Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
322. S2 - Akan pulang


__ADS_3

"Kamu sudah baikan?" tanya Ali pada sang istri.


"Sudah baikan, kok, Mas. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Aina dengan tersenyum.


"Baikan gimana, orang masih lemas begitu, dibilang baikan," sahut Aini dengan ketus.


Dia benar-benar ingin menghajar saudara iparnya yang sudah membuat kembarannya masuk rumah sakit. Apalagi dengan alasan Aina dibawa ke rumah sakit karena magnya kambuh, semakin membuat gadis itu kesal. Sebegitu miskinnya kah suami saudaranya, sampai istrinya kelaparan.


"Aini!" tegur Aina pada saudaranya. Namun, Aini sama sekali tidak peduli.


"Kamu kenapa bisa sampai sakit begini? Bukankah di rumah kamu dan ibu selalu masak, kenapa nggak makan? Sekarang jadi sakit seperti ini," tanya Ali lagi.


Aini akan menyahut ucapan Ali. Namun, dengan cepat Aina menggenggam telapak tangan saudaranya agar tidak berbicara lagi. Dia tidak ingin menambah masalah, cukup masalah papanya saja. Setelah ini Papa Ayman tidak akan tinggal diam, jadi biarlah semuanya seperti ini.


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya ... hanya ...."


Aina bingung harus mengatakan apa. Aini yang mengerti kebingungan saudaranya segera menyela, "Sudah, tidak usah dibahas lagi. Semuanya juga sudah lewat, sekarang sebaiknya dipikirkan bagaimana baiknya nanti."


Seharusnya sebagai suami Ali lebih peka dan tidak menanyakan hal seperti ini. Padahal sudah bisa dilihat jika Aina sedang tidak baik-baik saja, tetapi kenapa masih saja bertanya. Di ruangan itu hanya ada keheningan, tidak ada satu orang pun yang berbicara, hingga dua orang datang untuk menjenguknya. Mereka adalah Kinan dan Hanif.


"Assalamualaikum, halo, Sayang! Kenapa kamu bisa sakit seperti ini? Kamu buat Tante khawatir saja,," ucap Kinan sambil memeluk keponakannya.


Kemarin saat dirinya mendapat kabar tentang keponakannya, tentu saja khawatir. Apalagi saat Zea mengatakan alasan Aina masuk rumah sakit. Semakin menambah amarah di dalam dirinya, Ustaz Ali juga bukan orang yang miskin, tetapi kenapa keponakannya sampai kelaparan.


"Aku baik-baik saja, Tante. Jangan terlalu khawatir."


"Bagaimana Tante tidak khawatir kalau kamu seperti ini!"


"Aku beneran nggak pa-pa Tante."


"Tantemu dari semalam mengkhawatirkan kamu, jadi jangan heran kalau sekarang mengomel," sela Hanif yang membuat Aina dan Aini terkekeh, sementara Kinan cemberut.


"Oh iya, ini Tante tadi buatin bubur buat kamu. Kamu pasti belum makan, kan? Tante sengaja pagi-pagi sekali buatin kamu bubur. Ayo cepat dimakan! Nanti dingin malah nggak enak."

__ADS_1


Kinan segera membuka kotak makanan dan menyuapkan ke mulut ponakannya. Aina merasa tidak enak pada Ali karena tadi sang suami juga membawa makanan. Yang pastinya untuk dirinya, tetapi kini Kinan juga melakukan hal yang sama. Wanita itu menatap sang suami, Ali membalasnya dengan tersenyum sambil mengangguk, untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Aina pun akhirnya menerima suapan dari tantenya. Ali yang melihat itu pun jadi merasa bersalah, sang istri di keluarganya diperlakukan seperti ratu, tetapi bersamanya justru masuk rumah sakit. Padahal mereka masih terhitung pengantin baru.


"Zea nggak ikut, Tante?"


"Katanya nanti siang mau ke sini sama Adam. Hari ini mereka harus belanja bulanan lebih dulu. Semuanya kebutuhan restoran tinggal sedikit."


Mereka pun berbincang sejenak sampai akhirnya Hanif dan Kinan pamit pulang. Aini juga pulang bersama dengan om dan tantenya. Pasti saat ini Ali juga ingin berbicara dengan istrinya jadi, dia memberi waktu sebelum nanti papanya datang. Aini tahu jika Ayman sangat marah sekali dengan keadaan Aina.


Sebagai seorang anak, dia sangat mengerti perasaan Papa Ayman dan Mama Zayna. Orang tua mana yang rela melihat anaknya berakhir di rumah sakit seperti ini. Padahal dulu di rumah mereka sangat dimanja. Apa pun keinginannya asal masih dalam hal baik, mereka selalu menurutinya.


"Aina, apa kamu mau menjelaskan Sebenarnya apa yang terjadi, hingga membuat kamu sampai masuk rumah sakit seperti ini? Di rumah aku bertanya pada ibu, tapi Ibu sama sekali tidak mengatakan apa pun. Dia juga mengatakan jika dirinya tidak melakukan apa-apa. Aku mohon sama kamu untuk mengatakan yang sejujurnya Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu sampai masuk rumah sakit seperti ini?" Ali masih tidak mau menyerah, dia kembali bertanya pada sang istei.


"Tidak usah dibahas, Mas. Semuanya juga sudah lewa. Aku ju—"


"Apakah benar kalau ibu telah zalim sama kamu? Apa selama ini ibu selalu bersikap semena-mena sama kamu?" sela ahli sebelumnya sang istri melanjutkan perkataannya.


Semalaman dia berpikir seperti itu. Namun, saat bertanya pada sang ibu, wanita yang melahirkannya mengatakan jika tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, dalam matanya menyiratkan rasa takut yang begitu besar.


"Maafkan ibu sudah menzolimi kamu."


"Aku tidak ingin kamu dan mama berdebat hanya karena aku. Itu semuanya juga sudah lewat, aku sekarang juga sudah baik-baik saja. Aku tidak ingin ada masalah dalam keluarga kita."


"Tapi aku merasa menjadi orang yang tidak bisa bertanggung jawab atas sesuatu yang sudah aku ambil tanggungjawabnya. Saat aku menikahimu, memang tidak ada rasa cinta dalam diriku, tapi sebagai seorang suami aku tetap bertanggung jawab atas dirimu. Kalau boleh jujur, seiring berjalannya waktu dan kebersamaan kita, aku mulai merasa nyaman. Entah itu atau cinta atau tidak, yang jelas aku tidak ingin kita berpisah."


Aini yang mendengar ucapan sang suami jadi terharu, dia tidak menyangka akan mendengar hal itu dari bibir Ustaz Ali. Wanita itu pikir selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan, tetapi ternyata tidak. Kini cintanya bersambut dan Aina merasa sangat bahagia. Perjuangannya ternyata membuahkan hasil, kini hanya tinggal mengambil hati sang mertua. Mudah-mudahan saja Bu Nur memiliki hati yang lapang, sehingga tidak sulit bagi Aina nanti mengubah pemikirannya.


"Terima kasih sudah membalas cintaku. Aku merasa bahagia, sangat-sangat bahagia. Aku kira selamanya tidak akan mendapatkan cinta darimu." Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, buru-buru dia hapus karena tidak ingin menodai kebahagiaan hari ini.


Ali mengambil kedua tangan Aina dan menggenggamnya. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih, justru aku yang minta maaf karena sebagai suami aku sama sekali tidak bertanggung jawab padamu."


"Tidak, itu tidak benar. Aku bahagia bisa bersamamu, jangan merasa bersalah karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini."

__ADS_1


Saat keduanya sedang mencurahkan isi hati masing-masing, Ayman masuk ke dalam ruangan bersama dengan Zayna. Keduanya baru saja dari ruangan dokter yang mengatakan jika Aina hari ini boleh pulang. Ayman juga mengatakan kalau putrinya akan pulang ke rumahnya. Hal itu tentu saja membuat Ali dan Aina terkejut karena pria itu sama sekali tidak mengatakan apa pun sebelumnya. Bahkan sekarang mengajak pulang pun secara mendadak.


"Pa, aku tidak mau pulang ke rumah seperti itu. Bagaimanapun sekarang aku seorang istri," ucap Aina dengan pandangan memohon, tetapi Ayman sama sekali tidak peduli.


"Papa sudah memutuskan dan tidak akan berubah." Ayman menatap putrinya dengan tajam, Aina sangat tahu jika papanya sedang tidak ingin berdebat.


"Pa, tolong jangan bawa Aina!" pinta Ali.


Ayman menatap menantunya dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian. Jika saja dia tidak memikirkan perasaan putrinya, sudah pasti dirinya sendiri yang akan menghabisinya. "Kali ini Aina akan pulang ke rumah kami selama satu bulan. Selama itu juga, kamu harus merenungkan semuanya ini sebaik-baiknya. Setelah satu bulan kamu bisa datang untuk menjemput istrimu. Anggap saja satu bulan ini sebagai renungan untuk kalian memikirkan perasaan masing-masing."


"Pa, aku tahu aku salah, tolong biarkan Aina pulang ke rumah. Saya akan menjaganya dengan baik."


Ayman kembali menatap menantunya dengan senyum meremehkan. "Menjaganya dengan baik? Seperti apa yang kamu maksud? Lihatlah sekarang! Kalau saja besan saya tidak datang ke sana, saya tidak tahu apa yang akan terjadi."


"Tapi saya berjanji akan berusaha menjadi suami yang lebih bertanggung jawab lagi." Ali masih tetap berusaha agar sang mertua tidak membawa istrinya, tetapi semua terasa sia-sia.


"Karena itu aku memberimu waktu, dalam satu bulan renungkanlah semuanya baik-baik. Apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Jika kamu sudah sadar datanglah untuk menjemput istrimu, tapi jika kamu masih saja sama seperti sebelumnya, maka tidak usah datang. Aku masih sanggup merawatnya."


Ali ingin berbicara lagi, tetapi Aina lebih dulu mencegahnya. Melihat tatapan Ayman saja dia mengerti jika papanya tidak akan bisa ditawar lagi. Wanita itu tidak mau jika sang suami malah akan semakin membuat Papa Ayman marah dan semakin mempersulit pertemuan mereka nanti.


"Tidak apa-apa, Mas. Nanti kamu bisa datang satu bulan lagi, aku akan menunggumu di rumah."


Aina meremas telapak tangan sang suami agar pria itu mengerti apa yang dimaksud. Mau tidak mau akhirnya Ali pun mengangguk dan menuruti keinginan istrinya. Zayna sejak tadi hanya diam saja, dia sibuk membereskan semua keperluan yang akan dibawa pulang. Wanita itu juga setuju dengan apa yang dikatakan sang suami.


Zayna ingin merawat putrinya sampai akhirnya benar-benar sembuh. Jujur dalam hati Zayna masih tidak tenang, bagaimana jika setelah sembuh, Aina akan kembali pada suaminya dan kembali lagi seperti sekarang. Walau bagaimanapun putrinya sekarang adalah seorang istri. Sudah menjadi kewajibannya untuk tinggal bersama dengan suaminya.


.


.


.


Selamat siang semuanya. Maaf akhir-akhir ini banyak sekali typo.

__ADS_1


Kemarin ada yang bertanya kenapa cerita Aina sangat cepat sekali. Jujur sebenarnya kemarin sudah aku mau tamatin, tapi karena ada yang request jadi aku kasih cerita sedikit tentang Aina. Setelah ini baru aku tamatin. Mengenai Aini biarlah dia mencari jodohnya sendiri tanpa harus aku yang cariin. wkwkwkwk


Terima kasih bagi yang sudah baca karyaku selama ini. Nantikan cerita terbaruku, ya!


__ADS_2