Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
296. S2 - Wawancara keluarga


__ADS_3

Segala persiapan pernikahan sudah dilaksanakan dengan begitu singkat. Zea memakai kebaya milik Kinan yang dulu dipakai menikah. Untung saja muat dan masih sangat bagus karena mamanya merawat baju itu dengan hati-hati.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Adam Refaldo dengan putri kandung saya yang bernama Zea Sadiya Arkham binti Hanif Arkham dengan mas kawin restoran ‘Sadiya Resto’ beserta cabangnya, dibayar tunai,” ucap Hanif sambil menjabat tangan Adam.


“Saya terima nikahnya Zea Sadiya Arkham binti Hanif Arkham dengan mas kawin tersebut, tunai,” sahut Adam dengan tegas.


“Bagaimana saksi, sah?” tanya seorang ustaz.


“Sah.”


“Alhamdulillah.” Doa-doa dibacakan oleh ustaz tersebut, tidak ada acara seperti nikahan pada umumnya karena acara dilanjut dengan pemakaman.


Seluruh keluarga dan kerabat turut mengantar kepergian Opa Wisnu. Ada beberapa wartawan juga di sana, selain ingin meliput acara kepergian pengusaha itu, mereka juga ingin tahu mengenai rencana pernikahan saudara ini. Apalagi sebelumnya tidak ada kabar apa pun mengenai mereka, tentu saja membuat beberapa orang penasaran.


Upacara pemakaman berjalan dengan lancar, para pelayat pun meninggalkan area pemakaman satu persatu. Terakhir Hanif beserta keluarga yang pergi. Saat akan memasuki mobil, beberapa wartawan mendekatinya dan menanyakan soal pernikahan kedua anaknya.


“Sebaiknya kita pulang dulu, kita bicara di rumah saya saja. Tidak enak bicara di tempat pemakaman, sambil berdiri juga,” sahut Hanif yang diiyakan para wartawan. Mereka pun kembali ke rumah keluarga Hanif.


Hanif pun kembali ke rumah dengan diikuti oleh para wartawan. Begitu sampai di rumah, pria itu duduk di kursi panjang dengan didampingi oleh istri dan kedua anaknya. Semua sudah dipersiapkan oleh pekerja di rumah itu. Para wartawan juga sudah bersiap untuk mewawancarai mereka.


"Mohon maaf sebelumnya, sudah membuat gaduh semua orang. Saya mengucapkan rasa terima kasih karena semua orang sudah begitu mencintai almarhum papa saya dan mengantar beliau sampai peristirahatan terakhirnya. Terima kasih juga doa-doa yang sudah ditujukan pada beliau. Saya selaku anaknya hanya bisa mengucapkan terima kasih saja. Semoga Tuhan yang membalas semua amal perbuatan semuanya." Hanif menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan kata-katanya.


"Mengenai pernikahan anak saya, sebenarnya Adam bukan anak kandung saya. Saya mengadopsinya saat dia berusia sepuluh tahun. Saat itu saya dan istri masih baru menikah dan masih belum memiliki anak. Tadinya saya juga tidak menyangka jika kedua anak saya saling jatuh cinta. Awalnya kami juga menolak, tapi melihat cinta mereka yang begitu besar, serta ikatan keduanya juga sangat kuat kami tidak tega untuk memisahkannya. Kami sekeluarga memberi restu pada mereka, semoga pernikahan mereka bisa langgeng sampai maut memisahkan."


"Mohon maaf, Pak Hanif, jika saya menyinggung keluarga. Selama ini mereka tinggal satu rumah, apakah Anda tidak takut jika mereka pernah melakukan hubungan yang dilarang?" tanya seorang wartawan, membuat semua orang menatapnya.


Mereka tahu siapa Hanif dan seberapa besar kekuasaannya. Tentu saja ada rasa takut jika menyinggung pria itu. Bisa-bisa mereka akan kehilangan pekerjaan. Namun, dalam hati juga ada rasa penasaran, bagaimana interaksi kedua pengantin selama ini.


"Sejak kecil mereka memang selalu hidup bersama, tapi sejak enam bulan yang lalu tidak karena putri kandung saya yang bernama Zea ini, kuliah di luar negeri. Baru satu bulan yang lalu dia pulang, saat omanya meninggal. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali kuliah di sini, saat itu juga putra saya Adam mengalami kecelakaan dan harus rawat inap di rumah sakit. Bahkan harus menjalani operasi jadi, kalau yang kalian tanyakan mengenai hubungan terlarang, saya bisa menjamin jika itu tidak pernah dilakukan oleh kedua anak saya. Jauh sebelum itu juga mereka tidak mungkin melakukannya."

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan pembatalan rencana pernikahan Adam dengan seorang wanita yang bernama Alin, Pak Hanif?" tanya wartawan lainnya.


Mereka sepertinya mulai berani bertanya lebih dalam lagi saat melihat Hanif yang menjawab dengan terbuka. Keluarga Hanif memang bukan keluarga biasa jadi, otomatis para wartawan juga mengetahui tentang berita tersebut.


"Kalau mengenai pembatalan pernikahan, kalian tanyakan saja pada orangnya karena sejauh rencana pernikahan mereka, saya sama sekali tidak terlibat," jawab Hanif.


Semua wartawan beralih menatap Adam, membuat Zea gugup. Tanpa sadar gadis itu menggenggam telapak tangan suaminya Adam pun berusaha menenangkan saya istri dan tetap terus tersenyum. Dia tidak melakukan kesalahan jadi, dirinya tidak akan takut dengan apa pun.


"Mengenai pembatalan pernikahan saya dan Alin, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan istri saya. Biarlah itu menjadi urusan pribadi saya. Saya tidak mungkin membongkar aib masa lalu saya dan juga Alin, biarlah itu menjadi rahasia kami," jawab Adam dengan tenang.


"Mengenai kepergian Alin dari tempat tinggalnya dan juga orang tuanya, apakah Anda mengetahuinya!"


"Tentu, saya tahu mengenai hal itu karena kami juga sempat bertemu beberapa hari yang lalu juga."


"Apa tidak ada keinginan Anda untuk kembali padanya? Mengingat Anda juga pernah menghabiskan waktu bersamanya?"


"Ada yang bilang jika dia sedang hamil, apa benar?" tanya wartawan yang lainnya.


"Mengenai itu tanyakan saja pada orangnya. Saya tidak punya kuasa atas untuk menjawab hal tersebut."


"Berarti itu bukan anak Anda?"


"Sekali lagi saya katakan, tanyakan saja langsung pada orangnya. Saya tidak punya kuasa untuk menjawab mengenai apa pun tentang Alin. Dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan saya."


Banyak lagi pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan. Adam dan Hanif akan menjawab jika dirasa itu masih dalam batas wajar. Jika di luar kendali, keduanya hanya tersenyum tanpa memberikan komentar. Mereka menerima wawancara bukan berarti membuka semua masalah yang ada. Kadang kala, kita harus pura-pura tidak tahu agar semuanya baik-baik saja.


Setelah semuanya selesai, Hanif dan keluarga masuk ke dalam rumah. Para wartawan pun pamit undur diri, seluruh keluarga harus mempersiapkan acara tahlilan untuk opa Wisnu. Untuk hidangan hari ini, Kinan memilih membeli saja.


"Pa, apa kami boleh tidur satu kamar?" tanya Adam saat dia akan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Hanif melihat ke arah sang istri. Namun, Kinan pura-pura tidak melihat dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Pria itu tahu jika istrinya sengaja menghindar untuk ditanyai. Mau tidak mau, dia pun akhirnya mengangguk.


"Terserah kalian saja, kalian juga sudah halal. Kalau Papa melarang, Papa pasti akan berdosa."


Adam dan Zea sama-sama tersenyum. "Kalau begitu aku tidur di kamar Kak Adam saja, biar nanti bisa membantu Kak Adam kalau butuh sesuatu."


"Kalian pikir Papa tidak mengerti? Pake beralasan membantu segala," gerutu Hanif, membuat orang yang ada di sekitar menahan tawa.


Zea pun mendorong kursi roda Adam dan memasuki kamar suaminya yang berada di ruang tamu. "Kak Adam butuh sesuatu?" tanya Zea, saat keduanya berada di kamar.


"Aku mau mandi, apa kamu mau membantu?" tanya Adam yang sengaja ingin menggoda istrinya.


Zea terbengong, dia tidak tahu harus berbuat apa. Membantu Adam itu artinya dia harus membantu sang suami dan ....


"Jangan berpikiran kotor. Aku hanya ingin kamu membantuku untuk masuk ke kamar mandi. Di sana ada kursi untuk aku duduk, aku bisa mandi sendiri."


Wajah Zea memerah karena malu. Bisa-bisanya wanita itu berpikir yang tidak-tidak. Ingin sekali dia menutup seluruh kepalanya agar tidak terlihat. Zea pun berusaha untuk terlihat biasa saja.


"Ayo, Kak! Aku antar," ucap Zea sambil mendorong Adam yang saat ini sedang tersenyum karena berhasil menggoda istrinya itu.


"Sayang, tolong ambilkan baju ganti sekalian, biar aku ganti baju di kamar mandi."


Zea pun mengambilkan baju santai untuk sang suami, tidak lupa baju dalam juga. Meskipun beberapa kali gadis itu menahan napas karena harus menyentuh pakaian, yang tidak pernah dia sentuh sebelumnya. Zea meletakkan pakaian itu di pangkuan sang suami, barulah kembali mendorong Adam ke kamar mandi.


"Aku tunggu di kamar, ya, Kak. Nanti kalau Kakak selesai teriak saja."


"Tidak perlu, kamu sebaiknya mandi. Kamu pastinya juga capek, seharian banyak sekali kegiatan."


Zea mengangguk dan menuruti perintah sang suami. Keduanya sangat lelah antara bahagia dan sedih, semuanya jadi satu. Semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan yang mereka rasakan. Walaupun nanti memang ada kesedihan, semoga bisa terlewati semuanya tanpa ada perselisihan.

__ADS_1


__ADS_2