
Zayna duduk di sofa yang ada di ruangan Ayman. Wanita itu masih marah karena sang suami tak kunjung mengerti apa yang dimaksud. Ingin sekali dia memukul kepala Ayman karena tak kunjung mengerti.
Pria itu mendekati istrinya. Dia ikut duduk di samping Zayna dan menggenggam telapak tangan wanita itu. Entah apa yang membuat mood istrinya semakin hari semakin buruk, tetapi tidak dipungkiri jika Ayman senang melihatnya. Pria itu pernah berpikir jika istrinya adalah wanita mandiri dan sabar. Pasti akan susah melihat Zayna yang manja dan merajuk. Namun, siapa sangka jika dirinya kini bisa merasakannya.
"Sayang, jangan begini, dong! Aku lebih suka kalau kamu mengatakan apa yang ada dalam hatimu. Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu, asal kamu mengatakannya, jangan dipendam saja."
Zayna menatap sang suami. Dia merasa terharu karena Ayman masih bisa bersikap begitu sabar terhadapnya. Wanita itu jadi merasa bersalah karena sudah terlalu berburuk sangka pada sang suami. Akan tetapi, Zayna juga perlu menanyakan tentang wanita yang ada di depan itu.
"Mas, bukankah kamu pernah bilang kalau sekretaris kamu cuma Kak Ilham, kenapa sekarang ada seorang wanita di depan?" tanya Zayna.
"Dia cuma sementara, Sayang. Dia di sini karena harus mendapat pelatihan dari Ilham sebelum dipindah tugaskan ke kantor cabang. Lagi pula dia juga nggak bekerja denganku. Dia bekerja atas perintah Ilham selama tiga bulan di sini. Ilham yang mengajari semuanya. Aku tidak pernah berinteraksi dengan dia."
"Tapi kenapa mejanya ada di depan ruangan kamu? Terus ruangan Kak Ilham ada di mana?"
"Di depan itu sebenarnya meja Ilham, Sayang. Memangnya kamu tadi tidak melihat ada dua kursi di sana?"
Zayna terdiam, dia memang tidak begitu memperhatikan sekitar. Fokusnya hanya pada wanita itu, entah siapa namanya. Seharusnya tadi dirinya bertanya pada Ilham dan tidak marah begitu saja tanpa alasan.
"Lain kali, jika ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu katakan. Jangan mengambil kesimpulan begitu saja."
"Maaf, Mas."
"Iya, tidak apa-apa," jawab Ayman. "Kamu ke sini pasti ada keperluan, kan? Apa ada sesuatu yang penting atau kamu kangen sama aku?" tanyanya membuat Zayna teringat tujuannya datang ke sini.
Hampir saja dia melupakan itu karena sudah terbawa emosi. Akan tetapi, wanita itu bingung harus bicara dari mana. Tiba-tiba saja Zayna menjadi gugup dan mencoba mengalihkan pembicaraan lebih dulu.
"Mas, sudah selesai kerjanya, belum? Kita makan siang di sini saja, ya! Aku pesankan makanan."
"Iya, terserah kamu saja."
Zayna memainkan ponselnya dan memesan makanan. Tidak lupa juga untuk Ilham dan sekretaris itu.
"Mas, kamu punya keinginan yang belum terpenuhi nggak?" tanya Zayna setelah berpikir sejenak.
"Keinginan? Keinginan apa?" tanya Ayman balik. Dia masih belum mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Aku 'kan tanya sama kamu, masa kamu tanya aku balik, sih!"
__ADS_1
"Sejujurnya, sebagai manusia pasti banyak sekali keinginan, tapi untuk saat ini, masih belum ada, sih!"
"Benar nggak ada yang kamu inginkan?"
Ayman mengangguk membuat Zayna merasa sedih. Padahal dia ingin sang suami mengatakan jika pria itu ingin memiliki seorang anak. Namun, sepertinya Ayman sengaja tidak ingin mengatakannya karena tidak ingin melihatnya bersedih.
Pria itu tidak tahu arah pembicaraan Zayna. Dia pikir istrinya ingin memberi hadiah lain yang berbentuk barang. Melihat wajah sedih wanita itu membuat Ayman heran. Apa yang membuat sang istri begitu?
"Sebenarnya ada apa, sih, Sayang? Kenapa tidak kamu katakan langsung saja maksud kamu? Sebenarnya kamu ingin memberiku hadiah apa?"
"Dari mana kamu tahu, aku ingin memberi kamu hadiah?"
"Dari kata-kata kamu saja sudah terlihat jika kamu ingin memberikan sesuatu untukku. Bagiku, apa pun yang kamu berikan padaku, akan aku terima, jadi apa yang ingin kamu berikan? Aku sudah tidak sabar."
"Mungkin hadiah dariku tidak akan membuatmu senang, Mas. Dilihat dari ucapan kamu, sepertinya tidak menginginkan apa pun, tapi aku malah memberi hadiah."
"Nggak, kok, Sayang. Memang aku tidak menginginkan apa pun, tapi kalau kamu yang memberikannya, apa pun itu aku pasti akan suka."
"Kamu yakin nggak akan kecewa dengan hadiah yang aku berikan ini?"
Ayman menggeleng. Dalam hati pria itu sudah yakin, apa pun hadiah dari sang istri dia pasti akan menerima. Justru Ayman senang bisa mendapat hadiah pertamanya dari Zayna. Pria itu jadi penasaran, sebenarnya hadiah apa yang dimaksud oleh istrinya.
Dilihat dari bentuknya, apa mungkin sebuah jam tangan? Apa mungkin dasi? Akan tetapi, ini terlalu kecil untuk ukuran dasi. Rasa penasarannya semakin besar, hingga pria itu pun bukannya dengan pelan. Zayna menatap sang suami dengan jantung berdebar, takut melihat reaksi pria itu.
Ayman begitu terkejut melihat kado yang sudah terbuka. Tangannya gemetar melihat benda kecil panjang itu. Dia mengambilnya untuk melihat lebih dekat dan benar saja, garis dua yang selama ini mereka tunggu akhirnya terwujud juga. Rasa haru menyelimuti keduanya.
"Sa—Sayang, i—ini benar garisnya dua, kan? Aku tidak salah lihat, kan?" tanya Ayman pada istrinya.
"Iya, Mas. Itu memang garis dua. Tadi aku juga sudah memeriksakan ke dokter sama Mama dan memang benar aku sedang hamil," jawab Zayna hingga meneteskan air mata.
Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia. Begitu juga dengan Ayman yang ikut menangis dan memeluk sang istri dengan erat, guna menyalurkan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Penantian mereka selama ini tidak sia-sia karena sudah membuahkan hasil.
Rasa takut yang Zayna rasakan tadi menguap begitu saja, saat melihat bagaimana reaksi sang suami yang juga bahagia. Hal yang dia takutkan tidaklah terjadi. Semua orang bahagia dengan kehamilannya. Wanita itu berharap anak ini akan mendapatkan kasih sayang dari semua orang. Tidak seperti dirinya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari siapa pun.
Apa pun yang terjadi nanti, dia akan melakukan segalanya selama itu benar untuk anaknya. Wanita itu tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitinya, sekalipun itu keluarga sendiri. Zayna akan menjadi tameng untuk melindungi anaknya.
"Terima kasih sudah memberikan hadiah yang paling indah di dunia ini. Kamu dan anak-anak kita adalah kebahagiaan untukku. Tetaplah tersenyum dan tertawa. Kamu hanya boleh menangis karena bahagia seperti saat ini. Tidak akan ada air mata kesedihan lagi, kamu harus ingat itu," ucap Ayman yang diangguki oleh Zayna dengan tersenyum.
__ADS_1
Ayman mengurai pelukannya pada sang istri. Pria itu menatap sang istri dan menggenggam telapak tangannya.
"Mulai sekarang, kamu jangan bekerja terlalu keras. Kamu harus jaga kesehatan kamu. Ingat di sini ada nyawa yang harus kamu jaga," ucap pria itu dengan mengusap perut datar Zayna.
"Iya, Mas. Aku mengerti, terima kasih sudah mengingatkanku."
"Tentu, kamu adalah istriku. Kalau bukan aku memang siapa lagi yang perhatian padamu."
Ayman kembali memeluk sang istri guna menyalurkan rasa kasih sayang pada wanita itu. Pintu ruangan diketuk seseorang dari luar. Keduanya segera mengurai pelukan dan menghapus sisa air mata yang ada di wajah mereka.
"Masuk!" ucap Ayman dengan nada sedikit tinggi.
Tampak Ilham masuk ke dalam ruangan Ayman dengan membawa makanan yang dipesan oleh Zayna tadi.
"Maaf, Bu. Tadi ada tukang ojek yang antar makanan ini, katanya Ini pesanan Anda," ucap Ilham pada Zayna.
"Iya, terima kasih, kak Ilham. Aku memang yang pesan. Yang ini buat aku sama Mas Ayman, yang ini dua buat Kak Ilham sama wanita yang ada di depan itu," ucap Zayna sambil menyerahkan dua kotak lainnya.
"Aduh, tidak usah. Saya nanti bisa cari makan sendiri," tolak Ilham karena merasa tidak enak.
"Jangan menolak rezeki, Kak Ilham. Itu tidak baik. Nanti rezeki yang lain datangnya susah," ucap Zayna.
Mau tidak mau Ilham akhirnya mengangguk juga. Zayna memang sangat baik padanya sejak pertama kali mengenal. Dia sampai tidak mengerti kenapa keluarga wanita itu tidak bisa melihat kebaikannya.
"Kalau begitu saya pamit keluar dulu. Terima kasih makanannya."
"Sama-sama."
Ilham pun meninggalkan ruangan itu dengan membawa dua kotak makanan yang diberi oleh istri atasannya.
"Tadi kamu sengaja beli empat, Sayang?"
"Iya, Mas. Aku tidak mungkin makan enak sementara di luar ada dua orang yang sedang kelaparan."
Ayman tersenyum sambil mengusap kepala sang istri. "Aku memang tidak salah pilih. Kamu memang selalu baik pada siapa pun. Meskipun kamu baru mengenalnya."
.
__ADS_1
.