
"Eh, kalian sudah dengar belum, apa yang terjadi pada Felly dan keluarganya! Kasihan mereka, sudah Felly dikeluarkan dari kampus, sekarang usaha keluarganya juga hampir bangkrut," ucap seorang mahasiswi pada teman-temannya, termasuk Ari yang ada di sana.
"Oh ya! Kenapa Felly dikeluarkan dari kampus?” tanya teman yang lainnya. Dia penasaran karena memang tidak mengetahui berita apa pun.
"Memangnya kamu belum mendengar berita itu? Mengenai Feli yang mencelakai Kinan dan akhirnya Pak Hanif mengeluarkannya dari kampus."
"Memangnya Pak Hanif bisa mengeluarkan mahasiswa dari kampus ini? Dia sekarang bukan siapa-siapa di sini, kamu mungkin salah dengar."
"Mana mungkin aku salah dengar. Semua penghuni kampus juga tahu akan hal itu."
Banyak lagi pembicaraan mereka mengenai dikeluarkannya Felly dari kampus. Semua orang juga bicara mengenai Kinan yang mengalami pendarahan. Ada yang merasa kasihan pada Felly, ada juga yang tidak peduli padanya.
Selama ini gadis itu juga suka semena-mena terhadap orang lain, yang menurutnya bukanlah siapa-siapa, tetapi bagi orang-orang yang kaya sudah pasti mereka merasa kehilangan. Sudah pasti tidak ada yang mendukungnya. Tidak ada yang berani berbicara langsung, mereka takut akan dikeluarkan dari kampus juga.
"Eh, kamu Ari. Bukankah kamu yang menggendong Kinan saat dia terjatuh? Kamu juga harus hati-hati, takutnya nanti kamu juga akan dikeluarkan dari kampus. Kamu sudah berani menyentuh istrinya."
Ari terkejut dengan ucapan temannya itu. "Mana mungkin seperti itu! Aku menggendong Kinan juga karena ingin menolongnya. Aku tidak ada maksud apa-apa. Kamu jangan mengada-ada."
"Aku bukannya mengada-ada, tapi buktinya kamu bisa lihat sendiri. Si Felly sudah dikeluarkan dari kampus, sementara Niko juga mendapat hukuman harus membersihkan seluruh toilet kampus selama enam bulan."
"Hah ... enam bulan! Parah banget, bukannya Niko juga harus kerja paruh waktu, ya?" tanya mahasiswa yang lain.
"Dulu iya, tapi akhir-akhir ini enggak. Katanya selama enam bulan itu juga dia dapat gaji setara kerja paruh waktu."
Semua orang yang ada di sana mengangguk. "Tetap saja bagi kita seorang mahasiswa di kampus elit, itu nggak banget. Apa Niko mau melakukannya?"
__ADS_1
"Ya maulah, kalau nggak mau, dia harus keluar dari kampus. Itu pilihannya hanya ada dua. Kalian tahu sendiri siapa Niko. Meskipun dia mahasiswa paling terkenal, tapi dia berasal dari kampung. Dia nggak mau membuat orang tuanya kecewa. Orang tuanya 'kan sudah membiayainya sejauh ini."
"Untung saja saat itu aku tidak ada di sana. Aku juga tidak melihat kejadian itu. Kalau aku terlibat, aku tidak tahu harus bilang apa sama orang tuaku. Mereka menguliahkan aku di sini agar masa depanku cerah. Kalau seperti itu bisa hancur masa depanku. Ari, kamu harus hati-hati, banyak-banyak saja berdoa."
Tidak dipungkiri jika apa yang dikatakan oleh teman-temannya, mempengaruhi pikiran Ari. Namun, dalam hati pria itu yang paling dalam, dia meyakini jika apa yang dilakukannya adalah benar. Ari hanya ingin menolong, tidak ada maksud apa pun. Apalagi memiliki pikiran kotor.
Terdengar suara kasak-kusuk di depan kelas. Ada salah satu mahasiswa yang berlari ke arah mereka dengan wajah panik. "Pak Hanif datang ke sini, kira-kira ada apa, ya? Dia juga mencari kamu Ari. Tadi dia bertanya pada beberapa mahasiswa."
Semua orang menatap ke arah Ari. Begitu banyak pemikiran yang ada di kepala mereka. Baru saja semua orang membicarakan mengenai Hanif dan Kinan, sekarang mantan dosen itu sudah ada di sini. Dia juga sedang mencari Ari.
"Apa aku bilang, Ri. Kamu harus hati-hati," bisik salah satu mahasiswa yang ada di sana, yang kemudian menjauh dari tempat duduk pria itu.
Ari sendiri hanya terdiam di tempat duduknya. Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Pria itu pasrah jika memang dirinya harus dikeluarkan dari kampus ini. Meskipun Ari sebenarnya merasa tidak bersalah. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar Tuhan mau menolongnya.
Hanif memasuki kelas dan mencoba mencari seseorang yang sudah menolong istrinya. Setelah menemukannya, pria itu pun mendekati mahasiswa tersebut. Ari yang ada di bangkunya merasa begitu gugup. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Dia juga merasa kesulitan bernapas.
"Benar, Pak. Ada apa ya?" tanya Ari dengan gugup. Dia sudah sangat berusaha untuk terlihat biasa saja, tetapi itu sangat sulit. Ketakutannya akan dikeluarkan dari kampus begitu besar.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sama kamu. Berkat kamu, istri dan calon anak saya selamat jadi, saya datang untuk mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya."
Ari menghela napas panjang. Ternyata apa yang dia takutkan tidaklah terjadi, justru Pak Hanif datang untuk berterima kasih. Dia bangga terhadap Hanif karena sebagai seorang dosen, pria itu tidak mau untuk berterima kasih padanya. Jika itu orang lain, pasti sudah mengabaikannya begitu saja.
Dirinya hanyalah seorang mahasiswa yang tidak begitu berarti di kampus ini. Pasti banyak yang mengabaikannya. Hanya Hanif yang mengakui keberadaannya.
"Sama-sama, Pak. Saat itu saya memang berada di sekitar dan saya melihat Kinan sedang kesakitan jadi, saya hanya menolong."
__ADS_1
"Itu dia, padahal di sana juga banyak mahasiswa, tapi hanya kamu yang mau menolong istriku. Ini kartu nama saya, di sana juga ada alamat perusahaan saya. Kamu bisa datang ke sana saat kamu sudah lulus dari kampus ini. Saya pasti akan memperkerjakan kamu, tapi sesuai kualitas kamu juga. Saya yakin kamu orang yang bertanggung jawab jadi, jangan sampai mengecewakan saya juga." Hanif mengulurkan kartu nama pada pria yang ada di depannya.
Ari menerima kartu dari Hanif dengan tangan gemetar. Dia tidak menyangka akan mendapat tawaran pekerjaan, padahal dirinya saja belum lulus. Di luar sana banyak sekali pengangguran, tidak jarang dari mereka juga sudah mendapat gelar.
Mata Ari berkaca-kaca, ternyata kebaikannya menolong orang lain kini kembali padanya. Hanif justru menolong masa depannya. Padahal pertolongan yang dia berikan bukanlah apa-apa, tetapi Hanif justru memberikan masa depan yang cerah untuknya. Jika orang tuanya mendengar hal ini, pasti mereka yang paling bahagia.
Ari juga bisa membantu orang tuanya untuk pendidikan adik-adiknya kelak. dia tidak akan mengecewakan Hanif. Pria itu akan berusaha untuk mendapat nilai yang baik agar kepercayaan Hanif tidak sia-sia.
“Terima kasih, Pak. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak," ucap Ari dengan tangan gemetar, disertai setetes air mata yang jauh di pipinya. Pria itu pun segera mengusapnya dengan cepat agar tidak ada yang tahu.
"Justru saya yang berterima kasih padamu. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pertolongan kamu. Belajarlah yang rajin, gapai semua mimpi-mimpimu. Jangan sampai mengecewakan apa yang sudah saya percayakan padamu."
"Tentu, Pak. Saya akan berusaha yang terbaik agar tidak mengecewakan Anda dan perusahaan Anda," sahut Ari sambil menganggukkan kepalanya dengan begitu semangat.
"Baiklah, saya pergi dulu. Semoga saat kita bertemu nanti, kamu sudah menjadi orang yang hebat. Jangan pernah berubah, tetaplah berbuat baik kepada siapa pun meski kamu tidak mengenalinya."
Ari mengangguk, sementara Hanif meninggalkan kelas begitu saja. Dia berjalan menuju taman di kampus ini, untuk menunggu Frans selesai mengajar. Mudah-mudahan saja tidak lama karena pria itu tidak mau Kinan mencurigai kepergiannya.
"Wah! Ari, kamu hebat sekali, belum lulus sudah dapat tawaran pekerjaan. Tahu begitu kemarin aku yang menolong Kinan!" seru teman yang tadi sempat menakuti Ari jika dirinya akan dikeluarkan. Namun, sekarang semuanya tidak terbukti. Justru pria itu mendapat tawaran pekerjaan padahal belum lulus.
"Iya, aku juga tidak menyangka. Tadinya aku kira kamu akan dikeluarkan dari kampus ini juga, ternyata tidak. Kita selama ini salah menilai Pak Hanif. Setelah dipikir-pikir, dia mengeluarkan Felly juga karena kesalahan Felly sendiri. Sekarang lihat! Ari yang berbuat baik juga mendapat hadiah yang lain, bahkan sangat layak."
Semua orang mengangguk dan membicarakan kebaikan Hanif serta keberuntungan Ari.
.
__ADS_1
.