Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
201. Ayman tidak tahu


__ADS_3

"Tante tidak apa-apa, terima kasih sudah memperhatikan tante. Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan, Tante tidak mau kamu sakit," ucap Kinan sambil menatap Adam yang terlihat di layar ponselnya.


"Seharusnya itu buat Tante, bukan buat aku. Aku selalu sehat, sekarang yang ada di rumah sakit 'kan Tante," sahut Adam membuat Kinan tertawa.


Anak itu memang sangat pandai berkata-kata. Dirinya bahkan dibuat terdiam. Kinan banyak bertanya pada Adam. Anak itu pun menjawabnya dengan lancar, sementara Hanif hanya memperhatikan saja.


Sebenarnya pria itu masih khawatir pada sang istri. Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu yang besar. Namun, Kinan berusaha untuk menutupinya. Setelah sampai nanti, Hanif akan memastikan bagaimana keadaan wanita itu dan saat itu istrinya tidak akan bisa berkelit lagi.


Siapa pun yang membuat Kinan celaka, pasti akan berurusan dengannya. Dia tidak akan memaafkan orang itu, sekalipun pelakunya memohon padanya. Hanif yakin jika sang istri tidak bersalah.


"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Tante mau minum obat dulu, biar nanti saat kamu sampai di rumah, keadaan Tante sudah sehat."


"Iya tante, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kinan segera mematikan sambungan telepon karena tidak ingin, Hanif bertanya lagi mengenai keadaannya.


Sebenarnya wanita itu tidak tega melihat sang suami yang begitu khawatir. Namun, mengatakan yang sejujurnya itu pasti menggagalkan rencananya. Hanya tinggal tiga jam saja sang suami sampai. Pasti akan terlewati begitu cepat.


"Kinan, baru saja perawat mengantar obat untuk kamu. Coba kamu baca, Mama nggak bisa lihat," ucap Mama Aisyah sambil menyerahkan obat pada Kinan.


"Mama ini, baru juga punya cucu satu, sudah nggak bisa baca," cibir Kinan yang membuat Mama Aisyah mendengus.


"Bukannya tidak bisa baca, tapi Mama nggak pakai kacamata, kalau pakai kacamata juga bisa," sahut Mama Aisyah membela diri.


"Itu, mah, sama saja."


Kinan pun membaca kertas yang tertempel di masing-masing obat. Ada tiga macam obat di sana dan dengan dosis yang berbeda. "Ini nanti saja, Ma. Minumnya jam 06.00 sore."


"Oh, kalau begitu, kamu taruh di meja saja, biar nanti nggak lupa," Sahut Mama Aisyah yang kemudian bertanya pada putrinya. "Bagaimana tadi Hanif?"


"Mas Hanif sedang dalam perjalanan, Ma. Mungkin agak malam pulangnya."


Mama Aisyah mengangguk dan beralih menatap besannya. "Aida, kamu pulang saja. Kamu juga butuh istirahat, kamu masih sakit. Biar Kinan saya yang jaga."

__ADS_1


"Nggak, aku mau di sini saja nemenin kamu. Kalau nanti dokter butuh sesuatu bagaimana?"


"Kamu ini, di sini ada aku, nanti papanya Kinan juga datang. Ingat, kamu harus jaga kesehatan. Bukankah tadi kamu yang bilang seperti itu?"


"Iya, Ma. Aku baik-baik saja, di sini juga ada Mama Aisyah. Sebaiknya mama pulang dan beristirahat di rumah, jaga kesehatan," sahut Kinan.


"Iya, Ma. Ayo kita pulang! Nanti Hanif juga bakalan ke sini, Mama harus jaga kesehatan. Kalau Mama sakit, nanti malah nggak bisa gendong cucu, bagaimana? Seperti yang Aisyah katakan tadi."


Mana Aida menatap sinis ke arah sang suami. Dia tidak suka dengan apa yang Papa Wisnu katakan.


"Kenapa Papa jadi belain Aisyah?" Mama Aida cemberut saat mengatakannya.


"Bukannya Papa mau belain, tapi yang dikatakan Aisyah memang benar. Kalau Mama sakit, mana bisa gendong cucu kita nanti. Yang ada menulari cucu kita jadi ikutan sakit. Lebih baik Mama sekarang sembuh dulu jadi, nanti saat cucu kita lahir, Mama bisa lebih sehat."


Mama Aida membuang napas kasar. Sejujurnya dia juga ingin beristirahat. Namun, pikirannya selalu tertuju pada Kinan. Dia sama sekali tidak bisa tenang, sebelum melihat menantunya benar-benar sehat. Akan tetapi, apa yang dikatakan semua orang memang benar.


Dirinya harus menjaga kesehatan agar bisa menggendong cucunya. Wanita itu sudah tidak sabar menanti hari itu tiba. Meskipun masih delapan bulan lagi. Saat ini usia kandungan Kinan sudah berusia enam minggu.


"Ada apa, Sayang? Kenapa menunggu di sini? Biasanya di ruang keluarga sambil nonton televisi sama mama," tanya Ayman sambil mendekati sang istri dan mencium keningnya.


"Mama 'kan ke rumah sakit, Mas? Aku nggak ada temennya. Bibi juga aku ajak nonton televisi nggak mau. Ya sudah, aku di sini saja."


Ayman terkejut mendengar jawaban istrinya. Dia berpikir jika mamanya sakit, tetapi kenapa tidak ada yang memberitahunya. Papanya juga seharian di perusahaan. "Mama ke rumah sakit kenapa? Apa Mama sakit? Sakit apa? Kenapa tidak ada yang bilang sama aku?" tanya Ayman beruntun.


"Bukan mama, tapi Kinan. Memangnya kamu nggak tahu? Aku pikir sudah tahu jadi, aku nggak kasih kabar."


Jawaban Zayna membuat Ayman semakin bingung. "Memangnya ada apa dengan Kinan?"


"Jadi kamu beneran enggak tahu, Mas?" tanya Zayna sambil menatap sang suami.


Ayman menggeleng sambil berkata, "Aku benar-benar tidak tahu, Sayang. Memangnya ada apa?"


"Yang aku dengar dari Mama tadi, Kinan mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Tadi aku sempat telepon Mama, katanya sekarang sudah tidak apa-apa. Ternyata malah ada kabar gembira, kalau Kinan saat ini sedang hamil."

__ADS_1


Wajah Ayman berubah jadi bersinar. Dia tidak menyangka adiknya akhirnya hamil juga. Selama ini pria itu tahu jika Kinan sangat menunggu hari ini. Ayman berharap adik dan keponakannya baik-baik saja hingga lahiran.


"Wah! Benarkah! Sebentar lagi kita akan punya keponakan? tapi apa Kinan tidak apa-apa? Apa tidak ada sesuatu yang fatal pada Kinan? Bukankah dia mengalami kecelakaan? Bahkan sampai masuk rumah sakit."


"Mengenai itu, aku tidak tahu, Mas. Mama juga tidak menceritakannya. Mungkin saat ini Mama Aisyah juga masih syok dengan kejadian tadi karena Mama Aisyah terlihat begitu khawatir. Saat tadi mendapatkan telepon dia langsung pergi begitu saja."


"Semoga saja Kinan tidak apa-apa, biar nanti aku telepon Hanif. Mungkin saat ini semua orang masih sibuk."


"Hanif nggak ada di rumah sakit. Dia sedang pergi ke luar kota, Mas. Karena itu tadi Kinan menyuruh orang buat nelpon Mama, biar Mama yang datang ke rumah sakit."


Ayman mengangguk sambil berpikir. "Berarti Kinan tidak apa-apa karena masih sempat menghubungi Mama."


Zayna hanya mengangkat kedua bahunya acuh karena dia sendiri tidak tahu.


"Apa papa juga pergi ke sana? Biasanya papa pulang lebih dulu daripada aku. Tadi aku lihat di parkiran perusahaan juga tidak ada mobilnya papa."


"Ya mungkin saja, Mas. Di rumah sakit hanya ada Mama Aisyah sendiri. Mertuanya Kinan sedang sakit," ujar Zayna.


"Biar nanti aku telepon papa, barangkali mereka butuh teman. Tidak apa-apa 'kan kalau aku pergi ke rumah sakit?"


"Iya, tidak apa-apa. Di rumah juga ada Bik Isa."


Ayman tersenyum sambil mengangguk. Zayna memang wanita yang sangat perhatian. "Aku mau membersihkan diri dulu."


"Iya, Mas. Aku siapin makan malam buat kamu."


"Tidak perlu, biar Bik Isa saja, kamu jagain Baby Ars saja. Kasihan dia," ucap Ayman sambil melihat ke arah putranya yang dari tadi sudah menguap.


Zayna pun terkekeh dibuatnya. Tingkah putranya memang selalu mengundang tawa. Sekecil apa pun pergerakannya pasti terlihat menggemaskan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2