
Adam dan si kembar akhirnya sampai juga di pantai. Mereka begitu menikmati suasana air laut yang begitu menenangkan. Meskipun suasana begitu ramai, tetapi tidak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan. Adam merasa senang karena bisa membuat sepupunya bahagia, andai saja Zea juga ada di sini, pasti akan lebih membahagiakan.
“Kak Adam, ayo sini! Kita senang-senang,” ajak Aini sambil memainkan air.
Padahal dia tidak membawa baju ganti, pasti nanti Adam yang akan menjadi korban dan harus membelikan keduanya pakaian. Namun, itu tidak masalah buat pria itu, asalkan bisa membuat mereka bahagia. Banyak sekali foto yang mereka ambil.
Aini ingin menguploadnya di media sosial, tiba-tiba saja gadis itu memiliki ide. Dia membuat status yang hanya ditujukan untuk Zea saja. Mungkin ini akan membuat sepupunya tidak tenang, tetapi setidaknya dengan begini dirinya tahu seberapa besar cinta Zea.
“Aina, Kak Adam, coba lihat ini!” Aini menunjukkan ponselnya pada saudara dan sepupunya.
Keduanya terkejut karena Aini memposting foto gadis itu bersama dengan Adam, hanya berdua saja dan terlihat begitu mesra. Dia juga menuliskan kalimat seperti ini 'Bersama dengan calon suami meski harus jadi istri kedua pun tak apa'. Sungguh membuat saudara dan sepupunya geleng-geleng kepala.
“Kenapa kamu memposting foto seperti itu? Bagaimana kalau orang lain salah paham?" tanya Adam.
“Kak Adam tenang saja, yang bisa lihat cuma Zea saja. Aku penasaran bagaimana reaksinya nanti, saat tahu kalau aku belum menyerah untuk mendapatkan Kak Adam. Kalau Zea biasa saja, berarti Kak Adam harus rela melepaskannya karena sudah tidak ada cinta untuk Kak Adam, tapi kalau dia kebakaran jenggot, berarti dia memang masih mencintai Kak Adam. Sekarang tinggal Kak Adam mempersiapkan diri saja."
Adam dan Aina sama-sama terdiam, keduanya memikirkan maksud dari kata-kata Aini. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh gadis itu. Mereka juga sama, ingin tahu bagaimana reaksi Zea. Akan tetapi, apa cara Aini bisa berhasil, bagaimana kalau tidak?
"Nah! Akhirnya dia melihat juga!" seru Aini sambil menunggu kira-kira Zea akan bertanya atau diam saja.
Benar saja, ada sebuah pesan masuk dari Zea. Sepupunya itu bertanya apakah Aini dan Adam sedang liburan. Gadis itu pun mengiyakannya dan mengirimkan foto, dirinya bersama Adam dengan berbagai pose yang cukup membuat sepupunya cemburu. Yang Zea ketahui, Aini dan Adam sedang marahan.
Bagaimana bisa sekarang mereka baik-baik saja. Di foto pun keduanya terlihat sangat akrab. Bahkan mereka liburan cuma berdua. Aini emang sengaja tidak memperlihatkan keberadaan Aina agar situasi semakin memanas. Semoga saja Zea terpengaruh dan semua sesuai dengan yang dia inginkan.
“Kamu ini Aini, suka sekali membuat orang marah. Nanti kalau Zea benar-benar marah bagaimana?” tanya Aina.
“Justru bagus kalau dia marah, berarti dia bisa langsung pulang," jawab Aini tanpa rasa bersalah. Gadis itu pun melanjutkan liburannya tanpa memedulikan apa yang Aina dan Adam protes.
"Sudahlah, Kak Adam. Kak Adam siap-siap saja jika ada masalah, semoga saja apa yang dikatakan Aini benar dan Zea segera pulang." Aina mencoba menghibur sepupunya meski dirinya sendiri tidak yakin.
__ADS_1
"Tapi, rasanya tidak mungkin. Jelas-jelas dia pergi untuk menghindariku jadi, tidak mungkin dia kembali lagi," sahut Adam dengan lesu. Dia takut jika Zea akan semakin menghindarinya.
"Bukannya Kak Adam setiap satu bulan akan mengunjungi Zea? Gunakan saja waktu itu sebaik-baiknya."
"Iya, tapi untuk bulan ini papa melarang aku untuk datang ke sana. Rencananya 'kan memang bulan ini aku akan menikah dengan Alina jadi, aku tidak boleh mengunjungi Zea. Setelah hari di mana aku menikah dengan Alin terlewat, barulah aku boleh pergi."
"Repot juga. Ya sudah, semangat saja. Kakak harus banyak bersabar."
Adam mengangguk dengan sedih. "Oh ya, Aina. Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan pria. Apa kamu juga sama seperti Arslan, tidak ingin berpacaran dan langsung menikah?"
"Jujur sih, Kak. Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Saat ini yang terpenting untukku adalah bagaimana bisa membanggakan kedua orang tuaku dengan pencapaianku. Masalah jodoh biarlah Tuhan yang mengaturnya, tapi untuk saat ini aku masih ingin sendiri dulu, menikmati masa muda sebelum dipusingkan dengan urusan rumah tangga."
"Sepertinya kamu sangat tahu sekali dengan permasalahan rumah tangga." Adam menatap sepupunya, menunggu gadis itu berbicara.
"Aku hanya sering mendengar saja. Tidak jarang teman kampus juga bercerita tentang keluarga mereka. Ada yang orang tuanya selalu bertengkar, ada pula yang anaknya marah karena merasa iri dengan saudara yang lain. Macam-macam lagi cerita mereka.”
"Tapi tidak semua rumah tangga selalu rumit, buktinya keluarga kita selalu bahagia," kilah Adam yang memang tidak pernah melihat Hanif dan Kinan bertengkar.
Adam mengangguk, dirinya juga tidak tahu benar, apakah Kinan dan Hanif juga pernah berdebat atau tidak, tetapi setelah dipikir kembali apa yang dikatakan Aina memang benar. Bahkan dirinya dan Zea saja yang selama ini tidak pernah terpikirkan akan bermasalah, buktinya sekarang seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rumah tangga nanti, harus mempersatukan perbedaan dan juga mendidik anak-anak semuanya dari nol.
"Sudahlah, Kak. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sebaiknya kita nikmati saja liburan hari ini," ucap Aina yang diagguki oleh Adam. Mereka pun menikmati liburan sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang karena waktu sudah sore.
Sementara itu, Zea yang sedang bersiap untuk tidur pun merasa terganggu dengan foto yang Aini berikan. Dia tidak menyangka jika Adam dan sepupunya akan liburan berdua. Bahkan foto mereka terlihat begitu sangat dekat. Berkali-kali gadis itu mengelak, tetapi nyatanya foto itu benar adanya.
Apakah benar Aini rela menjadi istri kedua untuk Adam karena cintanya? Itu akan lebih menyakitkan untuk Zea, saat nanti pulang ke negaranya melihat sang kakak yang memiliki dua istri. Satu saja dia merasa sedih, apalagi nanti dua. Ingin sekali gadis itu tidak percaya dengan apa yang Aini katakan, tetapi semua gambar menunjukkan memang kebenarannya seperti itu.
Dalam hati Zea bertanya, "Apa Kak Alin mengizinkan Kak Adam untuk menikah lagi? Pernikahan mereka saja belum terlaksana, bagaimana Kak Adam dan Aini punya rencana seperti itu. Apa cinta Aini begitu besar, hingga mau dijadikan istri kedua?"
Zea mengembuskan napas kasar. Ingin sekali dia menghubungi Adam dan menanyakan kebenaran yang disampaikan oleh Aini. Namun, pasti saat ini pria itu tengah menikmati kebersamaan dengan sepupunya. Lebih baik nanti saja kalau kakaknya sudah pulang.
__ADS_1
Seluruh keluarga memposting acara pernikahan Arslan yang sakral, tetapi Aini malah memposting foto seperti itu. Apa keluarga juga sudah menyetujuinya. Tidak mau terlalu pusing, Zea pun memutuskan untuk memejamkan mata. Meskipun pada akhirnya dia tidak bisa tidur.
Di sebuah pondok pesantren, Hira mengajak sang suami menuju kamarnya setelah kepergian para tamu. Pasti saat ini Arslan juga sudah sangat lelah, dia butuh istirahat. Di luar masih tampak ramai oleh para santri yang membereskan sisa acara.
"Oh ya, Dhek. Tadi pakaianku ditaruh mana?" tanya Arslan yang tidak menemukan keberadaan tasnya. Pria itu tadi memang membawa beberapa baju yang dia siapkan bersama dengan Adam.
"Sebentar, Mas. Biar aku tanyakan sama Ustazah Nurul. Tadi beliau yang menerimanya." Hira pun segera keluar untuk menanyakannya. Ternyata tas tersebut ada di ruang keluarga, wanita itu segera membawanya ke kamar dan menyerahkan pada sang suami.
"Biar aku yang membereskannya ke lemari, Mas," ucap Hira yang diangguki oleh Arslan.
Pria itu hanya mengambil satu setel untuk dia pakai ganti. Arslan sudah gerah dengan memakai kemeja serta jas ini. Saat pria itu sedang mandi, Hira memilih untuk membereskan barang sang suami setelah itu, menunggu di tepi ranjang. Dia juga harus membersihkan diri untuk menunaikan salat zuhur.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Hira pun setelah menoleh. Wanita itu begitu terpesona melihat sang suami dengan pakaian santainya. Jika seperti ini, Arslan terlihat begitu tampan dan juga lebih segar. Di tambah aroma sabun yang begitu harum, semakin membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Apa kamu terpesona dengan ketampananku?" tanya Arslan membuyarkan lamunan Hira.
"Ti–tidak. Siapa bilang," kilah Hira dengan tergagap.
Wanita itu merutuki dirinya, bagaimana bisa begitu terpesona pada sang suami, sampai-sampai lupa diri. Sungguh itu memalukan, Hira pun segera masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit berlari. Meskipun dengan suami sendiri, tetap saja dia malu. Apalagi wanita itu tidak pandai berkelit.
Arslan melihatnya pun jadi terkekeh. Begitu polosnya sang istri, justru semakin membuatnya ingin menggoda wanita itu. Terlihat peralatan sholat yang sudah tertata rapi di atas ranjang. Ini adalah salat pertama mereka sebagai suami istri, dia semakin dibuat kagum oleh Hira.
Arslan membantu sang istri untuk menata peralatan sholat agar nanti, saat Hira setelah mandi bisa langsung salat berjamaah. Ada rasa haru yang pria itu rasakan dalam hatinya. Dia juga bersyukur memiliki istri yang taat pada agamanya. Sungguh Arslan berterima kasih kepada mertuanya karena dengan didikan beliau, dirinya tidak harus mendidik istrinya dalam hal agama.
Hira sudah sangat paham, bahkan mungkin pemahaman soal agama lebih baik istrinya daripada dia. Tugasnya kini hanya mendidik wanita itu sebagai istri. Arslan juga yakin jika Hira pasti lebih pandai dalam hal itu. Di pondok ini sudah pasti diajarkan tentang itu. Semua pilihan orang tua memang tidak pernah salah.
Setelah Hira selesai mandi, keduanya melakukan salat berjamaah. Wanita itu merasa terharu saat mendengar suara sang suami yang begitu merdu. Meskipun pria itu tidak dibesarkan dalam lingkungan pondok pesantren, tetapi pengertiannya dalam agama sudah tidak diragukan lagi. Itu yang juga dikatakan oleh abinya sebelum dirinya menikah.
Keluarga Ayman memang mengutamakan pendidikan agama untuk anak-anaknya. Dalam kehidupan sehari-hari juga keluarga mereka sangat baik. Bukan hanya pada orang yang dia kenal saja, bahkan yang tidak dikenal sekalipun. Itu juga membuat Lukman bisa nyaman berteman dengan Ayman dulu karena mereka dibesarkan di lingkungan hampir sama.
__ADS_1
.
.