
“Oh ya, Kinan pasti kenal 'kan sama Hanif? Dia juga dosen di kampus tempat kamu belajar,” ujar Aida.
“Oh ya! Jadi kamu ngajar di universitas itu? Baguslah, kalau kalian sudah saling mengenal. Mama jadi bisa titipin Kinan sama Hanif,” sahut Mama Aisyah.
“Apaan, sih, Ma. Pake dititipin segala. Pak Hanif memang mengajar di sana. Siapa yang nggak kenal dia. Dia ‘kan guru paling killer di sana. Bahkan orang yang tidak salah pun, pasti kena hukuman, seperti aku,” ucap Kinan yang justru membuat semua orang tertawa.
“Kamu pantas dihukum karena sudah membuat kesalahan. Apa perlu saya katakan apa kesalahanmu sekarang?”
“Tidak perlu.” Kinan memotong ucapan Hanif dengan cepat.
Bisa-bisa nanti dia kena hukuman oleh orang tuanya. Bagaimana tidak, saat itu dia dihukum karena telat masuk kelas. Sebenarnya bukan telat karena Hanif lebih dulu masuk sebelum kelas dimulai. Itu dijadikan pria itu alasan untuk menghukum Kinan.
Gadis itu menatap tajam ke arah dosennya. Dia benar-benar tidak suka dengan kedatangan Hanif. Kinan tidak menyangka jika orang tua mereka berteman. Hari-hari selanjutnya di kampus pasti akan terasa berat.
“Ayo, silakan dinikmati makanannya! Ini masakan keluarga kami. Biasalah masakan rumahan. Ini yang masak juga Kinan," ujar Mama Aisyah.
“Justru saya senang, bisa merasakan makan seperti ini. Sekarang sudah sangat langka makanan ini,” sahut Wisnu yang segera menikmati makanan yang ada di depannya.
"Kinan bisa masak juga? Pasti enak, nih. Zaman sekarang anak perempuan jarang sekali yang bisa masak. Beruntung sekali calon suaminya nanti," ucap Aida sambil melirik putranya.
Semua orang pun makan dengan tenang. Sesekali diselingi dengan gurauan. Hanif sama sekali tidak menimpali. Dia asyik dengan makanan yang ada di meja, sementara sedari tadi Kinan menggerutu dalam hati.
Ternyata dosen yang selama ini mendapat julukan killer, ternyata rakus juga dalam makanan. Dari tadi mulutnya tidak berhenti mengunyah. Kalau tahu jika tamunya adalah Hanif, gadis itu pasti akan memasukkan sesuatu ke dalam makanannya.
“Kenapa dari tadi kamu ngelihatin aku seperti itu? Apa kamu jatuh cinta padaku?” tanya Hanif membuat semua orang menatap Kinan. Tentu saja gadis itu menjadi bahan sorotan semua orang.
“Anda jangan terlalu percaya diri, Pak. Siapa bilang aku jatuh cinta sama Anda.”
“Kinan, tidak boleh seperti itu,” tegur Mama Aisyah. Dia merasa tidak enak pada tamunya karena Kinan sudah bersikap tidak sopan.
“Tidak apa-apa, Tante. Dia sudah terbiasa seperti itu pada saya,” sahut Hanif dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
__ADS_1
“Kamu di kampus selalu seperti itu, Kin?” tanya Mama Aisyah dengan membelalakkan matanya. Bagaimana tidak, putrinya sudah sangat tidak sopan pada seorang dosen.
“Nggak, Ma. Siapa bilang aku nggak pernah seperti itu. Memang Pak Hanif saja yang terlalu berlebihan.”
“Saya hanya mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Tidak ada ada niat apa pun.”
“Hanif, sudah jangan membuat menantu Mama seperti itu, kamu diam saja,” ucapan Aida membuat semua orang menatap wanita itu.
Terutama Kinan. Dia menatap Tante Aida dengan wajah herannya. Apa coba maksud dengan kata menantu. Memang siapa menantunya. Gadis itu pun beralih menatap yang lain dan semua orang menatap dirinya. Dia semakin dibuat pusing.
Apakah benar, maksud Tante Aida itu dirinya yang menantu? Apa maksud kedatangan mereka ke sini adalah untuk melamarnya atau memang kedua orang tua mereka sengaja ingin menjodohkan mereka. Tiba-tiba saja kepala Kinan terasa pusing. Dia tidak bisa berpikir jernih.
Makanan yang tinggal separuh, tidak dihabiskannya karena sudah tidak berselera lagi. Tidak pernah gadis itu bayangkan jika harus menikah dengan Hanif. Kinan masih memiliki cita-cita yang tinggi. Banyak sekali keinginan yang belum terwujud.
“Maksud tante apa, ya? Menantu siapa?” tanya Kinan.
“Sudah, habiskan saja makananmu tidak baik makan sambil berbicara,” sela Hanif tanpa melihat ke arah wanita itu.
Dia terus menikmati makanannya tanpa menghiraukan ekspresi Kinan. Sedangkan gadis itu sudah tidak mau makan lagi. Perutnya sudah terasa penuh, meski hanya sedikit makanan yang masuk.
Seketika membuat Kinan melototkan mata ke arah kakak iparnya itu. Dia sendiri juga tidak tahu apa-apa, bagaimana bisa Zayna bertanya seperti itu. Akan tetapi, gadis itu juga perlu memikirkan kemungkinan itu. Jika benar, Kinan akan menolaknya dengan tegas.
“Oh iya, ada kabar gembira dari keluarga kita. Ayman, kamu atau Mama yang memberi kabar bahagia itu?” tanya Mama Aisyah.
“Biar aku saja, Ma,” sahut Ayman. Dia menarik napas dalam-dalam. “Aku mau berbagi kabar bahagia pada kalian semua. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah,” lanjutnya dengan senyum mengembang, seketika membuat orang terdiam sejenak.
“Kak Zayna hamil!” seru Kinan yang diangguki oleh Zayna. Gadis itu pun memeluk kakak iparnya. Dia ikut senang dengan kabar gembira itu.
“Sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang Tante. sehat-sehat ya, Sayang,” ucap Kinan sambil mengusap perut datar kakak iparnya.
“Selamat Hadi, sebentar lagi kamu akan jadi kakek," ucap Wisnu sambil menjabat tangan Papa Hadi.
__ADS_1
“Iya, terima kasih. Aku tidak menyangka akan mendengar kabar bahagia ini. Harus dirayakan kabar ini," sahut Papa Hadi.
"Tidak perlu, Pa. Nanti saja kalau ada acara tujuh bulanan,” sahut Zayna.
“Iya, Pa. Pamali, nggak boleh buat acara sekarang. Nanti saja kalau acara tujuh bulanan," sela Mama Aisyah.
“Baiklah, nanti kalau acara tujuh bulanan, Papa buat acara yang besar untuk calon cucu papa.”
Setelah selesai makan malam. Para orang tua berkumpul di ruang tamu. Mama Aisyah meminta Kinan agar mengajak Hanif ke taman samping rumah. Tidak mungkin mereka ikut obrolan para orang tua, sementara Ayman dan Zayna sudah kembali ke kamar.
“Sepertinya kamu tidak niat sekali menemani saya di sini?” tanya Hanif dengan melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya.
Sedari tadi Kinan hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa mengajak pria itu berbicara. Hanif tahu sebenarnya gadis itu hanya berpura-pura sibuk karena dari tadi, Kinan hanya membuka aplikasi dan menutupnya kembali.
“Anda sudah tahu itu, jadi saya tidak perlu berbasa-basi.”
“Sepertinya, kamu perlu dihukum besok di kampus.”
Kinan segera menatap tajam ke arah dosennya. “Saya kira Anda bukan orang yang suka mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kampus.”
“Tidak ada yang berhak mengatur apa yang ingin saya lakukan.”
Kinan semakin kesal dibuatnya. Namun, dia tidak ambil pusing. Gadis itu mencoba terlihat biasa saja. Padahal dalam hatinya sedikit was-was, takut jika Hanif benar-benar nekat.
“Seharusnya kamu itu bersikap baik dengan calon suamimu.”
“Calon suami? Siapa calon suami saya?” tanya Kinan yang tidak mengerti apa yang Hanif bicarakan.
“Memangnya Mama kamu tadi tidak cerita, kalau kita dijodohkan?”
“Dijodohkan? Itu tidak mungkin!”
__ADS_1
.
.