Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
86. Ke kantor suami


__ADS_3

Setelah mengantar Mama Aisyah pulang, Zayna berencana pergi ke kantor Ayman. Dia ingin memberitahu sang suami sekarang juga. Kejutan yang wanita itu rencanakan tidak jadi. Zayna ingin pria itu mengetahui kehamilannya setelah sang mertua. Dia tidak ingin Ayman kecewa karena menjadi orang terakhir yang tahu.


Baru kali ini wanita itu datang ke kantor sang suami. Tidak banyak yang kenal dengan dirinya, kecuali beberapa orang saja yang datang saat pernikahannya waktu itu


Begitu turun dari taksi Zayna menuju meja resepsionis. Tidak dipungkiri dia merasa deg-degan menanti reaksi sang suami. Wanita itu takut jika Ayman tidak bisa menerima anaknya. Padahal pria itu pernah mengatakan jika dirinya juga ingin memiliki anak.


"Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Ayman," ucap Zayna pada wanita yang berada di meja resepsionis.


"Apa Anda sudah membuat janji?"


"Belum. Memangnya harus membuat janji dulu, Mbak?"


"Jika menemui Pak Ayman, harus membuat janji dulu, Bu. Setiap yang datang menemui siapa pun petinggi di kantor ini memang harus membuat janji. Tidak sembarangan orang bisa masuk."


"Tapi saya ingin bertemu dengan Mas Ayman sekarang juga. Ada hal penting yang ingin saya katakan padanya."


"Mohon maaf, Bu. Sebaiknya Anda menunggu saat istirahat, jika memang Anda benar-benar ingin bertemu dengan Pak Ayman."


"Itu pasti akan lama, Mbak. Saya ada perlunya sekarang!"


"Maaf, Bu. Saya hanya melakukan tugas saya saja."


Zayna tertunduk lesu. Haruskah dia pulang dan menunggu Ayman di rumah? Itu berarti sang suami akan menjadi orang terakhir yang tahu dan wanita itu tidak mau. Dia pun mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya. Namun, ponsel pria itu tidak aktif. Ingin sekali Zayna marah karena disaat seperti ini justru Ayman mematikan ponselnya.


Wanita itu mencoba cara lain dengan menghubungi Ilham. Berharap asisten suaminya mau membantu. Panggilan pertama, tidak diangkat oleh pria itu. Namun dia tidak menyerah, Zayna menekan tombol memanggil kembali dan akhirnya diangkat juga.


"Halo, assalamualaikum," ucap Ilham yang berada di seberang.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Maaf, Kak Ilham. Bolehkah saya bertemu dengan Mas Ayman. Kata mbak resepsionisnya, saya harus membuat janji dulu sebelum bertemu dengan Mas Ayman, jadi saya menghubungi Kak Ilham."


Wanita yang ada di depan Zayna mendengar nama Ilham disebut, langsung saja kelabakan. Dia takut jika orang terpandang nomor dua di perusahaan ini akan memecatnya.


"Nyonya, ada di bawah? Kalau begitu tunggu sebentar saya akan ke bawah," ucap Ilham yang segera menutup panggilan dan menuju lantai bawah.


Sementara itu, Zayna dibuat kesal karena Ilham mematikan sambungan begitu saja, tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Akan tetapi, itu tidak masalah. Dia akan menunggu asisten suaminya itu di sini.


"Maaf, Bu. Saya tadi tidak ada niat apa pun untuk melarang Anda. Saya hanya menjalankan tugas," ucap resepsionis tadi.


"Iya, Mbak. Saya mengerti jika Itu memang pekerjaan, Mbak, jadi tidak usah merasa bersalah."


Zayna memang tidak mempermasalahkan sikap resepsionis tadi. Menurutnya wanita tadi masih bersikap normal. Tidak berapa lama, Ilham datang dengan sedikit berlari.


"Maaf, Nyonya. Saya terlambat," ucap Ilham dengan sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Zayna.


"Tidak apa-apa, Kak Ilham. Apa Mas Ayman sangat sibuk? Tadi aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif."


"Pak Ayman memang ada beberapa pekerjaan, tapi tidak begitu sibuk juga. Hari ini juga beliau tidak ada meeting apa pun. Mari, saya antar ke ruangan Pak Ayman!"


"Terima kasih," ucap Zayna yang kemudian mengikuti langkah pria itu.


Keduanya menaiki lift khusus, semua orang memperhatikan di sepanjang jalan. Zayna sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu sejak menjadi Nyonya Ayman. Dia melangkah dengan percaya diri mengikuti langkah asisten suaminya.


"Sepertinya ada sesuatu yang penting, hingga membuat Anda datang ke sini secara langsung. Padahal sebelumnya, Pak Ayman pernah mengajak Anda, tapi Anda menolak." Ilham mencoba mencari tahu.


"Kak Ilham pandai sekali dalam menembak sesuatu. Memang benar, sih, Ada sesuatu yang penting dan aku ingin membicarakan dengan Mas Ayman secara langsung. Aku sudah tidak sabar ingin bicara dengannya," jawab Zayna dengan tersenyum.

__ADS_1


Melihat senyum di wajah istri atasannya, tanpa sadar membuat Ilham juga ikut tersenyum. Dia yakin jika apa yang ingin dibicarakan Zayna pasti mengenai berita bahagia. Semoga memang seperti itu. Jujur pria itu juga senang saat melihat keluarga Ayman bahagia.


"Silakan, ini ruangan Pak Ayman," ucap Ilham sambil menunjuk ruangan yang ada di depannya.


Zayna mengerutkan kening saat melihat seorang wanita duduk di meja depan ruangan Ayman. Bukankah suaminya pernah mengatakan jika sekretarisnya adalah Ilham, tetapi kenapa sekarang ada seorang wanita di sana? Dia yakin jika wanita itu pasti bekerja di bawah perintah Ayman karena mejanya tepat berada di depan ruangan sang suami.


"Dia siapa, Kak Ilham?" tanya Zayna dengan menatap wanita itu.


"Dia sekretaris baru, Nyonya. Sudah dua bulan dia bekerja," jawab Ilham yang merasakan pandangan tidak suka dari Zayna.


Wanita yang katanya sekretaris Ayman pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Zayna juga ikut mengangguk dan berbalik menuju ruangan sang suami. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, membuat Ilham yang berada di belakangnya menghela napas. Sudah pasti akan ada pertengkaran nanti.


Padahal sebelumnya pria itu sudah bisa membayangkan betapa bahagianya Ayman, mendengar berita bahagia yang akan disampaikan oleh Zayna, tetapi sekarang sepertinya akan ada pertikaian sebelum berita bahagia tersampaikan. Sementara itu, Ayman yang berada di ruangannya hampir saja memarahi orang yang masuk tanpa mengetuk pintu. Untung saja kata-kata itu tidak keluar begitu saja. Jika sampai terucap, sudah pasti istrinya akan marah.


"Sayang, kamu ke sini nggak bilang-bilang?" tanya Ayman sambil berjalan mendekati sang istri.


"Siapa bilang? Aku dari tadi hubungin kamu, tapi ponsel suamiku yang nggak aktif. Ternyata dia di sini sedang asyik menikmati pemandangan yang indah," sindir Zayna membuat Ayman terbengong.


Pria itu sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya. Dari tadi dia sibuk dengan pekerjaan, lalu pemandangan apa yang dimaksud oleh Zayna? Ayman sama sekali tidak tahu apa kesalahannya. Istrinya benar-benar menguji kesabarannya.


"Sayang, apa maksud kamu? Pemandangan apa? Aku sama sekali tidak mengerti."


"Pura-pura tidak mengerti. Tentu saja pemandangan yang ada di depan ruanganmu, pemandangan apa lagi?" sahut Zayna dengan ketus.


"Pemandangan di depan ruanganku? Memang di depan ruanganku ada pemandangan?" tanya Ayman membuat Zayna semakin kesal.


.

__ADS_1


.


__ADS_2