Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
59. Tidur di rumah sakit


__ADS_3

Melihat keterdiaman sang istri, Fahri pun mengangkat bahunya. Dia mengira Zanita merenungi kesalahannya. Padahal wanita itu sedang mengingat apa saja yang sudah dilakukan papanya untuk membela Zayna. Terlebih kemarin Mama Savina juga ikut membela kakaknya dan itu semakin membuat hatinya terluka. Sebagai anak yang selalu dimanja dia tidak terima karena merasa kalah dengan kakaknya.


"Kita beli makanan dulu. Pasti orang-orang yang di rumah sakit juga perlu makanan. Apa mereka mengabari kamu bagaimana keadaan papa?" tanya Fahri setelah diam beberapa menit terdiam.


"Tidak ada, tadi hanya Zivana yang mengatakan, kalau dia sudah ada di Rumah sakit bersama Mama."


"Apa Zayna dan suaminya ada di sana juga?"


"Iya, kata Zivana, kemungkinan Zayna ada di tempat kejadian karena baju yang dipakainya penuh dengan noda darah," jawab Zanita sambil melirik ke arah sang suami.


Diam-diam Fahri tersenyum, membuat Zanita berdecih. Wanita itu sangat tahu otak sang suami. Sebagai seorang istri, tentu saja dia merasa sakit hati atas apa yang pria itu lakukan. Akan tetapi, Zanita tidak ingin memperlihatkannya. Saat ini dalam pikirannya adalah bagaimana keadaan papanya dan bagaimana cara membuat Ayman bisa menjadi miliknya.


Dia hanya ingin bahagia. Seandainya Fahri dan keluarganya bisa memperlakukan wanita itu dengan baik, tentu saja Zanita tidak akan mencari kebahagiaan lain. Dia juga ingin memiliki keluarga yang sehat, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Tidak seperti sekarang yang selalu ditentang siapa pun.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Keduanya menyusuri lorong menuju ruang ICU, di mana Papa Rahmat berada. Fahri sempat bertanya pada beberapa perawat yang ditemuinya. Hingga akhirnya mereka sampai.


"Mama!" panggil Zanita.


"Kalian sudah sampai?" tanya Savina.


"Bagaimana keadaan papa?" tanya Fahri sambil melihat sekeliling. Tidak tampak Zayna di sana. Hanya ada Mama Savina, Zivana dan Ayman yang sibuk memainkan ponselnya.


"Keadaan papa masih kritis," jawab Savina dengan wajah sendunya.


"Apa aku boleh melihat keadaan papa, Ma?" tanya Zanita.

__ADS_1


"Di dalam ada Zayna. Dokter melarang terlalu banyak orang yang menjenguk."


"Oh ya, Ma. Ini saya tadi belikan makanan. Mama pasti belum makan, sebaiknya Mama makan dulu. Kita semua harus menjaga kesehatan." Fahri menyerahkan sekantong kresek makanan yang dia beli di jalan tadi.


Zanita meraihnya dan memberikan pada mamanya dan juga Zivana. Tidak lupa juga wanita itu memberikan pada Ayman. Pria itu menerima sekotak makanan tanpa melihat adik iparnya. Dia tidak ingin berbaik hati pada Zanita yang akan membuat wanita itu besar kepala. Dia sangat tahu apa yang diinginkan adik iparnya karena itu tidak ada celah untuknya.


Pintu ruangan terbuka, tampak Zayna yang keluar dari ruangan dengan mata yang sembab. Sudah pasti wanita itu menangis di sana. Ayman mendekati sang istri dan membawanya untuk duduk di kursi. Pria itu berusaha menegakkan Zayna. Dia tidak ingin istrinya terpuruk.


"Sayang, kamu makan dulu, ya! Ini tadi Zanita yang beliin di jalan sebelum ke sini." Ayman menyerahkan satu kotak makanan. Namun, Zayna menggeleng. Dia tidak berselera makan.


"Jangan seperti ini. Kamu harus tetap makan agar kamu tetap sehat dan bisa menjaga papa. Kalau kamu sakit, kamu tidak akan bisa menjaga papa. Ayo, makan!" ucap Ayman sambil menyendokkan nasi ke depan mulut Zayna.


Wanita itu menatap sang suami sejenak dan berpikir, benar apa yang dikatakan Ayman. Dia harus tetap sehat agar bisa menjaga papanya. Zayna pun membuka mulut dan suaminya yang menyuapi. Pria itu merasa lega karena sang istri mau makan. Dia tidak ingin Zayna sakit.


Setelah semua orang selesai makan, Zanita dan Fahri pamit untuk pulang. Di rumah sakit juga tidak ada yang bisa mereka lakukan. Semua urusan sudah di selesaikan oleh Ayman. Besok mereka akan datang lagi untuk melihat keadaan Papa Rahmat.


"Ma, sebaiknya Mama juga pulang sama Zivana. Biar aku yang jaga Papa," ucap Zayna.


"Tidak perlu, kamu saja yang pulang. Mama mau di sini," sahut Savina yang memejamkan mata sambil bersandar.


"Tapi Mama terlihat lelah. Aku tidak apa-apa di sini ada Mas Ayman. Sebaiknya Mama jaga kesehatan. Nanti malah Mama sakit dan nggak bisa jaga papa."


"Iya, Ma. Benar kata Kak Zayna, sebaiknya kita pulang dulu. Dari tadi juga Mama ngeluh sakit kepala," sela Zivana.


"Mama sakit kepala? Sebaiknya Mama segera pulang saja dan istirahat di rumah. Besok pagi Mama ke sini lagi," ujar Zayna.

__ADS_1


Savina terdiam sejenak. Dia memang merasa sakit kepala dari tadi. Namun, wanita itu mencoba menahannya karena ingin tetap di dekat sang suami. Kalau terus ditahan bisa-bisa Savina akan jatuh sakit jadi, lebih baik dia pulang saja.


Besok wanita itu akan datang lagi. Selain untuk melihat keadaan sang suami, Savina juga masih penasaran mengenai penyebab Papa Rahmat kecelakaan. Dia yakin jika Zayna terlibat di dalamnya. Jika itu sampai terjadi, Savina akan melakukan sesuatu.


"Baiklah, Mama pulang dulu. Nanti kalau ada kabar mengenai keadaan papa, kamu harus secepatnya menghubungi Mama."


"Iya, Ma. Aku pasti akan menghubungi Mama, apa pun yang terjadi," sahut Zayna.


Savina dan Zivana pun akhirnya pulang. Sementara itu, Zayna tetap menunggu di rumah sakit bersama dengan sang suami. Dia tidak ingin meninggalkan papanya yang masih dalam keadaan kritis. Wanita itu takut dirinya saat pergi, terjadi sesuatu pada papanya.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat juga. Kamu juga perlu istirahat, jangan biarkan tubuh kamu sakit. Aku sudah menyewa ruangan di sebelah. Kita bisa istirahat di sana. Nanti pasti ada perawat yang memberitahu jika ada sesuatu. Aku tadi juga sudah bilang sama dokter."


"Aku pasti nggak bisa tidur, Mas. Aku masih kepikiran keadaan papa."


"Iya, aku tahu, tapi setidaknya kamu membaringkan tubuh kamu. Tubuh kamu bukan robot yang tidak mengenal lelah. Ayo, aku temani kamu istirahat!" ajak Ayman dengan merangkul bahu istrinya.


Zayna menuruti keinginan sang suami dia juga tidak ingin membuat Ayman khawatir. Keduanya memasuki ruangan. Wanita itu membaringkan tubuhnya yang lelah diikuti sang suami. Pria itu mencoba sebaik mungkin agar istrinya nyaman. Tidak peduli bagaimana caranya, dia akan melakukan semua demi Zayna.


"Tadi pagi Mama Aisyah telepon, katanya aku diminta pulang. Mama bilang di rumah nggak ada temen," ujar Zayna mencoba untuk bicara. Dia juga belum mengantuk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2