
"Assalamualaikum, Ma," ucap Ayman. Namun, Aisyah hanya diam memperhatikan anak dan menantunya yang berada di depan pintu.
"Ma." Ayman mencium punggung tangan wanita itu diikuti oleh Zayna.
"Waalaikumsalam," jawab Aisyah pelan. Akan tetapi, tubuhnya masih diam membeku. Dia masih dalam keterkejutannya.
"Ma, siapa yang datang?" tanya Hadi sambil berjalan keluar karena sang istri yang tak kunjung masuk.
"Assalamualaikum, Pa," ucap Ayman sambil mencium tangan pria paruh baya itu diikuti lagi oleh Zayna juga.
"Waalaikumsalam, kalian, kok, bisa pulang?" tanya Hadi pada anak dan menantunya, seketika membuat Aisyah sadar.
"Aku sudah memutuskan untuk pulang, Pa."
"Mama sudah mengatakan padamu kalau kalian harus tinggal di sana satu bulan. Kenapa sekarang sudah ke sini?" tanya Aisyah dengan kesal.
"Ma, sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicara di dalam, nggak enak dilihat orang, bicara depan pintu," tegur sang suami.
Aisyah pun hanya mendengus kesal sambil berjalan ke dalam tanpa mempersilakan menantunya. Ayman pun menggenggam dan menarik tangan sang istri agar selalu bersamanya. Mereka menuju ruang tamu dan duduk di sana.
Ayman bisa merasakan kegugupan yang dirasakan sang istri. Dia pun berusaha agar Zayna merasa nyaman meski belum mampu menghilangkan kegugupan wanita itu.
"Jadi, jelaskan bagaimana bisa kamu mengajaknya ke sini, sebelum mendapat persetujuan dari mama?" tanya Mama Aisyah tanpa ingin berbasa-basi. Wanita paruh baya itu menatap putra dan menantunya secara bergantian.
"Seperti janjiku sebelumnya. Aku akan menuruti keinginan Mama, jika Mama juga tidak mengusik rumah tangga kami dengan cara curang, tapi kemarin Mama melanggar janji. Mama mengirim fotoku bersama Kinan saat jalan di mall ke ponsel Zayna. Jadi terpaksa aku juga melanggar janjiku dan membongkar semuanya. Aku juga membawa Zayna ke rumah ini sebagai istri dan menantu di rumah ini," ucap Ayman.
__ADS_1
Sementara Zayna hanya diam. Ini belum saatnya untuk dia berbicara. Sang suami sepertinya perlu meluruskan apa yang terjadi. Wanita itu juga perlu tahu sejauh mana mama mertuanya tidak menyukai dirinya.
"Jadi kemarin, Mama, senyum-senyum itu karena ini? Apa tujuan Mama mengirim foto Ayman sama Kinan?" tanya sang suami pada Aisyah. Pria itu memang belum menerima Zayna sebagai menantunya, tetapi dia tidak menyukai cara licik istrinya. Lebih baik katakan secara langsung jika tidak suka.
"Si–siapa bilang Mama yang melakukannya. Mama tidak tahu apa-apa. Foto apa?" kilah Aisyah. Dia tidak ingin disalahkan. Apalagi melihat wajah sang suami yang sudah tidak bersahabat.
"Mama tidak perlu berpura-pura. Hanya Mama yang bisa memiliki nomor anak buah Ilham."
"Anak buah Ilham? Jadi dia anak buahnya si Ilham? Kurang ajar dia, berani menipuku," ucap Aisyah, kemudian dia menutup mulutnya karena sadar telah membuka rahasia sendiri.
Wanita itu memukul bibirnya pelan. Bisa-bisanya dia keceplosan. Sebelumnya Aisyah meminta rekomendasi temannya agar mencarikan seseorang untuk membantunya Dia juga meminta agar orang tersebut bisa menjaga rahasia. Kalau perlu tidak ingat apa pun yang akan di suruh setelah mengerjakannya.
"Kenapa, Mama, melakukan itu?"
"Aku cuma nggak suka wanita itu jadi menantu kita, Pa. Papa pasti mengerti perasaanku."
"Tapi bukan berarti harus memfitnah anak sendiri, kan?" tanya Hadi dengan suara yang sangat rendah yang justru membuat Mama Aisyah takut dan menundukkan kepalanya. Jika sang suami sudah berbicara seperti itu berarti dirinya memang telah bersalah. Hadi hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan agar bisa menahan emosinya. Dia tidak ingin terlalu keras pada sang istri.
Kinan yang berada di ruang keluarga pun merasa sepertinya ada sesuatu yang serius di ruang tamu. Gadis itu mencoba mengendap dan menguping pembicaraan mereka. Dia begitu terkejut saat melihat sang kakak bersama dengan istrinya duduk di depan orangtuanya.
"Kakak!" teriak Kinan yang segera berlari dan memeluk kakak iparnya.
Zayna pun terkejut dibuatnya. Padahal tadi suasananya sangat serius, tapi tiba-tiba ada yang berteriak dan memeluknya. Dia sampai terjengkang ke belang. Untung saja belakangnya adalah sandaran sofa. Wanita itu mengusap dadanya karena saking kencangnya tubrukan tubuh adik iparnya.
"Kinan, hati-hati," tegur Ayman.
__ADS_1
"Aduh, Kakak ipar! Selamat datang. Aku sudah lama menantikan Kakak datang ke sini!" seru Kinan tanpa mempedulikan apa yang Ayman katakan.
"Oh, iya," jawab Zayna seadanya. Dia merasa tidak enak dengan kedua mertuanya yang saat ini menatap dirinya dengan intens.
Kinan terus saja meluapkan rasa bahagianya karena kedatangan kakak ipar. Tanpa dirinya tahu jika papa dan mamanya sudah sangat kesal karena mereka masih perlu menginterogasi Ayman.
"Kinan, kalau kamu tidak bisa diam sebaiknya kamu kembali ke kamar," ucap Hadi, seketika membuat Kinan terdiam.
"Baiklah, aku akan diam, tapi aku mau di sini saja," ucap Kinan dengan tangannya yang masih bergelayut manja di lengan Zayna tanpa peduli wajah memerah mamanya karena amarah.
Keterdiaman Kinan membuat suasana kembali mencekam.
"Jadi apa yang sudah kamu ketahui tentang Ayman, Zayna?" tanya Hadi pada menantunya.
Semua orang menatap Zayna, menunggu wanita itu menjawab pertanyaan Hadi. Wanita itu merasa seperti dirinya akan dikuliti hidup-hidup. Sungguh jantungnya benar-benar tidak baik-baik saja. Suaranya seperti terhenti di tenggorokan dan tak mampu dikeluarkan.
"A–aku tidak banyak tahu tentang Mas Ayman, Pa, tapi bukan berarti aku tidak ingin mengenalnya sama sekali. Saat pertama kali bertemu dengannya, jujur aku merasa takut jika dia bukan pria yang baik. Yang menjalani hubungan bertahun-tahun saja bisa kandas. Apalagi aku dan Mas Ayman yang sama sekali tidak saling mengenal, tapi aku percaya pada takdir yang Tuhan berikan padaku. Mas Ayman adalah jodoh yang sudah dipersiapkan untukku dan memang benar, selama aku menikah hingga detik ini, aku merasa sangat bahagia. Meski semua harus ternodai dengan kebohongan yang sudah dia lakukan," jawab Zayna.
"Jadi kamu mau menyalahkanku atas kebohongan yang sudah dilakukan Ayman?" tanya Aisyah dengan sinis.
"Tidak, Ma. Aku hanya menyayangkan saja, kenapa harus ada kebohongan dalam sebuah ikatan keluarga. Bagiku keluarga adalah kumpulan orang yang saling menyayangi dan saling membutuhkan antara satu sama lain. Tidak ada kecurangan atau kebohongan dan sejenisnya dalam ikatan itu. Aku yakin tidak ada seorang pun yang suka dibohongi. Apalagi jika suami istri meskipun hingga detik ini aku tidak menemukan arti dari keluarga yang sebenarnya," jawab Zayna membuat Aisyah terdiam.
Wanita paruh baya itu juga tidak suka dibohongi, apalagi oleh suaminya. Dia tahu jika dirinya telah melakukan kesalahan. Namun, karena rasa gengsi yang terlalu tinggi, membuatnya enggan untuk meminta maaf.
.
__ADS_1
.
.