semuanya besok. Arslan pun sama, dia juga ingin merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.

__ADS_1


Sepanjang malam, pria itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu terbayangkan wajah cantik Hira yang terus tersenyum. Dia sudah berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.


.


__ADS_2