Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
311. S2 - Adam bisa berjalan


__ADS_3

"Aini, bagaimana ini? Papa dan Mama tidak menyetujui jika aku bersama dengan Ustaz Ali," ucap Aina saat memasuki kamar saudara kembarnya.


"Apa sih, Na. Orang lagi sibuk juga, lagian kalau mau masuk kamar orang itu ucapin salam dulu, bukan main masuk begitu saja," gerutu Aini yang sedang santai sambil membaca cerita novel kesukaannya.


"Aduh! Iya, iya, nanti kalau aku masuk ngucapin salam, yang penting sekarang kamu harus bantuin aku. Bagaimana caranya agar mama dan papa merestui aku. Cepat pikirkan, dong!"


"Ya ampun, Aina! Kamu pikirin sendiri saja. Lagian mama dan papa kalau nggak setuju juga pasti ada alasannya, lebih baik kamu nurut saja." Aini kembali fokus pada buku di tangannya.


"Kok kamu begitu! Padahal kamu yang dukung aku selama ini. Kenapa sekarang tiba-tiba melempem?"


Aini memutar bola matanya malas. Dia kesal karena saudara kembarnya ini tiba-tiba saja jadi cerewet, padahal sebelumnya biasa saja. "Bukannya apa-apa, Na, tapi pilihan orang tua itu tidak akan salah. Kalau mereka nggak setuju, berarti ada alasan dibalik itu. Sudahlah, sebaiknya kamu turuti saja keinginan papa dan mama, pasti mereka akan memiliki seseorang yang benar-benar pantas untuk kamu."


"Aku tidak bisa begitu Aini, aku sudah menyerahkan seluruh perasaanku padanya. Aku tidak mungkin bisa berpaling pada orang lain," kata Aina dengan menundukkan kepalanya, membuat Aini merasa bersalah.


Tidak seharusnya dia berkata seperti itu tadi, tetapi apa yang dikatakannya tadi juga demi kebaikan saudara kembarnya. "Maafkan aku, bukan maksudku untuk membuat kamu menyerah. Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan."


"Iya, aku mengerti. Ya sudah, aku kembali ke kamar, ya!"


"Na, pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan buru-buru," ucap Aini sebelum saudaranya benar-benar pergi.


"Iya, terima kasih nasehatnya."


****


Adam terlihat begitu bahagia hari ini, dia dinyatakan sudah bisa berjalan. Sebenarnya dari pertemuan minggu terakhir, Adam sudah bisa berjalan. Hanya saja masih tertatih dan pria itu sengaja merahasiakan hal itu dari istrinya. Yang tahu hanyalah Mama Kinan karena wanita itu yang mengantar putranya.


Hari ini Adam ingin memberi kejutan pada saat istrinya. Dia tidak sabar melihat ekspresi sang istri, semoga saja kejutannya berhasil. Tadi pagi Zea sebenarnya ingin mengantar, tetapi pria itu melarangnya, kebetulan istrinya juga ada kelas pagi.


"Alhamdulillah sekarang kamu bisa jalan, Dam," ucap Mama Kinan dengan wajah yang begitu bahagia.


"Iya, Ma, alhamdulillah. Sekarang aku mau jemput Zea ke kampusnya, Ma," sahut Adam yang yang terlihat begitu bahagia.


"Buat apa ke sana? Zea sebentar lagi juga pulang. Sebaiknya sekarang kamu di rumah saja, siap-siap memberi kejutan Zea."


Adam terdiam sejenak dan akhirnya setuju saja dengan keputusan mamanya. Cukup lama dia menunggu kepulangan sang istri. Ini sudah dua jam, tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan Zea. Padahal seharusnya satu jam yang lalu istrinya sudah datang. Entah ke mana perginya gadis itu, sampai sekarang belum juga terdengar suara mobilnya.


"Zea ke mana sih, Ma? Lama sekali pulangnya," gerutu Adam yang sudah mulai bosan menunggu.


Mama Kinan terkikis geli mendengarnya. Bukan hal baru jika Zea pulang telat, tetapi Adam merasa seperti tidak pernah tahu saja.


Bahkan dulu mereka sering berdebat saat tahu Zea pulang telat, padahal pergi ke rumah si kembar.


"Barusan dia kirim pesan sama Mama, kalau dia pergi mengantarkan temannya dan singgah di sana sebentar. Kamu sabar, sebentar lagi Zea juga pulang." Kinan tersenyum melihat kelakuan putranya yang sudah tidak sabar memberi kejutan sampai seperti ini.


Benar saja, tidak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Adam yang mendengar pun segera mengintip dari jendela dan ternyata benar, itu mobil sang istri. Pria itu tersenyum dengan lebar, segera dia membuka pintu untuk menyambut istrinya yang baru turun dari mobil. Wanita itu belum menyadari keberadaan suaminya yang berdiri di tengah-tengah pintu.


Saat kaki Zea baru menginjak teras, dia mendongakkan kepalanya. Alangkah terkejutnya saat mendapati sang suami yang berdiri di sana. Bahkan gadis itu sampai menutup mulut dengan tangannya. Matanya juga berkaca-kaca, tidak menyangka melihat keajaiban yang ada di depan netranya kini.

__ADS_1


Pria yang sudah menjadi suaminya itu, kini sudah bisa berdiri tegak di sana dengan menyambut kedatangannya. Senyum Adam begitu lebar, seolah mengatakan bahwa dirinya begitu bahagia dan baik-baik saja. Zea segera berlari dan memeluk tubuh gempal sang suami. Air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa dicegah.


Gadis itu begitu bahagia, penantiannya selama ini tidaklah sia-sia. Sang suami kini sudah bisa berdiri. Namun, dia belum tahu apakah pria itu sudah bisa berjalan atau tidak. Zea menguraikan pelukannya dan menatap wajah suaminya.


"Kak, apa Kakak sudah bisa jalan?" tanyanya dengan perasaan haru.


"Coba kamu mundur agak jauh."


Zea hanya menuruti permintaan pria itu dan tanpa ragu memundurkan kakinya. Adam melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati sang istri. Meskipun belum begitu lancar berjalan seperti normalnya. Namun, begitu saja sudah membuat gadis itu bahagia.


"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya doa kita terkabul, Kak," ucap Zea dengan mata berkaca-kaca.


Adam mengangguk dengan mengusap sisa air mata istrinya. "Iya, alhamdulillah, aku juga senang mendengarnya. Semoga setelah ini kita bisa berbahagia. Apa pun ujian yang menghampiri kita, kita akan selalu menghadapinya bersama-sama."


Zea mengangguk dan kembali memeluk sang suami, berkali-kali kata hamdalah dia ucapkan, rasa syukur juga gadis itu panjatkan dalam hati. Adam pun membalas pelukan istrinya. Mulai hari ini sudah tidak ada lagi yang membuat dia merasa tidak percaya diri saat berada di sisi Zea. Kini dirinya bisa menghadapi apa pun yang menghalangi jalannya.


Pria itu mengurai pelukannya dan kembali menghapus jejak air mata di pipi sang istri. "Mulai hari ini jangan lagi meneteskan air mata, dalam keadaan apa pun. Kamu hanya boleh selalu tersenyum. Kita akan selalu bersama menghadapi apa pun selamanya."


Zea mengangguk dengan mantap, dia tidak akan pernah ragu dengan apa pun yang Adam katakan. Itu semua juga pasti demi kebaikan mereka berdua.


"Ayo, kita masuk!" ajak Adam dengan merangkul pundak sang istri.


Zea pun hanya mengikuti sang suami dengan tersenyum. Mama Kinan yang berada di ruang keluarga pun tersenyum, saat melihat kedua anaknya begitu bahagia.


"Mama!" panggil Zea yang segera memeluk wanita itu. "Mama sudah tahu, ya! Kalau Kak Adam sudah bisa jalan?" tanya Zea yang saat ini dalam pelukan mamanya.


"Tentu saja tahu, Mama yang nganterin dia."


"Dia bilang mau kasih kejutan buat kamu. Makanya Mama diam saja, Mama tidak ingin usahanya jadi sia-sia. Kamu senang 'kan dengan kejutan yang diberikan suamimu?" tanya Kinan yang diangguki oleh Zea. "Sudah, sekarang kamu mandi sana! Kamu pasti capek baru pulang dari kampus."


"Iya, Ma," jawab Zea yang kemudian masuk ke dalam kamar bersama dengan sang suami.


Dia begitu bahagia hari ini, sebelumnya gadis itu sempat pesimis dengan keadaan sang suami. Namun, Zea tidak mengatakan secara langsung karena tidak ingin Adam patah semangat. Sekarang semuanya justru membuatnya bangga pada sang suami.


Zea pun membersihkan tubuhnya di kamar mandi, sementara Adam menunggu sang istri di tepi ranjang. Tidak lupa juga pria itu membuatkan teh hangat kesukaan sang istri. Begitu keluar dari kamar mandi, gadis itu melihat sang suami sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Ini aku sudah buatin teh buat kamu, Sayang," ucap Adam sambil menunjukkan teh yang berada di atas meja.


"Kenapa repot-repot, Mas. Aku juga bisa membuatnya sendiri."


"Tadi kamu panggil aku apa?" tanya Adam yang ingin memastikan pendengarannya.


"Mas, tadi aku panggil kamu 'mas' bolehkan aku memanggilmu seperti itu? Kita sudah sah menjadi suami istri, rasanya agak aneh dengan panggilan kakak."


Di kamar mandi tadi, Zea sudah memikirkan hal ini. Dia teringat pembicaraannya dengan Hira kemarin, wanita itu pun memutuskan untuk memanggil sang suami dengan panggilan 'mas'.


"Tidak apa-apa, justru aku sangat senang dengan panggilan itu."

__ADS_1


Zea tersenyum menanggapinya, dia juga menikmati teh buat suaminya. Ternyata memang dari dulu rasanya tidak pernah berubah. Sebelum mereka menikah, memang Adam terkadang membuatkan teh.


"Lain kali nggak usah repot, Mas. Aku 'kan istri kamu, seharusnya aku yang membuatkan teh untuk kamu."


"Tidak ada seperti itu, baik istri maupun suami sama saja. Aku senang bisa membuat kamu bahagia."


"Hari ini aku sangat bahagia, Mas. Kamu sudah berhasil melewati semuanya dengan baik. Semoga ke depannya kita semua baik-baik juga."


"Iya, Sayang. Mengenai restoran, besok kamu nggak ada kelas, kan? Kita lihat restoran, yuk! Sejak kecelakaan, aku jarang sekali ke sana. Apalagi akhir-akhir ini, semuanya aku serahkan sama pegawai di sana. Kalau aku terserah kamu, Mas. Aku ikut saja gimana baiknya."


"Mana bisa begitu! Kamu 'kan bos di sana."


"Apaan, sih, Mas. Aku nggak pernah berniat menjadi bos di restoran yang kamu buat," ucap Zea dengan cemberut.


"Iya, tapi aku sudah menyerahkannya sama kamu jadi, apa pun alasannya kamu adalah bosnya, sedangkan aku karyawan."


Zea menghela napas, tidak dipungkiri apa yang dikatakan Adam memang benar. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tertarik untuk mengurusnya. Gadis itu juga sudah ikhlas kalau suaminya saja yang mengurus.


"Walaupun aku pemilik restoran, aku nggak ngerti cara mengelolanya bagaimana. Yang ada nanti malah bangkrut."


"Kamu tenang saja, nanti aku akan mengajari kamu cara mengelola restoran, biar nanti kamu bisa mengurus segalanya."


Zea menatap sang suami dengan mengerutkan keningnya. "Lalu tugas kamu apa, Mas. Mau santai-santai di rumah begitu? Nggak mau ah. Aku percaya kalau kamu mengurus semuanya. Aku saja yang tiduran di rumah, aku 'kan bosnya jadi, aku serahin semuanya sama kamu. Aku hanya mau santai-santai di rumah," ujar Zea dengan tersenyum, membuat Adam terkekeh.


Dia juga tidak akan mungkin tega membuat istrinya kelelahan mengurus segalanya tentang restoran. Apalagi Zea juga tidak tahu apa pun tentang usaha ini. Apa pun akan Adam lakukan agar sang istri bahagia. Pria itu sudah tidak memiliki tujuan lagi, saat bersamaan dengan Zea. Kebahagiaannya sudah sangat lengkap sekarang, tidak perlu lagi hal lainnya.


"Sayang, kamu kapan lulusnya? Lama sekali," keluh Adam saat Zea sedang memoleskan bedak tipis ke wajahnya.


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya gadis itu dengan menghentikan gerakannya karena penasaran dengan pertanyaan suaminya.


"Aku sudah tidak sabar untuk duduk di pelaminan sama kamu, Sayang. Memangnya kamu nggak ingin hubungan kita sah secara negara?"


Wajah Zea memerah karena malu. Bukannya tidak ingin, dia juga menginginkan hal tersebut. Akan tetapi, gadis itu malu mengutarakannya. Adam tersenyum melihatnya dan segera membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Aku harap apa pun yang kamu inginkan, kamu katakan padaku mulai saat ini. Jangan malu-malu, kita sudah menjadi suami istri. Sebisa mungkin aku akan melakukan yang terbaik sebagai seorang suami," ucap Adam yang diangguki Zea. "Kita keluar, yuk! Sebentar lagi waktunya makan siang. Bik Isa pasti sudah nyiapin semuanya."


Zea mengangguk dan keluar dari kamar bersama dengan sang istri. "Nanti aku akan belajar masak, ya, Mas. Biar bisa siapin makanan buat kamu."


"Tidak usah, aku menikahi kamu bukan untuk menjadi pelayanku. Di sini juga sudah ada Bik Isa yang biasanya menyiapkan segalanya."


"Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin membuatkan sesuatu untuk kamu, biar kamu makin betah di rumah dan tidak pergi-pergi lagi."


"Dari dulu aku juga sudah betah di rumah. Rumah ini selalu membuatku nyaman, tidak ada tempat yang membuatku ingin pulang selain rumah ini. Apalagi sekarang sudah ada istri yang selalu menungguku pulang kerja, jadi makin cepat ingin pulang," Adam tersenyum ke arah sang istri, dia terlihat sedang menggoda istrinya. Padahal pria itu mengatakan yang sejujurnya.


"Kamu bisa saja gombalnya, Mas."


"Aku beneran, nggak sedang gombalin kamu," kilah Adam yang sedang mencoba memberi penjelasan.

__ADS_1


"Sudah, ayo Mama sudah nungguin!" tunjuk Zea pada mamanya yang memang sudah menunggu di ruang makan.


.


__ADS_2