Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
253. S2 - Bukan kekasihku


__ADS_3

Saat Adam dan Alina memasuki ruangan privat restoran, dua orang pelayan datang menghidangkan makanan dan minuman yang pria itu pesan. Semuanya makanan kesukaan sang kekasih.


“Kamu pesan makanan sebanyak ini, Sayang?" tanya Alin pada sang kekasih.


"Aku tidak tahu saat ini kamu ingin makan apa jadi, aku pesan beberapa yang sering kamu pesan saja. Nggak ada yang salah, kan?"


"Iya, tapi nggak harus kayak gini juga, Sayang. Cukup satu saja, aku juga nggak makan sebanyak ini," ucap Alin sambil melihat makanan yang berjajar di meja.


"Tidak apa-apa, nanti bisa dibungkus. Terserah nanti mau kamu kasih sama siapa."


Alin hanya mengangguk, kemudian menikmati salah satu hidangan yang ada di sana. Dia merasa bahagia karena diperlakukan istimewa oleh Adam.


“Tadi kamu bilang ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, memangnya ada apa?” tanya Alin begitu menyelesaikan makanannya.


Adam mengusap mulutnya dengan tisu, kemudian berkata, "Aku tadi sudah bicara sama kedua orang tuaku. Mereka meminta kamu datang ke rumah untuk berkenalan. Kamu mau 'kan datang ke rumahku dan berkenalan dengan kedua orang tuaku?"


Alin cukup terkejut mendengarnya. Memang mereka pernah membicarakan mengenai hubungan yang serius. Akan tetapi, gadis itu tidak menyangka jika akan secepat ini. Apalagi kebersamaan mereka juga cukup singkat dalam dua tahun.


Jika dipikirkan lagi, memang ini sudah saatnya bagi Alin untuk membangun sebuah rumah tangga. Kedua orang tuanya juga sering menanyakan hal ini. Namun, dalam hatinya tetap saja ada rasa takut. Bagaimana jika kedua orang tua Adam yang tidak menyukainya.


Alin sangat tahu diri dari mana dia berasal. Keluarganya juga dari kalangan menengah, rasanya tidak sepadan dengan Adam dan keluarga. Gadis itu selalu berdoa agar dirinya diterima oleh calon mertuanya.


“Kenapa? Apa kamu tidak mau bertemu dengan orang tuaku?” tanya Adam yang melihat keraguan dalam ekspresi Alin.


Alin menggeleng dengan cepat. "Bukan begitu maksudku, aku hanya takut jika orang tuamu tidak menyukaiku. Aku bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan kamu. Aku hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan, sementara kamu pemilik restoran ternama. Apalagi sekarang sudah memiliki cabang dimana-mana."


Adam mengerti apa yang dirasakan Alin, dia pun mencoba membesarkan hati sang kekasih. "Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku juga masih dalam proses, kita sama-sama berdoa. Lagi pula orang tuaku juga bukan orang yang terlalu mementingkan harta."


"Tetap saja aku merasa takut," sahut Alin dengan menundukkan kepala.


Adam yang melihat Alin seperti tertekan pun tidak memaksanya. "Kalau kamu memang tidak mau bertemu dengan orang tuaku, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa, kita cari waktu yang lain saja."


Adam tersenyum, mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Meskipun dalam hati pria itu merasa kecewa dengan sang kekasih. Alina yang melihat kekecewaan Adam pun jadi merasa bersalah. Dia tahu, pasti kekasihnya itu tadi sudah sangat berusaha bicara dengan keluarganya. Akan tetapi, dirinya malah menolak begitu saja tanpa pertimbangan.


"Bukan seperti itu, Sayang. Aku siap kapan pun kamu mau mengajakku bertemu dengan kedua orang tuamu. Hanya saja aku merasa tidak percaya diri. Sekarang tidak apa-apa, kamu mau mengajakku pergi kapan?"


"Benar kamu tidak apa-apa?"


"Iya, buat apa juga aku berbohong."


Adam merasa lega dengan apa yang dikatakan sang kekasih. Dia tidak sabar menantikan hari itu tiba. saat dirinya membawa Alin menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau hari Minggu saja. Kebetulan kedua orang tuaku juga ada di rumah. Kami tidak ada rencana buat pergi ke mana pun." Adam memberi usul.


"Boleh, nanti aku ke sana, apa kamu yang menjemputku?"


"Biar aku yang jemput kamu, masa biarin kamu berangkat sendiri."


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah."


Keduanya pun melanjutkan makan siang. Adam meminta pelayanan untuk membungkus makanan yang belum dimakan. Nanti bisa Alin berikan pada temannya di kantor. Kebetulan tadi ada yang tidak bisa keluar karena ada pekerjaan yang mendadak.


Setelah menghabiskan makanannya, keduanya meninggalkan restoran. Adam mengantarkan sang kekasih kembali ke perusahaan tempat bekerja. Dia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya di restoran.


****


Sementara itu, Arslan yang baru saja tiba di rumah, segera turun dari mobil dan memasuki rumah. Tampak Zayna yang berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. Pria itu pun memberi salam pada mamanya, sambil mencium punggung tangan wanita itu.


"Kamu cepat sekali pulangnya, Ars? Kamu antar dia sampai rumah, kan?" tanya Zayna.


Dia tahu jika sang putra khawatir mengenai masalah dengan adiknya. Namun, sebagai seorang pria, Arslan harusnya mengantar Imel sampai rumah. Bagaimanapun juga gadis itu tanggungjawab sang putra saat dari sini.


"Sudah, Ma. Tadi aku antar sampai depan rumah, cuma aku nggak mampir. Orang tuanya juga nggak ada di rumah, nggak enak kalau cuma berduaan, jadi langsung pulang," jawab Arslan yang diangguki oleh Zayna. "Aku mau ke atas dulu, ya, Ma."


“Assalamualaikum,” ucap Arslan begitu membuka pintu kamar Aini.


Tampak gadis itu sedang memainkan ponselnya sambil tengkurap di ranjang. Arslan tahu jika adiknya masih kesal, dia hanya tersenyum, berusaha untuk mengajaknya berbicara lebih dulu.


"Ada orang ngucapin salam, nggak dijawab dosa, loh," tegur Arslan.


"Waalaikumsalam," jawab Aini dengan cepat.


Arslan tersenyum dan duduk di samping adiknya. Pintu kamar terbuka kembali, diikuti oleh Aina yang masuk. Tadi sebelumnya Arslan memang datang ke kamar adiknya itu, Dia meminta Aina untuk datang ke kamar ini untuk saling berbincang.


"Ngapain pada ke sini? Kalian punya kamar sendiri-sendiri, kan?" tegur Aini dengan kesal.


"Tuh, tanya sama Kakak, ngapain nyuruh aku ke sini," sahut Aina yang juga kesal. Tadi dia sedang asyik membaca bukunya, tetapi tiba-tiba Arslan datang mengganggunya dan meminta gadis itu ke kamar Aini.


"Sudah kalian ke sini! Kakak mau bicara sebentar," ucap Arslan sambil menepuk kedua sisinya.


Mau tidak mau di kembar pun duduk di kanan kiri kakaknya itu. Meskipun keduanya masih sangat jelas jika sedang kesal.


"Mengenai tadi, Kakak minta maaf. Bukan maksud Kakak buat marah sama kamu. Cuma kakak nggak suka kalau kamu berkata kasar seperti itu. Seburuk apa pun orang yang ada di depan kamu, jagalah kata-kata kamu jangan sampai kata dasar keluar. Bagaimanapun juga kamu itu seorang gadis, harus benar-benar menjaga lisan," ujar Arslan pelan.

__ADS_1


"Tapi dia itu bukan wanita baik, Kak. Aku nggak suka sama dia," sahut Aini.


"Iya, Kakak tahu, tapi nggak harus seperti tadi.”


“Kalau Kakak tahu, kenapa menjalin hubungan dengannya?" tanya Aini dengan kesal.


"Siapa juga yang menjalin hubungan dengan dia? Itu karena kalian saja yang salah paham. Kakak sama dia juga gara-gara Kakak mau balas Budi," jawab Arslan pelan di akhir kalimatnya, membuat Aini dan Aina memicingkan matanya ke arah pria itu.


"Balas budi? Balas budi apa?” tanya si kembar bersamaan dengan suara yang keras. Rasanya tidak mungkin jika seorang Imel berbuat baik. Pasti kakaknya sedang mengarang cerita.


Arslan segera membekap mulut keduanya. Dia tidak mau sampai mamanya mendengar hal ini. Pria itu akui dirinya melakukan kesalahan. Namun, sebagai seorang pria dia tetap harus memenuhi janjinya.


“Ssstt ... jangan keras-keras. Nanti Mama denger," ucap Arslan dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Lagian Kakak apa-apaan, sih! Emang perbuatan baik apa yang dilakukan Imel, sampai Kakak berhutang budi padanya. Kakak bisa kasih dia uang saja, habis itu selesai, kenapa sampai terlibat dengan Imel itu?" tanya Aina dengan kesal.


"Iya, nih, Kakak. Ngapain juga pakai pacaran sama dia cuma karena hutang budi. Aku juga yakin jika dia deketin Kakak karena uang," timpal Aini yang juga tidak suka dengan apa yang katanya katakan.


"Mau bagaimana lagi, Kakak juga terpaksa melakukannya. Memang seperti itu tujuannya, kan?"


"Pokoknya nggak ada, Kakak harus berhenti berhubungan dengan Imel. Apalagi sampai melibatkan Mama."


"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dia tahu rumah ini. Tadi aku sedang kerja, terus Mama telepon, katanya ada wanita yang bernama Imel datang. Aku juga terkejut tadi, makanya cepet-cepet pulang."


"Wah! Nekat juga tuh orang. Memang Kakak punya hutang Budi apa sama Imel?" tanya Aina.


"Sebenarnya bukan sama Imel, tapi sama temanku. Imel itu pernah pacaran dengan salah satu teman kerjaku yang juga seorang pengusaha, dia juga sudah menikah dan memiliki anak. Dulu Kakak punya hutang budi padanya. Kakak berjanji akan membantunya suatu saat jika dia sedang dalam masalah, jadi kemarin dia menagih janji kepadaku. Dia memintaku untuk mendekati Imel, terus mengambil rekaman dirinya dan Imel sedang berhubungan badan. Teman kakak nggak mau kalau sampai Imel menyebarkan video itu karena memang sebelumnya, itu cewek mengancam akan menyebarkannya, kalau temanku tidak memenuhi janjinya."


Aina dan Aini sama-sama terkejut. Keduanya tidak menyangka jika Imel akan seperti itu. Kakaknya juga lebih gila lagi dengan mempermainkan sebuah hubungan. Itu sama sekali bukan ajaran yang orang tua mereka berikan.


"Memang teman Kakak berjanji apa sama Imel sampai diancam begitu?" tanya Aini yang sangat penasaran dengan cerita teman kakaknta.


"Dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan Imel dan akan selalu memanjakannya."


"Astaghfirullah," sahut Aina dengan menggelengkan kepalanya."


"Si Imel beneran tidak tahu diri, bagaimana bisa ada gadis seperti itu," timpal Aini.


.


.

__ADS_1


__ADS_2