
“Hai, Kinan. Selamat akhirnya kamu bertunangan juga. Padahal aku berharapnya kamu langsung nikah saja,” ucap Zayna saat memberi mengulurkan tangan pada adik iparnya.
“Nanti, Kak. Pasti akan ada saatnya," sahut Kinan sambil membalas uluran tangan kakak iparnya.
“Asalkan jangan pas aku lahiran saja. Nanti aku nggak bisa lihat kamu menikah lagi.”
“Tenang saja, aku bakalan nungguin ponakan aku lahir.”
“Nggak juga, sebelum lahir juga nggak papa.”
“Nggak, aku mau nungguin ponakanku saja.”
“Terserah kamu saja. Ngomong-ngomong, kamu sama Hanif cocok banget hari ini, tampan dan cantik.”
“Dari dulu aku memang cantik. Kakak saja yang nggak sadar.”
“Beginilah, kalau orang dipuji langsung ngelunjak," cibir Zayna membuat Kinan terkekeh.
Keduanya berbincang sejenak. Para tamu masih menikmati hidangan yang tersedia. Hingga seseorang datang memotong pembicaraan mereka.
“Sayang, ayo kita pulang! Kamu sedang hamil, tidak baik terlalu lama di luar saat malam hari,” ajak Ayman pada sang istri.
“Iya, Mas.”
Ayman memberi ucapan selamat pada adiknya. Dia senang Kinan bisa menemukan pria yang baik dan bertanggung jawab seperti Hanif. Sebagai seorang kakak, dia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya.
Ayman dan Zayna pamit pada kedua orang tuanya dan juga keluarga Papa Wisnu. Kedua keluarga sangat mengerti jika wanita hamil butuh istirahat lebih dulu. Tidak lupa juga Zayna membawa pulang beberapa makanan kesukaannya.
Acara telah selesai, para tamu juga sudah mulai meninggalkan acara pesta. Hanya tinggal keluarga Papa Wisnu dan Papa Hadi. Mereka berkumpul dalam satu meja karena semuanya belum sempat menikmati makan malam.
“Baru pesta begini saja, sudah melelahkan, ya,” ucap Papa Wisnu.
“Iya, Wis, maklumlah kita juga sudah tua. Sudah waktunya beristirahat,” sahut Papa Hadi.
__ADS_1
“Kamu enak, Di. Sudah ada Ayman yang menggantikan kamu menghandle semua pekerjaan di kantor. Lah, aku punya anak satu, tapi masih sibuk saja di kampus. Nggak pernah bantuin papanya di perusahaan,” keluh Papa Wisnu.
Semua orang pun melirik ke arah Hanif. Mereka tahu jika pria itu sama sekali tidak suka kerja di kantor.
“Pa, aku sudah bilang tunggu sebentar lagi,” sela Hanif.
“Iya, sebentar lagi, tapi kamu bilang 'sebentar lagi' itu dari beberapa bulan yang lalu. Sebentar laginya itu kapan? Papa juga pengen di rumah saja nemenin cucu main.”
“Sudahlah, Pa. Tidak usah banyak mengeluh. Sekarang Papa makan dulu biar nggak tambah sakit. Nanti saat cucunya lahir malah sakit-sakitan dan nggak bisa main sama cucu," sela Mama Aida.
Dia tidak ingin ada perdebatan antara ayah dan anak itu di hari yang bahagia ini. Wanita itu sangat tahu betapa keras kepalanya mereka berdua. Pasti masing-masing akan mempertahankan keinginannya.
“Jangan dong, Ma. Kok, doanya yang jelek-jelek!” seru Papa Wisnu.
“Makanya jangan suka mengomel terus. Lebih baik jaga kesehatan Papa. Biar badan sehat dan bisa melakukan apa pun tanpa mengeluh.”
“Iya, Ma," sahut Papa Wisnu. "Padahal biasanya Mama yang suka ngeluh, kenapa malah nyalahin Papa,” lanjutnya dengan bergumam, yang masih bisa didengar oleh orang yang ada di sana. Mereka semua pun tertawa mendengarnya.
“Mengenai pernikahan, memangnya Hanif dan Kinan belum ada rencana melangkah ke arah sana?” tanya Mama Aisyah. Kinan dan Hanif terdiam karena memang belum ada pembicaraan dari keduanya mengenai hal itu.
“Semuanya juga bisa dilakukan setelah kalian menikah.”
“Ma, sudah, tidak usah dibahas lagi. Biarkan mereka yang berpikir sendiri. Mereka bukan anak kecil yang harus diberitahu mana yang baik dan benar," sela Papa Hadi.
Mama Aisyah mengangguk. Mereka semua pun melanjutkan makan malam sambil berbincang-bincang. Setelah selesai, mereka pun pamit pulang ke rumah dengan menggunakan mobil masing-masing.
“Hanif, mulai minggu depan kamu harus sudah mulai ke bekerja di perusahaan,” ucap Papa Wisnu saat mereka dalam perjalanan.”
“Pa, aku sud—“
“Papa tidak mau tahu, kamu sudah pernah berjanji, jika kamu bisa mendapatkan Kinan, kamu akan menghandle perusahaan. Sekarang dia sudah terikat dengan kamu, jadi kamu harus memenuhi janjimu. Seorang pria, yang dipegang adalah janjinya."
“Baiklah, Pak, tapi untuk satu bulan aku tidak bisa full. Mungkin hanya beberapa hari saja. Setelah aku resign dari kampus, baru aku bisa sepenuhnya mengurus perusahaan itu.”
__ADS_1
“Terserah kamu, yang penting minggu depan mulailah belajar memimpin perusahaan.”
“Iya, Pa.”
“Apa kamu perlu seorang asisten? Biar nanti tim HRD yang mencarinya.”
“Aku boleh cari sendiri, nggak? Aku ada satu mahasiswa yang hebat menurutku. Aku yakin dia bisa bekerja dengan baik. Bulan depan dia lulus. Jika dia tidak ambil master, aku akan merekrutnya."
“Apa kamu yakin dengan pilihan kamu?”
“Yakin, Pa. Dia juga orang yang bertanggung jawab pada pekerjaannya."
"Kalau mengenai itu, terserah kamu saja.”
Di tempat lain, Kinan yang berada di kamarnya, terus saja memandang cincin yang melingkar di jari manisnya. Benda itu begitu sangat cantik yang begitu pas di jari manisnya. Dia tidak menyangka jika Hanif bisa memilih cincin yang cantik seperti ini. Gadis itu tersenyum mengingat momen saat Mama Aida memasangkan cincin ini.
Ponsel yang berada di atas meja bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Niko. Hal itu tentu cukup mengejutkan untuk Kinan. Sudah lama sekali pria itu tidak pernah lagi menghubunginya sejak hubungan mereka berakhir. Entah kenapa sekarang pria itu mengirim pesan.
Sebenarnya Kinan malas untuk melihatnya, terapi dalam hati, dia penasaran apa yang ingin dikatakan oleh mantan kekasihnya itu. Gadis itu pun membuka aplikasi hijau dan membaca pesan dari Niko.
“Apa kabar, Kinan?”
Pesan yang begitu singkat. Namun, cukup membuat Kinan merasa aneh. Buat apa juga pria itu bertanya seperti itu. Tidak mau ambil pusing, gadis itu pun tidak membalasnya. Menurutnya itu juga tidak terlalu penting.
Selang beberapa menit ponsel Kinan kembali bergetar. Dilihatnya, ternyata pesan dari pria itu lagi. Gadis itu tidak peduli dan masih asyik dengan lamunannya, memikirkan acara pertunangan yang sungguh berkesan baginya. Dia tidak menyangka akan secepat ini bisa bertunangan dengan seorang pria.
Padahal sebelumnya dia berencana untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang pria setelah dikhianati oleh Niko. Namun, Hanif justru menggoyahkan pendiriannya. Pria yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh gadis itu, kini perlahan mulai masuk ke dalam hatinya. Seseorang yang bisa memberinya rasa nyaman.
Ponsel Kinan kembali bergetar kali ini bukan sebuah pesan, tetapi panggilan masuk dan ternyata masih dari Niko. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya. Namun, pria itu juga tidak kalah kerasnya dan kembali menghubungi gadis itu. Kinan yang kesal pun akhirnya mengangkat juga.
“Halo, assalamualaikum. Ada apa? Kenapa menghubungiku? Nayla sedang tidak bersamaku. Kalau kamu mencarinya tanyakan saja pada temannya yang lain. Assalamualaikum.”
Kinan mematikan panggilan begitu saja dan kemudian dilanjut mematikan ponsel. Malam ini dia ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun. Apalagi oleh pria seperti Niko itu.
__ADS_1
.
.