
Saat tengah malam, Hanif melihat istrinya sudah tertidur. Begitu juga dengan Adam yang tidur di ranjang, yang sudah disediakan untuk keluarga pasien. Pria itu pun keluar dari ruangan. Dia ingin menghubungi seseorang yang bisa membantunya, untuk mencari tahu tentang kejadian di kampus tadi siang.
"Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang berada di seberang telepon.
"Saya ingin kamu menyelidiki sesuatu. Tadi siang di kampus, istri saya mengalami kecelakaan. Saya ingin kamu melihat CCTV yang ada di sana. Cari kamera yang memperlihatkan dengan jelas kejadiannya. Jika tidak terlihat, segera cari tahu keluarga pelaku. Pasti banyak mahasiswa yang membicarakan kejadian tadi. Jangan lewatkan sedikitpun informasi tentang mereka. Aku akan menunggunya."
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan melakukan semuanya Seperti yang anda inginkan."
"Baguslah, setelah mendapatkan semuanya segera hubungi saya." Hanif segera mematikan sambungan telepon.
Tangan pria itu mengepal dengan sempurna. Dia tidak akan melepaskan siapa pun yang sudah mengganggu istrinya. Apalagi sampai membuat Kinan seperti sekarang ini. Tidak peduli siapa orang itu, Hanif tetap akan memberinya pelajaran.
Pria itu kembali masuk ke dalam ruangan. Dia duduk di kursi di samping ranjang tempat sang istri terlelap. Hanif memandangi wajah Kinan dengan saksama. Entah kenapa rasa cinta yang dimiliki untuk sang istri semakin hari semakin bertambah.
Wanita yang bahkan tidak bisa memanjakan lidahnya. Namun, mampu membuat hatinya bergetar setiap kali ada di dekatnya. Kinan selalu memiliki seribu alasan untuk membuat Hanif semakin jatuh cinta padanya. Terlalu lama memandangi wajah Kinan, membuatnya mengantuk. Hingga tanpa sadar pria itu pun tertidur sambil duduk.
Azan subuh berkumandang membangunkan Kinan yang masih terlelap. Wanita itu berusaha untuk menggerakkan tangannya. Namun, terasa sulit. Saat dilihat ternyata sang suami yang tengah menggenggamnya.
Kinan tersenyum melihat hal itu. Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya, saat melihat pria yang sangat dicintainya rela tidur sambil duduk seperti ini. Pasti rasanya sangat tidak nyaman. Hanif memang selalu memberinya cinta yang begitu besar, membuat Kinan berkali-kali mengucap syukur.
Wanita iyu mengusap rambut sang suami, sambil berusaha membangunkan pria itu. "Mas, sudah subuh. Ayo, kita jamaah."
Hanif menggeliatkan tubuhnya saat mendengar orang memanggilnya. Dia juga merasakan usapan lembut pada rambutnya. Pria itu mendongakkan kepala, ternyata sang istri sudah bangun. Hanif pun tersenyum ke arah Kinan.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Hanif.
__ADS_1
"Iya, Mas. Baru saja aku bangun," jawab Kinan. "Aku juga sudah tidak pakai infus, kapan dilepasnya, Mas?" tanya Kinan sambil menunjuk tangan yang sebelumnya tertancap jarum infus.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Mungkin tadi malam saat kita semua tertidur," jawab Hanif yang memang tidak tahu kapan perawat mencabut infusnya. “Sudahlah, tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kamu juga bisa lebih bebas bergerak."
"Iya, Mas. Ayo kita berjamaah! Aku mau ambil wudhu di kamar mandi.” Kinan mencoba bangun dari tidurnya dan mencoba turun. Namun, dicegah oleh Hanif.
“Iya, Sebentar, aku ambilkan kursi roda biar kamu mudah nanti wudhunya. Aku nggak mau kamu terlalu lama berdiri." Ayman segera keluar untuk mengambil kursi roda, sementara Kinan hanya menatap kepergian sang suami dengan senyum mengembang. Perhatian yang diberikan oleh Hanif sangat sederhana. Namun, sangat berkesan baginya.
Hanif masuk dengan membawa kursi roda. Dia mengangkat sang istri untuk ke kamar mandi untuk wudhu. Keduanya pun bergantian masuk, setelah itu bersiap untuk salat berjamaah. Tiba-tiba pandangan Kinan tertuju pada putranya.
"Mas apa Adam tidak dibangunkan? Sekarang kan Adam tanggung jawab kita. Kita harus mengajaknya juga."
Hanif ikut memandang Adam yang masih terlelap. Pria itu tidak tega jika harus membangunkannya sekarang. Apalagi dia harus menjelaskan banyak hal karena Hanif yakin, kalau anak itu pasti akan banyak bertanya. Waktu subuh juga tidak panjang jadi, sebaiknya nanti saja dia menjelaskan pada Adam.
Kinan mengangguk, selama Adam tinggal bersamanya, anak itu memang tidak pernah melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. Meskipun Adam selalu melihat Kinan dan keluarga lainnya salat, anak itu hanya memandanginya saja, tanpa mau ikut melaksanakannya. Dia menyerahkan tanggung jawab pada sang suami, untuk memberi penjelasan pada putranya.
Kinan dan Hanif pun melakukan salat berjamaah. Segala doa keduanya panjatkan agar keluarga mereka diberi keberkahan. Yang lebih penting untuk saat ini adalah kesembuhan Kinan dan keselamatan calon anak mereka.
***
Pagi-pagi sekali Ayman dan Zayna sudah bersiap. Keduanya ingin menjenguk Kinan yang berada di rumah sakit. Mereka juga ingin tahu bagaimana keadaan adiknya secara langsung.
“Kalian mau ke mana?" tanya Mama Aisyah saat melihat Ayman dan Zayna yang sudah terlihat rapi.
"Kami mau menjenguk Kinan, Ma. Aku mau titipin Baby Ars sebentar boleh, kan?" tanya Kinan pada sang mertua. Namun, dia merasa tidak enak karena Mama Aisyah sepertinya juga akan keluar. "Mama mau keluar juga?"
__ADS_1
"Sebenarnya Mama juga mau jenguk Kinan."
Biar saya saja Neng yang jagain baby harus selalu Bibi yang dari tadi mendengar apa yang majikannya bicarakan.
"Memang tidak apa-apa, Bi?" tanya Kinan yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Neng. Bibi juga tidak banyak pekerjaan hari ini."
Zayna tersenyum lagi saat mendengar jawaban dari Bik Ira. Setidaknya dia bisa melihat keadaan Kinan meski hanya sebentar. Bik Ira tidak begitu dekat dengan Baby Ars jadi, dia hanya bisa pergi sebentar saja. Berbeda dengan Mama Aisyah, yang memang selalu bersama dengan bayi itu
"Terima kasih, Bik. Nanti aku juga tidak akan lama. Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan Kinan."
"Lama juga tidak apa-apa, Neng. Insya Allah saya masih bisa menjaganya."
"Iya, Bik. Bukan saya mau ngeremehin pekerjaan Bibi, tapi Bibi tahu sendiri bagaimana Baby Ars kalau sama Bibi atau orang-orang yang jarang sekali mengajaknya, pasti sebentar juga sudah nangis."
Bik Ira mengangguk, dia memang jarang sekali mengajak Baby Ars. Bukannya tidak mau, tetapi bayi itu yang selalu saja menangis saat wanita itu menggendongnya.
"Sebaiknya Mama nggak ke sana sekarang. Nanti siang saja ke rumah sakitnya. Mama di rumah jaga Baby Ars. Kalian saja yang pergi," ucap Mama Aisyah yang merasa tidak tenang jika harus meninggalkan cucunya.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama ikut saja sama kita. Pasti Bik Isa bisa jaga, cuman tidak bisa lama. Sekarang juga Baby Ars masih tidur. Nanti aku juga di sana sebentar saja, hanya ingin melihat keadaan Kinan," sahut Maysa.
.
.
__ADS_1