
Malam hari, Hira menunggu sang suami di kamar dengan harap-harap cemas. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan nanti pada suaminya. Tadi abinya mengajak Arslan untuk berkeliling pondok karena memang pria itu, belum mengetahui apa-apa tentang pondok ini. Arslan dibuat terkagum dengan segala macam yang ada di pondok ini.
Dari mulai pendidikan dan juga lingkungan, bahkan kehidupan mereka sehari-hari. Semua tidak seperti yang dia bayangkan selama ini. Jika hidup di pondok pesantren itu, selalu sibuk, tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Bahkan makan pun seadanya dan tidak enak, tapi di sini makanannya pun lezat meski sederhana.
Justru di sini mereka bisa berbaur dengan teman-teman lainnya. Bisa menikmati masa muda dengan teman. Hanya mungkin caranya saja yang berbeda dan lebih bermanfaat. Arslan semakin kagum pada mertuanya.
"Abi yakin kalau orang tuamu pasti sudah mengajarkan banyak hal padamu tentang agama. Abi yakin pasti kamu bisa mendidik anak Abi agar menjadi istri yang sholehah," ucap Kyai Hasan pada menantunya.
"Ilmu saya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Abi, tapi saya akan tetap berusaha untuk menjadi imam yang baik. Abi doakan saja agar rumah tangga kami selalu bahagia dunia dan akhirat."
"Amin, doa Abi selalu menyertai kalian. Nak Arslan, Hira adalah putri Abi satu-satunya. Meskipun dia anak pertama, tapi dia anak yang sangat manja karena memang sudah terbiasa dimanjakan oleh Abi dan Ummi, bahkan oleh adik-adiknya sekalipun. Maafkanlah dia jika suatu saat dia melakukan kesalahan yang tidak disengaja maupun disengaja. Tegurlah dia dengan cara baik-baik. Jika dengan cara baik tidak bisa, Abi ikhlas jika kamu mengangkat tanganmu, asal jangan sampai membuat dia terluka. Kamu tentu mengerti apa maksud Abi dengan mengangkat tangan," ucap Kyai Hasan dengan nada sedih. Dalam hati dia merasa berat harus merelakan putrinya.
"Aku mengerti, Bi. Insya Allah saya akan menjaga Hira dengan baik. Saya juga yakin didikan Abi sudah sangat baik, tanpa perlu aku mengangkat tanganku."
"Mudah-mudahan saja seperti itu. Abi percayakan Hira padamu," ucap Lukman dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh berat untuk melepaskan putri semata wayangnya. Namun, sekarang Hira bukan lagi tanggung jawabnya. Sudah saatnya gadis itu hidup bersama dengan suaminya. Kyai Hasan pun mengajak menantunya untuk kembali ke rumah. Hari sudah sangat malam, sudah saatnya mereka beristirahat. Ini juga malam pertama untuk anak dan menantunya, tidak mungkin dia mengganggu lagi.
Arslan memasuki kamar, tampak Hira sedang duduk di ranjang dengan membaca buku. Wanita itu pun segera menutup bukunya saat melihat sang suami datang. Dia tampak gugup dan mencoba mencari sesuatu untuk dikerjakan.
"Mas, dari mana saja? Apa mau saya buatkan teh atau kopi?"
"Tidak perlu, ini sudah malam. Aku cukup minum air putih saja," jawab Arslan dengan berjalan mendekati sang istri.
Tentu saja hal itu semakin membuat Hira gugup. Wanita itu bingung harus melakukan apa. Dia sangat tahu jika ini adalah malam pertamanya dan itu semakin membuatnya bingung. Tanpa disadari Arslan sudah ada di depannya. Jarak mereka sangat-sangat dekat, bahkan Hira bisa merasakan napas sang suami.
“Bolehkah aku melihatmu tanpa hijab ini?” tanya Arslan pada sang istri karena sedari tadi Hira selalu memakainya.
Bahkan saat dari kamar mandi pun wanita itu memakainya. Sang istri mengangguk dan akhirnya membuka jilbabnya meski terus saja menunduk. Dia malu, takut jika sang suami tidak menyukainya. Arslan membuka ikat rambut sang istri kemudian menggerai rambut Hira yang begitu panjang dan hitam.
Pria itu begitu terkesima melihat istrinya yang terlihat begitu cantik dengan rambut hitam yang panjang dan lurus. Sudah sering dia melihat rambut wanita, tetapi baru kali ini Arslan melihat yang begitu hitam dan lembut.
"Kamu cantik, sangat-sangat cantik. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Kamu sudah mengalihkan semua perhatianku padamu. Bahkan di setiap malam, aku selalu terbayang wajah kamu dengan senyum yang selalu manis," bisik Arslan dengan mengusap rambut panjang sang istri.
Hira tersipu malu mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami. Belum pernah ada yang menggodanya selama ini. Sekalinya ada, orang itu adalah sang suami. Apalagi dengan kata-kata yang begitu manis. Wanita itu hanya diam karena tidak mampu membalas.
Jangankan berkata, untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Keberadaan Arslan di dekatnya seolah membuat tubuhnya terasa kaku.
"Jangan berpikir jika aku tengah membual. Apa yang aku katakan tadi benar-benar tulus dari dalam hatiku. Kamu adalah wanita pertama yang membuat aku jatuh cinta dan mudah-mudahan kamu juga yang terakhir."
__ADS_1
"Amin," jawab Hira dengan pelan, tapi Arslan masih dapat mendengarnya.
Pria itu pun maju dua langkah kemudian, mendongakkan wajah Hira Engan tangannya, membuat sang istri terkejut. Namun, tidak menolak sama sekali. Wanita itu pasrah dengan apa pun yang dilakukan oleh suaminya. Dia memang sudah sah untuk Arslan, jadi semua yang dimiliki sudah menjadi milik pria itu, terserah mau bagaimana.
"Boleh aku meminta hakku malam ini?" tanya Arslan dengan terus menatap wajah cantik sang istri.
Dia meneliti setiap inci dari wajah Hira dan akan selalu mengingatnya, bahwa tidak akan ada wanita yang mampu menggantikan posisi istrinya. Hira mengangguk dengan pelan sebagai jawaban. Seluruh milik Hira sudah menjadi milik suaminya dan itu memang sudah haknya. Tidak lupa keduanya berdoa dalam hati masing-masing.
Arslan tersenyum dan memajukan wajahnya, menyelami malam yang indah. Keduanya melewatinya yang begitu indah, malam yang tidak akan pernah mereka lupakan. Suasana yang begitu dingin. Namun, terasa hangat bagi Arslan dan Hira. Keduanya menyalurkan rasa yang belum pernah mereka.
Arslan begitu senang karena bisa menjadi yang pertama bagi Hira. Begitu pula sebaliknya. Usai melakukan ritualnya, tidak lupa keduanya berdoa kembali. Mereka berharap setelah ini Tuhan mengirim malaikat kecil, yang bisa membuat keluarga mereka bertambah bahagia.
****
Adam baru saja merebahkan tubuhnya setelah pulang dari pantai. Dia mendapatkan pesan dari Zea, gadis itu menanyakan keadaan kakaknya dan apa saja yang sudah dilakukan hari ini. Pria itu tersenyum sambil melihat ponsel, sebelumnya setiap kali Adam menghubungi adiknya, selalu saja Zea beralasan. Pria itu tahu jika itu hanya alasan untuk menghindarinya.
Kini dengan foto yang dikirimkan Aini, sudah bisa membuat sang adik menghubunginya. Semoga saja ada kemajuan yang bisa dia dapatkan. Adam pun memutuskan untuk melakukan panggilan telepon. Dia terlalu malas jika harus mengetik pesan, lebih enak mendengar suara Zea juga.
Namun, sayang, panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh adiknya. Pria itu pun tidak patah semangat, dia kembali melakukan panggilan. Syukurlah kali ini gadis itu mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Memangnya aku tidak boleh kirim pesan, Kak?"
"Tentu boleh-boleh saja. Kenapa tidak boleh?"
"Kakak dari mana tadi?" tanya Zea yang sudah penasaran ingin mendengar cerita versi kakaknya.
"Tadi nganterin Arslan nikahan di pondok tempat mertuanya," jawab Arslan yang memang disengaja agar terkesan menutupi kebenaran. Entah kenapa dia suka menggoda adiknya kali ini.
"Cuma itu saja? Nggak kemana-mana?" tanya dia lagi.
Adam tahu jika adiknya penasaran mengenai apa yang dikatakan oleh Aini. Pria itu memang sengaja mengulur jawaban. Dia senang mendengar Zea yang ingin tahu tentang dirinya dan kegiatannya. Adam sama sekali tidak risih, justru pria itu senang.
"Ya, tadi Aini ngajak aju pergi ke pantai. Dia bilang lagi sedih, makanya aku temenin dia ke pantai, biar dia bisa melupakan kesedihannya."
"Oh begitu, ya? Apa dia sudah tidak sedih lagi, Kak?" tanya Zea yang pura-pura perhatian. Sekarang gadis itu tahu jika Aini memang sengaja mengajak Adam untuk mencari perhatian.
"Iya, dia sudah tidak sedih lagi. Setiap wanita 'kan memang suka diperhatikan."
__ADS_1
Zea merasa sedih, Adam bisa membuat orang lain bahagia, tetapi kenapa dengan dia kakaknya seolah menjaga diri. Apakah dirinya memang tidak pantas untuk mendapatkan perhatian dari pria itu. Memang Adam memberikan perhatian sebagai sepupu, tetap saja gadis itu cemburu.
"Zea, kenapa diam? Apa ada yang salah dengan kata-kata Kakak?" tanya Adam yang kini jadi merasa bersalah karena telah salah berbicara.
"Tidak ada, Kak. Hanya saja enak, ya, jadi Aini, dia sedih ada yang menghibur, kalau aku malah sendiri di sini."
"Kalau kamu minta Kakak ke sana sekarang, detik ini juga Kakak akan ke sana," sahut Adam dengan sungguh-sungguh.
Namun, ditanggapi kekehan oleh Zea karena tidak mungkin kakaknya itu akan datang ke sini. Acara pernikahan pria itu sudah semakin dekat, pasti Adam sangat sibuk mengurus segala keperluan. Saat dirinya masih di sana saja semuanya sibuk, apalagi sekarang.
"Kakak kalau bercanda suka kelewatan. Mana mungkin Kakak datang ke sini, disaat Kakak sedang merencanakan pesta pernikahan. Pasti sekarang sibuk sekali," tebak Zea.
"Kakak tidak bercanda, kalau kamu meminta Kakak datang sekarang, Kakak pasti akan datang."
"Baiklah Kakakku yang tersayang. Aku ingin Kakak datang ke sini saat ini juga, bisakah?"
"Tentu, Kakak akan cari penerbangan yang paling cepat."
"Sudahlah, Kakak jangan bercanda terus. Ini sudah malam di sana, kan? Sebaiknya Kakak tidur, jangan begadang terus. Nanti saat pernikahan malah sakit."
"Kakak akan selalu sehat untuk menunggu kepulanganmu. Tunggu Kakak akan ke sana, sesuai dengan permintaanmu."
"Iya, iya, aku tunggu," jawab Zea seadanya.
Gadis itu pun mengakhiri panggilan. Adam segera mencari penerbangan tercepat. Ternyata ada pada jam sepuluh malam, sedangkan sekarang sudah jam sembilan untungnya masih ada tiket yang kosong. Pria itu pun segera berangkat tanpa membawa apa-apa, hanya paspor dan surat-surat yang diperlukan saja.
Adam berpamitan pada orang tuanya. Awalnya Hanif melarang karena takut Zea akan curiga kalau Adam tidak menikah. Namun, putranya meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sang putra datang ke sana untuk menghibur adiknya yang saat ini sedang sedih.
Kinan pun juga membantu Adam untuk membujuk sang suami. Setelah beberapa menit, akhirnya Hanif pun mengizinkan juga. Semua persiapan juga sudah, tiket pun sudah dibeli. Tidak ada lagi alasan papanya untuk melarang. Zea juga pasti merasa kesepian di sana.
Adam segera pergi dengan menggunakan mobil. Nanti biar sopir yang mengambilnya di bandara. Sepanjang perjalanan pria itu merasa bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Zea. Dia sudah sangat merindukan adiknya itu. Padahal ini belum ada satu bulan, tapi rindunya sudah sebesar ini.
Entah bagaimana Adam nanti melewati satu tahun tanpa kebersamaan ini. Dia teringat kata-kata adiknya saat mereka masih sama-sama kecil. 'Kakak harus selalu membuat aku bahagia, ya! Kakak tidak boleh membuat aku sedih, kita harus sama-sama bahagia sampai tua nanti'. Namun, kini justru dirinya lah yang membuat adiknya sedih.
Padahal Adam yang sudah berjanji akan selalu menjaga adiknya dari siapa pun yang mengganggunya. Zea kecil memang terlihat begitu lucu dan cantik. Dia tidak akan pernah melupakan masa-masa itu. Bagaimana kehidupan mereka nanti, berjodoh atau tidak pria itu berharap bisa menjaga sang adik selamanya.
.
.
__ADS_1