Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
328. S2 - SELESAI


__ADS_3

Aina yang mengerti pun hanya mengangguk. Dia juga tidak mungkin memaksakan kehendak pada sang suami karena dirinya juga tidak suka dipaksa.


Sepanjang perjalanan, ada banyak hal yang Aina tanyakan pada sang suami. Ali pun dengan senang hati menjawabnya. Mereka berbincang hingga tidak terasa akhirnya sampai di tempat tujuan. Keduanya turun saat sudah berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Namun, tetap kokoh berdiri tegak di sana.


"Nak Ali, baru datang! Ini istrinya, ya?" sapa seorang wanita yang ternyata adalah tetangga Ali.


"Iya, Bu Rahma. Ini istri saya, namanya Aina," jawab Ali dengan tersenyum.


Aina segera menjabat tangan Bu Rahma sambil tersenyum.


"Istri kamu cantik sekali, Nak Ali."


"Terima kasih, Bu. Ibu juga cantik."


"Bu Nur nggak ikut?"


"Tidak, Bu. Ibu sedang tidak enak badan jadi, nggak bisa ikut," jawab Ali karena memang ibunya tadi juga berkata seperti itu. Padahal sebenarnya beliau berbohong. "Ya sudah, Bu. Kami mau masuk dulu."


"Oh iya, silakan! Saya juga mau pamit." Bu Rahma pun pergi dari sana.


Ali dan Aina pun masuk ke dalam rumah, wanita itu melihat ke sekeliling rumah, tampak begitu rapi dan nyaman.


"Bagaimana, Dhek? Apa kamu nyaman di rumah ini?" tanya Ali begitu keduanya sampai di kamar.


"Tempatnya nyaman, kok, Mas. Aku sudah pernah bilang kalau di mana pun kita berada, asal bersama kamu aku akan selalu bahagia."


"Tapi di sini tidak ada AC." Ali khawatir jika Aina tidak betah karena kegerahan.


"Udara di sini dingin, Mas. Rasanya tidak masalah, kalau nanti kepanasan aku bisa pakai kipas."


Ali mengangguk dengan lega karena sang istri tidak terlalu menuntutnya. "Nanti sore kita ke makam ayah, sekarang istirahat dulu, masih sangat panas juga."

__ADS_1


"Iya, terserah kamu."


"Besok aku ajak kamu jalan-jalan ke kebun dan sawah, kamu mau, kan?"


Aina menganggu tanpa mengatakan satu kata pun. Tampak wajahnya begitu berbinar, dia senang jika sang suami mengajaknya ke kebun. Wanita itu memang sering pergi ke perkebunan, tetapi pasti rasanya akan berbeda dengan tempat yang dikunjungi saat study.


Sore hari seperti yang dikatakan Ali tadi siang, dia mengajak sang istri menuju taman pemakaman umum di desa itu. Suasana tampak sepi, hanya ada mereka berdua saja. Di desa ini biasanya ramai di hari Kamis dan Jumat.


"Assalamualaikum, Ayah. Aku datang ke sini membawa menantu Ayah. Maaf baru bisa datang sekarang karena aku juga ada pekerjaan di sana. Sekarang aku sudah tidak mengajar lagi. Aku kerja di sebuah perusahaan, Ayah. Doakan agar aku bisa amanah dengan pekerjaanku sekarang," ujar Ali yang kemudian menoleh ke arah istrinya dan menggenggam telapak tangan wanita itu. "Ayah, ini perkenalkan Aina, istriku yang akan menemani hari-hariku selanjutnya."


"Assalamualaikum, Ayah. Aku minta maaf baru bisa datang sekarang. Aku memang tidak mengenal Ayah, tapi aku yakin Ayah adalah pria yang baik karena Ayah memiliki putra sebaik Mas Ali. Doakan kami agar selalu bersama sampai maut memisahkan."


"Amin."


Ali memimpin doa, Aina yang ada di sampingnya pun ikut menadahkan tangan. Setelah itu keduanya pulang karena letak pemakaman yang terdekat dengan rumah warga, keduanya memilih berjalan kaki, sekaligus menyapa para warga. Sudah lama pria itu tidak bertemu orang-orang di sini. Aina juga senang karena warga terlihat begitu hangat.


Keesokan paginya, Ali mengajak istrinya jalan-jalan di kebun. Aina begitu senang saat melihat tanaman para warga yang terlihat begitu subur. Mereka juga mempersilahkan wanita itu jika mau memetik apa yang diinginkan. Tentu saja Aina merasa senang, dia meminta beberapa sayur dan juga buah yang ada.


Memetik sayuran secara langsung seperti ini membuat wanita itu bahagia, dia membayangkan rasanya pasti segar. Warga memperlakukan Aina dengan begitu baik, membuat wanita itu merasa terharu. Sebenarnya bukan hanya pada Aina. Mereka memperlakukan semua tamu seperti itu karena desa ini memang terkenal ramah.


"Iya, nanti lagi. Kita ke sana dulu, kamu pasti suka," jawab Ali dengan menarik tangan sang istri.


Meskipun tidak rela meninggalkan kesenangannya, Aina tetap mengikuti pria itu. Hingga sampailah keduanya di sebuah bukit yang cukup tinggi.


"Bagaimana, kamu suk" tanya Ali.


Dari atas bukit semuanya tampak begitu indah. Terlihat betapa luasnya sawah milik warga, serta kebun yang ditanami beberapa sayuran dan pemukiman warga yang padat penduduk.


"Indah sekali, Mas. Aku nggak nyangka ada pemandangan seperti ini. Di sini juga bisa melihat jelas apa saja yang dilakukan oleh semua orang!" seru Aina dengan mata berkaca-kaca.


Ali juga ikut senang melihat sang istri tersenyum. Pria itu memeluknya dari belakang, Aina sempat terkejut, tetapi setelah itu berusaha untuk terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Dulu aku sering ke tempat ini sendiri setiap kali aku dimarahin ayah. Aku pasti duduk di sini selama berjam-jam, merenungi apa kesalahanku dan itu berhasil. Setelah pulang aku menjadi lebih tenang dan bisa mengakui kesalahan kepada Ayah. Aku jadi merindukan masa-masa itu."


Aina mengangguk, dia melihat tangan yang melingkar di perutnya dan memberanikan diri untuk bertanya, "Mas, boleh nggak aku tanya sesuatu? Sejujurnya ini sangat mengganjal di hatiku sejak dulu. Aku ingin melepaskannya hari ini juga."


"Apa? Tanyakan saja jika aku tahu aku akan menjawabnya."


"Apa benar kamu pernah menyukai Kak Hira?"


Pelukan Ali mengendur, membuat Aina merasa sedih. Dia bisa meyakini jika apa yang dirinya rasakan itu ternyata benar. Firasatnya tentang suami kini nyata dan begitu menyakiti hatinya.


Pria itu membalikkan tubuh sang istri dan mendongakkan kepala wanita itu dengan tangannya. Terlihat mata Aina berkaca-kaca, membuat Ali merasa bersalah.


"Aku akui, dulu aku memang memiliki perasaan pada Ning Hira. Aku kagum padanya, sebagai seorang wanita dia sangat mandiri. Dia juga selalu menjaga pandangannya dari semua orang, itu saja. Aku hanya kagum pada dia. Saat dia menikah dengan Kak Arslan, aku memang masih menyimpan rasa untuknya, tapi semenjak aku mengucapkan ijab kabul atas namamu, aku sudah mengubur rasa itu. Yang aku tanamkan hanyalah namamu di hatiku. Seiring berjalannya waktu, tanpa aku sadari cinta itu tumbuh subur begitu saja. Kamu memberikan pupuk dan menyiraminya dengan cinta dan ketulusanmu jadi, sekarang jika kamu menanyakan bagaimana perasaanku, jawabannya adalah hanya ada kamu di dalam hatiku, tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada yang lain."


Air mata Aina akhirnya menetes, tenggorokannya terasa sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Sebisa mungkin dia bertanya untuk meyakinkan hatinya. "Sungguh, Mas? Tidak akan ada yang lain?"


"Tentu, hanya ada kamu sekarang, besok dan seterusnya."


"Terima kasih, Mas Ali. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu."


Aina segera memeluk sang suami dan menenggelamkan kepalanya di dada pria itu. Cinta bisa hadir seiring berjalannya waktu. Cinta juga tidak bisa dipaksakan, semuanya seperti air yang mengalir begitu saja.


.


.


SELESAI


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA


__ADS_2