Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
209. Melihat kejadian sebenarnya


__ADS_3

"Maafin aku, ya, Sayang. Seharusnya tadi aku segera pulang saat kamu ngajakin aku," ucap Ayman setelah putranya tertidur.


Dia merasa bersalah pada istri dan anaknya. Demi pekerjaan pria itu tidak memikirkan mereka. Malah egois dengan membicarakan pekerjaan dengan Hanif.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti, kamu hanya sedang banyak pekerjaan. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Zayna yang benar-benar mengerti bagaimana perasaan sang suami.


Dulu dia juga pernah bekerja, memikirkan beberapa tanggung jawab. Meski tanggung jawabnya tidak sebesar. Sebenarnya dalam hati, wanita itu masih merasa kesal. Akan tetapi, Zayna tidak mungkin marah pada sang suami.


Bagaimanapun juga pria itu hanya melakukan tanggung jawabnya pada pekerjaan. Ayman tersenyum, syukurlah jika Zayna mengerti keadaannya. Tadi dia berpikir kalau sang istri marah, tetapi ternyata tidak. Mungkin tadi Karena kekhawatiran sang istri yang berlebihan saja, hingga membuat emosinya tidak stabil.


"Kamu nggak ke kantor, Mas? Ini sudah hampir siang," tanya Zayna saat melihat jam dinding.


"Nanti saja sekalian habis makan siang," jawab Ayman yang kemudian merebahkan tubuhnya. "Ditidurin di sini saja, Sayang. Biar aku bisa lihatin dia terus," lanjutnya dengan menepuk sisi ranjang.


"Nggak mau, nanti kamu gangguin dia. Sebaiknya ditidurkan di box saja."


"Nggak, aku nggak akan gangguin dia. Aku hanya ingin melihat wajahnya saat tertidur saja."


"Kamu selalu seperti itu, tapi setelah itu selalu saja gangguin dia."


"Nggak, untuk kali ini nggak, percaya deh sama aku." Ayman masih mencoba membujuk sama istri.

__ADS_1


Tidak dipungkiri jika dia merasa gemas pada putranya. Hingga seringkali mengganggu Baby Ars yang sedang tidur nyenyak. Pada akhirnya Zayna yang harus mendiamkan putranya itu, sementara Ayman hanya berpura-pura tidak tahu.


Pria itu masih saja menepuk ranjang yang ada di sisinya, hingga akhirnya Zayna pun mengalah dan menidurkan putranya di ranjang. Wanita itu sendiri pergi keluar untuk menyetrika beberapa baju sang suami, yang sudah kering. Setiap hari dia memang selalu menyetrika Ayman, sementara bajunya sendiri jarang sekali di setrika. Bahkan mungkin bisa dibilang tidak pernah.


Sekarang setiap kali melakukan pekerjaan Zayna selalu terburu-buru. Takut jika anaknya terbangun dan menangis. Meski di rumah sudah ada asisten rumah tangga, tetap saja wanita itu tidak ingin melalaikan tugasnya, sebagai seorang istri pada sang suami.


Setelah selesai menyetrika, Zayna kembali ke kamar sambil membawa keranjang yang berisi baju. Sekalian dia juga ingin melihat anaknya, apa sudah bangun apa belum. Apalagi sekarang Baby Ars bersama dengan papanya. Wanita itu khawatir Ayman jahil dan menggoda anaknya.


Saat membuka pintu, Zayna hanya bisa menggelengkan kepala, melihat suaminya juga ikut tertidur di sana. Padahal pria itu mengatakan akan pergi ke kantor saat selesai makan siang. Sekarang malah tertidur, entah nanti bangunnya jam berapa. Padahal sebentar lagi sudah jam makan siang.


***


Ponsel Hanif berdering, pria itu meminta izin pada istri dan mertuanya untuk keluar sebentar. Dia pun mencari tempat yang dirasa aman, untuk berbicara dengan orang yang berada di seberang telepon. Hanif yakin jika orang itu ingin membahas pekerjaan yang dia berikan kemarin.


"Sudah, Tuan. Saya akan mengirimkannya ke email Anda. Saya juga mengirimkan dokumen beberapa orang yang sekiranya Anda butuhkan. Termasuk mengenai dosen yang mengajar di kelas istri Anda," ucap orang tersebut yang membuat Hanif menganggukkan kepala.


Orang suruhannya memang selalu mengerjakan pekerjaan dengan sempurna. Sebenarnya dia tidak membutuhkan hal itu. Namun, tidak ada salahnya jika dirinya tahu tentang orang tersebut. Anggap saja itu antisipasi agar tidak salah langkah.


"Kamu kirimkan saja, nanti jika ada sesuatu yang kurang, saya akan menghubungimu lagi. Terima kasih atas pekerjaannya. Bayarannya nanti saya akan transfer ke rekening kamu."


"Terima kasih, Tuan. Saya sangat percaya dengan Anda, semoga Anda puas dengan pekerjaan yang kami lakukan."

__ADS_1


"Tentu, karena itu juga yang membuatku selalu menghubungi kalian jika ada sesuatu yang saya butuhkan. Sampai kapan pun semoga pekerjaan kalian memuaskan seperti ini."


"Kami akan siap melayani Anda, kapan pun Anda membutuhkan tenaga kami."


Panggilan pun berakhir. Hanif memeriksa email yang baru saja dikirim oleh orang suruhannya. Ada beberapa video dan dokumen di sana. Hanif melihat video terlebih dahulu satu persatu. Dimulai dengan Niko yang menghadang jalan Kinan, bersama dengan wanita dan akhirnya terjadilah kejadian tersebut.


Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Bisa-bisanya Niko yang sudah dia peringatkan untuk tidak mendekati istrinya, tetapi tidak menghiraukan hal itu. Apa pria itu tidak tahu siapa dia sebenarnya. Perlukah Hanif memberi pelajaran untuk membuatnya lebih jera.


Pria itu juga bisa melihat Frans yang menggendong Kinan. Jujur dia merasa risih dengan pemandangan hal itu. Namun, Hanif tahu jika apa yang dilakukannya untuk menolong istrinya. Begitu juga dengan mahasiswa yang tadi membawa Kinan saat terjadi kecelakaan.


Dia berhutang budi pada mereka. Nanti akan ada saatnya pria itu berterima kasih pada mereka, setelah Kinan bisa pulang ke rumah. Saat ini Hanif juga ingin memberi pelajaran, pada orang-orang yang membuat istrinya terluka. Dia memeriksa satu persatu dokumen yang dilampirkan.


Ternyata orang tua dari wanita yang bernama Felly itu cukup berpengaruh. Pantas saja jika wanita itu sangat berani berbuat seenaknya. Sepertinya dia harus bermain-main sebentar dengan mahasiswi itu. Keluarganya juga bukan orang baik-baik, banyak sekali 'borok' yang mereka tutupi.


Niko sendiri hanya orang dari kampung, yang mengandalkan uang dari kekasihnya untuk hidup bermewah. Sebenarnya dia tidak tega pada kedua orang tua pemuda itu, yang memiliki harapan besar kepada anaknya. Mereka bahkan rela menjual tanah untuk biaya masuk kuliah. Namun, jika Niko tidak diberi pelajaran, maka seterusnya akan seperti itu.


Terserah jika mau melaporkan dirinya atau tidak terima atas apa yang dilakukan Hanif nanti. Yang pasti tekadnya sudah bulat ingin memberi sedikit pelajaran. Mengenai apa yang mereka lakukan, biarlah itu menjadi urusannya nanti.


Selanjutnya dari dosen Kinan yang bernama Frans. Saat dilihat dokumennya, ternyata perkiraan Hanif benar, Frans seorang single tapi itu tidak ada hubungannya dengan dia. Tidak dipungkiri jika Hanif merasa tidak nyaman. Bagaimanapun juga pria itu pernah menjadi dosen.


Karena itu, dia juga bisa berusaha mengambil hati Kinan. Pria itu takut jika terjadi seperti itu pada Frans. Bukannya dia tidak percaya pada Kinan, pria itu hanya merasa takut saja, entah karena apa. Hanif mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2