Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
247. S2 - Menemui sang kekasih


__ADS_3

"Kamu tidak bisa mengambilnya begitu saja. Kami sudah mengelolanya selama ini, hingga restoran itu semakin besar. Sekarang seenaknya saja kamu datang untuk mengambilnya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" tolak Mama Ifa dengan tegas.


Wanita itu tidak akan pernah menyerahkan, restoran yang sudah susah payah dia besarkan. Memang benar apa yang dikatakan Adam, restoran ini milik almarhumah mamanya. Akan tetapi, sejak kepergian mama Adam, dia dan sang suami lah yang mengelolanya. Apalagi sekarang restoran sedang dipegang oleh anak mereka. Jika anaknya itu tahu, pasti akan sangat marah besar karena selama ini mengira itu adalah mereka.


"Kenapa tidak bisa? Itu milik saya dan belum ada pengalihan kepemilikan juga. Kalaupun ada, itu pasti surat palsu. Saya akan mengurus beberapa surat untuk mengambil alih restoran ini kembali. Saya akan memberi waktu hingga bulan depan, saya harap saat itu tiba, Anda sudah benar-benar meninggalkan restoran itu. Saya juga akan mengirim orang untuk bekerja di bagian keuangan mulai hari ini. Itu agar Anda tidak bisa seenaknya mengalihkan keuangan restoran ke rekening pribadi," ujar Adam yang semakin membuat Mama Ifa geram.


"Coba saja kalau kamu bisa. Itu tidak akan semudah yang kamu pikirkan. Aku yang akan menentang semua ini, kalau perlu saya akan membawanya kemeja hijau."


Adam terkekeh mendengar ucapan Mama Ifa. "Silakan saja! Dengan senang hati saya akan meladeninya. Kebetulan saya punya beberapa kenalan pengacara," sahut Adam dengan santai. "Niat kedatangan saya ke sini sudah saya jelaskan jadi, saya harus segera pergi. Sudah sore, terima kasih atas minumannya. Lain kali Anda harus bisa lebih menghormati tamu. Setidaknya hidangkan kue sebagai teman minum."


"Saya juga tahu mana tamu yang perlu saya hormati dan tidak. Kamu termasuk dalam golongan yang tidak perlu saya hormati, jadi jangan harap saya akan memperlakukan kamu, seperti tamu-tamu saya yang lainnya!"


"Baguslah kalau seperti itu. Mudah-mudahan saja saat kamu bertamu ke rumah orang, orang itu masih menghormatimu." Adam berdiri dari duduknya, bersiap untuk pergi.


Namun, tiba-tiba ada seorang pemuda yang masuk ke dalam rumah. Adam memperhatikan orang yang baru saja masuk, dia sangat tahu siapa pemuda itu. Dulu mereka tumbuh bersama, tetapi mendapat perlakuan yang berbeda.


"Siapa dia, Ma?" tanya Akmal—adik tiri Adam.


Pria itu memandang Adam dari atas kepala sampai ujung kaki. Terlihat sangat berkelas, tentu saja hal itu membuatnya semakin penasaran. Apalagi mereka tidak saling kenal. Kedua orang tuanya juga seperti kurang suka dengan kedatangan pria itu.


"Halo, apa kabar? Aku tidak tahu kamu masih mengingatku atau tidak. Namaku Adam, lebih tepatnya, kamu mengenalku dulu sebagai Aldo. Aku tidak perlu menjelaskan siapa diriku, kan? Kamu pasti masih mengingatnya," ucap Adam dengan tersenyum.


Akmal terdiam di tempatnya. Tentu saja dia ingat siapa Aldo, karena dulu mereka juga pernah bermain bersama. Lebih tepatnya dirinya memanfaatkan untuk bermain. Bahkan tidak jarang Akmal juga mengajak teman-temanmu untuk membully-nya.

__ADS_1


Kadang uang saku yang diberikan oleh ayahnya pada Aldo pun diminta oleh adik tirinya itu. Masih banyak lagi hal yang Akmal lakukan pada pemuda itu. Sekarang keduanya bertemu setelah bertahun-tahun, kira-kira apa yang ingin Aldo lakukan di sini. Apa mungkin ingin membalas dendam.


Apa ingin kembali ke rumah ini, tetapi melihat penampilan Aldo saat ini, rasanya tidak mungkin. Dia sangat jauh berbeda dengan dulu, tinggi keduanya kini hampir sama. Padahal dulu, dirinya yang lebih tinggi. Penampilannya pun tidak kalah rapi dan gagah, bahkan Adam juga lebih tampan daripada Akmal.


"Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu tidak ingin kembali ke rumah ini lagi, kan?" tanya Akmal dengan pandangan tidak suka.


Adam tertawa dibuatnya, ternyata anak dan ibu sama saja, memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tidakkah mereka sadar jika apa yang dimiliki selama ini bukanlah haknya. Mungkin perlu sedikit pelajaran agar mereka bisa mengerti.


"Apa untungnya aku kembali ke rumah ini? Di sini juga tidak ada hal yang baik untukku."


Akmal mengepalkan tangannya. Dia merasa terhina dengan apa yang Adam katakan. Tidak bertemu bertahun-tahun, ternyata kakak tirinya itu memiliki keberanian yang cukup tinggi juga. Padahal dulu setiap apa pun yang dia katakan, Adam tidak akan berani menyela sama sekali. Bahkan bisa dikatakan selalu tunduk pada Akmal.


"Aldo, bukankah kamu tadi mengatakan akan pergi dari sini, kenapa kamu tidak juga pergi. Jangan mencari masalah di rumah ini. Tentu, aku juga akan segera pergi."


Adam kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah memberinya banyak luka di masa lalu. Jika bukan karena ingin mengambil haknya, dia juga tidak akan datang. Dibalik itu, dirinya juga rindu dengan papanya, tetapi yang dirindukan justru tidak seperti yang diharapkan.


"Ma, Apa maksud dari kata-katanya? Apa yang dimaksud dengan satu bulan lagi? Memang dia mau ngapain?" tanya Akmal sambil memperhatikan kepergian Adam.


"Bukan apa-apa, sebaiknya kamu bersihkan tubuh kamu dulu. Kamu jangan terlalu terpengaruh dengan apa yang dia katakan. Dia itu cuma ngaco."


"Tapi, sepertinya dia sangat serius, Ma."


"Sudah, jangan dibahas lagi. Itu cuma perasaan kamu saja. Cepat kamu masuk dan mandi!"

__ADS_1


Akmal pun mengangguk dan menuruti keinginan mamanya. Dia pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Hari ini restoran sangat ramai, pria itu bahkan harus turun langsung.


"Pa, bagaimana ini? Bagaimana kalau Aldo benar-benar mengambil restoran itu? Aku tidak rela, aku tidak mau menyerahkannya. Kita sudah bersusah payah membesarkan restoran itu, sekarang seenaknya saja dia mengambilnya begitu saja," ucap Mama Ifa setelah dirasa sang putra sudah masuk.


"Memang kita bisa apa, Ma? Nyatanya restoran itu memang milik almarhumah mamanya Aldo. Dia juga tidak pernah menyerahkan kepadaku karena kita berdua dulu sepakat, kalau apa yang kita miliki saat itu, akan menjadi milik Aldo. Itulah kenapa almarhumah menulis surat wasiat itu. Restoran itu akan menjadi milik Aldo, apa pun yang terjadi. Masih untung rumah ini belum aku alihkan atas namanya, kalau itu juga aku alihkan mungkin kita juga tidak tahu akan tinggal di mana."


Tanpa kedua orang tua itu sadari, ternyata Akmal mendengar ucapan mereka. Pemuda itu terkejut dengan apa yang mereka dengar. Ternyata restoran itu bukan miliknya. Dalam hati, dia berjanji akan membuat Adam hancur dan merebut semua yang dimiliki oleh Kakak tirinya itu. Apa pun caranya, akan dia lakukan.


Adam yang sedang mengendarai mobil menuju rumah. Saat sudah tiba di kota tempat tinggalnya, tiba-tiba dia teringat dengan sang kekasih. Pria itu pun mengirim pesan pada kekasihnya. Adam bertanya sedang ada di mana Alin sekarang.


Ternyata gadis itu masih bekerja. Adam pun memutuskan untuk menjemput ke tempat kerjanya. Kebetulan pria itu juga sudah pernah ke sana jadi, tidak sulit untuk mencari. Tidak lupa juga Adam mengirim pesan kepada Hanif jika kemungkinan hari ini, akan pulang larut malam atau mungkin dia tidak pulang.


Adam beralasan pada papanya jika dia pergi dengan temannya. Pria itu mengatakan jika dirinya sudah kembali ke kota dan hanya ingin berkumpul dengan temannya. Hanif mengiyakannya karena Adam sendiri juga, jarang sekali pergi bersama dengan teman-temannya. Dia yakin pemuda itu bisa menjaga diri


Adam menunggu di depan tempat kerja sang kekasih. Setelah satu jam menunggu, akhirnya yang ditunggu pun keluar juga. Adam melambaikan tangan ke arah sang kekasih. Tentu saja Alin terkejut karena sebelumnya, pria itu tidak mengatakan apa pun mengenai kedatangannya. Gadis itu segera berlari untuk menemui kekasihnya.


"Kamu nggak bilang mau ke sini? Tahu gitu tadi aku langsung keluar saat jam kerja sudah habis," ucap Alin dengan tersenyum sambil menatap Adam.


Wanita itu sangat senang dengan kehadiran sang kekasih di sini. Baru kali ini Adam menemui Alin tanpa pemberitahuan. Biasanya selalu dirinya yang menemui pria itu, begitu pun sangat sulit karena sang kekasih yang selalu saja sibuk dengan adiknya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2