
Nayla masih terdiam di tempat, antara takut dan tidak. Dia yakin jika pria yang ada di depannya sedang tidak main-main, tetapi untuk menarik kembali kata-katanya itu sangat mustahil.
“Perlu saya panggilkan satpam agar membawamu pergi dari sini?” tanya Papa Hadi dengan santainya. Namun, penuh penekanan.
Pria itu paling tidak suka jika ada orang yang sengaja memancing emosinya. Mama Aisyah sudah dari tadi berusaha untuk menenangkan sang suami. Sebenarnya dia juga kasihan kepada Nayla. Namun, apa yang dilakukan gadis itu juga sudah sangat keterlaluan jadi, dia akan membiarkannya saja, kecuali jika Nayla mau minta maaf pada Kinan.
Apalagi Mama Aisyah juga sudah sering mendengar apa saja yang sudah dilakukan Nayla pada putrinya di kampus. Sang suami sudah sangat baik selama ini untuk tidak mengambil tindakan langsung jadi, jangan salahkan pria itu jika tanduknya sudah keluar. Mau tidak mau, Nayla pun akhirnya pergi dari sana.
“Ya sudah, kita lanjutkan saja makannya. Tidak usah pedulikan dia,” ucap Papa Hadi. Semua pun mengikutinya dan melanjutkan makan yang sempat tertunda.
“Aku keluar dulu,” pamit Hanif. Mereka pikir pria itu mau mengejar Nayla, ternyata tidak.
“Mau ke mana, Hanif? Makannya belum selesai?” tanya Mama Aida.
“Aku mau beli salep, kasihan Kinan, kalau nggak segera diobati nanti bertambah parah,” jawab Hanif yang segera pergi dari sana.
Kinan tersenyum melihat kepergian Hanif. Dia senang melihat pria itu yang begitu peduli padanya. Kinan merasa disayangi dan diperhatikan, semoga seterusnya seperti itu.
“Ya sudah, sambil menunggu Hanif, kita lanjutkan saja makanya, nanti dingin malah nggak enak,” ucap Papa Wisnu.
Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya, sementara Kinan sesekali melirik ke arah pintu, berharap Hanif segera kembali. Padahal pria itu baru saja pergi.
“Sudah, Kinan. Dilanjutkan saja makannya. Sebentar lagi juga dia akan datang. Mungkin apoteknya agak jauh,” ucap Mama Aida yang mengerti keresahan calon menantunya.
“Iya, Ma,” sahut Kinan yang kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1
“Di, apa yang kamu lakukan pada keluarga gadis tadi?” tanya Papa Wisnu.
“Kamu lihat saja besok, sebenarnya aku juga tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Aku hanya membongkar sesuatu yang harus semua orang ketahui saja,” jawab Papa Hadi dengan santai.
“Kamu memang diam-diam menakutkan juga, ya! Jangan-jangan kamu juga tahu rahasiaku dan berniat untuk membongkarnya.”
“Memang apa rahasiamu? Aku tidak pernah menyelidikinya? Apa perlu sekarang aku menyelidikinya? Aida sepertinya kamu harus hati-hati dengannya.”
Mama Aida pun spontan melirik sinis ke arah sang suami. Dia tahu itu hanya candaan, tetapi sebagai seorang istri, tetap saja wanita itu merasa was-was. Takut jika sang suami benar-benar main gila.
“Kamu apa-apaan, sih, Di? Suka sekali jadi kompor meleduk. Sudahlah, Ma, nggak usah dengerin dia. Mama itu satu-satunya wanita yang Papa cintai. Tidak akan ada yang lain.”
“Awas saja kalau Papa macam-macam.”
“Istriku yang paling cantik, dilanjut makan, yuk! Nggak usah dengerin apa yang dikatakan Hadi. Dia memang suka asal. Dia pasti senang melihat kita bertengkar jadi, jangan terpancing olehnya." Papa Hadi menahan tawa saat sahabat itu merayu istrinya.
Papa Hadi terkejut mendengar pertanyaan sang istri, langsung menjawab, “Enggak dong, Sayang. Sudah yuk! Lanjut makan.”
“Makanya jangan suka kerjain orang. Itu kembali ke diri kamu sendiri.”
Papa Hadi yang mendengar cibiran Papa Wisnu pun jadi kesal. Saat kedua orang tua itu berdebat, Hanif datang dengan membawa salep. Pria itu pun mengoleskannya di tangan Kinan yang terkena air panas tadi. Dia tidak menghiraukan apa yang orang tua debatkan.
“Kita berdebat, calon pengantin malah mesra-mesraan,” sindir Papa Wisnu sambil melirik ke arah putranya. Namun, Hanif tidak peduli dan terus saja melakukan pekerjaannya yaitu mengoleskan salep di tangan Kinan. Gadis itu berusaha untuk menarik tangannya agar dirinya saja yang mengobati. Namun, Hanif bersikeras jika dirinya yang akan melakukannya.
“Sudah selesai,” ucap Hanif yang kemudian meletakkan tangan Kinan di atas meja. “Papa seperti tidak pernah muda saja. Pakai nyindir segala.”
__ADS_1
Mereka pun berbincang sejenak, sebelum akhirnya mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, Papa Hadi mengajak putrinya berbincang. Dia juga perlu mengatakan sesuatu pada anak gadisnya.
“Kinan, sekarang kamu sudah akan menikah, tapi bukan berarti sekarang kamu bebas melakukan apa pun dengan Hanif. Ingat kalian masih belum halal,” ucap Papa Hadi.
“Iya, Pa. Aku akan selalu ingat nasihat Papa. Terima kasih, selama ini sudah menjagaku," sahut Kinan dengan memajukan tubuhnya ke arah Papa Hadi yang sedang menyetir.
“Ingatlah! Meskipun nanti kamu menjadi seorang istri, jangan lupakan kami sebagai orang tua. Jangan sungkan juga untuk bercerita apa pun tentang kehidupanmu. Bukannya Papa mau menghasutmu atau mendoakan yang tidak baik, tapi jika Hanif sudah menyakitimu, kamu bilang saja sama Papa. Dengan segala kerendahan hati, Papa akan memintamu kembali dari Hanif. Jangan pernah malu untuk mengatakannya.”
Setetes air mata membasahi pipi Kinan. Gadis itu segera mengusapnya. Bukan tanpa sebab Papa Hadi mengatakan hal itu, Kinan termasuk anak yang sangat rapat menyimpan rahasia. Dia tidak akan mengatakan pada orang lain jika dia disakiti. Gadis itu akan terus menyimpannya sendiri.
“Terima kasih, Papa sudah perhatian padaku, tapi insya Allah Mas Hanif tidak begitu. Kalaupun nanti seperti yang Papa katakan, orang pertama yang akan aku beritahu adalah Papa. Papa juga jangan terlalu mengkhawatirkan keadaanku. Jaga diri Papa baik-baik, Jaga kesehatan juga, jangan makan sembarangan.”
“Kamu lama-lama seperti Mamamu, cerewet sekali.”
“Kenapa bawa-bawa Mama? Dari tadi mama diam saja,” sahut Mama Aisyah. Papa Hadi dan Kinan hanya tertawa mendengarnya.
Kebersamaan seperti ini yang selalu Mama Aisyah rindukan. Mungkin akan sangat jarang terlihat ke depannya, tetapi apa pun itu, semoga semua keluarga selalu dalam keadaan baik.
“Pa, mengenai rencana kedatangan Pak Rahmat, kira-kira kapan? Kata Papa dari kemarin, tapi sampai hari ini nggak datang juga," tanya Mama Aisyah pada sang suami.
“Iya, kemarin katanya mau datang, tapi tiba-tiba Zanita sakit jadi, diundur. Nggak tahu kapan datangnya.”
“Orang tua Kak Zayna, mau datang, Ma?” tanya Kinan yang sedari tadi diam mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Iya, katanya begitu. Mau memberi kejutan ulang tahun buat putrinya, tapi Zayna sudah ulang tahun dari beberapa hari yang lalu. Sampai hari ini mereka belum datang juga. Entahlah, itu urusan mereka."
__ADS_1
.
.