Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
151. Setelah Sah


__ADS_3

Kata sah menggema di sebuah rumah besar keluarga Papa Hadi. Hari ini memang hari pernikahan Hanif dan Kinan. Baru saja acara akad nikah telah selesai dilaksanakan, yang hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja. Air mata haru mengalir dari beberapa tamu yang hadir.


Mereka merasa senang dengan acara ini, sekaligus tidak menyangka jika kerabatnya bisa menikah secepat ini. Semua berharap agar pernikahan Hanif dan Kinan langgeng hingga maut memisahkan pasangan pengantin. Doa dari seorang ustaz diaminkan oleh semua orang yang hadir di rumah itu.


Setelah selesai akad nikah, dilanjutkan dengan acara sungkeman pada para orang tua. Lagi-lagi mereka tidak sanggup menahan air mata yang akhirnya tumpah. Pasangan pengantin lebih dulu sungkem pada Papa Wisnu dan Mama Aida. Kedua orang tua itu memberi wejangan pada anak dan menantunya.


Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak-anak mereka menikah. Apalagi pasangannya dari keluarga baik-baik, tetapi tetap saja ada rasa sedih karena perhatian anak pastinya akan mulai terbagi. Yang kini mereka harapkan hanya kebahagiaan untuk anak-anaknya.


“Jagalah istrimu dengan baik, jangan sampai dia meneteskan air mata karena kesedihan. Jangan pula kamu angkat tanganmu jika dia melakukan kesalahan. Bicarakan baik-baik setiap kali ada masalah. Jangan pula umbar aib istrimu karena itu juga merupakan aibmu. Ingatlah jika saat ini kamu adalah pemimpin dalam keluarga. Kamu harus bisa menjadikan rumah yang kamu bangun saat ini menjadi kokoh dan tak akan mudah runtuh oleh apa pun,” ucap Papa Wisnu pada Hanif.


“Aku akan berusaha, Pa. Papa doakan saja agar kami selalu rukun dan damai, seperti yang kami inginkan,” sahut Hanif.


“Doa Papa selalu menyertaimu.”


“Kinan, kamu memang seorang istri yang harus menurut pada suamimu, tapi jika suamimu salah, kamu berhak menegurnya. Tentu dengan cara yang baik, jangan sampai ada kata-kata kasar yang keluar hingga membuat suamimu marah. Kalian harus saling melengkapi. Jika salah satu marah, maka yang lain harus mengalah dan saling introspeksi diri,” ucap Mama Aida pada menantunya.


“Iya, Ma. Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan selalu mengingatnya."


Mereka pun saling berpelukan. Pasangan pengantin baru, beralih menuju tempat di mana Papa Hadi dan Mama Aisyah duduk. Keduanya bersimpuh di depan mereka sambil menelungkupkan wajahnya di atas pangkuan dan bersalaman. Tidak jauh berbeda dengan besannya, Mama Aisyah pun meneteskan air matanya.


“Jadilah istri yang baik. Apa pun kata suamimu, kamu harus menurutinya selagi itu dalam hal kebaikan dan tidak menentang agama. Ingatlah surgamu saat ini sudah tidak bersama Mama lagi, tapi ada pada suamimu,” ucap Mama Aisyah pada putrinya.


“Iya, Ma. Terima kasih, selama ini Mama sudah membesarkanku dan merawatku dengan baik. Mama juga sudah menjadi panutanku dan selamanya aku adalah anak Mama,” sahut Kinan.

__ADS_1


"Tentu, tidak akan ada yang bisa merubahnya."


“Jaga putri kami dengan baik. Dia gadis yang manja. Meskipun selama ini selalu terlihat kuat, tapi sebenarnya dia rapuh. Bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang wanita yang butuh tempat sandaran. Jangan pernah menyakitinya, baik fisik maupun hatinya. Jika kamu tidak ada lagi perasaan padanya, kembalikan dia pada kami. Kami akan menerimanya dengan tangan terbuka, tanpa menuntut apa pun padamu,” ucap Papa Hadi pada Hanif dengan mata berkaca-kaca.


“Saya tidak bisa berjanji, Pa, tapi saya akan berusaha agar menjadi suami yang baik. Aku tidak mungkin menyakitinya karena itu sama saja aku menyakiti mamaku sendiri,” sahut Hanif.


“Papa harap apa yang kamu ucapkan bisa kamu terapkan.”


“Akan saya usahakan, Pa."


Kedua orang tua itu pun memeluk pasangan pengantin bergantian. Hanif dan Kinan beralih menuju Ayman. Mereka juga ingin bersimpuh di depan kakaknya. Namun, pria itu menarik kedua pengantin. Dia merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Ayman lebih memilih memeluk keduanya. Zayna pun ikut memeluk mereka. Bagaimanapun juga dia sudah menganggap Kinan seperti adiknya.


“Jaga adikku baik-baik. Hanya dia saudara yang aku miliki. Dari kecil kami selalu bermain bersama, bahkan terkadang juga aku suka mengusilinya. Meskipun kami selalu bertengkar, tapi aku tidak akan pernah rela jika ada orang lain yang menyakitinya. Ingatlah itu baik-baik. Kamu akan berurusan denganku jika sampai membuat adikku menangis,” ucap Ayman di sela pelukan mereka.


“Bagaimana jika Kakak yang membuat aku menangis. Apakah suamiku boleh melakukan sesuatu pada Kakak?” tanya Kinan yang segera membuat Ayman melepaskan pelukannya.


“Kalau itu mana boleh! Bagaimanapun aku ini anak tertua. Lagi pula aku tidak akan membuatmu menangis,” kilah Ayman membuat semua orang tertawa.


Kinan kembali memeluk kakaknya dan berbisik, “Terima kasih selama ini sudah menjadi Kakak yang terbaik untukku. Selama ini Kakak juga sering mengalah padaku. Meski kakak tidak pernah bilang padaku, tapi aku bisa mengetahuinya.”


“Tetaplah menjadi adikku yang selalu baik pada siapa pun. Jangan menghilangkan karaktermu karena statusmu yang berubah. Jika pun ada yang berubah, Kakak harap itu perubahan yang baik.”


“Terima kasih doanya, Kak. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kakak sebaik Kakakku.”

__ADS_1


Zayna tersenyum melihatnya. Dia juga bisa melihat betapa besarnya kasih sayang yang Ayman berikan pada adiknya. Wanita itu berharap Kinan akan selalu bahagia dalam pernikahannya ini. Zayna juga tidak rela jika adik iparnya disakiti.


Kinan melepaskan pelukan kakaknya dan beralih bersalaman dengan para tetua di keluarga. Banyak sekali wejangan yang diberikan pada pengantin baru. Kinan dan Hanif merasa senang karena banyak orang yang mendoakan pernikahan mereka.


Acara telah selesai. Keluarga Papa Wisnu dan Mama Aida pamit pulang karena harus mempersiapkan untuk acara nanti malam. Sementara itu, Kinan mengajak Hanif ke kamarnya. Mereka harus beristirahat untuk acara nanti malam.


"Mas mau mandi dulu? Atau aku yang duluan?" tanya Kinan.


Hanif tampak berpikir sambil berjalan mendekati sang istri. "Bagaimana kalau kita mandi bersama," ucapnya dengan pelan, membuat wajah Kinan memerah karena malu.


Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hal itu membuat Hanif mengulum senyum. Ternyata mudah sekali menggoda istrinya.


"Sebaiknya Mas mandi dulu, aku ... aku ... mau ambil minuman di dapur. Mas pasti haus." Kinan segera beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban dari Hanif. Setelah pintu tertutup, Hanif menahan tawanya, dia tidak menyangka jika Kinan bisa malu-malu seperti itu.


"Ada apa, Dhek?" tanya Zayna yang melihat adik iparnya berdiri di depan pintu, sambil memegangi dadanya.


"Tidak ada apa-apa, Kak," jawab Kinan sambil berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Zayna tersenyum sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi di dalam kamar pengantin.


"Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan," sela Kinan dengan cepat saat melihat kakak iparnya tersenyum.


"Seperti yang aku pikirkan bagaimana? Aku tidak memikirkan apa pun," ucap Zayna yang berlalu dari sana.


.

__ADS_1


.


__ADS_2