
Setelah seharian Kinan dan Adam berkunjung ke rumah Mama Aisyah, sore hari keduanya pamit untuk pulang. Kinan tidak mau suaminya lebih dulu sampai di rumah, sebelum dirinya datang. Hanif memang tidak mempermasalahkannya, tetapi dirinya yang merasa tidak enak.
Mama Aisyah sempat meminta di putrinya untuk pulang malam hari saja. Namun, Kinan menolak karena dia masih memilih tanggung jawab pada sang suami. Wanita paruh baya itu pun tidak memaksa karena mengerti keadaan sang putri
"Adam, kamu mau beli sesuatu sebelum pulang?" tanya Kinan saat dirinya dan Adam sedang dalam perjalanan pulang.
Meski dirinya sudah tahu nama asli anak itu, tetapi nama Adam lebih nyaman untuknya. Aldo juga tidak keberatan dipanggil dengan nama itu. Baginya, asal bersama dengan orang-orang baik seperti mereka itu sudah cukup.
"Aku lagi nggak pengen apa-apa, Tante."
"Kita beli kue saja, ya! Nanti buat cemilan di rumah."
"Terserah tante saja."
Kinan pun memutar setir menuju toko kue yang biasa tempat dia beli. Tampak toko tersebut sangat ramai. Di sana memang tidak diragukan lagi rasanya. Karena itu, banyak sekali pembeli yang sering datang.
Wanita itu memilih beberapa kue, pelayan pun melayaninya dengan sangat baik. Adam hanya mengikutinya dalam diam. Anak itu tidak terlalu pemilih soal makanan jadi, apa pun itu pasti diterima saja.
"Kinan, kamu ke sini juga?" sapa seorang pria.
Kinan pun menoleh, ternyata ada Niko di sana bersama dengan seorang gadis, entah siapa itu. Mungkin kekasih barunya. Sebenarnya dia terlalu malas meladeninya, tetapi rasanya tidak enak mengacuhkan pria itu di depan umum. Apalagi sekarang Niko bersama dengan seseorang.
"Oh iya," jawab Kinan sambil melihat ke arah wanita yang ada di samping Niko.
Terlihat dari sikapnya, wanita itu terlihat begitu sombong. Dia tidak mengenalnya, entah dia satu kampus dengan dirinya atau tidak. Kinan juga tidak begitu mengenal penghuni kampus.
"Oh ya, Kinan, kenalin ini Felly. Dia mahasiswa paling populer di kampus kita, pasti kamu sudah mengenalnya, kan?" ucap Niko membuat Kinan mengerutkan keningnya.
"Maaf, tapi aku tidak mengenalnya," sahut Kinan dengan tersenyum, tetapi bagi wanita itu ucapan Kinan seperti penghinaan baginya.
__ADS_1
"Kamu sombong sekali tidak mengenaliku. Satu kampus saja sudah tahu siapa aku. Jangan-jangan kamu saja yang tidak gaul, sampai-sampai tidak tahu apa-apa tentang dunia kampus," sahut Felly dengan ketus.
"Maaf, tapi saya memang tidak tertarik dengan dunia kampus yang kamu maksud itu. Saya pergi ke sana untuk menimba ilmu jadi, saya juga tidak begitu mengenali siapa saja yang kuliah di sana, kecuali memang satu kelas sama aku." Kinan menjawab dengan tenang.
Dia tidak mau terpancing emosi karena ucapan dari wanita itu. Sudah terlalu banyak orang seperti Felly ini di sekitarnya. Namun, Kinan tidak mau ambil pusing. Baginya yang penting dia bisa bahagia bersama dengan keluarga. Terserah orang lain mau apa.
"Kinan, kamu jangan begitu! Kalau kamu kenal, bilang saja kenal. Tidak usah pura-pura tidak mengenalnya," sela Niko yang sepertinya tidak suka dengan jawaban Kinan.
Pria itu merasa tidak enak pada Felly karena wanita itu selalu merasa di atas segalanya. Felly memang terkenal. Kinan saja yang jarang mau meluangkan waktu di saat ada jam istirahat. Dia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain, daripada harus bersantai-santai di kampus dan bergosip yang tidak penting.
Ada kalanya wanita itu juga bergabung dengan teman-teman lainnya, saat mereka mulai bergosip, Kinan lebih memilih pergi. Dia lebih suka bercanda atau membahas dirinya masing-masing daripada harus membicarakan orang lain.
"Maaf, Niko, tapi aku rasa itu tidaklah terlalu penting untukku, mengetahui siapa dia. Kenapa kamu memaksa aku untuk mengenalinya? Padahal aku benar-benar tidak kenal siapa dia."
"Kamu sombong sekali, sampai tidak kenal siapa aku!" seru Felly.
"Maaf, Nona. Saya rasa itu tidak penting dan saya ucapkan selamat atas kedekatan kalian. Semoga di saat nanti salah satu diantara kalian ada masalah, kalian bisa selalu saling mendukung. Saya sudah selesai dengan tujuan saya datang ke toko ini jadi, saya mohon pamit tidak bisa melayani pembicaraan kalian, permisi! Ayo Adam."
Felly dan Niko memandangi kepergian Kinan dan anak kecil. "Dia siapa sih, Niko? Sombong sekali, masa nggak kenal sama aku? Aku mahasiswa paling terkenal di kampus."
"Memang kamu nggak kenal juga sama Kinan? Dia itu istrinya Pak Hanif," jawab Niko sekaligus bertanya.
"Oh, jadi dia istrinya pak Hanif dan juga mantan kamu itu? Dia yang selama ini dibicarakan orang-orang? Aku memang tidak mengenalinya, baru hari ini aku bertemu dengannya. Kita 'kan memang beda fakultas. Kelas kami juga sangat jauh jadi, kami tidak pernah bertemu."
"Pantas saja Kinan tidak kenal sama kamu," ucap Niko yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.
Dalam hati Felly mengagumi Kinan karena mampu menaklukkan dosen yang selama ini terkenal sangat kaku. Dia juga tidak begitu kenal dengan Hanif. Namun, siapa yang tidak mengenal pria itu. Seluruh kampus sangat tahu meski tidak pernah dibimbing olehnya.
Sementara itu, Kinan melajukan mobilnya untuk segera pulang. Sebentar lagi Hanif pasti sampai di rumah, sedangkan dirinya masih ada di jalan. Padahal dia sudah berusaha untuk cepat pulang.
__ADS_1
"Yang tadi itu siapa, Tante? Temannya Tante di sekolah?" tanya Adam.
"Iya, mereka teman Tante di kampus."
"Tapi sepertinya mereka orang jahat. Mereka bicaranya tidak sopan seperti itu."
Kinan tersenyum ke arah Adam sejenak. Anak-anak memang selalu menanyakan apa yang mereka lihat secara spontan. Akan tetapi, Wanita itu tidak ingin Adam meniru hal yang tidak baik.
"Memang sudah banyak orang yang seperti itu, tapi Adam tidak boleh mencontohnya. Adam harus tetap menghormati orang yang lebih tua, maupun yang muda. Adam juga harus berbicara yang sopan."
"Iya, Tante. Saya akan selalu sopan agar tidak membuat Tante malu."
"Tante tidak pernah malu dengan apa pun yang kamu lakukan. Asal masih dalam batas yang wajar. Kamu anak yang baik, pasti mengerti maksud Tante, kan?"
"Iya, Tante."
Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai Kinan memasuki halaman rumah. Belum tampak kehadiran Hanif di sana. Sepertinya pria itu belum pulang. Kinan dan Adam pun turun dari mobil. Tidak lupa membawa kue yang dibeli tadi.
Baru saja keduanya akan memasuki rumah, tampak mobil Hanif memasuki halaman rumah. Kinan pun tersenyum melihat sang suami.
"Assalamualaikum, kalian dari mana ini?" tanya Hanif yang baru saja turun dari mobil.
"Waalaikumsalam, Mas. Kami dari rumah Mama Aisyah, habis jenguk Baby Ars. Kemarin aku belum sempat jenguk dia," jawab Kinan sambil mencium punggung tangan pria itu, diikuti oleh Adam.
"Baby Ars sakit? Aku nggak tahu, kamu juga nggak bilang."
"Cuma demam saja. Nggak apa-apa, kok! Wajar anak kecil seperti itu."
Hanif mengangguk dan mengajak Kinan dan Adam masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
.
.