Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
84. Pergi ke klinik


__ADS_3

Zayna sedang berada di ruang keluarga. Televisi yang ada di depannya pun sudah menyala. Namun, wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan acara yang ditampilkan. Dia menghela napas beberapa kali, tampak sudah bosan dengan kegiatan.


"Kamu kenapa?" tanya Mama Aisyah yang baru datang.


"Aku bingung, Ma. Aku sebenarnya mau masak, tetapi malas masuk ke dapur."


"Ya sudah kalau gitu, nggak usah masak. Duduk aja di sini sambil bersantai."


"Tapi aku pengen masak buat Mas Ayman."


"Kamu ini bagaimana, sih? Katanya malas masuk dapur, tapi pengen masak. Kalau masak nggak di dapur memang mau di mana lagi?" tanya Mama Aisyah dengan kesal.


Zayna tertunduk lesu. Entahlah, dia sendiri juga bingung dengan keinginannya. Mama Aisyah menggelengkan kepala mendengar jawaban dari menantunya. Dari arah tangga, Ayman turun dengan pelan. Pria itu ingin memberi kejutan untuk sang istri dengan memakai kaos yang wanita itu belikan kemarin.


Dia yakin bahwa Zayna akan senang melihatnya. Membayangkan saja sudah membuat Ayman tersenyum bahagia. Apalagi jika melihat sang istri benar-benar bahagia?


"Hai, Sayang! Bagaimana penampilanku?" tanya Ayman membuat Zayna mengangkat kepalanya. Seketika wanita itu melongo melihat apa yang dipakai sang suami. Dia tidak menyangka Ayman memakai baju itu.


"Kenapa pakai baju itu, Mas? Baju warna itu nggak cocok sama kamu," ucap Zayna membuat Ayman membuka mulutnya. Padahal wanita itu sendiri yang meminta dia untuk memakai kemarin, tetapi kenapa sekarang malah menghinanya?


"Ini 'kan kaos pembelian kamu kemarin, Sayang!"


"Iya, tapi kamu nggak cocok pakai baju itu. Sudah, ganti baju sana! Warna ini nggak cocok sama kamu. Kamu lebih cocok pakai hitam atau warna lainnya yang gelap-gelap."


"Iya, tapi kamu kemarin malah yang meminta aku buat pakai ini," Ayman masih mencoba membela diri jika ini atas permintaan Zayna. Namun, wanita itu tidak peduli.


"Itu keinginanku kemarin, sekarang nggak lagi."


Ayman menarik napas dalam-dalam agar tidak terpancing emosi. Dia kembali ke kamarnya dengan wajah yang lesu dan mengganti apa yang dia pakai. Padahal pria itu ingin membuat istrinya senang dengan memakai kaos ini. Ternyata malah sebaliknya, kalau tahu seperti ini kenapa kemarin marah? Semakin hari, sikap Zayna semakin membuat pusing saja.


"Mama kalau mau ketawa, ketawa saja. Nggak usah ditahan, memangnya Mama ngetawain apa, sih?" tanya Zayna setelah kepergian sang suami.


"Tidak apa-apa. Memangnya Mama nggak boleh ketawa?" sahut Mama Aisyah yang kemudian berlalu dari sana. Dia menuju dapur untuk melihat apakah Bik Ira sudah selesai masak apa belum.

__ADS_1


"Nyonya, kenapa senyum-senyum? Apa ada yang lucu?" tanya Bik Ira.


"Tidak ada, Bik. Sudah, Bibi, lanjutkan saja masaknya," ucap Mama Aisyah.


Sebenarnya wanita itu curiga pada Zayna jika menantunya tengah berbadan dua. Namun, dia tidak sampai hati mengatakannya karena takut jika apa yang Mama Aisyah curigai ternyata salah. Apalagi wanita itu juga sering mendengar dari putranya, bahwa Zayna selalu sedih karena hasil dari tespek menunjukkan garis satu.


"Nyonya, makan malamnya sudah siap," ucap Bik Ira membuyarkan lamunan majikannya.


"Ya sudah, Bik. Bibi panggilin Ayman sama Zayna. Biar saya panggil Tuan sama Kinan."


"Baik, Nyonya." Bik Ira pun segera berlalu dari sana menuju ruang keluarga. Sudah tidak ada Zayna di sana. Pasti Wanita itu sudah ada di kamar. Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Ayman dan Zayna.


"Tuan, Neng, makanan sudah siap," panggil Bik Ira dengan sedikit berteriak.


"Iya, Bik. Tunggu saja di bawah. Nanti kami turun," sahut Ayman membuat Bik Ira kembali ke bawah. Wanita itu masih harus membereskan dapur.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan dan mulai menikmati makan malam. Zayna makan dengan begitu lahap. Padahal sebelumnya wanita itu mengatakan ingin diet. Ayman ingin menegur sang istri, tetapi takut jika mood istrinya belum juga baik, jadi dia hanya bisa diam, sesekali melihat ke arah wanita itu.


Mama Aisyah menatap menantunya. Dia sudah sangat yakin dengan apa yang ada dipikirannya. Wanita itu hanya tersenyum melihat Zayna makan begitu lahap tanpa mempedulikan sekeliling.


"Memang mau ke mana, Ma?" tanya Zayna.


"Ke tempat teman Mama. Sudahlah, ikut saja! Kamu nggak ke mana-mana, kan?"


"Tidak, Ma. Aku juga tidak ada janji dengan siapa pun."


"Baguslah kalau begitu. Besok jam delapan antar Mama pergi, sebentar saja, kok."


"Iya, Ma."


Mama Aisyah sudah punya rencana pada menantunya tanpa Zayna tahu. Wanita itu tidak ingin semua orang tahu dulu. Nanti saja jika memang benar hasilnya positif. Dia juga tidak ingin Zayna sedih.


****

__ADS_1


Keesokan paginya, seperti janji Mama Aisyah semalam. Dia mengajak Zayna pergi menemui temannya, tanpa sang menantu tahu bahwa wanita itu akan membawanya ke sebuah klinik kandungan. Sebelumnya Mama Aisyah juga sudah membuat janji dengan temannya itu.


"Teman Mama seorang dokter kandungan?" tanya Zayna yang melihat papan nama di pinggir jalan.


"Iya, dulu kita satu kampus beda jurusan, tapi hubungan kami sangat baik," jawab Mama Aisyah yang terus berjalan diikuti Zayna.


"Pasti dia orang yang hebat, ya, Ma? Dia bisa menjadi seorang dokter spesialis."


"Kamu tanyakan saja sama orangnya langsung."


"Kalau bertanya langsung seperti itu, aku nggak enak sama dia."


"Nanti juga kamu kalau ketemu orangnya pasti senang. Dia orang yang sangat mudah dekat dengan siapa pun. Nanti pasti kamu cocok sama dia."


"Aisyah!" seru seorang yang memakai baju putih saat Mama Aisyah dan Zayna memasuki klinik.


"Dokter Vani, apa kabar?" tanya Mama Aisyah.


"Baik, katanya mau ke sini siang?"


"Di rumah lagi nggak ngapa-ngapain, makanya langsung ke sini saja. Oh, ya, perkenalkan ini menantuku namanya Zayna," ucap Mama Aisyah sambil menunjuk ke arah Zayna.


"Halo, saya teman Mama kamu," ucap Dokter Vani sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi, Dokter Vani, salam kenal."


"Kamu cantik sekali! Pantas saja Ayman mengejar kamu hingga ke luar kota," ucap Dokter Vani membuat Zayna malu.


Mereka berbincang sejenak, kemudian Mama Aisyah berpura-pura berinisiatif memeriksakan kandungan menantunya. Zayna yang tidak ingin malu di depan teman mertuanya pun, mengikuti saja. Tidak ada salahnya memeriksakan diri. Siapa tahu nanti Dokter Vani punya solusi agar dirinya cepat hamil.


Dokter Vani meminta Zayna berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu. Mama Aisyah dengan setia mendampingi menantunya. Dia takut jika perkiraannya salah dan membuat Zayna bertambah sedih. Namun, jika dia tidak memeriksakan menantunya, mereka tidak akan pernah tahu apa yang terjadi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2