
“Mama setuju sama Kinan. Mama rasa empat bulan sudah cukup. Kalau dua bulan, semuanya terasa mendadak. Meskipun semua bisa saja terlaksana dalam waktu itu, tetapi persiapan yang matang itu lebih meyakinkan. Jangan sampai kalian menyesal karena tidak melakukan semuanya dengan maksimal,” ucap Mama Aida yang diangguki oleh Kinan dan Hanif.
“Baiklah kalau begitu, aku setuju pernikahan akan dilakukan empat bulan lagi. Mengenai harinya aku serahin semua pada para orang tua," pungkas Hanif.
“Biar nanti Mama hubungi Mama Aisyah dan membahas masalah ini. Mengenai yang lainnya, terserah kalian saja.”
“Iya, Ma.”
“Kalau begitu kalian bahas berdua saja, mengenai rencana kalian. Mama mau istirahat. Kalau Kinan nanti mau apa-apa, masuk saja ke dapur, ambil sendiri. Anggap saja seperti rumah kamu sendiri. Lagi pula kamu juga anak Mama.”
“Iya, Ma. Terima kasih.”
Mama Aida pun masuk ke dalam rumah. Dia ingin memberikan waktu pada anak dan menantunya untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. Wanita itu tahu jika Kinan merasa canggung saat ada dirinya.
“Mas, kenapa nggak bilang kalau mau mengajakku ke sini?” tanya Kinan.
“Kalau aku bilang, pasti kamu banyak sekali alasan, yang guguplah, belum siaplah, apa saja pasti dijadikan alasan.”
“Karena memang aku gugup sekali.”
“Mama juga sudah beberapa kali bilang ke kamu, anggap dia seperti orang tua sendiri. Kenapa masih gugup? Mama juga nggak gigit orang."
“Apasih, Mas! Tetap saja itu berbeda. Sudahlah, aku katakan juga kamu tidak akan mengerti," ucap Kinan yang kemudian menatap laptop Hanif. "Aku boleh lihat beberapa design gedung, nggak?”
“Lihat saja.” Hanif mengarahkan laptopnya ke depan Kinan.
Gadis itu pun melihat beberapa foto yang ada di laptop. Dia yakin jika event organizer yang dimaksud tunangannya itu, pasti banyak menangani pesta pernikahan. Terlihat hasilnya begitu sangat cantik. Kinan semakin larut dalam melihat gambar. Tiba-tiba saja dia merasa sangat tertarik dengan dekorasi gedung.
“Kamu lihat-lihat dulu, biar aku ke dalam. Apa Bibi sudah menyiapkan makan siang atau belum. Kamu pasti sudah lapar,” ucap Hanif yang diangguki oleh Kinan tanpa menoleh. Gadis itu masih sibuk melihat-lihat gambar desain gedung, sementara Hanif memilih masuk ke dapur.
****
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Ayman mengajak Zayna berkeliling di kebun. Sudah banyak orang yang pergi ke sana dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Wanita itu begitu senang melihat betapa rajinnya para pekerja di sana.
Semua orang yang melihat, menyapa kehadiran Ayman, sesekali mereka menawarkan apa yang ditanam. Namun, dengan halus pria itu menolak. Ada pula yang dia terima jika memang orang tersebut memaksa. Zayna juga mencicipi setiap buah yang dia lihat, membuat sang suami menggelengkan kepala.
“Di sini pemandangannya bagus, ya, Mas? Tempatnya juga sangat asri,” ucap Zayna sambil melihat ke sekeliling.
“Iya, itu juga yang membuat Mama sangat nyaman berada di sini. Bahkan dia berencana untuk tinggal di sini saat Kinan sudah menikah.”
“Mama mau tinggal di sini? Aku baru mendengarnya.”
“Aku juga baru tahu saat Kinan merencanakan pernikahannya. Aku mendengar Papa dan Mama bicara mengenai hal itu. Saat aku tanyakan kebenarannya, mereka mengiyakan jika itu memang rencana mereka. Sebenarnya dari dulu Mama ingin tinggal di sini, tapi dia masih berat meninggalkan Kinan yang masih sendiri. Sekarang sudah ada calon suami, yang bisa bertanggung jawab atas diri Kinan jadi, mama bisa tenang. Dia hanya akan datang sesekali untuk melihat keadaan kita atau kita yang berkunjung ke sini.”
Ayman mengajak Zayna duduk di salah satu gubuk milik warga. Dari tempat itu, mereka bisa melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Berbagai tanaman yang ada di hamparan tanah yang lapang, semua berbaris dengan rapi. Itu semua dilakukan oleh para petani yang sedang mengais rezeki.
"Apa Kinan tahu tentang rencana Papa dan Mama?" tanya Zayna setelah duduk di samping sang suami.
"Dia hanya tahu jika Papa dan Mama berencana tinggal di sini, tapi tidak tahu kapannya."
“Apa kamu juga ingin seperti mama, tinggal di sini?”
“Kalau memungkinkan, kenapa tidak? Aku juga ingin hidup tenang. Mengenai rencana pernikahan Kinan, apa sudah ditentukan harinya, Mas?”
“Belum, Om Wisnu dan Papa masih belum ada waktu untuk bertemu. Papa bilang mungkin satu minggu lagi mereka bertemu. Sekarang Hanif sedang belajar memimpin perusahaan.”
“Bukankah kamu pernah mengatakan jika Hanif tidak mau memimpin perusahaan? Dia lebih memilih menjadi dosen untuk mengejar cita-citanya?”
“Iya, tapi dibalik itu, sebenarnya dia melakukan semuanya demi Kinan.”
“Maksudnya, Mas? Aku tidak mengerti.”
“Hanif memang ingin menjadi dosen dan dia memilih kampus itu untuk mengajar, karena Kinan kuliah di sana. Sebelumnya dia mengajar di tempat lain. Mengenai dia yang memenuhi keinginan orang tuanya untuk memimpin perusahaan, itu juga demi Kinan. Dia pernah berjanji, jika papa dan mamanya mau membantu Hanif untuk mendapatkan Kinan dan rencananya berhasil, maka dia mau memimpin perusahaan.”
__ADS_1
“Berarti Hanif sudah menyukai Kinan sejak lama? Kok, ini ceritanya sama seperti kamu. Saat itu kamu sampai menyamar menjadi tukang ojek agar kamu bisa melamarku.”
“Ya, karena kamu orangnya susah sekali didekati, apalagi sama orang yang memakai jas. Kamu sangat anti sekali. Saat itu juga Mama memintaku untuk merahasiakan jati diriku dulu jadi, aku terpaksa melakukannya.”
“Saat itu aku cuma nggak mau dimanfaatkan saja. Sekarang Hanif juga seperti itu, bedanya kamu usaha sendiri. Bahkan Mama sempat tidak menerima pernikahan kita.”
“Saat itu Mama hanya butuh waktu. Hanif juga berusaha sendiri, Om Wisnu dan Tante Aida hanya membantu membawa Hanif berkunjung ke rumah. Selebihnya dia yang berusaha sendiri. Untuk meyakinkan Papa dan Mama juga Hanif berusaha sendiri.”
“Masa, sih, Mas? Kok, aku nggak pernah lihat Hanif datang ke rumah?”
“Dia datang ke perusahaan papa dan juga ke restoran mama.”
“Benarkah? Aku baru mengetahuinya.”
“Mama juga sempat mengerjai dia,” ucap Ayman sambil tertawa saat mengingatnya.
“Mengerjai apa, Mas?”
“Hanif diminta buat makanan yang sudah disebutkan oleh Mama. Tentu saja dia gagal, sampai akhirnya dia datang lagi dan berusaha untuk mengambil hati Mama. Hingga beberapa kali, akhirnya Mama luluh juga dan mengizinkan dia untuk mendekati Kinan. Namun, dengan syarat, Hanif tidak boleh memaksa. Jika Kinan menolak, Hanif harus menerimanya dengan lapang dada."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kinan menolak Hanif. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab, sangat sulit mendapatkan pria seperti itu di zaman sekarang."
"Kenapa kamu jadi memuji pria lain, Sayang? Memangnya aku kurang baik sama kamu selama ini?" tanya Ayman dengan nada tidak suka. Dia selalu cemburu mendengar sang istri memuji pria lain bahkan orang terdekatnya sekalipun.
"Kamu ini selalu saja cemburu, Mas. Aku cuma mengatakan yang sejujurnya. Bukan berarti dia lebih segalanya dari kamu. Buat aku, pria yang paling baik di dunia ini, hanya kamu," ucap Zayna membuat Ayman tersenyum.
"Aku baru tahu jika ini yang namanya habis dibanting lalu diangkat." Ayman dan Zayna tertawa bersama-sama. Keduanya melanjutkan langkah mengelilingi kebun. Wanita itu ingin tahu semua yang ada di kebun ini, sebelum mereka kembali nanti sore.
.
.
__ADS_1