
"Ma, aku antar ke rumah sakit, ya?" tawar Kinan saat semua orang sudah meninggalkan rumah. Papa Wisnu pergi ke kantor, sementara Hanif bersama Bik Ira dan Adam pergi ke luar kota untuk ke rumah orang tua anak itu.
"Mama tidak apa-apa, Kin. Hanya tidak enak badan saja," tolak Mama Aida. Dari kemarin semua orang sudah membujuknya, tetapi wanita itu tetap kekeh tidak ingin pergi.
"Iya, tapi nanti kalau sudah diperiksa sama dokter dan dikasih obat, pasti semakin lebih baik lagi. Mama kelihatan pucat sekali wajahnya."
Kinan masih berusaha membujuk Mama Aida. Dia sudah menganggap mertuanya seperti orang tua sendiri. Wanita itu juga ikut sedih melihat keadaan Mama Aida seperti ini. Selama Kinan tinggal di sini, baru kali ini sang mertua sakit.
"Nggak usah, kamu juga ada kuliah, kan? Nanti malah ngerepotin kamu."
"Ma, aku kuliahnya juga siang. Ini masih banyak waktu, aku nggak mau Mama sampai sakit. Ayo kita ke dokter! Sebentar saja, kok!"
"Nggak perlu, habis ini minum obat juga pasti akan cepat sembuh."
"Mama ini ngeyel sekali, sih. Kamu juga sama saja keras kepalanya, dibilangin Mama enggak apa-apa. Sakit seperti ini udah biasa bagi orang tua seperti Mama."
"Justru karena Mama sudah tua, makanya harus lebih sering diperiksa agar bisa sehat selalu."
"Itu alasan kamu saja. Sudah, Mama mau istirahat. Kamu nanti kalau mau pergi ke kampus, pergi saja. Tidak perlu berpamitan, Mama mau tidur." Mama Ida segera bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar.
Kinan hanya memandangi punggung sang mertua hingga hilang di balik tembok. Mama Aida memang orang yang keras kepala, sangat sulit untuk dibujuk. Semoga saja nanti Papa Wisnu bisa membujuknya lagi. Dia tahu jika papa mertuanya, sudah berusaha agar Mama Aida mau pergi ke rumah sakit, terapi wanita itu tetap menolak.
Kinan pun membereskan meja makan dan membersihkan rumah, sebelum nanti siang dia harus pergi ke kampus. Siang hari sudah saatnya wanita itu pergi ke kampus. Namun, Kinan tidak tega meninggalkan mertuanya sendiri. Dia ragu apakah dirinya harus tetap pergi ke kampus atau menemani mamanya di rumah.
Dalam kegalauan hatinya, akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Kinan takut jika sang mertua membutuhkan sesuatu di rumah. Memang ada pak satpam, tetapi pria itu hanya berjaga di luar. Jika memanggil pun pasti tidak terdengar, kecuali dengan telepon.
Tetap saja dia tidak bisa tenang meninggalkan sang mertua. Di kampus juga Kinan pasti akan selalu kepikiran jadi, lebih baik dirinya tidak usah pergi saja.
"Kinan, kamu masih di sini, nggak kuliah?" tanya Papa Wisnu yang baru saja datang.
Kinan sedikit terkejut mendengar suara mertuanya yang tiba-tiba. "Papa, kok pulang? Apa ada sesuatu yang ketinggalan?"
__ADS_1
"Tidak ada, Papa hanya mengkhawatirkan mamamu dan kamu sendiri kenapa belum berangkat kuliah?" Papa Wisnu bertanya sambil duduk di kursi yang bersebrangan dengan menantunya.
"Aku khawatir sama Mama. Di rumah tidak ada siapa-siapa jadi, sebaiknya aku tidak pergi ke kampus saja."
"Jangan begitu, kamu kemarin sudah beberapa hari tidak masuk. Mama biar Papa saja yang jaga. Papa pulang memang sengaja untuk itu."
"Memang Papa di kantor tidak ada pekerjaan?"
"Masih ada orang kepercayaan Papa yang bisa menghandle semuanya. Kalau ada dokumen yang harus Papa tanda tangani, Papa bisa kerjakan besok. Sekarang sebaiknya kamu pergi ke kampus saja biar Mama sama Papa."
"Iya, Pa, kalau begitu pergi dulu. Nanti kalau Papa sama Mama mau makan siang, makanannya ada di rak paling atas." Tunjuk Kinan pada salah satu kotak lemari yang ada di dapur.
"Iya, nanti Papa ambil sendiri."
"Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pria itu pun mendekati istrinya, mencoba melihat apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak. Dia duduk di tepi ranjang, agar bisa melihat keadaan Mama Aida dari dekat.
"Mama, bagaimana keadaannya? Sudah baik-baik saja, kan?" tanya Papa Wisnu sambil mengusap rambut sang istri.
Mama Aida membuka matanya dan terkejut melihat sang suami ada di kamarnya. Dia mencoba untuk mengusap matanya agar pandangannya lebih jelas. "Papa, kok ada di sini? Ini sudah jam berapa?"
"Ini masih siang. Sedari pagi Papa khawatir sama Mama. Untung saja Papa pulang. Kalau tidak, Kinan bisa bolos lagi hari ini."
Mama Aida terkejut mendengarnya. Bukankah dia "Bolos? Kenapa? Tadi Mama sudah suruh dia pergi ke kampus."
"Iya, tapi dia tidak tega ninggalin Mama sendiri di sini,. Makanya, Ma, ayo kita pergi ke dokter! Biar Mama cepat enakan. Kita semua khawatir."
"Mama nggak pa-pa, sudah Mama katakan berkali-kali, Mama hanya lelah saja. Setelah minum obat juga juga semua baik-baik saja."
__ADS_1
"Itu Mama bicara dari kemarin, loh. Mama juga sudah banyak istirahat, tapi masih tetap begini dari kemarin."
"Sudahlah, Pa. Mama mau tidur, Mama masih ngantuk," pungkas Mama Aida yang kemudian menutup seluruh tubuhnya, hanya meninggalkan kepala saja.
Papa Wisnu menghela napas berat, sangat sulit untuk membujuk istrinya. Papa Wisnu pun memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu, Kinan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menancapkan gasnya karena memang sebentar lagi, kelas akan dimulai, sedangkan dirinya masih berada di perjalanan.
Setelah beberapa menit, akhirnya wanita itu sampai juga di kampus. Lima menit lagi kelas akan dimulai. Kinan segera berlari menuju kelasnya. Dia tidak ingin Fransmasuk lebih dulu. Bisa-bisa nanti dirinya kena hukuman.
"Kinan, kamu mau ke mana buru-buru sekali?" tanya Niko yang kebetulan ada di sana. Pria itu menghadang jalan Kinan, padahal wanita itu sedang mengejar waktu."
"Sebentar lagi aku ada kelas jadi, jangan ganggu aku. Aku benar-benar harus pergi sekarang," ucap Kinan yang akan segera pergi dari sana.
Namun, lagi-lagi Niko menghadang jalannya. "Tunggu dulu, dong! Kita masih ada urusan."
"Jangan bikin aku kesal, saat ini aku sedang berburu-buru!" Kinan berbicara dengan nada sedikit tinggi.
Dia benar-benar kesel dengan pria itu, yang selalu saja mengusik hidupnya. Padahal hubungan mereka sudah berakhir sejak dulu. Dirinya juga tidak ada niat membangun pertemanan antara laki-laki dan perempuan.
"Niko, kamu ngapain di sini sama mantan kamu?" tanya Felly sambil berjalan mendekati pria itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya menyapanya saja," jawab Niko dengan tersenyum untuk menutupi rasa takutnya.
"Sudah, ya, kalau kalian mau bicara, silakan saja. Aku masih ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan." Kinan segera pergi dari sana.
Namun, tanpa wanita itu sadari, kaki Felly sengaja dijulurkan hingga akhirnya dia terjatuh. Kinan meringis kesakitan, orang-orang yang ada di sekitar pun menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja wanita itu merasakan sesuatu keluar dari bagian inti tubuhnya.
Tangan Kinan meraba ke belakang tubuhnya dan mendapati darah di bagian rok yang dia kenakan. Tangan wanita itu bergetar. Kinan merasa ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada tubuhnya.
"Tolong ... tolong!" pekik Kinan dengan suara tertahan di tenggorokan. Beberapa mahasiswa yang mendengar teriakan Kinan pun segera mendekat.
.
__ADS_1
.