Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
94. Hanif dan Kinan


__ADS_3

“Terserah jika kamu tidak percaya. Lagian untuk apa juga orang tuaku mengajakku ke sini, kalau tidak memiliki tujuan. Apalagi sekarang mamamu membiarkan kita berdua di sini. Apa coba maksudnya?" Hanif mencoba mempengaruhi Kinan agar percaya padanya.


Kinan membuka mulutnya lebar-lebar. Dia tidak menyangka jika dirinya akan dijodohkan dengan orang yang paling dia benci. Bagaimana bisa Mama Aisyah menjodohkannya tanpa bertanya lebih dulu. Apalagi dengan orang yang sama sekali bukan selera gadis itu.


Hanif yang melihat keterkejutan Kinan, mencoba menahan tawa. Dia menaikkan dagu gadis itu agar tertutup rapat. Dari dulu Kinan selalu ceroboh.


“Jangan lebar-lebar kalau membuka mulut. Nanti lalatnya masuk,” ucap Hanif membuat Kinan salah tingkah.


Gadis itu merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya dia bersikap bodoh seperti tadi, tetapi memang Kinan benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia dengar hari ini. Apa kata-kata Hanif bisa dipercaya? Rasanya sangat sulit diterima.


“Aku akan bilang sama Mama dan Papa untuk membatalkan perjodohan ini. Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya yang masih harus dijodohin. Aku juga ingin mencari jodohku sendiri, yang baik dan cinta sama aku."


"Memang pria baik menurut kamu itu seperti apa? Apa aku tidak termasuk dalam kriteriamu?"


"Semua orang juga tahu bagaimana Anda. Dilihat dari segi mana pun juga tidak ada baiknya."


Hanif menghendikkan kedua bahunya. “Terserah kamu jika kamu ingin melihat persahabatan orang tua kita hancur.”


“Maksud, Bapak, apa?”


“Memangnya kamu tidak ingat, saat perjodohan kakak kamu batal. Kedua orang tua Wina ‘kan sudah tidak mau lagi berteman dengan Mama kamu. Apa kamu mau hal itu terjadi lagi? Apalagi sekarang. Coba kamu lihat kedua orang tua kita. Mereka sangat dekat dan terlihat bahagia. Kalau aku terserah kamu, silakan saja bilang sama orang tuamu kalau kamu menolak perjodohan ini.”


“Tapi aku tidak mau nikah sama bapak sampai kapan pun. Kita itu terlalu berbeda," sahut Kinan dengan frustrasi.


“Memang siapa juga yang mau nikah sama kamu. Saya melakukannya juga demi orang tua. Ya, setidaknya kita pura-pura saja menerimanya saat ini. Nanti kalau kita punya alasan yang tepat untuk menolak, baru kita bicarakan dengan kedua orang tua kita.”


Kinan terdiam sambil melihat ke arah Hanif. Sepertinya memang itu satu-satunya agar persahabatan orang tuanya baik-baik saja. Dia tidak mau melihat mamanya kembali sedih.


Kemarin saat memutuskan untuk tidak lagi berteman dengan mamanya Wina, Mama Aisyah terlihat sangat sedih. Wanita paruh baya itu selalu mencoba untuk menutupinya di depan semua orang. Namun, Kinan tahu jika mamanya memang sangat sedih.


“Baiklah, aku setuju dengan saran Bapak. Untuk saat ini aku akan diam. Nanti jika kita menemukan alasan yang tepat, kita akan bilang sama mereka.”

__ADS_1


“Itu juga kalau kamu menemukan alasannya,” gumam Hanif. Namun, Kinan tidak begitu mendengarnya hingga dia pun bertanya lagi.


“Ya, tadi Anda bicara apa, Pak?” tanya Kinan yang ingin tahu dengan jelas apa yang diucapkan Hanif.


“Tidak apa-apa.”


“Oh ya, Pak. Ada satu lagi, aku tidak ingin di kampus ada yang tahu mengenai hal ini. Kita pura-pura saja tidak saling kenal dan tidak ada perjodohan ini, jadi aku harap bapak juga bisa berpura-pura tidak mengenalku, anggap saja aku seperti mahasiswa lainnya.”


“Mana boleh seperti itu, bukankah mama kamu menyerahkan tanggung jawabmu padaku!”


Hanif tidak mau Kinan didekati pria lain jika mereka merahasiakan hubungan ini. Malah dia ingin seluruh kampus tahu agar tidak ada yang akan mengambil hati gadis pujaannya. Andai saja pria itu bisa bersikap seperti pria lainnya, tetapi Hanif tidak tahu harus apa.


“Aku bisa jaga diri sendiri, jadi Anda tidak perlu repot.”


“Aku menerima persyaratan darimu, tapi aku juga punya syarat.”


“Syarat apa?”


“Jika di luar kampus dan di depan orang tua kita, kamu harus memanggilku Mas.”


“Ya sudah, kalau begitu aku juga tidak mau merahasiakan perjodohan kita di kampus.”


“Jangan begitu, dong, Pak. Kenapa Anda kekanakan sekali.” Kinan benar-benar kesal pada Hanif. Dia ingin merahasiakan perjodohan ini juga demi mereka.


“Siapa yang kekanakan? Semua keputusan ada sama kamu. Kamu punya syarat, aku pun sama, jadi kita sama-sama untung, kan?”


“Lagian kenapa harus panggil Mas?”


“Karena aku bukan Bapak kamu. Masa saat kita keluar kamu manggil aku Bapak terus. Apa kata orang?” ucap Hanif membuat Kinan tertawa.


Benar juga apa yang dikatakan Hanif. Dia selalu memanggil pria itu dengan sebutan Bapak karena memang di kampus semua anak seperti itu. Akan tetapi, memanggil Mas rasanya akan terasa aneh, tetapi gadis itu tidak punya pilihan lain. Hanya itu jalan satu-satunya agar Kinan bisa menutupi hubungan mereka di kampus.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, aku setuju,” ucap Kinan pada akhirnya.


“Baiklah, deal,” ucap Hanif sambil mengulurkan tangannya.


Kinan pun menyebut uluran tangan pria itu. “Deal. Oh iya, Pak, satu lagi.”


“Apalagi?” tanya Hanif dengan nada malas.


“Bapak, kalau di kampus jangan hukum saya lagi, ya!” ucap Kinan sambil mengedip-ngedipkan matanya, justru membuat Hanif menahan tawa.


“Itu terserah kamu. Jika kamu tidak membuat masalah, aku tidak memiliki alasan untuk menghukummu, jadi kamu harus jadi anak yang penurut.”


“Aku selalu mentaati peraturan, Pak. Tidak sekalipun saya melanggarnya."


“Iya, tapi kamu melanggar apa yang orang tua kamu larang. Bukankah mereka sudah melarang kamu untuk berpacaran? Tapi kamu malah menjalin hubungan dengan pria itu. Akhirnya dia mengkhianatimu. Itu adalah balasan karena kamu sudah membohongi orang tua kamu.”


“Dari mana Anda tahu itu? Aku belum cerita sama siapa pun. Bahkan orang tuaku tidak tahu.”


“Oh, itu ... itu ... kamu itu terkenal di kampus, banyak sekali yang membicarakanmu. Aku hanya pernah mendengar saat aku di kantin. Ya, seperti itu.”


Kinan menatap Hanif. Rasanya itu tidak mungkin, dia tidak seterkenal itu, hingga membuat penghuni kampus membicarakannya. Akan tetapi, pria itu tidak mungkin berbohong mengenai hal tidak penting baginya itu. Memang dari mana lagi Hanif tahu tentang hal itu? Ah, sudahlah, semuanya juga sudah lewat. Itu bukan hal-hal yang penting lagi buat Kinan.


“Permisi, Non, tamu Tuan mau pulang. Saya diminta untuk memanggil Non Kinan sama Den Hanif,” ucap Bik Ira di dekat pintu.


“Oh iya, Bik. Terima kasih, kami akan keluar,” sahut Kina. Bik Ira segera pergi dari sana.


“Orang tua Bapak sudah nunggu di luar. Ayo!” ajak Kinan.


Hanif mengangguk dan berjalan keluar. Namun, baru beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya. Pria itu menatap wajah Kinan dengan intens, membuat gadis itu salah tingkah.


“Ingat janjimu tadi. Panggil aku Mas,” ucap Hanif yang kemudian mencium kening Kinan sekilas dan berlalu dari sana, sementara Gadis itu mematung di tempat. Dia begitu terkejut saat mendapat serangan begitu tiba-tiba dari dosennya. Pria yang selama ini dikenal judes, bagaimana bisa bersikap seperti itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2