Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
249. S2 - Izin menikah


__ADS_3

Keesokan paginya seperti biasa, Kinan mempersiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Setelah kelahiran Zea, wanita itu banyak belajar memasak, hingga sampai detik ini dia selalu memasak sendiri. Banyak Menu juga yang Kinan pelajari lewat ponsel. Erin hayang sesekali membantu.


"Selamat pagi, Ma," sapa Adam saat memasuki dapur.


"Selamat pagi, Mama kira kamu belum pulang. Memang kamu pulang jam berapa semalam? Tadinya Mama mau telepon kamu setelah membuat sarapan, tahunya sudah di rumah," ujar Kinan.


"Tadi malam Mama sudah tidur, Mbak Erin yang bukain pintu. Lagian aku sudah bilang sama papa," jawab Adam sambil mengedipkan mata ke arah Eira. Dia ingin agar wanita itu tidak mengatakan sejujurnya, jika dirinya pulang pagi tadi pagi.


Erin yang mengerti pun hanya mengangguk sambil berkata, "Iya, Bu. Saya yang membukakan pintu semalam."


"Mama nggak dengar suara bel bunyi." Kinan menatap putranya, mencoba mencari tahu kejujuran pemuda itu.


"Mungkin Mama terlalu ngantuk jadi nggak dengar apa-apa. Mama masak apa hari ini?" tanya Adam sambil melihat makanan yang sudah tersaji. Sekaligus dia ingin mengalihkan pembicaraan tadi.


Pemuda itu tidak ingin mamanya semakin banyak bertanya, yang akan membuatnya merasa bersalah. Sudah cukup dirinya membuat khawatir kemarin karena kepergian ke rumah lamanya. Sekarang biarlah seperti ini, tanpa perlu menambah kekhawatiran.


"Ada gulai dan ayam bakar. Kamu maunya yang mana?"


"Wah? Enak nih kayaknya, jadi lapar," ucap Adam sambil mengusap perutnya.


Saat akan mengambil nasi, Kinan memukul tangan putranya. Pemuda itu pun mengadu kesakitan, sambil mengusap punggung tangannya yang sebenarnya tidak sakit. Kinan mendengus melihat akting Adam.


"Kamu panggilin adik kamu dulu sana! Dia ada kelas pagi, takutnya nanti telat."


Adam menghela napas lelah. "Aku malas bangun dia, Ma. Pasti nanti ujung-ujungnya aku disuruh antar ke kampusnya. Mama tau sendiri, kalau si kembar itu selalu saja gangguin aku. Padahal kan di rumah mereka juga ada Arslan, kenapa nggak gangguin kakaknya saja, malah gangguin aku."


"Kamu nggak boleh begitu, bagaimanapun juga mereka sepupu kamu. Kamu harus menyayangi mereka, jagain mereka dengan baik."


"Iya, Ma. Aku juga sayang sama mereka, tapi ... ah nggak tahulah. Lebih baik aku bangunin Zea saja." Adam berlalu dari sana menuju kamar adiknya.


Sementara itu, Kinan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda tersebut. Dia memang sering mendengar aduan Adam mengenai tingkah si kembar. Akan tetapi, wanita itu tidak tahu dengan jelas bagaimana mereka mengganggu putranya. Saat mereka ada acara kumpul keluarga juga mereka terlihat biasa saja.


"Erin, semalam Adam pulang jam berapa? Saya tahu kalau tadi kalian berbohong. Katakan saja yang sesungguhnya, tadi malam Adam pulang jam berapa?” tanya Kinan yang masih belum puas dengan jawaban putranya.


Erin menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa karena pasti, nanti Kinan akan marah. Akan tetapi, berbohong pun juga percuma karena majikannya itu, sudah tahu yang sebenarnya. Wanita itu melirik ke arah Kinan dan menunduk.

__ADS_1


"Kenapa diam? Jawab saja yang sebenarnya. Kenapa susah sekali?"


"Den Adam pulang tadi pagi, jam 02.00, Bu," jawab Erin dengan pelan.


Kinan membuang napas pendek. Entah apa saja yang dilakukan sang putra, di rumah kedua orang tua kandungnya kemarin. Sebenarnya dari kemarin juga dia khawatir, bagaimana jika Adam memutuskan untuk pulang kembali ke rumah lamanya. Namun, sebisa mungkin wanita itu menahan perasaannya.


Tadi saat melihat putranya keluar wanita itu merasa senang. Namun, tetap saja rasa penasaran dalam hatinya masih berkobar. Kinan ingin tahu apa saja yang dilakukan pemuda itu di sana. Semoga saja apa yang dia takutkan tidak terjadi.


Sementara itu, di dalam kamar Zea masih tertidur. Padahal tadi Subuh sudah terbangun, tetapi karena rasa ngantuk yang melanda, akhirnya dia tertidur kembali. Adam jadi kesal kalau seperti ini.


“Zea, ayo bangun! Ini sudah siang, kamu ada kelas pagi ini. Nanti kamu terlambat," ucap Adam sambil membuka tirai jendela.


Namun, gadis itu sama sekali tidak membuka matanya. Justru semakin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Adam yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Pasti semalam adiknya itu begadang, makanya hari ini sangat sulit untuk bangun.


"Zea, kamu mau bangun atau tidak? Kalau tidak, mau Kakak angkat kamu sekarang juga, lalu Kakak ceburin ke kolam?" ancam Adam yang segera membuat Zea terbangun.


"Ih, Kakak. Apaan, sih! Aku masih ngantuk," ucap Zea dengan kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu ada kelas pagi, Dhek. Ayo, cepat bangun! Nanti kalau pulang dari kuliah, kamu bisa tidur lagi."


Zea membuka selimut dengan kasar dan turun dari ranjang, kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia benar-benar kesal pada kakaknya. Ini semua juga ulah pria itu yang pergi tiba-tiba. Akhirnya Aini meneror dirinya semalaman.


Zea masuk ke kamar mandi masih dengan cemberut, sementara Adam membereskan kamar adiknya yang begitu berantakan. Pemuda itu melihat ada ponsel Adiknya di atas ranjang. Terlihat layarnya menyala, ada sebuah panggilan masuk dari Aini. Dia enggan untuk mengangkatnya, pasti akan ada pembicaraan panjang nantinya.


Adam mengerti mengenai perasaan sepupunya itu. Hanya saja di dalam hatinya sudah ada wanita lain. Dia juga bukan tipe pria yang suka memainkan perasaan wanita. Sudah beberapa kali juga Adam mengatakan pada Aini jika dia hanya menganggap gadis itu seperti saudara.


Namun, Aini sama sekali tidak memedulikannya dan mengatakan bahwa, suatu hari nanti Adam akan mencintainya. Pemuda itu hanya bisa pasrah, dia yakin akan ada saatnya nanti, sepupunya pasti menemukan pria yang bisa mencintainya. Aini juga sangat jauh dari kriteria gadis pujaan hatinya. Adam pun memilih keluar dan menunggu Zea di bawah saja.


"Mana adik kamu? Kenapa keluar sendiri?" tanya Kinan pada putranya yang datang sendiri.


"Masih mandi, Ma. Tadi dia tidur lagi," jawab Adam yang kemudian duduk di meja makan. Di sana juga sudah ada Papa Hanif.


"Mama mau ke mana? Rapi sekali!" tanya Adam sambil memperhatikan penampilan mamanya yang sudah berganti baju. Biasanya Kinan hanya memakai pakaian santai, tapi hari ini terlihat begitu rapi.


"Mama mau ke pergi sama papa, nggak tahu papa kamu ini ngajak ke mana," jawab Kinan sambil menunjuk ke arah sang suami dengan dagunya.

__ADS_1


"Papa cuma mau ajak mama jalan-jalan. Kasihan Mama kamu kalau setiap hari di dapur terus. Papa juga mau pacaran sama Mama. Sudah lama tidak pergi berdua," jawab Hanif.


Adam hanya menganggukkan kepala. Dia juga tidak keberatan, justru pemuda itu senang kalau kedua orang tuanya bahagia seperti ini. Adam juga ingin seperti mereka, selalu bersama dalam keadaan apa pun.


"Cie, cie ... yang mau kencan," goda Zea yang baru memasuki ruang makan.


"Iya, dong! Justru itu lebih baik kalau pacaran setelah menikah, nggak ada dosanya. Ini juga peringatan buat kamu, Mama nggak suka kalau kamu pacar-pacaran begitu," sahut Kinan memperingati putrinya.


"Iya, Mama. Aku juga nggak punya pacar."


Adam yang mendengar itu pun merasa bersalah pada mamanya. Pemuda itu pun memutuskan untuk berbicara hari ini juga. Dia ingin semuanya selesai sekarang agar tidak mengganjal di hati.


"Ya sudahlah, ayo kita makan! Nanti makanannya dingin," ajak kinan.


"Pa, Ma, ada yang ingin aku katakan," ucap Adam yang membuat semua orang melihat ke arah pemuda itu. Terdengar dari nada suaranya, sepertinya sangat serius.


"Bicara saja, memang apa yang ingin kamu katakan?" tanya Kinan balik.


"Aku mau minta restu sama Mama dan Papa untuk segera menikah."


Ketiga orang yang tadi mendengar pun seketika melongo. Mereka tidak percaya dengan apa yang Adam katakan karena memang, selama ini mereka juga tidak pernah tahu, siapa saja yang dekat dengan pemuda itu. Zea yang selama ini dekat dengan kakaknya pun lebih terkejut.


"Kakak beneran mau menikah dengan Aini? Tapi 'kan dia masih kuliah," sela Zea yang membuat Kinan semakin melototkan matanya.


Bagaimana mungkin Adam bisa memiliki hubungan dengan keponakannya itu. Selama ini dirinya tidak pernah tahu, mengenai hubungan sang putra dengan seorang gadis. Saat bersama sepupunya juga terlihat biasa saja, tidak ada yang mencurigakan.


"Beneran kamu menikah dengan Aini?" tanya Kinan.


"Nggak, Ma. Mana ada seperti itu. Aku nggak ada perasaan apa pun sama dia," sahut Adam dengan cepat kemudian menatap adiknya. "Kamu juga, bicara sembarangan."


"Kalau bukan dengan Aini, memang Kakak mau menikah dengan siapa? Aina?"


Adam kesal dengan Zea yang seenaknya saja menilai dirinya. Apakah dia tidak cukup tampan untuk memiliki seorang kekasih, hingga gadis itu meremeh dirinya. "Tidak kedua-duanya, Zea!"


"Terus kamu mau nikahnya sama siapa? Mama juga terkejut kamu minta izin menikah. Selama ini juga kamu nggak pernah bilang kalau lagi dekat dengan wanita."

__ADS_1


.


.


__ADS_2