Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
153. Usai resepsi


__ADS_3

Pesta telah selesai. Kinan dan Hanif pergi menuju hotel terdekat dari gedung. Tempat yang sudah disediakan oleh keluarga. Tentu saja tempat yang begitu mewah dengan fasilitas yang memadai, sementara yang lainnya memilih untuk pulang.


Papa rahmat dan Mama Savina juga ikut pulang bersama. Keduanya datang sebelum hari pernikahan digelar. Zayna dan keluarganya sudah menyiapkan kamar tamu untuk mereka. Saat ini semua orang merasa lelah. Namun, tidak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan.


Hanif dan Kinan sudah sampai di hotel. Keduanya menuju kamar yang sudah disediakan oleh keluarga. Sejak di perjalanan tadi, wanita itu merasa gelisah. Dia bingung harus berbuat apa agar perasaannya sedikit lega.


Sesekali Kinan *******-***** telapak tangannya yang terbebas, guna mengurangi rasa gugupnya karena tangan yang satunya digenggam oleh Hanif. Namun, bukannya berkurang rasa gugup itu, justru semakin bertambah. Terutama saat ini keduanya menuju kamar. Wanita itu melihat ke arah tangannya yang sedari tadi digenggam oleh sang suami.


Terlihat pria itu sama sekali tidak merasa gugup. Justru biasa saja, seperti tanpa beban apa pun. Begitu sampai di depan kamar, keduanya berhenti. Hanif berusaha membuka pintu dengan kartu akses yang dia terima dari resepsionis di bawah.


Begitu kamar terbuka, tercium aroma bunga yang begitu harum. Tampak cahaya remang-remang terpancar dari dalam. Pasangan pengantin itu pun perlahan melangkahkan kakinya. Perpaduan antara aroma terapi dan wangi bunga mawar menusuk ke dalam indera penciuman pasangan pengantin.


Kelopak bunga bertebaran di lantai dan juga di atas ranjang. Beberapa lilin juga berjajar di lantai, ada juga yang di atas meja. Musik romantis terdengar begitu syahdu di indra pendengaran. Semakin menambah suasana romantis bagi pengantin baru.


Sebuah tangan melingkar di perut Kinan, membuat wanita itu sedikit memekik karena terkejut. Dia tadi terlalu fokus pada apa yang dilihat, hingga tidak sadar jika sang suami berada di belakang.


“Apa kamu suka?” bisik Hanif tepat di telinga sang istri, membuat wanita itu memejamkan matanya sejenak karena merasa geli.


“Aku suka. Apa kamu yang melakukan semua ini?” jawab ya dengan pelan.


“Bukan, semua ini pegawai hotel yang melakukannya, tapi atas perintahku tentunya.”


“Terima kasih karena kamu sudah mempersiapkan semua ini.”


“Aku sudah sangat lama menantikan hari ini. Tentu saja aku ingin yang terbaik,” ucap Hanif membuat Kinan terdiam.


Wanita itu sudah sangat mengerti apa maksud dari kata-kata Hanif, tapi tidak mampu membalas ucapannya. Ini memang sudah saatnya melakukan tugas pertama sebagai seorang istri. Semoga saja dia bisa melakukannya dengan baik.

__ADS_1


“Jangan terlalu tegang, aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap,” ucap Hanif yang melihat keterdiaman istrinya.


Memiliki wanita itu seutuhnya dan menikahi pujaan hatinya sudah membuat pria itu senang. Mengenai hal lainnya, biarlah waktu yang menjawab. Kinan melepaskan pelukan Hanif dan berbalik ke arah pria itu. Kinan memberanikan diri dengan mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan menatap wajah pria yang sudah memasuki relung hatinya.


Hanif menatap wajah sang istri yang ada di depannya. Baru kali ini dia bisa sedekat ini dengan Kinan. Melihat wajah wanita itu yang terlihat begitu cantik dan memukau. Membuat pria itu tidak bisa berkedip.


“Aku sudah sah menjadi milikmu seutuhnya. Apa pun yang kamu lakukan padaku, itu memang hakmu dan kewajibanku untuk melakukannya.”


Hanif tersenyum, dia memeluk pinggang sang istri dan merapatkan jarak di antara keduanya. “Aku tahu hal itu, tapi sebagai seorang pria, aku tidak mungkin memaksa jika kamu belum siap.”


“Jika aku belum siap, maka dari awal aku sudah menolak rencana pernikahan ini. Aku sudah siap dengan apa pun yang kamu lakukan.”


“Terima kasih sudah menjadi istriku dan menerima segala kekuranganku.” Hanif semakin mengikis jarak di antara keduanya, hingga akhirnya malam panjang keduanya lalui dalam cahaya lilin. Kelopak bunga mawar yang berada di atas ranjang pun sudah tidak berbentuk lagi.


“Terima kasih sudah menjaga kehormatanmu untukku,” bisik Hanif sebelum keduanya benar-benar terlelap.


*****


“Aku tidak menyangka, suara kamu begitu bagus, Mas. Katanya tidak bisa nyanyi?” tanya Zayna.


“Aku hanya menyanyi sebisaku saja tadi. Kamu juga bisa nyanyi.”


“Aku tadi juga asal, entah nadanya benar atau tidak,” ucap zaina yang kemudian menertawakan dirinya sendiri. “Oh ya, Mama sama Papa berapa hari lagi di sini?”


“Besok kami harus pulang,” Jawab Papa Rahmat.


“Kenapa cepat sekali?”

__ADS_1


“Kita di sini sudah dua hari yang lalu, sudah saatnya pulang. Acara pernikahan Kinan juga sudah selesai.”


Zayna menghela napas. “Bulan depan Papa sama Mama ke sini lagi, kan? Saat acara tujuh bulanan aku?”


“Tentu, mana mungkin kami melewatkan acara untuk cucu kami “


“Iya, kami pasti akan datang. Kami juga ingin mendoakan kamu dan cucu kami,” timpal Mama Savina.


“Sayang, mengenai acara itu, kamu maunya dibuat di mana?” tanya Ayman.


“Memangnya kamu mau buat acara di mana lagi? Aku maunya di rumah saja, Mas. Nggak usah pakai gedung-gedung segala. Acara doa-doa untuk calon anak kita sekaligus mendoakan seluruh keluarga agar selalu sehat.”


“Aku pikir kamu mau acara di mana begitu, kan sekalian biar nanti Ilham yang urus.”


“Nggak, Mas, acara di rumah saja, nggak perlu juga pakai dekor-dekor segala. Aku maunya murni acara pengajian. Mengenai nanti kalau Mas mau ada foto-foto seperti orang lain, buat kenang-kenangan, kita bisa sewa jasa fotografer di lain hari. Pokoknya hari itu khusus untuk doa saja.”


"Baiklah jika itu maumu. Nanti biar aku yang bilang sama Ilham."


"Mas, jangan lupa juga uang santunan buat anak yatim. Nanti lupa lagi."


"Iya, itu sudah aku siapkan. Aku juga kemarin pergi sama Ilham ke tempat panti asuhan dan alhamdulillah, mereka semua mau datang ke acara kita dan mendoakan calon anak kita."


"Alhamdulillah kalau begitu."


Mereka pun membahas acara apa saja nanti yang akan digelar dalam acara tujuh bulanan. Tidak lupa juga Papa Rahmat memberi wejangan untuk acara adat di siang harinya lebih dulu, dilanjutkan dengan doa di malam hari. Ayman yang mendengar itu pun bertanya pada Papa Rahmat. Apa saja upacara adat untuk ibu hamil di acara tujuh bulanan.


Pria paruh baya itu menjelaskan beberapa hal. Dia juga bilang akan mencatatnya saja, takut jika mereka lupa nantinya. Ayman mengangguk saja karena memang yang dikatakan Papa Rahmat cukup sulit untuk diingat.

__ADS_1


.


.


__ADS_2