
"Tidak bisakah kamu memohon pada suamimu agar mau menolong keluargaku? Aku mohon agar kamu membantuku. Kamu juga pasti memiliki keluarga, kamu pasti bisa merasakan apa yang saat ini aku rasakan jadi, aku mohon tolong bujuk suamimu agar mau membantuku. Mereka tidak bersalah, aku yang sudah melakukan semua kesalahan itu. Tolong jangan melibatkan mereka." Felly kini memohon pada Kinan.
Gadis itu mencoba untuk mengambil hati istri Hanif, berharap wanita itu mengerti bagaimana keadaannya. Kinan juga orang yang baik, sering ikut kegiatan sosial jadi, pasti sudah banyak orang yang sudah ditolongnya. Felly berharap dirinya juga akan ditolong.
Kinan menatap sang suami, mencoba untuk mencari tahu, kira-kira jalan apa yang harus dia ambil. Wanita itu sendiri bingung mau bagaimana. Hanif tahu jika istrinya tidak tega pada Felly. Dia yang mengerti kebingungan sang istri pun akhirnya angkat bicara.
"Felly, apa yang dilakukan oleh orang tuamu tidak ada hubungannya denganku. Mereka sudah melakukan kesalahan sebelum aku mengenal kamu jadi, kalau kamu minta tolong padaku, aku rasa itu salah alamat. Aku sama sekali tidak terlibat dengan apa yang sudah dilakukan oleh ayahmu. Cobalah tanyakan padanya, mengenai apa yang sudah terjadi pada usahanya pasti kamu tahu jawabannya."
"Saya tahu kalau ayah melakukan kesalahan, tapi tidak bisakah Anda berbaik hati untuk menolongnya? Meskipun dia sudah melakukan kesalahan, tetapi mereka tetaplah orang tuaku. Aku tidak mungkin tega membuat mereka terluka."
Kinan sangat mengerti bagaimana perasaan Felly saat ini. Sebagai seorang wanita, dia juga tidak tega melihat Felly yang seperti itu. Namun, dirinya sendiri juga tidak tahu menahu tentang mereka. Kinan menatap sang suami, berharap pria itu mau menolong meski hanya bantuan sedikit saja.
Hanif menggeleng karena memang pria itu juga tidak bisa menolong keluarga Felly. Kesalahan yang dibuat oleh orang tua gadis itu sangatlah fatal. Kalau dia menolong, itu sama saja dirinya membenarkan kesalahan tersebut. Akhirnya Kinan pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mohon maaf, Felly. Kita tidak bisa membantu apa-apa karena semuanya, memang murni kesalahan orang tua kamu. Kalau ayah kamu mau, dia bisa bekerja di salah satu perusahaan saya. Kebetulan ada lowongan pekerjaan yang cocok untuk ayah kamu, tapi tentu saja dia tidak bisa semena-mena seperti sebelumnya. Di perusahaan saya sangat mementingkan kejujuran jadi, jika sekali saja ayahmu membuat kesalahan dengan terpaksa saya akan memberhentikannya. Saya juga tidak memaksa ayah kamu. Kalau memang dia tidak mau, tidak apa-apa. Saya hanya menawarkan bantuan saja."
Hanif sebenarnya tidak ingin membantu. Namun, melihat sang istri yang merasa kasihan pada Felly pun, dia menjadi tidak tega. Bagaimanapun keluarga gadis itu tidak mengetahui mengenai apa yang terjadi. Apalagi adik-adiknya yang masih kecil juga membutuhkan pendidikan. Pria itu tidak ingin menghancurkan cita-cita seorang anak.
"Aku akan mengatakannya pada papa. Entah dia mau atau tidak. Emm ... kalau untuk saya, apakah ada pekerjaan yang cocok? Saya juga ingin bekerja untuk membantu orang tua saya."
"Kalau untuk kamu, saya mohon maaf. Untuk saat ini saya tidak ada karena kamu juga belum lulus kuliah. Kamu hanya memiliki ijazah SMA dan itu hanya bisa untuk melamar pekerjaan sebagai office girl. Saat ini juga sedang tidak membutuhkan lowongan untuk pekerjaan itu. Kamu cari pekerjaan yang lain di luar saja. Pasti banyak yang membutuhkan kamu."
Felly menghela napas, kesalahan yang tidak dia sengaja kini telah membuat hidupnya dan keluarga benar-benar hancur. Masa depan adik-adiknya juga dipertaruhkan. Gadis itu tidak punya pilihan lain lagi, semua jalan seolah buntu untuknya.
Setelah mengatakan semua keinginannya pada Hanif, akhirnya Felly pamit undur diri. Dia masih harus mencari pekerjaan untuk menutupi kekurangan keluarganya. Apa saja harus gadis itu lakukan demi keluarganya. Itu juga bentuk pertanggungjawaban kesalahannya.
__ADS_1
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, kita masuk!" ajak hanif sambil merangkul sang istri, yang tengah memandangi kepergian Felly.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Meskipun Hanif berkata demikian, tetap saja dalam hati Kinan masih memikirkannya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Felly kali ini untuk membantu keluarganya. Dalam hati wanita itu berdoa agar Felly diberi kekuatan dalan menghadapi setiap ujian yang datang.
"Kamu di rumah saja, ya, Sayang. Aku mau jemput Adam. Sebentar lagi sudah waktunya dia pulang," ucap Hanif begitu mereka duduk di ruang keluarga.
"Iya, Mas. Kamu jemput Adam saja, takut dia nunggu," sahut Kinan yang diangguki oleh Hanif.
Pria itu pun segera meninggalkan rumah, menuju sekolah sang putra. Di rumah, Kinan masih saja kepikiran keadaan Felly. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup gadis itu.
****
"Maaf, ya, Sayang. Aku selalu saja melarang kamu ini dan itu. Kamu jadi tidak bisa pergi kemana-mana, selalu saja di rumah," ucap Ayman yang merasa bersalah pada sang istri.
Dia sudah terlalu banyak melarang wanita itu untuk pergi ke mana pun yang dia inginkan. Mau bagaimana lagi, pria itu terlalu takut terjadi sesuatu pada Zayna. Persalinan yang pertama begitu membekas dalam ingatan.
"Amin," sahut Ayman. "Mengenai Nina bagaimana? Apa dia masih membuat ulah?" tanya Ayman. Dia juga sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh Nina sebelumnya.
"Alhamdulillah, Mas. Dia sudah tidak berulah lagi. Semoga saja seterusnya seperti itu. Padahal dia orangnya pintar, sayang sekali dengan sikapnya itu. Bik Ira juga orang yang baik, tapi kenapa dia bisa seperti itu?"
"Lingkungan juga berpengaruh dalam tumbuh kembang seseorang. Meskipun Bik Ira dan keluarga baik, tapi jika Nina bergaul dengan orang yang salah, sedikit banyak pasti terpengaruh."
Zayna menganggukkan kepala. Dia mengerti maksud sang suami karena memang setiap anak memiliki pola pikir masing-masing. Semua tidak bisa disamakan.
"Aku sih merasa kalau dia itu hanya butuh perhatian. Mungkin karena sudah terlalu lama ditinggal sama Bik Ira jadi, akhirnya dia saat ini protes. Dia juga ingin diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya," lanjut Hanif.
__ADS_1
"Aku juga merasa seperti itu."
"Iya, tapi tetap saja mau bagaimanapun Nina juga perlu ditindak agar tidak selalu saja bertindak seenaknya dan menilai seseorang dengan sebelah mata. Itu juga tidak baik untuk orang yang ada di sekitarnya."
Zayna mengangguk, dia juga menyayangkan sifat Nina itu. "Iya, semoga saja dia benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik lagi."
"Kita sebagai orang yang dekat dengannya hanya bisa mendoakan. Selebihnya biar itu menjadi urusan Nina dan keluarganya."
"Iya, Mas,” jawab Zayna dengan tersenyum. "Mengenai persiapan untuk operasi persalinan bagaimana, Mas? Apa semuanya sudah?"
"Alhamdulillah, semuanya sudah. Kita hanya tinggal menunggu harinya saja. Dokter juga saat ini sedang menyiapkan semuanya. Kita berdoa saja agar operasi ini berjalan dengan lancar, kamu dan anak-anak kita juga sehat-sehat agar kita bisa membesarkan mereka bersama-sama."
"Amin, Aku tadi beli hadiah buat Baby Zea. Nanti kamu kirimkan ke sana, ya, Mas."
"Kamu itu selalu saja repot-repot, padahal Kinan juga tidak masalah kalau kamu nggak kasih hadiah. Dia tahu kalau kamu itu sedang mempersiapkan persalinan, tidak perlu membeli hadiah yang akan menyulitkan kamu," ucap Ayman dengan menggenggam telapak tangan istrinya.
"Nggak apa-apa, kok, Mas. Lagian aku belinya online jadi, tidak pergi keluar."
“Mama,” panggil Baby Ars sambil menyerahkan mainannya pada sang Mama.
Zayna tahu itu adalah bentuk proses anak itu karena dirinya tadi, hanya sibuk berbicara dengan ayahnya, tanpa mau ikut bermain dengannya. Baby Ars memang selalu ingin diperhatikan. Jika ada orang di sekitarnya hanya sibuk sendiri, maka anak itu akan menangis.
"Iya, Sayang. Oh, mau main sama Mama, ayo! Mama sampai lupa gara-gara Papa ngajakin Mama ngobrol, ya! Mama sampai lupa sama Kakak Ars." Zayna pun ikut sibuk bersama dengan putranya.
Dia hanya sesekali ikut permainan anaknya. Sebenarnya bukan dia tidak mau ikut bermain. Hanya saja wanita itu sekarang sudah kesulitan untuk bergerak jadi, Zayna dari tadi lebih banyak terdiam sambil berpura-pura memainkan mainan yang ada di tangannya
__ADS_1
.
.