
Pagi-pagi sekali Wina sudah ada di depan rumah keluarga Ayman. Semua orang merasa heran, bagaimana bisa wanita itu ada di sini? Padahal rumahnya berada di luar kota. Sejak kapan wanita itu ada di depan rumahnya? Apa mungkin kemarin dia tidak pulang bersama dengan tantenya.
Keadaan Wina juga sangat berantakan, seperti orang tidak terurus. Lingkar matanya yang hitam menandakan jika wanita itu kurang tidur. Hal yang lebih membuat semua orang kesal, Wina memohon-mohon sambil menangis pada Mama Aisyah agar menikahkannya dengan Ayman.
Tentu saja membuat wanita paruh baya itu binging. Jika anaknya masih sendiri, tidak masalah, tetapi ini sudah memiliki istri. Dia tidak mungkin melakukan hal itu pada menantunya.
“Wina, jangan seperti ini. Masih banyak pria di luar sana yang pasti bisa menerima kamu,” ujar Mama Aisyah.
“Tapi aku nggak mau, Tante. Aku maunya sama Ayman. Aku cinta sama dia,” ucap Wina dengan menangis tersedu-sedu.
Dia tidak mau usahanya terbuang sia-sia. Semuanya sudah dilakukan demi mendapatkan Ayman. Langkahnya sekarang sudah sejauh ini dan Wina tidak mau berhenti.
“Tidak baik seperti ini, Wina. Ayo, sekarang kamu mandi dulu! Lalu istirahat, nanti kita bicara lagi. Lihat keadaan kamu, sangat berantakan sekali.”
“Aku nggak mau, Tante. Aku nggak akan pergi, sebelum Tante setuju untuk menikahkan Ayman denganku.”
Mama Aisyah memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semua orang pun dibuat kesal dengan tingkah laku wanita itu. Tidak dipungkiri ada rasa kasihan juga melihatnya seperti itu.
“Wina, sekarang kamu ikut Tante ke dalam kamar dan bersihkan tubuhmu. Kalau kamu tidak mau, maka Om akan suruh satpam untuk mengusir kamu dari rumah ini. Kamu tinggal pilih yang mana,” ucap Papa Hadi dengan nada tegas. Dia benar-benar sudah bersabar dari tadi, tetapi sepertinya Wina tidak tahu diri dan terus melakukan aksi konyolnya itu.
Wina yang melihat kemarahan di wajah Papa Hadi pun segera menurutinya. Dia tidak ingin diusir dari rumah ini dan pergi dengan tangan kosong. Wanita itu akan tetap mempertahankan keinginannya untuk menikah dengan Ayman, bagaimanapun caranya.
Mama Aisyah membawa Wina ke kamar tamu dan memintanya untuk membersihkan diri. Dia juga menyiapkan baju milik putrinya untuk dipakai. Sebenarnya Kinan tidak rela bajunya dipakai wanita itu, tetapi mau bagaimana lagi. Tidak ada baju lagi.
“Bagaimana ini, Pa. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikahinya," ujar Ayman pada papanya.
“Iya, Papa mengerti. Tunggu sebentar, Papa akan minta teman Papa untuk datang ke sini. Papa mencurigai sesuatu,” ucap Papa Hadi sambil mengutak-atik ponselnya.
“Kenapa minta teman Papa datang?”
“Sudah, kamu diam saja,” ucap Papa Hadi yang kemudian menghubungi seseorang lewat sambungan telepon.
Dia minta orang itu untuk datang ke rumahnya. Pria itu juga menghubungi sekretarisnya untuk membatalkan janji hari ini karena dia ingin mengurus masalah yang ada di rumah. Semua disebabkan oleh kedatangan Wina. Begitu juga dengan Ayman yang menghubungi Ilham agar menghandle jadwalnya hari ini.
__ADS_1
Sementara itu, Zayna sedari tadi hanya diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wanita itu tidak mau berbagi suami. Saat melihat keadaan Wina, ada juga rasa kasihan dalam hatinya. Tiba-tiba saja teringat Zayna yang berada di bui. Entah bagaimana keadaannya kini.
Ayman yang mengerti kegelisahan sang istri pun segera duduk di samping wanita itu dan menggenggam telapak tangannya. Apa pun yang akan terjadi nanti, dia akan tetap bersama dengan Zayna. Sekalipun pria itu harus pergi dari rumah ini, akan dilakukannya.
Tidak berapa lama, tamu yang ditunggu Papak Hadi pun datang. Seorang pria bersama dengan wanita. Ayman hanya diam memperhatikan sang Papa berbicara dengan tamunya.
“Assalamualaikum, apa kabar, nih?” tanya orang yang baru datang itu.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah baik. Bagaimana dengan kabarmu?” tanya Papa Hadi balik.
“Baik juga."
"Oh ya, kenalin ini anakku namanya Ayman, yang ini menantuku Zayna dan Ayman, ini Om Rudi. Dia sahabat Papa.”
“Salam kenal, Om,” ucap Ayman sambil mengulurkan tangannya, sementara Zayna hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada.
“Iya, Papa kamu sering membicarakan kamu," sahut Rudi sambil membalas uluran tangan Ayman.
“Terima kasih, maaf aku bawa asistenku.”
“Tidak apa-apa, santai saja,” sahut Papa Hadi.
“Ngomong-ngomong, ada apa kamu meminta aku datang ke sini? Sepertinya serius sekali.”
“Sebentar lagi orangnya akan keluar. Kamu tunggu saja. Aku ingin kamu menilainya, apakah perkiraanku benar atau tidak. Makanya aku suruh kamu ke sini, cuma kamu yang bisa kupercaya.”
“Okelah.”
Beberapa menit kemudian Mama Aisyah membawa Wina yang sudah rapi dan bersih ke ruang tamu. Kali ini wanita itu sudah lebih tenang. Dia duduk di kursi tunggal. Papa Hadi memberi kode pada sahabatnya bahwa wanita yang duduk itu adalah orangnya.
“Wina, kapan kamu berada di kota ini? Kenapa pagi-pagi sekali kamu sudah ada di depan rumah kami?” tanya Hadi.
“Aku ‘kan dari dulu ada di kota ini, Om. Aku tidak pernah pulang, aku selalu ingin dekat dengan Ayman.”
__ADS_1
“Apa keluargamu ada yang tahu kalau kamu ada di sini?”
Wajah Wina menjadi sedih. Setetes air mata membasahi pipinya. “Aku sudah nggak punya keluarga. Mereka pergi meninggalkanmu karena kecelakaan.”
Papa Hadi jadi merasa bersalah karena telah salah bertanya. Padahal maksud pria itu adalah tante dan omnya, tetapi Wina malah menganggap orang tuanya.
“Massudku, om dan tante kamu. Apa mereka tahu kepergianmu?”
“Aku nggak deket sama mereka, jadi mereka nggak tahu.”
Hadi pun mencoba untuk banyak berbicara dengan Wina. Sesekali Rudi mengajukan pertanyaan. Cukup banyak yang mereka bicarakan. Untung saja wanita itu menjawabnya dengan lugas. Hingga Papa Hadi menganggukkan kepala pada sahabatnya. Pria itu pun memberi kode pada Mama Aisyah agar membawa Wina ke kamar tamu.
“Om, akan menikahkan aku dengan Ayman, kan?” tanya Wina sebelum pergi.
“Kamu istirahatlah dulu. Nanti kita bicarakan lagi dengan tenang,” jawab Papa Hadi tanpa ingin memberi harapan atau pun menyakiti hatinya.
Mama Aisyah mengajak Wina masuk ke kamar tamu dan beristirahat di sana. Sebelum itu, dia memberikan obat tidur pada Wina agar tidak membuat ulah. Mereka belum tahu benar apa yang terjadi pada anak sahabatnya itu. Tentu saja atas saran dari Rudi tentunya.
“Bagaimana menurut pengamatan kamu, Rud?” tanya Papa Hadi setelah kepergian sang istri bersama dengan Wina.
“Seperti perkiraan kamu. Dia memang sedang depresi. Yang aku bisa lihat dari kata-kata dan sikapnya, ada rasa bersalah dalam dirinya yang sangat besar pada orang tuanya. Dia juga punya obsesi untuk mendapatkan Ayman. Apa kamu tahu itu?”
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, terutama Ayman. Pria itu tidak menyangka jika Wina akan mengalami hal tersebut. Selama ini orang tahunya jika dia wanita yang baik. Tidak menyangka bisa sampai begitu.
“Kami sudah lama tidak berhubungan dengan keluarganya, jadi kami tidak tahu apa-apa. Bahkan saat orang tuanya meninggal saja kami tidak tahu," jawab Papa Hadi.
“Sebaiknya kamu mencari tahu tentang hal ini.”
“Pa, apa Tante Indri juga tahu tentang kondisi Wina?” tanya Ayman.
.
.
__ADS_1