Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
126. Pergi berdua


__ADS_3

Kinan hanya diam saja, entah Hanif mau mengajaknya ke mana. Dia percaya jika pria itu tidak akan melakukan hal yang macam-macam. Hanif juga orang yang baik, tidak ada alasan untuk meragukannya.


“Kita keluar kota, Mas?” tanya Kinan yang baru saja sadar jika dirinya saat ini sedang berada di jalan tol menuju luar kota. Tadi dia hanya memainkan ponsel, hingga tidak melihat jalanan yang dilaluinya.


“Kamu tenang saja, aku tadi sudah izin sama mama kamu kalau aku akan mengajakmu pergi. Kita juga nggak akan nginap. Paling juga nanti pulang agak malam," jawab Hanif seolah tahu apa yang Kinan resahkan.


“Iya, tapi kita mau ke mana?”


“Kamu lihat saja, nanti pasti kamu suka.”


Kinan pun tidak bertanya lagi. Dia diam sambil melihat jalanan yang mereka lalui.


Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di sebuah tempat yang begitu indah. Tempat wisata air terjun yang sangat jernih dengan keindahan alam sekitar yang begitu indah. Kinan begitu takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah tempat yang terletak jauh dari hingar bingar kota.


“Ayo, ikut aku!” ajak Hanif dengan menggandeng telapak tangan Kinan menuju tempat air terjun itu.


Gadis itu sangat menyukainya karena dia juga termasuk pencinta alam. Kinan tidak menyangka jika pria itu akan mengajaknya ke tempat seperti ini. Tahu begitu dia membawa kamera dan alat lainnya untuk mengabadikan momen di sini. Ini pertama kalinya gadis itu datang ke sini, entah apa ada kesempatan untuk datang lagi.


Kinan penasaran, dari mana Hanif tahu tentang tempat ini. Saat dia melihat sekitar, kebanyakan dari mereka datang berpasangan lalu, dengan siapa pria itu datang? Tiba-tiba saja pemikiran jelek itu datang.


“Bagaimana, kamu suka?” tanya Hanif sambil menatap wajah gadis itu. Kinan hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Aku pengen turun ke air, deh, Mas, tapi sayang sekali aku nggak bawa baju. Kenapa kamu nggak bilang mau ke tempat seperti ini? Tahu gitu ‘kan aku ambil baju dulu di rumah," ucap Kinan cemberut karena keinginannya tidak terwujud.


“Nggak pa-pa, kita mandi saja. Nanti bajunya kita beli di sana,” ucap Hanif sambil menunjuk ke arah penjual yang berada beberapa meter dari tempat mereka. “Di sana banyak penjual segala macam.”


“Wah! Di tempat seperti ini ada juga yang jual?”


“Namanya juga tempat rekreasi, pasti ada saja penjualnya.”


Kinan mengangguk, mereka menitipkan barang di tempat penitipan. Setelah itu, keduanya menuju tempat berenang. Air yang begitu dingin tidak menyurutkan niat Kinan untuk masuk ke dalamnya. Padahal Hanif sempat melarang karena takut jika gadis itu nanti akan sakit. Namun, Kinan mencoba meyakinkan tunangannya jika tidak akan terjadi sesuatu padanya karena dia sudah terbiasa.

__ADS_1


“Mas, ayo turun!” ajak Kinan.


“Tidak, aku di sini saja sambil mengawasimu.”


Padahal pria itu sebenarnya tidak tahan dengan suhu dingin. Kinan yang mengerti pun tidak memaksakan keinginannya. Dia bisa melihat jika tubuh Hanif sudah menggigil. Padahal kaki saja yang terkena air. Bisa dipastikan jika pria itu tidak bisa di tempat yang bersuhu dingin.


Pantas saja sewaktu mereka pulang dari pantai, esoknya Hanif sakit. Ternyata pria itu tidak tahan dingin. Kenapa dia sok-sokan memberikan jaketnya? Padahal Kinan lebih tahan dingin.


“Kinan, kamu di sini saja dulu. Aku mau beliin kamu baju di sana. Ingat jangan ke mana-mana.”


“Iya, Mas.”


Hanif beranjak dari sana menuju tempat penjual pakaian. Sementara itu, Kinan masih menikmati dinginnya air terjun yang sudah membuat tubuhnya kedinginan. Saat sedang asyik berenang, tiba-tiba ada seorang pria yang mendekatinya.


“Halo, boleh kenalan nggak?” tanya pria tersebut. Kinan melihat ke arah kiri dan kanan, siapa tahu pria itu berbicara dengan orang lain. Namun, tidak ada seorang pun di sekitar. Ada juga sedikit jauh, rasanya tidak mungkin pria itu berbicara dengannya.


“Saya bicara sama kamu.”


“Maaf, ada apa, Mas?”


“Maaf, Mas. Saya datang ke sini tidak untuk cari kenalan. Saya datang ke sini hanya untuk mencari hiburan. Lagi pula saya datang bersama dengan suami. Saya tidak enak jika harus berkenalan dengan pria lain saat saya sudah memiliki seorang suami.” Kinan melihat ke arah perginya Hanif, berharap tunangannya segera kembali


“Tapi di sini saya lihat kamu sedang sendiri, rasanya tidak mungkin jika kamu memiliki suami, pasti kamu sudah bersama dengannya.”


“Suami saya sedang membelikan baju untuk saya, Mas, jadi dia tidak ada di sini.”


“Kamu pandai sekali berbohong.”


Kinan memutar bola matanya malas. Ternyata pria yang ada di depannya ini bukan orang yang mudah menyerah. Padahal dirinya sudah mengatakan jika sudah memiliki suami, tetapi masih saja ingin didekati. Sepertinya percuma juga bicara panjang lebar.


“Masa perkenalan begitu saja tidak boleh. Apakah aku ini kurang tampan?” tanya Alex. Namun, tidak di gubris oleh Kinan. Gadis itu berusaha untuk naik dan menghindari pria itu. Dia tidak ingin membuat masalah di tempat ini. Apalagi saat ini dia sedang sendiri.

__ADS_1


“Nona, tunggu!” Pria itu mencekal pergelangan tangan Kinan. Gadis itu berusaha untuk melepaskannya. Namun, cekalan pria itu sungguh sangat kuat hingga membuat Kinan kesulitan.


“Tolong lepaskan tangan saya! Jangan sampai membuat saya berteriak di sini. Anda sudah mengganggu ketenangan saya.”


“Teriak saja, Nona. Anda pikir semua orang di sini akan ikut campur? Pasti mereka akan berpikir jika kita ini pasangan kekasih yang sedang bertengkar.”


Seseorang tiba-tiba mencekal pergelangan tangan pria itu. Siapa lagi kalau bukan Hanif. Dia melakukannya agar orang itu segera melepaskan tangan Kinan. Dari kejauhan sudah sangat jelas jika Alex tengah mengganggu tunangannya. Melihat itu tentu saja membuat Hanif emosi dan segera berlari ke sini.


"Lepaskan dia!" seru Hanif.


“Wah ... ternyata ada pahlawan kesiangan, nih!” seru pria itu. “Apa kamu suaminya?”


“Iya, ini suamiku,” jawab Kinan dengan menggandeng lengan tunangannya.


Hanif sempat terkejut dengan jawaban Kinan. Namun dia berusaha untuk biasa-biasa saja. Pasti ada alasan kenapa gadis itu berkata seperti itu. Alex sempat terkejut, tetapi berusaha biasa saja.


“Maaf, Bung. Saya kira tadi dia berbohong saat dia mengatakan kalau dia sudah bersuami. Saya melihat wajahnya seperti seorang gadis. Baiklah kalau begitu saya tidak akan mengganggu waktu kalian silahkan dilanjut senang-senangnya."


Alex akan segera pergi, tetapi Hanif lebih dulu mencegahnya. "Tunggu, kamu belum meminta maaf pada istriku. Kamu tadi menyakitinya."


"Mas, sudahlah, aku tidak apa-apa," sahut Kinan. Dia tidak ingin ada masalah.


"Dia sudah berbuat yang tidak sopan terhadapmu, jadi dia harus minta maaf," ucap Hanif.


"Ayolah, Bro! Ini hanya masalah sepele. Kenapa aku harus minta maaf pada istrimu?" tanya Alex.


"Apa katamu? Bagaimana jika salah satu keluargamu diganggu oleh orang lain. Apakah kamu akan diam saja? Aku rasa tidak, kan?"


Alex terlihat menarik napas dalam-dalam. Kinan takut jika masalah akan semakin panjang, tetapi dia salah saat melihat pria itu meminta maaf.


"Maaf, saya tadi sudah mengganggu waktumu." Alex segera pergi tanpa menunggu jawaban dari Kinan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2