
"Nanti Papa kasih kamu brosur beberapa sekolah, kamu pilih sendiri mana yang kira-kira cocok sama kamu," ucap Hanif pada putranya.
"Nanti dibantu sama Mama, ya, milihnya? Aku tidak begitu tahu mana sekolah yang bagus. Selama ini aku asal bisa sekolah sudah sangat bagus. Aku juga idak pernah ikut kegiatan ekstrakurikuler," jawab Adam membuat Hanif merasa miris.
Anak seusia Adam seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak. Padahal keluarga anak itu juga cukup mampu. Namun, mereka seolah enggan memberi pendidikan untuk anaknya. Apalagi sekolah dasar termasuk pendidikan yang wajib untuk anak-anak.
"Iya, nanti dibantu sama Mama. Mama maunya kamu di sekolah yang bagus dan lingkungannya juga baik. Jangan lupa juga kamu harus rajin belajar. Mama dan Papa sudah mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Tinggal kamu yang berusaha agar hasil belajar kamu bagus."
"Iya, Ma. Aku akan rajin belajar agar tidak membuat Mama dan Papa kecewa. Aku juga akan berusaha agar bisa dapat piala yang bisa aku persembahkan untuk Mama dan Papa," ucap Adam dengan tersenyum. Dia sudah memiliki tekad yang kuat untuk masa depannya.
"Jangan terlalu diforsir juga. Belajar sebisanya, Papa dan Mama ingin kamu rajin belajar, bukan berarti kamu juga melupakan waktu bermain kamu. Semua ada takarannya, begitu maksudnya." Kinan menjelaskan maksudnya agar Adam, tidak salah mengartikan kata-katanya.
Anak itu hanya menganggukkan kepala. Dalam hati Adam, tidak ada waktu untuk bermain. Di saat dirinya sudah sangat tertinggal dengan teman yang lain. Dia akan mengejar ketertinggalannya dan berlari mendahului teman-temannya. Itu janji yang dia tanamkan dalam dirinya.
Adam tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberi kepercayaan padanya. Meskipun anak itu harus banyak mengorbankan waktu luangnya. Itu tidaklah ada artinya dengan apa yang sudah, Hanif dan Kinan lakukan padanya selama ini. Dia akan berusaha membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini. Papa mau ganti baju dulu, nanti kita sarapan di bawah sama-sama. Biar Mama istirahat saja di sini."
"Iya, Pa."
Hanif berjalan untuk mencari pakaian kerja yang ada di lemari. Biasanya Kinan yang melakukan pekerjaan ini. Dia hanya tinggal memakai saja. Namun, mulai sekarang dan seterusnya, pria itu harus mencari semuanya sendiri, tanpa bantuan sang istri.
Kinan yang melihat suaminya sibuk pun merasa bersalah. Dia tidak bisa membantu pria itu, tetapi mau bagaimana lagi. Ini semua juga demi kebaikan dirinya dan calon buah hati mereka. Nanti juga wanita itu bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu.
"Ma, dilanjutkan makannya. Itu masih banyak," ucap Adam membuyarkan lamunan Kinan. Wanita itu mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Setelah selesai memakai pakaiannya, Hanif mengajak Adam makan. Mereka harus sarapan lebih dulu. Awalnya anak itu menolak karena ingin menemani Kinan menghabiskan sarapannya. Namun, wanita itu melarang putranya.
Kinan beralasan jika Adam harus menemani papanya sarapan, sebelum pergi bekerja. Dirinya tidak bisa menemani sang suami jadi, anak itu sebagai gantinya. Akhirnya Adam pun mau meski tidak bisa seperti yang Kinan lakukan biasanya. Keduanya pun keluar dari kamar, menuju ruang makan.
"Kinan sudah sarapan, Hanif?" tanya Mama Aida saat Hanif dan Adam duduk di meja makan.
"Sekarang sedang sarapan, Ma. Tadi sudah dibawakan sama Adam," jawab Hanif.
"Iya, tadi Bik Isa juga bilang seperti itu. Apa Kinan mau makan buburnya? Jika tidak suka, nanti bisa dibuatkan yang lain."
"Mau, kok, Ma. Malah makannya begitu lahap karena Adam yang sudah membujuknya. Awalnya dia juga nggak mau, tapi akhirnya makan juga karena tidak mau membuat Adam kecewa."
Hanif melihat ke arah Adam. Pria itu bisa melihat semua itu dari ekspresi wajah Kinan. Dia sangat senang melihat hal itu dengan begitu nanti jika Kinan susah makan, maka ada senjata yang bisa dia gunakan. Apalagi sekarang juga ada anak kedua mereka dalam perut Kinan. Sudah pasti mempermudah membujuk wanita itu.
"Hari ini tidak, Ma. Katanya Kak Zayna kurang enak badan jadi, Mama Aisyah yang jagain Baby Ars. Kalau sama orang lain kan agak susah ditenangin."
"Ada apa dengan Zayna?” Mama Aida bertanya karena sebelumnya istri dari Ayman itu baik-baik saja. Bahkan sempat menjenguk Kinan di rumah sakit.
"Aku juga kurang tahu, Ma. Mama Aisyah tidak menjelaskan dengan detail. Hanya bilang kalau dia harus menjaga Baby Ars. Saat ini Kak Zayna kurang enak badan, itu saja. Mungkin kelelahan karena akhir-akhir ini Kak Zayna selalu sibuk sendiri. Sekarang di rumah juga ada besannya mama yang baru datang kemarin."
"Besannya? Orang tua Zayna?"
"Besan Mama Aisyah memang hanya orang tua Kak Zayna sama Mama. Kalau mau bukan Mama, berarti orang tuanya Kak Zayna. Sudah tidak perlu ditanyakan lagi."
Mama Aida memutar bola matanya, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Hanif. Tidak ada yang salah dengan jawaban pria itu. Meskipun benar, setidaknya jawab dengan lembut.
__ADS_1
Mereka semua pun menikmati sarapan. Begitu juga dengan Adam, yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan para orang tua. Bukan dia tidak mengerti, hanya saja bukan wilayahnya untuk ikut campur. Lagi pula dirinya juga masih terlalu kecil untuk terlibat obrolan orang dewasa.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya. Papa Wisnu dan Hanif pergi ke kantor. Sebelum berangkat, Hanif masuk ke kamarnya lebih dulu untuk berpamitan pada sang istri. Tidak lupa juga memberi peringatan pada wanita itu agar tidak banyak bergerak.
Dia sangat tahu bagaimana Kinan, yang tidak bisa tinggal diam. Pria itu juga mewanti Adam agar tidak membiarkan mamanya turun dari ranjang. Anak itu pun mengiyakan perintah papanya karena dia juga ingin agar mamanya cepat sembuh. Pria itu berpikir jika memang itu yang diperintahkan dokter, pasti agar Kinan cepat sehat.
Setelah mengatakan peringatan untuk sang istri, Hanif segera pergi ke kantor. Tidak lupa juga membawa mangkuk bekas makan istrinya. Adam sendiri masih di sana karena ingin menjaga mamanya. Seperti yang dikatakan sang papa tadi, dia tidak akan membiarkan Kinan turun dari ranjang.
"Adam, sebaiknya kamu main saja di luar. Pasti kamu akan bosan kalau di sini terus," ucap Kinan yang merasa kasihan pada putranya.
Gara-gara Hanif yang meminta anak itu tetap di kamar demi menjaganya. Adam benar-benar tidak pergi dan tetap duduk di tempatnya sejak awal. Padahal dirinya baik-baik saja, tetapi anak itu saja yang khawatir terlalu berlebihan. Sepertinya sikap Hanif menurun pada Adam.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Di luar juga aku sudah bosan memainkan permainan itu-itu saja. Lebih baik di sini bisa nemenin Mama."
"Memangnya kamu tidak bosan, menunggu Mama di sini sendiri terus-terusan? Mama saja bosan tiduran di sini. Apalagi kamu yang tidak bisa bermain apa pun."
"Nggak, aku nggak bosan. Di sini ada Mama, aku bisa bicara sama Mama juga. Nanti kalau aku mau main, tinggal ambil mainannya terus bawa ke sini," jawab Adam membuat Kinan terharu.
Anak seusia dia sudah sangat pandai berbicara. Adam juga berkata semua itu, seolah tanpa beban apa pun. Padahal Kinan tahu jika anak itu pasti sudah dilanda kebosanan. Orang dewasa saja sudah jenuh apalagi anak-anak. Kinan menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Kalau Mama yang bosan, Mama boleh keluar nggak?"
.
.
__ADS_1