Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
30. Keluarga Ayman


__ADS_3

Zayna telah sampai di rumahnya. Wanita itu memutuskan untuk menelepon sang suami. Tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak mungkin akibat pembicaraannya tadi bersama dengan Bu Cindy yang sudah meracuni pikirannya. Panggilan telah tersambung. Namun, Ayman tak kunjung mengangkatnya. Tidak mau menyerah sehingga dia mencoba menghubunginya kembali dan akhirnya diangkat juga.


"Assalamualaikum, Sayang," ucap Ayman yang berada di seberang.


"Waalaikumsalam, Mas. Kamu masih lama di sananya?" tanya Zayna yang sudah tidak sabar. Biasanya dia akan menanyakan kabar Ayman dulu sebelum berbicara hal lainnya.


"Nanti aku tanya sama paman, tapi sepertinya dua hari lagi, Sayang, kenapa? Apa kamu takut di rumah sendirian?"


"Tidak, Mas," jawab Zayna. "Aku justru takut keberadaanmu yang di sana," lanjutnya dalam hati.


"Kalau kamu takut, kamu bisa tidur di rumah Papa Rahmat. Kalau perlu nanti aku minta temanku yang di pangkalan ojek untuk mengantar kamu."


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa di rumah sendiri. Aku hanya khawatir sama kamu," jawab Zayna dengan lesu. Tahu begini, kemarin dia ikut saja bersama suaminya.


"Aku baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkanku. Kamu jaga kesehatan saja itu sudah membuatku bahagia. Kamu lagi apa sekarang?" tanya Ayman mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Oh, tadi habis dari warung, beli telur. Di rumah telur habis."


"Kalau nanti pulang, aku beliin kamu lemari pendingin, ya, biar bisa nyimpen makanan lebih lama. Biar kamu nggak bolak-balik pergi ke tempat sayur."


"Tidak perlu, Mas. Lagi pula penjualnya juga dekat."


"Tapi lebih enak punya lemari pendingin. Kita bisa menyimpan apa pun nanti di sana."


"Tidak usah, Mas. Sebaiknya uang itu ditabung saja. Nanti buat kita ke rumah orang tua kamu."


"Ya sudahlah, sebaiknya kita bahas nanti saja."


Mereka pun berbincang sejenak, sebelum Ayman mengakhiri panggilan dengan alasan ada pamannya yang meminta bantuan. Zayna mengiyakan saja. Hati wanita itu cukup lega setelah mendengar suara sang suami. Sepertinya dia harus memberi kepercayaan pada pria itu. Zayna tidak boleh meragukan kesetiaan Ayman. Dia pun memilih membersihkan rumah untuk mengalihkan perhatiannya tadi.

__ADS_1


*****


"Pak Doni, kapan semua ini akan selesai? Aku kasihan pada Zayna, dia sendiri di rumah. Aku juga merasa bersalah karena selalu berbohong padanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tahu selama ini aku telah berbohong padanya," ucap Ayman saat keduanya masih berada di perusahaan.


"Kalau Tuan mengizinkan, saya bisa mengerjakannya malam ini agar tidak memakan waktu lebih lama lagi," ujar Doni.


Ayman memikirkan saran Doni kemudian menggeleng. Meskipun dia sangat ingin pekerjaannya cepat selesai, tapi pria itu tahu jika bawahannya itu memiliki keluarga di sini. Ayman tidak ingin egois dengan menyita waktu Doni.


"Tidak perlu, Pak Doni. Kita bekerja sewajarnya saja. Ini juga sudah waktu pulang kerja, sebaiknya Pak Doni pulang. Pasti seluruh keluarga sudah menunggu."


"Tapi pekerjaan kita masih banyak, Tuan."


"Tidak apa-apa, kita lanjutkan saja besok."


"Kalau, Tuan, sendiri bagaimana?"


"Saya bisa pulang sendiri. Lagipula saya masih harus pergi ke tempat lain."


Ayman mengangguk sambil melihat kepergian Doni. Sebenarnya dia berbohong dan berniat untuk lembur agar segera bisa menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu sudah sangat merindukan istrinya. Ayman juga tidak tega meninggalkan wanita itu sendiri di rumah. Apalagi mengingat bagaimana para tetangga memperlakukan Zayna.


Dia pun kembali mengerjakan pekerjaannya hingga tengah malam. Pria itu memutuskan untuk tidur di apartemennya saja, yang dekat dengan perusahaan. Tadi Kinan berkali-kali menghubunginya, terapi Ayman hanya membalasnya dengan pesan, bahwa dia akan tidur di apartemen malam ini.


Saat di apartemen pun Ayman tidak bisa tidur. Dia masih kepikiran soal istrinya. Ingin menelepon pun takut mengganggu istirahat Zayna karena ini sudah tengah malam. Akhirnya pria itu membuka galeri dan melihat foto dan video pernikahannya.


Sangat jauh dari kata mewah padahal dulu dia memiliki keinginan akan membuat pesta pernikahan untuk Zayna. Bahkan pria itu juga sudah merencanakan bagaimana pesta itu nanti. Tidak terlalu mewah, tetapi Zayna pasti akan menyukainya.


Ayman sangat tahu apa yang disukai wanita itu, tetapi semua harus tertunda karena keinginan mamanya. Bisa saja dia menentang semuanya, tetapi itu akan semakin menyulitkan posisi Zayna nantinya. Dia tidak ingin hubungan mamanya dan Zayna seperti hubungan menantu dan mertua pada umumnya. Pria itu ingin hubungan kedua wanita itu layaknya ibu dan anak.


Terlalu asyik dengan apa yang dilihat, hingga tanpa sadar Ayman tertidur.

__ADS_1


*****


"Bagaimana, Kinan?" tanya Aisyah setelah putrinya mematikan ponselnya.


"Kakak bilang akan tidur di apartemen," jawab Kinan yang kemudian melanjutkan makan malamnya.


"Anak itu selalu saja beralasan. Dia pasti lembur agar cepat menyelesaikan pekerjaannya," gerutu Aisyah.


"Kan, memang seharusnya begitu, Ma. Pasti kakak juga sudah merindukan istrinya. Laki-laki mana yang tega meninggalkan istrinya di rumah seorang diri. Kalau aku jadi istri Kak Ayman sudah pasti aku akan mendatanginya ke sini. Sayangnya pasti kakak ipar tidak tahu di mana tempat tinggal suaminya." Kinan berusaha membela kakak dan kakak iparnya.


"Itulah bodohnya dia, kenapa mau menikah dengan laki-laki yang tidak diketahui tempat tinggalnya."


"Karena Kak Ayman yang berbohong dan tidak mengatakan sejujurnya siapa dirinya. Dia membuat jati diri palsu untuk menikah. Semua dilakukan hanya untuk Mama. Aku hanya bisa berdoa, semoga kakak ipar bisa menerima semuanya suatu saat nanti. Kalau seandainya saja Kak Ayman jujur, pasti tinggal buka ponsel sudah bisa mencari nama keluarga kita."


"Kamu mau menyalahkan Mama karena ini semua syarat dari mama?" berang Aisyah.


"Memang kenyataannya seperti itu. Aku tidak habis pikir sama Mama. Apa untungnya coba pakai menguji kakak ipar. Semua juga sudah tahu dia wanita yang baik. Tidak seperti wanita-wanita yang mendekati kakak selama ini."


"Dari mana kamu tahu dia baik? Kenal saja tidak!"


"Aku rasa Mama juga sudah tahu jawabannya, tanpa harus aku jelaskan bagaimana hebatnya suami Mama!" ujar Kinan dengan menahan kegeramannya. "Sudahlah, aku sudah tidak berselera makan lagi. Terserah Mama mau apa. Aku besok mau menemui Kakak sebelum dia pulang ke rumah istrinya. Aku ingin menghabiskan waktu dengannya sebentar saja."


Kinan beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju kamar. Gadis itu mengirim pesan kepada kakaknya bahwa besok, dia ingin pergi dengan pria itu sebentar untuk jalan-jalan, sebelum Ayman kembali ke rumah istrinya. Sebagai seorang kakak, tentu saja dia tidak tega melihat adiknya yang sudah pasti merindukannya karena dia juga merasakan hal yang sama.


Hubungan mereka cukup dekat meski terkadang jika bertemu pasti bertengkar. Namun, saat berada di tempat yang jauh, keduanya sama-sama saling merindukan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2