
"Kakak belum ngucapin terima kasih sama kalian berdua. Terima kasih sudah menjaga kakak ipar kalian dan membawanya ke sini. Kakak tidak bisa membayangkan jika tidak ada kalian, entah bagaimana jadinya," ucap Arslan pada kedua adiknya, yang saat ini sedang memperhatikan bayi mungil yang berada di box bayi.
"Iya, Kakak juga mengucapkan terima kasih, kalian sudah sangat berusaha membantu kakak untuk dan sampai ke rumah sakit ini," timpal Hira yang duduk bersandar dengan ranjang yang dinaikkan.
Aini tersenyum dan menjawab, "Sama-sama, Kak. Meskipun kami harus merasakan bagaimana perasaan dag dig dug dan perasaan tidak karuan lainnya, tetapi kami senang bisa membantu Kak Hira, setidaknya itu jadi pelajaran nanti kalau Aina melahirkan."
"Kenapa jadi aku?" sahut Aina yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keponakannya yang lucu itu.
"Bukannya kamu ingin segera nikah? Jadi anggap saja ini pelajaran buat kamu."
"Memangnya kamu nggak ingin punya anak?"
"Ingin, tapi masih lama."
"Tidak ada yang tahu kapan jodoh itu akan datang."
"Jangan berpikir tidak-tidak, siapa tahu kamu duluan yang nikah."
"Sudah, sudah, siapa pun yang nanti nikah duluan, semoga kalian bertemu dengan jodoh yang tepat," sela Arslan yang jengah dengan ulah adiknya.
"Amin."
"Sebaiknya kalian pulang saja, pasti kalian capek. Apalagi tadi kalian sempat khawatir dengan keadaan Kak Hira," ucap Mama Zayna yang melihat wajah kedua putrinya yang sangat lelah.
"Iya, kalian pulang saja, Kakak nggak mau kalian sakit," timpal Arslan sambil mendekati putrinya.
"Kami masih ingin melihat keponakan kami, Ma. Dia lucu sekali," sahut Aina, yang masih belum rela jika harus berpisah dengan keponakannya yang begitu lucu.
"Besok kalian masih bisa ke sini lagi, sekarang sebaiknya pulang dulu."
"Baiklah, kami akan pulang," sahut Aina dengan lesu.
Meskipun dia tidak rela, keduanya tetap pergi, sebelum itu mereka berpamitan pada kedua orang tuanya dan kedua kakaknya. Si kembar memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Tadinya ingin menginap di rumah Arslan biar lebih ramai, tetapi kini penghuni rumah malah masuk rumah sakit.
Sementara itu, Kyai Hasan dan Umi Rikha sedang dalam perjalanan pulang menuju pondok pesantren. Keduanya terlihat begitu bahagia meskipun ini bukan cucu pertama, tetapi Ica adalah cucu perempuan pertamanya.
"Ustaz Ali, sudah memiliki calon?" tanya Kyai Hasan untuk mengurangi kesunyian.
"Belum, Pak Kyai."
"Umur ustadz Ali sudah cukup, kenapa belum memikirkan untuk menikah? Apa ada seseorang yang sudah Ustaz disukai dan sekarang sedang menunggunya?"
"Tidak ada, Kyai. Saya sama sekali tidak ada yang disukai atau yang ditunggu," jawab Ali dengan sopan.
"Kalau sama saudara iparnya Hira, bagaimana?" Kyai Hasan memperhatikan wajah Ali, menunggu ekspresi dari wajah pria itu.
"Maksud Kyai siapa?"
__ADS_1
Ali tidak tahu siapa yang dimaksud gurunya. Jika boleh menebak mungkin dia gadis kembar tadi yang bicara dengannya. Dia sengaja tidak ingin memberi kesempatan, biarlah Tuhan memberinya jodoh saat sudah benar-benar sudah siap.
"Yang tadi yang bicara sama kamu, sepertinya salah satu dari mereka menyukaimu. Saya bisa melihat dari tatapannya."
"Saya masih belum kepikiran ke arah sana, Kyai "
"Tidak baik terlalu lama sendiri. Kalau sudah ada yang cocok lebih baik disegerakan. Takut menjadi fitnah. Kita juga tidak mungkin selamanya hidup sendiri."
"Iya, Kyai. Saya mengerti, tapi untuk saat ini saya masih nyaman sendiri. Mengenai jodoh, biarlah Tuhan yang menentukan."
Kyai Hasan mengangguk dan berkata, "Saya juga tidak memaksa, saya hanya menawarkan saja. Kebetulan mereka sebentar lagi lulus."
"Iya, Kyai. Terima kasih atas perhatiannya."
Bukannya Ustaz Ali tidak peka dengan hal tersebut, dia juga bisa melihat semuanya tadi. Kedua adik ipar Hira memang cantik, tetapi mereka sama sekali bukan wanita tipenya. Selain karena keduanya masih memakai pakaian terbuka, mereka juga bukan berasal dari pondok pesantren.
Keluarga Ali semuanya sangat menjunjung agama, tidak mungkin dia menerima wanita sembarangan. Apalagi yang masih membuka auratnya. Bisa saja pria itu membimbingnya, tetapi jika ada yang baik, kenapa harus memilih yang memiliki kekurangan. Di pondok juga masih banyak yang masih sendiri.
Ustaz Ali membuang napas pelan. Andai saja dia bisa bergerak lebih cepat sebelum Kyai Hasan menerima pinangan orang lain, pasti kini dirinyalah yang menikah dengan Hira. Pria itu pasti akan bahagia memiliki istri sebaik dan secantik Hira. Segera Ali menggelengkan kepala, bisa-bisanya dia berpikir tentang istri orang lain. Tidak seharusnya dirinya berpikir seperti itu.
Di sebuah rumah, Aini dan Aina yang baru saja sampai. Keduanya segera masuk ke dalam kamar. Aina tidak langsung membersihkan diri, dia masih duduk di tepi ranjang sambil melamun. Gadis itu membayangkan wajah Ustaz Ali yang terus ada dalam pikirannya.
Pria yang memiliki aura luar biasa, hingga membuat dia yang selama ini selalu tidak peduli dengan pria, kini malah jatuh pada pesonanya. Sungguh sangat jauh dari pria impiannya selama ini. Padahal Aina pernah berharap memiliki seorang suami pengusaha besar, tetapi justru yang dirinya temui adalah seorang guru di pondok pesantren. Entah berapa besar gaji yang diterima.
Apakah gadis itu sanggup hidup dalam lingkungan yang religi. Namun, jika dipikirkan kembali kakaknya saja bisa, pasti dirinya juga bisa. Apalagi kalau mereka bisa hidup mandiri. Nanti dia bisa meminta papanya agar memberi pekerjaan pada suaminya jadi, tidak akan sulit, tetapi jika memang Ustaz Ali tetap ingin mengajar pun tidak masalah. Aina akan selalu menemaninya dalam keadaan apa pun.
"Ya ampun, Aina! Dari tadi kamu belum mandi juga!" seru Aini yang baru saja memasuki kamar saudara kembarnya.
"Kamu ngagetin aja, ini juga mau mandi." Aini beranjak dari duduknya dan mengambil Handuk di gantungan baju.
"Dari tadi kamu ngapain aja? Pasti ngelamunin Ustaz Ali, ya? Ingat, dia belum halal jadi jangan membayangkannya. Sudah baik tadi aku mengajak kamu kenalan dengan dia, tapi kamu malah sok-sokan menolak. Pakai gengsi segala, sekarang jadi kepikiran, kan?" cibir Aini.
"Sudahlah kamu malah bikin aku tambah pusing. Aku mau mandi saja."
Aina segera masuk ke dalam kamar mandinya, sementara Aini hanya bisa menggelengkan kepala, sambil menatap kepergian saudara kembarnya.
"Aina, aku tunggu di ruang makan, ya!" teriak Aini.
"Iya, kamu pergi saja dulu, makan duluan juga nggak pa-pa," sahut Aina yang juga berteriak.
Aini pun pergi ke ruang makan, di sana makanan sudah terhidang. Namun, Aini masih menunggu saudaranya sambil memainkan ponsel. Dia tidak terbiasa makan sendiri di rumah, rasanya tidak berselera. Sudah terbiasa makan ramai-ramai.
"Tadi aku sudah minta kamu buat duluan, kenapa masih menunggu?" tanya Aina yang baru saja keluar. Tercium aroma sabun yang begitu wangi dari tubuhnya, membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya.
"Nggak enak, ah. Aku sudah terbiasa makan sama-sama."
"Ya sudah, ayo!"
__ADS_1
Keduanya pun menikmati makan malam dengan tenang. Suasana begitu terasa hening karena hanya mereka berdua saja.
"Aini, apa mungkin aku bisa memiliki ustad Ali?" tanya Aina yang cukup membuat Aini terdiam sejenak, kemudian mencoba untuk biasa saja.
"Kenapa tidak kalau kamu memang menyukainya. Katakan saja yang sejujurnya, siapa tahu dia juga menyukaimu. Jika tidak, kamu bisa bertanya dia suka wanita yang seperti apa."
"Mana bisa begitu! Dia seorang ustad, yang ada nanti malah malu-maluin saja." Aina tertunduk lesu di tempatnya.
"Memang apa hubungannya kalau dia seorang ustadz? Kalau suka bilang saja suka, nanti kalau memang ustaz itu sudah memiliki calon atau tunangan atau sejenisnya, pasti dia akan bilang. Kalau dia tidak mau menerima kamu juga pasti akan mengatakannya, tapi kalau dia masih sendiri dan ingin menuju jenjang yang serius, pasti dia menginginkan proses taaruf lebih dulu, jadi kalian bisa saling mengenal."
"Iya, aku tahu, tapi tetap saja rasanya berbeda, aku benar-benar takut."
"Belum dicoba, mana kita tahu akan hasilnya."
"Kalau menurut kamu pribadi, apa Ustadz Ali akan menerimaku?"
"Aku tidak tahu bagaimana karakter orangnya, tapi setelah aku lihat ekspresinya tadi, dia sepertinya akan menerima, tapi akan sulit menerima hatimu karena dia tipe pria seperti sekali mencintai seseorang, maka akan sangat sulit melupakannya."
"Apa maksudmu Ustaz Ali sudah mencintai wanita lain?" Aina menatap saudaranya, menunggu jawaban dari saudara kembarnya itu.
"Kenal saja tidak, bagaimana aku bisa tahu kalau Ustaz Ali mencintai orang lain," jawab Aini yang sebenarnya berbohong, dia tadi bisa melihat wajah kagum Ustaz Ali pada kakak iparnya.
Namun, tidak mungkin juga gadis itu mengatakan pada saudara kembarnya, yang jelas-jelas memiliki perasaan terhadap Ustaz Ali. Semoga saja nanti kalau Ustaz Ali memang berjodoh dengan Aina, perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Apalagi Hira juga sudah memiliki pasangan lain dan sudah dipastikan sangat bahagia.
"Kenapa kamu tiba-tiba melamun?" tanya Aina pada saudara kembarnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran sama keponakanku saja. Dia sangat menggemaskan, baru saja kita pulang, tapi aku sudah sangat merindukannya," jawab Aini yang kembali berbohong.
Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Dia yakin akan kebahagiaan yang akan dimiliki Aina, jodoh tidak ada yang tahu. setelah keduanya selesai menghabiskan makanannya, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
****
Sudah dua hari Hira dirawat di rumah sakit, sekarang dia dan anaknya sudah diperbolehkan pulang. Seluruh keluarga menyambut kedatangannya. Mereka mengadakan acara berkumpul bersama keluarga. Untuk acara yang lainnya seperti aqiqah akan diadakan nanti satu minggu lagi.
Hanif dan Kinan juga datang bersama dengan Adam dan Zea. Tidak lupa juga kado yang sudah mereka siapkan untuk keponakan mereka. Kyai Hasan dan istrinya juga datang, keduanya mengajak Ustaz Ali untuk menemani mereka. Semua orang sangat bahagia dengan kedatangan anggota keluarga baru.
Ucapan selamat juga disampaikan semua orang satu persatu. Beruntungnya Arslan dan Hira karena banyak yang perhatian pada anaknya.
"Assalamualaikum, Ustaz apa kabar?" tanya Aina pada Ustaz Ali, yang sedang menikmati waktu sendiri di teras depan, sementara keluarga lain berada di ruang tamu.
"Alhamdulillah, saya baik," jawabnya sedikit gugup.
"Ustaz tidak ikut bergabung dengan yang lainnya? Kenapa di sini sendiri?"
"Iya, nanti saya akan ke sana. Sekarang saya masih ingin menikmati pemandangan sebentar," jawabnya tanpa melihat ke arah lawan bicara, takut dia khilaf.
"Boleh saya temani? Daripada sendirian."
__ADS_1
"Sebaiknya jangan! Kita bukan mahram, tidak baik berduaan. Meskipun tempatnya di luar rumah, tapi 'kan semua orang ada di dalam, sebaiknya kamu ikut bergabung dengan yang lainnya di dalam saja." Ustaz Ali mencoba untuk menolaknya dengan cara halus, berharap gadis itu mengerti maksudnya.
Aina pun memaksakan senyumnya. Padahal dia ingin bertanya banyak hal tentang Ustaz Ali, tetapi pria itu sepertinya enggan untuk diajak berbincang. Sangat sulit menggapai pria itu. Akhirnya Aina pun kembali ke dalam dengan perasaan kesal. Meskipun begitu, dia berusaha untuk mengerti apa yang dimaksud oleh Ustaz Ali.