
"Tadi aku melihat Zea sedang berbicara dengan seorang laki-laki di depan. Itu yang membuat aku cemburu," ucap Adam dengan lesu, seketika membuat Zea yang diam-diam mendengarkan pun juga ikut terkejut.
Ternyata Adam melihat dirinya berbicara dengan Lukas tadi. Dalam diam, dia tersenyum karena tidak menyangka, kalau sang suami bisa juga cemburu melihat dirinya bersama dengan orang lain. Sebelumnya gadis itu berpikir jika hanya dirinya yang selalu cemburu, tetapi ternyata tidak.
"Oh, karena itu! Terus kamu maunya apa? Apa kamu mau meninggalnya Zea?" tanya Alin dengan suara pelan karena dirinya masih sangat lemah.
"Tidaklah! Aku sudah berjuang sampai di titik ini, mana mungkin aku meninggalkan Zea begitu saja. Aku hanya merasa tidak percaya diri saja dengan keadaanku sekarang, itulah kenapa aku ingin cepat sembuh dan bisa berjalan lagi, supaya bisa menjaga Zea sepenuhnya. Baik dari orang-orang yang tidak menyukainya, maupun dari para laki-laki mengejarnya."
Alin mengangguk, sepertinya Adam memang sudah sangat mencintai Zea. Tadinya dia berpikir jika mantan kekasihnya kagum saja pada sosok adiknya itu, tetapi kini wanita itu bisa melihat cinta di mata mantan kekasihnya.
"Aku jadi iri pada Zea, dia bisa mendapatkan cintamu yang begitu tulus. Aku menyesal sudah mengkhianatimu, maafkan aku atas kesalahan yang pernah aku lakukan padamu."
"Lupakan saja, anggap saja itu semua Masa Lalu dan tidak perlu lagi diingat. Aku juga sudah melupakannya."
Alin tersenyum dan kembali berkata, "Aku berharap suatu hari nanti bisa menemukan pria sebaik kamu, yang bisa menjagaku dalam keadaan apa pun. Meskipun itu sangat mustahil."
"Memang kamu tidak ada keinginan untuk kembali bersama dengan Akmal?" tanya Adam, dia pikir Alin akan menunggu saudara tirinya keluar dari tahanan.
Alin menggeleng sebagai jawaban. Wanita itu merasa tidak yakin memiliki masa depan jika masih bersama Akmal. Terlalu banyak kebohongan diantara mereka.
"Entah bagaimana awal mula kalian bersama, itu bukan sebuah patokan. Aku yakin masih ada cinta di antara kalian. Tidak mungkin semuanya hilang lenyap begitu saja. Kalian hanya perlu membuka hati masing-masing, pasti di lubuk hati kalian yang paling dalam, ada setitik cinta."
"Kalau pun cinta itu memang ada, aku tidak ingin mengulanginya lagi. Cukup masa lalu itu menyakitiku, aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Aku juga sudah memutuskan setelah ini aku akan pindah ke luar kota dan memulai semuanya dari awal. Tabunganku hanya tinggal sedikit mungkin cukup untuk tinggal di desa. Mengenai pekerjaan, aku bisa melakukan apa saja sebisaku."
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Adam yang ragu dengan keputusan Alin, mengingat selama ini wanita itu tidak bisa melihat yang kotor-kotor.
"Yakin! Kamu doakan saja agar aku bisa kuat menghadapi cobaan ini."
"Kamu berusaha sudah sampai sejauh ini, aku yakin kamu pasti bisa menghadapi kehidupan nanti."
"Amin."
Adam dan Alin pun berbincang sejenak, sementara Zea yang masih diam-diam mendengarkan merasa terharu dengan keputusan Alin. Tadinya dia berpikir Adam dan mantan kekasihnya akan kembali bersama. Namun, setelah mendengar apa yang dua orang itu katakan, dia merasa lega.
__ADS_1
Mungkin ini yang dibilang jika komunikasi itu penting. Kalau tadi dia tidak mendengar apa yang dikatakan Adam, bisa-bisa dirinya salah paham mengenai apa yang terjadi. Syukurlah Tuhan masih berbaik hati padanya. Zea akan menjelaskan kepada Adam siapa Lukas, tetapi tidak sekarang. Mungkin suatu hari nanti atau menunggu suaminya yang bertanya lebih dulu.
Keesokan paginya Adam dan Zea pamit pulang bersama, sementara Alin masih tetap di rumah sakit karena keadaannya memang belum sembuh benar. Mungkin perlu waktu dua hari lagi di sana. Adam sudah melunasi semua biaya rumah sakit. Tadinya Alin ingin mengembalikannya meskipun uangnya juga tidak cukup, tetapi pria itu menolak dan mengembalikannya lagi pada wanita itu.
Dia yakin mantan kekasihnya lebih membutuhkan uang itu. Pria itu menganggapnya hanya bantuan terhadap sahabat saja. Alin juga berterima kasih karena Adam masih berbuat baik padanya. Entah berapa besar lagi dirinya berhutang budi.
"Kenapa diam saja?" tanya Adam saat perjalanan pulang.
"Tidak ada apa-apa, memang ada apa, Kak? Kalau Kakak ingin bercerita, cerita saja aku pasti akan mendengarkan."
"Aku juga tidak ada apa-apa." Adam ingin bicara, tetapi ada keraguan. Namun, dia tetap memberanikan diri. "Zea, kamu lulus berapa lama lagi?"
"Kurang tahu, Kak. Mungkin empat bulan lagi. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Zea balik sambil menatap sang suami sejenak.
"Empat bulan lagi itu kaki aku bisa sembuh, nggak, ya? Apa aku masih harus duduk di kursi roda?"
"Kan, Kakak bisa mengikuti terapi, mudah-mudahan saja nanti cepat bisa jalan. Memangnya kenapa dengan kelulusanku Kakak datang ke universitas dengan kursi roda? Kakak datang dalam keadaan apa pun, aku pasti akan senang."
Zea merasa malu saat Adam membahas soal pernikahan. Namun, tidak dipungkiri jika hatinya merasa begitu bahagia.
"Kakak tenang saja, ada aku yang akan selalu menemani Kakak. Kalaupun nanti Kakak masih tetap duduk di kursi roda. Aku akan menemani Kakak, aku akan duduk di kursi roda juga."
Adam mendelik menatap istrinya, mana mungkin dia membiarkan Zea duduk seperti dirinya. Dirinya saja berusaha agar bisa cepat berdiri dan berusaha melakukan segala hal sendiri.
"Eh! Mana ada seperti itu. Nggak ada! Kamu harus tetap berdiri, jangan ikut-ikutan seperti aku. Aku akan berusaha sebelum empat bulan kakak pasti bisa berjalan."
"Amin, kalau begitu bagus, aku jadi senang dengernya. Kak, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa? Katakan saja!"
"Aku harap dalam pernikahan kita ini, tidak ada sesuatu yang kita tutupi satu sama lain. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, kita harus segera mengatakannya. Begitu juga jika ada sesuatu yang tidak kita sukai, kita juga harus tetap mengatakannya meski mentakitkan. Aku tidak ingin hanya karena keegoisan dan saling menutupi, rumah tangga kita hancur. Pernikahan kita memang masih seumur jagung, terapi aku ingin seumur hidup kita selalu bersama, bahkan sampai akhirat nanti."
Adam terharu mendengarnya, gadis yang selama ini terlihat kekanak-kanakan, kini tampak begitu sangat dewasa. Bahkan dirinya merasa sangat malu dengan apa yang terjadi. Dia jadi teringat dengan kejadian semalam, saat Zea yang berbicara dengan seorang laki-laki. Seharusnya tadi Adam bertanya secara langsung, bukan pergi begitu saja dan berpikir yang tidak tidak.
__ADS_1
"Kenapa diam, Kak?" tanya Zea sambil melirik sekilas ke arah sang suami dan kembali fokus pada jalanan. Saat ini wanita itu yang membawa kemudi jadi, tidak banyak hal yang bisa dilakukan.
"Tidak ada apa-apa, maafkan aku jika selama ini aku sudah memberi contoh yang tidak baik padamu. Padahal seharusnya aku yang memimpin rumah tangga ini, tetapi aku selalu bersikap kekanak-kanakan."
Zea menggeleng pelan, apa yang dia rasakan tidak seperti yang suaminya katakan. "Aku tidak berpikir seperti itu, kita sama-sama masih belajar dalam menyelami rumah tangga kita ini."
"Zea, boleh aku bertanya? Aku harap kamu tidak marah."
"Kenapa aku harus marah? Kakak tanyakan saja apa yang ingin Kakak ketahui," ucap Zea yang berpura-pura tidak tahu apa yang diinginkan sang suami.
"Semalam aku lihat kamu sedang berbincang dengan seorang pria, saat membayar administrasi untuk Alin. Aku tidak mengenalnya, memang siapa dia?" Zea tampak berpura-pura berpikir agar sang suami, tidak curiga jika dirinya sudah mengetahui tentang hal itu.
"Oh, Lukas! Dia temanku waktu kuliah di luar negeri, Kak. Dia senior aku, kebetulan dia juga dari negara kita."
"Apa dia sudah lulus? Kenapa ada di sini?" tanya Adam lagi, tetapi bersikap seolah-olah apa yang ditanyakan tidaklah penting.
"Katanya sudah lulus, tapi masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan di sana nanti. Sekarang mamanya lagi sakit, makanya dia segera pulang."
Dalam hati, Zea merasa senang melihat sang suami begitu ingin tahu tentang pria yang dicemburuinya. Padahal sudah jelas-jelas jika dirinya tidak memiliki perasaan apa pun.
"Apa saat di luar negeri kalian sangat dekat?"
"Tidak juga, Kak. Hanya beberapa kali bertemu."
"Kamu di sana punya teman berapa banyak?"
"Ada beberapa, sih, Kak, tapi yang sangat dekat itu ada dua dan keduanya berasal dari negara yang berbeda dan sama-sama perempuan.
"Kamu tidak punya teman yang satu negara sama kamu?"
"Nggak ada, aku tidak terlalu suka. Kakak sendiri tahulah bagaimana para wanita yang selalu saling bergosip satu sama lain. Mereka hanya suka berpura-pura, makanya aku dari mereka.
.
__ADS_1