
Tidak berapa lama akhirnya Rahmat beserta anak dan istrinya, sampai juga di rumah. Tampak beberapa orang berdiri di depan rumah keluarga Rahmat. Tentu saja membuat mereka kebingungan.
"Maaf, Bapak, Ibu, ada apa ini? Kenapa ada di depan rumah kami?" tanya Papa Rahmat yang baru saja turun dengan bantuan Ilham.
"Pak Rahmat, pura-pura saja tidak tahu. Anak Pak Rahmat itu benar-benar sudah membuat malu kompleks kita saja. Bagaimana bisa dia hamil? Padahal dia belum punya suami!" seru seorang wanita di sana yang membuat Papa Rahmat heran.
Siapa yang dimaksud ibu itu? Putrinya yang belum menikah hanyalah Zivana, tetapi tidak mungkin gadis itu hamil. Selama ini putrinya tidak dekat dengan pria manapun. Apalagi sampai memiliki kekasih.
"Maaf, Bu. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Ibu katakan. Tolong bisa diperjelas maksud kata-kata Anda? Anak saya yang mana?" tanya Papa Rahmat.
"Pak Rahmat ini pura-pura bod*h atau benar-benar bod*h. Siapa lagi anak Anda yang belum menikah, tentu saja Zivana. Dia tadi ditemukan pingsan di ujung jalan. Para warga membawanya ke klinik dan ternyata dia sedang hamil."
Pak Rahmat begitu syok. Dia sampai memegangi dadanya yang terasa nyeri. Zayna yang panik pun mencoba menenangkan papanya. Wanita itu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada papanya. Baru saja pria itu keluar dari rumah sakit, tubuhnya belum sehat benar.
"Papa tenang dulu. Kita coba tanyakan nanti sama Zivana. Jangan terbawa emosi. Semua masalah tidak akan selesai hanya dengan marah-marah," ucap Zayna sambil mengusap punggung papanya.
Mama Savina yang berada di belakang Papa Rahmat pun, tidak kalah terkejutnya. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Belum selesai masalah Zanita, kini Zivana juga membuat ulah yang sangat mempermalukan keluarga. Entah apa yang harus dilakukan wanita paruh baya itu pada anak-anaknya.
"Bapak, Ibu sekalian, terima kasih sudah menolong adik saya, tapi kami mohon maaf. Bisakah kami mohon waktu sebentar saja untuk bicara secara keluarga!" pinta Zayna.
Semua orang tampak saling lirik, seolah bertanya boleh apa tidak? Akhirnya mereka pun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Kalau sudah selesai berdiskusi, harap Neng Zayna atau salah satu keluarga datang ke rumah Pak RT untuk menjelaskan semuanya," ucap salah seorang dari mereka.
"Iya, Pak. Nanti saya akan datang ke sana, terima kasih atas pengertiannya."
Para warga pun mulai meninggalkan rumah keluarga Pak Rahmat. Zayna merasa lega karena mereka mau mendengarkan apa yang dia inginkan. Papa Rahmat yang sudah dikuasai emosi pun segera mendorong kursi rodanya ke dalam rumah. Dia berteriak memanggil nama Zivana.
Mama Savina yang terkejut pun segera berlari mengikuti sang suami. Takut jika pria itu melakukan sesuatu yang menyakiti putrinya. Meski dia tahu jika Zivana bersalah, tetap saja wanita itu tidak rela putrinya disakiti. Begitupun dengan Zayna yang ikut berlari mengikuti Papa Rahmat.
"Zivana! Kamu ada di mana? Keluar kamu!" teriak Papa Rahmat.
"Papa, tenang dulu. Jangan emosi begini. Ini semua bisa dibicarakan dengan baik-baik," sela Zayna.
__ADS_1
"Dia sudah membuat malu Papa. Mau taruh di mana muka papa. Selama ini apa pun permintaan mereka, selalu Papa turutin. Sekarang kenapa anak-anak Papa semuanya jadi seperti ini?"
Tubuh pria itu bergetar. Bukan karena takut, tetapi karena rasa sesak di dadanya yang berubah menjadi tangis. Dia tidak sanggup menanggung semua yang terjadi pada anak-anaknya. Papa Rahmat menangis, meratapi nasib keluarganya.
Zayna juga ikut sedih, saat melihat papanya hancur seperti ini. Dia berjongkok di depan papanya dengan bertumpu pada lutut kemudian memeluk papanya dengan erat. Wanita itu juga sama sedihnya melihat keluarga yang dia cintai seperti ini. Entah kenapa takdir seolah mempermainkan mereka. Zayna yang sudah menikah saja belum hamil, tetapi Zivana belum menikah, tetapi sudah hamil duluan.
Mama Savina yang berada di sana pun tidak kalah hancurnya. Dia merasa semua ini karena ulahnya yang terlalu memanjakan mereka. Andai saja waktu bisa berputar kembali, Savina akan mendidik anak-anaknya dengan keras. Tidak peduli jika mereka marah atau membencinya.
"Panggilkan Zivana," pinta Papa Rahmat setelah mengurai pelukan putrinya.
"Tapi, Pa ...."
"Papa akan bertanya dengan baik-baik," lanjut pria itu. Zayna mengembuskan napasnya dengan pelan.
"Baiklah, kita duduk di ruang keluarga, ya!" Zayna mendorong kursi roda papanya menuju ruang keluarga. Dia juga memberi isyarat pada Mama Safina untuk ikut ke ruang keluarga. "Papa sama Mama duduk di sini dulu. Biar aku yang panggilkan Zivana."
Mama Savina dan papa Rahmat hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun. Zayna pergi ke kamar adiknya dan mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Dia yang khawatir pun semakin keras mengetuk pintu.
"Zivana, buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam. Kalau kamu nggak buka, akan Kakak dobrak pintunya!" ucap Zayna dengan sedikit berteriak.
Kalau boleh memilih, dia juga tidak ingin percaya pada pria itu. Pergaulan yang terlalu bebas membuatnya tidak terkendali seperti sekarang ini. Setelah mendengar ancaman kakaknya, mau tidak mau Zivana pun membuka pintu. Zayna merasa lega karena adiknya dalam keadaan baik-baik saja.
"Ayo, kita keluar! Papa sama Mama nunggu kamu," ajak Zayna.
Zivana segera menggeleng dengan cepat. "Aku nggak mau. Aku takut."
"Kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu lakukan. Ayo, Kakak temani!"
"Nggak mau, aku takut Papa marah."
"Itu sudah pasti, tapi kalau kamu nggak ke sana, itu akan semakin membuat Papa marah. Kita bicarakan semua ini baik-baik dan kita cari solusinya bersama-sama."
"Nanti Kakak bantu aku, ya, kalau Papa marah!"
__ADS_1
"Insya Allah, mudah-mudahan Papa mau mengerti. Ayo!"
Zivana pun mengikuti kakaknya. Dia bersembunyi di balik tubuh Zayna saat hampir sampai di ruang keluarga. Papa Rahmat dan Mama Savina menatap kedatangan kedua putrinya.
"Duduk!" perintah Papa Rahmat.
Zayna menoleh pada adiknya dan menganggukkan kepala. Dia pun menuntun adiknya untuk duduk di sofa panjang. Zivana juga ikut duduk di sana. Tangan wanita itu begitu dingin, dia gemetar karena takut dengan amarah papanya.
"Apa benar kamu hamil?" tanya Papa Rahmat yang diangguki pelan oleh Zivana.
"Siapa ayah dari anak itu?" tanya pria itu lagi.
Zivana hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan papanya. Haruskah dia menjawab saat dirinya sudah dicampakkan? Apalagi pria itu sudah memiliki wanita lain. Akan tetapi, bayi yang ada di perutnya juga membutuhkan ayahnya.
"Jawab! Kenapa diam saja? Siapa Ayah dari anak itu?"
"Ti–Tio, Pa," jawab Zivana dengan tergagap.
"Panggil dia ke sini dan minta pertanggungjawaban darinya."
"Dia ... dia menolak untuk bertanggung jawab, Pa."
"Apa! Kenapa dia menolak?"
"Dia tidak percaya jika ini anaknya. Dia bahkan mengatakan aku wanita jal*ng, yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada pria."
Tangan Rahmat mengepal dengan kuat. Meski memang benar kenyataannya seperti itu, tetapi tetap saja dia terluka mendengar orang lain menghina Zivana. Bukan hanya karena gadis itu putrinya, tetapi Rahmat tidak suka melihat pria yang menghina wanita.
"Memang benar seperti itu, kan? Apa sebutan wanita yang sudah hamil diluar nikah, kalau bukan jal*ng. Seharusnya kamu pikirkan semua itu sebelum melakukan perbuatan zina itu."
Zivana hanya menunduk dengan mata yang mulai basah. Memang benar apa yang dikatakan sang papa. Akan tetapi, tidak bisakah pria itu membelanya? Dia juga Putrinya.
.
__ADS_1
.
.