Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
230. Zea


__ADS_3

Suara tangis bayi menggema di ruang bersalin. Setetes air mata membasahi pipi pasangan suami istri itu. Hanya mereka berdua yang ada di rumah sakit dan saling menguatkan. Siapa lagi kalau bukan Hanif dan Kinan. Keluarga tidak ada yang tahu jika mereka saat ini ada di rumah sakit.


Apalagi dengan Kinan yang baru saja melewati masa persalinan. Nanti saat mereka tahu, pasti akan marah besar. Namun, Hanif bersyukur, semuanya terlewati dengan baik dan cepat. Tadinya mereka mau ke rumah Mama Aisyah, tetapi di perjalanan Kinan merasakan perutnya yang mulas.


Hanya mulas beberapa detik kemudian tidak lagi dan mulas kembali. Begitu seterusnya, hingga lama-lama membuat Kinan tidak tahan. Hanif membawa sang istri ke rumah sakit tempat wanita itu biasanya periksa. Keduanya yakin pasti dokter yang menangani wanita itu, lebih tahu tentang keadaan istrinya daripada dokter lain.


Saat diperiksa, memang sudah waktunya melahirkan. Dokter menyarankan agar Kinan berjalan di sekitar, itu untuk mempercepat pembukaan. Memang benar tidak sampai satu jam, bayi mereka yang berjenis kelamin perempuan akhirnya lahir juga. Hanif juga tidak memberi kabar pada keluarganya, takut akan semakin membuat mereka khawatir.


Apalagi Mama Aida yang selalu saja heboh dengan apa pun, yang terjadi pada anak dan menantunya. Untung saja Kinan dalam keadaan baik-baik saja, begitu juga anak mereka. Hanif memeluk sang istri dengan begitu erat. Dia bangga pada wanita itu karena mampu melewati semua ini dengan baik.


Melihat perjuangan Kinan yang begitu luar biasa, membuat pria itu jadi merasa bersalah pada Mama Aida. Selama ini kadang dia suka membantah apa yang diperintahkan mamanya itu. Sekarang Hanif bisa melihat sendiri, bahwa melahirkan benar-benar mempertaruhkan nyawa. Salah sedikit saja, nyawa bisa melayang.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak," bisik Hanif dengan pelan, diiringi air mata yang mengalir.


Kinan hanya mengangguk kecil, tanpa bisa berkata apa pun, tenggorokannya seolah tercekat. Dia begitu terharu, hingga tidak bisa berkata apa pun.


"Pak, ini ada anaknya silakan di azani," ucap seorang perawat wanita pada Hanif.


Pria itu pun mengurai pelukannya pada sang istri. Hanif menerima bayi kecil dengan air mata yang masih terus menetes. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan menggendong bayi yang begitu kecil ini. Pria itu mengazani putrinya di telinga kanan dan Iqamah di telinga kiri.


Hanif merasa bahagia. Dia tidak menyangka bisa melewati semua ini dengan mudah. Padahal pria itu banyak mendengar dari luar tentang proses melahirkan yang begitu sulit. Namun, itu tidak dialami Kinan. Sungguh Hanif sangat bersyukur untuk itu.


"Sayang, lihat bayi kita. Dia sangat cantik, sama seperti kamu," ucap Hanif yang mendekatkan putrinya ke arah sang istri. Kinan juga ikut tersenyum melihatnya.


"Iya, Mas. Dia sangat cantik. Pasti nanti dia mengalahkan kecantikan aku, ya!" sahut Kinan dengan nada bercanda. Keduanya terkekeh bersama.


"Maaf, Bu. Mari saya bantu untuk inisiasi menyusui dini!" ucap dokter yang tadi membantu persalinan Kinan.

__ADS_1


Hanif pun menyerahkan kembali putrinya pada dokter. Dia membiarkan dokter tersebut membantu Kinan untuk prosesi IMD. Pria itu hanya melihatnya, tanpa mau berkomentar. Hanif begitu senang bisa merasakan setiap proses saat sang istri menjalani persalinan.


Setelah istrinya melahirkan, ternyata perjuangannya belum selesai. Bahkan mungkin tidak akan pernah selesai. Sekarang menyusui, nanti pasti akan ada lagi, lagi dan lagi. Nanti saat anaknya sudah menikah, barulah tugasnya selesai. Bahkan terkadang beberapa anak juga, masih membutuhkan orang tuanya meski ada suami di dekatnya.


Peranan orang tua memang tidak pernah tergantikan oleh apa pun. Begitu juga Hanif yang selalu membutuhkan Mama Aida dan Papa Wisnu meski sudah memiliki istri.


Hanif teringat dengan keluarganya. Pria itu pun pamit untuk keluar. Dia akan menghubungi keluarga dan juga mertuanya. Pasti nanti dirinya akan mendapat omelan yang panjang karena tidak, memberi kabar saat Kinan merasakan sakit. Justru memberi kabar saat anaknya sudah lahir.


Pria itu sudah siap jika harus mendapat omelan dari para orang tua. Biarlah seperti itu karena memang dirinya yang bersalah. Yang terpenting bagi Hanif saat ini adalah Kinan dan putrinya selamat dan dalam keadaan sehat. Semoga seterusnya juga seperti itu.


Setelah beberapa menit, Kinan dipindahkan ke ruang rawat inap, sementara bayinya masih dalam pantauan dokter. Bayi mereka berada di ruangan bayi. Besok baru bisa berkumpul dengan orang tuanya, itu pun setelah dokter menyatakan keadaannya sehat.


"Kamu sudah memberitahu keluarga, Mas?” tanya Kinan dengan suara lemahnya.


"Sudah, baru saja. Kamu pasti tahu bagaimana reaksi mereka. Kamu tunggu saja nanti," jawab Hanif membuat Kinan tersenyum.


Hanif duduk di samping ranjang sang istri. Pria itu menggenggam telapak tangan wanita, yang sudah melahirkan seorang putri untuknya. Dia benar-benar bahagia hari ini.


"Terima kasih kamu sudah berjuang sampai sejauh ini. Jujur aku sangat bangga sama kamu. Awalnya aku ragu kalau kamu bisa melewati proses melahirkan seperti ini. Apalagi saat aku tahu jika melahirkan itu rasanya begitu sakit. Di situ aku tidak yakin dengan kamu, tapi apa pun itu aku akan selalu mendukungmu. Ternyata aku salah, kamu wanita yang hebat, sangat sangat hebat. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, untuk menggambarkan bagaimana rasa kagumku kepadamu."


Hanif mencium tangan sang istri dengan air mata yang menetes. Kinan pun juga ikut menangis. Jangankan orang lain, dirinya saja tidak pernah percaya, kalau dia bisa melewati persalinan dengan begitu mudah. Padahal sebelumnya wanita itu merasa takut menjalani prosesnya.


Apalagi saat mendengar cerita persalinan Zayna yang sebelumnya. Itu sudah membuat dirinya begitu takut. Sebisa mungkin dia menetapkan hatinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya semua memang seperti apa yang wanita itu yakini, semua berjalan dengan lancar meski awalnya terasa sulit.


"Mas, ingat janji kita, kalau kita tidak akan membedakan antara Adam dan putri kita. Keduanya sama-sama anak kita, tidak ada perbedaan," ucap Kinan yang tiba-tiba teringat putranya.


"Tentu saja, aku sudah mengatakan sebelumnya, bahwa Adam adalah anak pertama kita dan putri kita adalah anak kedua. Ngomong-ngomong, apa kamu sudah menemukan nama yang cocok untuk putri kita? Beberapa hari yang lalu, kita sudah memikirkan beberapa nama, apa kamu sudah menentukan, mau pilih yang mana?”

__ADS_1


"Sudah, Zea Sadiya Arkham.”


Hanif mengucapkan kembali nama putrinya. "Bagus! Aku setuju saja dengan nama pilihan kamu. Panggilannya siapa, Sayang?"


"Zea."


Hanif Meminta sang istri untuk istirahat. Terlihat wajah wanita itu yang sangat lelah. Tadi dokter juga sudah meminta Kinan untuk tidur dulu. Nanti akan ada perawat yang membantunya memberi ASI.


Tidak berapa lama, rombongan para orang tua akhirnya datang juga. Hanif memilih mundur dan duduk di sofa. Tentu saja pria itu tidak lepas dari omelan Mama Aida dan Mama Aisyah. Keduanya menyalahkan Hanif karena dianggap sudah bertindak seenaknya saja.


Bahkan sampai tidak memberi kabar. Padahal semuanya juga permintaan Kinan yang tidak ingin merepotkan para orang tua. Mereka sudah cukup dengan pemikiran masalah sehari-hari. Tidak usah direpotkan dengan keadaan dirinya, yang sebenarnya baik-baik saja.


"Sekarang di mana anak kamu? Kenapa tidak ada di sini?" tanya Mama Aida sambil melihat ke sekeliling.


"Sekarang masih dalam pantauan dokter, Ma. Jadi ditaruh di ruangan bayi, besok baru bisa dibawa ke sini. Nanti juga ada perawat yang datang dengan membawa baby ke sini, untuk membantuku memberi ASI," jawab Kinan. Sebenarnya dia juga merasa kasihan pada sang suami, yang sedari tadi disalahkan terus-menerus.


"Ruangannya ada di mana? Mama ingin lihat."


"Ada di ujung, Ma, tapi nggak boleh masuk, cuma bisa lihat dari jendela saja," jawab Hanif yang kembali mendapat omelan.


"Ini semua karena kamu! Coba saja kamu bilang sama Mama dari tadi, pasti Mama juga bisa melihat cucu Mama. Kalau sudah seperti ini, cuma bisa lihat dari jauh saja," gerutu Mama Aida yang kemudian keluar dari ruangan, diikuti oleh semuanya.


Hanif hanya bisa menghela napas kasar, saat melihat kedua orang tua dan mertuanya keluar dari ruangan. Kinan tersenyum melihat sang suami yang tengah frustrasi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2