
“Nanti akan aku coba menghubunginya, Ma,” ucap Zayna.
Mama Savina mengangguk dan berkata, “Mama tidak akan memaksamu. Jika kamu belum siap untuk bicara dengan Zanita, tidak apa-apa. Mama mengerti bagaimana perasaanmu. Setelah apa yang Zanita lakukan selama ini, kamu berhak marah padanya.”
“Aku tidak marah padanya, Ma. Hanya saja aku masih belum yakin saja, apa zanita mau bicara denganku atau tidak," jawab Zayna ragu.
“Dia pasti senang jika bisa bicara denganmu.”
“Iya, Ma. Nanti akan aku coba.”
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di sebuah mall. Zayna dan kedua orang tuanya turun kemudian memasuki tempat perbelanjaan tersebut. Papa Rahmat dan Mama Savina melihat ke sekeliling, ternyata banyak sekali orang, padahal ini jam kerja.
“Mall di sini sangat besar, beda sama yang di kota kita,” ucap Mama Savina sambil melihat ke sekeliling.
“Iya, Ma. Di sini orang-orangnya, penampilannya juga keren-keren. Di sini pasti semuanya mahal, ya, Na?” tanya Papa Rahmat pada putrinya.
“Nggak, Pa. Sama saja, di tempat lain juga harganya segitu,” jawab Zayna berbohong. Nyatanya memang di mall ini harganya cukup mahal. Namun, dengan kualitas yang bagus tentunya.
“Nggak, itu lihat harga jam tangan saja mahal sekali. Kita nggak jadi beli saja, Nay. Kita pulang, yuk!” ajak Mama Savina saat melihat harga jam tangan di toko yang mereka lewati. “Nay, sudah tidak perlu belanja. Lebih baik kita pulang saja.”
“Ma, kita sudah sampai di sini. Masa pulang! Sudah, ayo kita masuk! Kita cari yang kita sukai di sini,” ajak Zayna sambil menarik tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Papa Rahmat dan Mama Savina pun mengikuti ke mana Zayna pergi. Mereka juga sudah mendengar jika putrinya ini sangat suka berbelanja sejak hamil. Ketiga orang itu mengelilingi beberapa toko dan membeli apa yang diinginkan oleh Zayna. Mama Safina sama sekali tidak memilih, begitu pula dengan Papa Rahmat.
Semua kebutuhan kedua orang itu dipilih oleh Zayna sendiri. Beberapa kali mereka menolak. Namun, ibu hamil itu tetap memaksa. Entah berapa banyak uang yang sudah dihabiskan oleh wanita itu. Papa Rahmat dan Mama Savina merasa tidak enak pada menantunya.
“Na, sudah dulu. Ini sudah waktunya makan siang, memangnya kamu nggak lapar? Kasihan dedeknya dari tadi belum dikasih makan,” tegur Mama Savina.
“Iya, ayo kita cari restoran, kita makan dulu.”
“Setelah itu kita pulang, Mama capek, Papa juga harus istirahat, nggak boleh terlalu lama berjalan. Papa 'kan baru sembuh,” ucap Mama Savina beralasan agar Zayna menghentikan acara belanjanya. Kalau tidak, sudah pasti mereka akan kembali mengelilingi mall lagi. Zayna mengangguk kemudian mencari restoran sekitar.
****
Di sebuah rumah yang cukup besar, terdengar suara gaduh pasangan suami istri sedang bertengkar hebat. Itu karena pemberitaan yang terjadi, baru satu jam yang lalu. Seorang pembawa berita yang mengatakan jika suaminya telah memiliki istri lain. Wanita yang dulu pernah menjadi asisten rumah tangganya, bahkan sudah memiliki seorang anak.
Ternyata ancaman dari papanya Kinan benar-benar terjadi. Keluarganya benar-benar hancur sekarang, gadis itu tidak tahu harus berbuat apa. Ingin sekali dia menghubungi Kinan agar ayahnya tidak menghancurkan keluarganya. Namun, sudah terlambat. Semuanya sudah terekspos di televisi, sudah pasti seluruh negeri ini sudah tahu mengenai hal itu.
Entah bagaimana nasib keluarga ini selanjutnya. Keluarga yang selama ini Nayla bangga-banggakan ke semua orang. Tidak ada satu pun kecacatan yang tampak selama ini. Benar kata orang, yang tampak harmonis belum tentu baik-baik saja.
“Mama nggak mau tahu, Papa harus membuat restoran kita kembali seperti sebelumnya. Mama nggak mau hidup miskin. Papa harus ingat jika restoran itu dibangun dengan harta peninggalan keluargaku. Satu lagi, jangan pernah menemui selingkuhan dan juga anakmu itu. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya!” teriak mamanya Nayla.
“Itu tidak mungkin, dia juga anakku. Dia masih butuh pendidikan yang tinggi.”
__ADS_1
“Aku tidak peduli. Dia masih memiliki ibu, biar dia saja yang mencari uang. Kalau kamu masih mau menemui mereka, kamu harus pergi dari rumah ini. Kamu tidak ada hak di rumah ini."
"Aku yang membangun rumah ini dari nol. Bagaimana mungkin kamu mengusirku. Aku juga yang mengelola restoran selama ini.”
“Memang kamu yang membangun rumah, tapi kamu lupa berasal dari mana uang itu. Itu dari restoran dan restoran itu berasal dari pemberian modalnya dari orang tuaku, kamu harus ingat itu baik-baik."
Air mata menetes di pipi Nayla. Dia sangat menyesali apa yang sudah dilakukan. Tidak seharusnya gadis itu bermain-main dengan keluarga Kinan. Sekarang Nayla tahu kehebatan mereka, kembali pun rasanya sudah tidak mungkin lagi.
Teriakan demi teriakan kedua orang tuanya membuat hati gadis itu semakin terluka. Dia benar-benar sakit hati dengan apa yang terjadi pada keluarganya. Terutama kelakuan papanya yang sudah terbongkar. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya tinggal penyesalan yang bisa dia rasakan.
Ponsel yang ada di dalam tasnya berkali-kali berdering. Entah siapa saja yang menghubunginya. Nayla sama sekali tidak peduli. Pasti itu orang-orang yang ada di sekitarnya yang ingin memastikan apa yang mereka lihat di berita televisi.
Gadis itu berpikir, pasti saat ini Kinan merasa bahagia karena sudah membuat dia dan keluarganya hancur. Jika dia benar gadis yang selama ini selalu dibilang baik, seharusnya Kinan meminta papanya untuk tidak menghancurkan keluarganya. Nyatanya dia bisa melakukan hal serendah ini. Padahal Nayla sangat yakin jika Kinan bisa membujuk papanya untuk tidak menyebarkan berita ini. Namun, gadis itu tetap diam dan hanya menonton saja.
"Kenapa? Kenapa harus keluargaku yang hancur? Aku tidak rela, aku harus bagaimana?" gumam Nayla.
Gadis itu berpikir, jika dirinya meminta maaf pada keluarga Kinan, apakah mereka mau membantu keluarganya? Meskipun keluarganya sudah tidak bisa seharmonis dulu. Setidaknya restoran mereka baik-baik saja. Dia juga sudah menguatkan hatinya jika kedua orang tuanya berpisah.
Semua juga karena ulah papanya sendiri yang sudah mengkhianati mamanya. Padahal wanita paruh baya itu selama ini selalu baik dan tidak menuntut apa pun.
.
__ADS_1
.